Kamis, 31 Agustus 2017

Langkah Kecilmu

Agenda rutin setiap pagi dan sore adalah melatih keberanian Aluna melangkahkan kakinya.
Berjalan-jalan keliling komplek untuk membuat Aluna berani melangkah.

Biasanya ditemani oleh mama uti.
Aluna sudah mau digandeng, nggak minta gendong terus.
Disela-selanya, kami melepaskan gandengan.
Membuat dia berani melangkah sendiri.
Alhamdulillah setiap hari ada kemajuan yang dicapai.


&





Begitulah seharusnya jadi orangtua.
Menerima anak tanpa drama.
Mensyukuri setiap perkembangan anak.
Tidak membandingkan anak dengan anak lain.
Melainkan melihat perkembangannya dari keadaannya sendiri.

Terus melangkah ya nak.
Kami semua menanti langkah-langkah kecilmu.

#Day15
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Selasa, 29 Agustus 2017

Agenda Pagi Aluna

Setelah semua standar pagi selesai, saya selalu mengajak Aluna jalan-jalan disekitar komplek.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan stimulasi fisiknya.
Menanamkan ke keberaniannya untuk mau berjalan.






Selain itu juga sebagai ikhtiar mengenalkan ranah intra personal Aluna.
Mengenali dirinya.
Mengerti bagian-bagian tubuhnya.
Aluna sudah mengerti mana itu mata, telinga, hidung, kepala, rambut, tangan, kaki dan pipi.
Bila kami sebutkan bagian-bagian tersebut, dia bisa menunjukkannya.

Jalan-jalan pagi juga berguna bagi kesehatannya.
Menghirup segarnya udara pagi dan menikmati sinar matahari pagi.

#Day14
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Stimulasi Gambar dan Suara untuk Aluna

Masih dalam usaha mengembangkan semua potensi yang di miliki Aluna, kami memberikan padanya berbagai jenis media pembelajaran.
Salah satunya adalah buku yang bisa di baca dengan e-pen.






Aluna suka sekali mainan buku ini.
Di buku ini ada lagunya.
Ketika mendengar lagunya, kepala dan badan Aluna  bergerak mengikuti irama.
Lucu sekali tingkahnya.

Kegiatan ini bisa mengasah pengelihatan dan pendengarannya.


#Day13
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Senin, 28 Agustus 2017

Aluna dan Buku

Usia 0-7 tahun adalah usia emas bagi perkembangan fitrah keimanan.
Dalam usia tersebut keimanan ditumbuhkan melalui imaji yang positif tentang Allah, rasul dan agamanya.

Salah satunya dengan membacakan kisah inspiratif keagamaan atau cerita kepahlawanan.
Seperti ketika saya membacakan buku Halo Balita pada Aluna.
Kali ini jilid yang dibaca adalah Aku Sayang Allah dan Aku Suka Buku.





Ketika dibacakan buku, Aluna lebih suka membolak-balikkan bukunya.
Gerakan ini akan mengasah aspek motoriknya.

Ketika meyakini setiap anak adalah bintang, maka kita akan tahu bahwa kemampuan anak itu seluas samudera.
Perkembangan kemampuan anak yang luas itu terbagi atas tiga aspek.
Yaitu aspek psikoafektif, psikomotorik dan psikokognitif.
Kegiatan membaca buku akan mengembangkan ketiga aspek tersebut.


#Day12
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Minggu, 27 Agustus 2017

Memerima Tanpa Drama

Aluna, bungsu kami ini sudah berusia 1 tahun 5 bulan.
Di usia tersebut Aluna masih belum berani berjalan.
Dia sebenarnya sudah bisa berjalan.
Hanya tidak berani.
Lebih sering ngesot.

Kami percaya setiap anak punya waktunya sendiri.
Kami mulai belajar menerima.
Tidak membandingkan anak dengan anak orang lain.
Tidak membandingkan Aluna dengan kakaknya, yang dulu saat satu tahun sudah lancar berjalan.






Perkembangannya kami lihat dari keadaannya sendiri.
Dulu diawal-awal bisa jalan, dia hanya berani satu hingga dua langkah.
Sekarang bisa mulai sepuluh langkah dia berjalan.

Hal yang harus kami lakukan adalah terus memberikan perhatian dan stimulasi padanya.
Agar menumbuhkan keberaniannya berjalan, kami mengajaknya jalan-jalan setiap pagi dan sore.
Mengajaknya berlatih.
Kadang dia mau, kadang tidak.
Kami tidak memaksa.
Kami ingin dia tumbuh sesuai waktunya.
Karena kami percaya setiap anak punya bintangnya masing-masing.

#Day11
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Sabtu, 26 Agustus 2017

Asyik dengan Kuas dan Cat

Bila ditanya adakah aktivitas yang mampu membuat Chacha betah agak lama, maka kuas dan cat jawabanya.

Chacha suka bermain dengan kuas dan cat.
Bisa untuk melukis abstrak, mewarnai gambar atau mengecat benda-benda lainnya.
Dia pernah mengecat batu.






Kali ini dia mengecat almunium foil bekas wadah macroninya.
Ya walaupun tidak bisa merubah warna, dia akhirnya belajar cara menghasilkan warna-warna baru dari warna dasar.

Berkreasi sebebasmu nak.
Hal utama adalah kegembiraanmu dalam bereksplorasi.



#Day10
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Jumat, 25 Agustus 2017

Sehari Renang Dua Kali

Hari jum at adalah waktunya Chacha mengikuti club renang.
Namun ada yang berbeda dengan jum at kali ini.
Jum at kali ini agenda club renang bersamaan dengan talent renang di sekolah.






Saya sempat bingung, haruskah hari ini Chacha ikut renang dua kali.
Yaitu pagi saat di sekolah dan siang di tempat club.
Apalagi semalam dia demam, walaupun paginya sudah sehat.

Saya tawarkan padanya, dia mau renang di sekolah atau di club.
Dengan mantap di jawab "dua-duanya".

Ketika saya jemput di club, dia nampak sehat dan gembira.
Pelatihnya juga bilang, kalau dia enjoy saat berenang.

Baiklah sayang, lakukan dengan enjoy ya, supaya easy dan excellent pada akhirnya.


#Day9
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Kamis, 24 Agustus 2017

Aku Mau Jadi Koki

Kalau ditanya apa cita-citanya, jawaban Chacha adalah "Aku mau jadi koki bunda".
Makanya dia selalu senang bila membatu saya di dapur.
Sudah bisa di minta bantuan saat saya sedang memasak.






Seperti ketika akan membuat macroni scotel.
Dia menawarkan bantuan mengolesi mentega pada wadah macroni.

Kami mendukung keinginannya menjadi koki.
Dengan sering melibatkan dia di dapur.
Atau terkadang mengikutkan cooking class.

Semoga kelak kamu jadi koki yang handal ya nak.

#Day8
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Bunda, Lakukan 7 Hal Ini Untuk Melindungi Anak Dari Kekerasan Seksual

bunda, taukah Bunda akhir-akhir ini saya sangat geram membaca berita yang sedang viral di sosial media.
Berita tentang pencabulan siswi TK di Bogor.
Siapa yang tidak geram, anak yang masih balita harus mengalami hal mengerikan tersebut.
Apalagi yang melakukan diduga adalah salah satu pengajar di sekolahnya.

Kasus kekerasan seksual pada anak, salah satunya pencabulan adalah sebuah fenomena gunung es.
Apa yang tampak dipermukaan lebih sedikit dengan yang tidak terekspose.
Menurut KPAI (Komisi Perlindungan Anak indonesia), setiap tahunnya kasus tersebut menangani peningkatan.
Data terakhir yang dimiliki KPAI, dari tahun 2013 ke tahun 2014 kasus tersebut mengalami peningkatan hingga 100%.
Sungguh sangat memprihatinkan ya Ma!

Lalu, sebagai orangtua bagiamana kita harus menyikapi permasalahan ini?
Berikut Bunda, ada tujuh langkah yang harus mama lakukan untuk melindungi anak dari pelecehan seksual.

1. Buat anak mengerti tentang identitas seksualnya.
Anak bisa memahami bahwa dia itu laki-laki ataupun perempuan.
Anak sudah harus bisa memastikan identitas seksualnya sejak berusia tiga tahun.
Orangtua mengenalkan organ seksual yang dimiliki oleh anak.
Ada baiknya dikenalkan dengan nama ilmiahnya, misalnya vagina pada perempuan atau penis pada laki-laki.
Mengapa harus nama ilmiah? Ini menghindarkan pada pentabuan.
Selama ini pembicaraan seputar seksuitas dianggap tabu oleh masyarakat.
Karena penjelasannya seringkali tidak secara ilmiah.
Hal yang tabu ini bisa mendorong anak untuk mencari-cari secara sembunyi-sembunyi.
Dan ini pada akhirnya akan memulai datangnya masalah penyimpangan seksual pada anak.
Orangtua harus menjadi pihak pertama yang secara jujur dan terbuka dalam menyampaikan hal yang berkaitan dengan organ seksual anak.
Sehingga anak akan mampu dengan jelas memahami identitas seksualnya.







2. Bimbing anak untuk mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya.
Anak mampu menempatkan dirinya sesuai peran seksualitasnya.
Seperti cara berbicara, cara berpakaian atau merasa, berpikir dan bertindak.
Sehingg anak akan mampu dengan tegas menyatakan "saya laki-laki" atau "saya perempuan".

3. Ketika anak sudah lancar berbicara dan mulai berkativitas dengan peer groupnya di luar rumah, mama perlu mengajarkan tentang area pribadi tubuhnya.
Area pribadi tubuh adalah bagian tubuh yang tidak boleh dipegang oleh orang lain, kecuali untuk pemeriksaan atau untuk dibersihkan.
Hanya orangtua ataupun dokter yang boleh memegang area pribadi ini.
Ada empat area pribadi yaitu anus, kemaluan, payudara dan mulut.
Saya mulai mengenalkan area pribadi ini kepada Chacha ketika dia berusia 3 tahun, hampir sejak setahun yang lalu.
Dengan demikian anak akan waspada kepada pihak-pihak yang akan melakukan kejahatan seksual padanya.

4. Jalin komunikasi yang baik dengan anak.
Jadikan mama sebagai tempat dimana anak bisa menceritakan semua hal.

5. Jangan pernah mengunggah foto anak yang tidak berpakaian lengkap di media sosial.
Bahkan bila memungkinkan, saat upload foto anak di medsos, tutupi wajah anak.

6. Kenalkan pada anak mana sentuhan yang nakal mana sentuhan yang wajar.
Sentuhan nakal adalah sentuhan pada 4 daerah pribadi anak.
Bila ada orang yang memberikab sentuhan nakal, ajari anak untuk segera menolak dan melarikan diri.

7. Berikan kewaspadaan pada anak, tidak semua orang itu baik.
Begitu juga dengan orang-orang dekat yang ada disekitar anak.
Banyak kasus kekerasan seksual anak yang dilakukan oleh orang-rang dekat.
Oleh karenanya mereka pun perlu diwaspadai.

Demikian Bunda, tujuh hal yang bisa mama lakukan untuk melindungi anak dari kekerasan seksual.
Semoga anak-anak kita semua terhindar dari kekerasan seksual.
Semoga tidak ada lagi kasus-kasus kekerasan seksual pada anak.
Dan semoga kasus-kasus yang sudah ada, segera diselesaikan.
Anak-anak yang mengalami memperoleh keadilan dan mereka dapat segera pulih fisik dan mentalnya.

Rabu, 23 Agustus 2017

Transfer Air

Bunda, aku mau percobaan!"
"Percobaan apa sayang?"
"Ya, percobaan bebas,, ini sama air"
"Iya boleh "

Dialog antara Chacha dan saya ketika dia baru bangun tidur.
Diapun memindahkan air ke berbagai jenis wadah.
Nampak semangat dan enjoy.
Melalui kegiatan ini dia tahu bahwa air berubah menurut wadahnya.

Kegiatan seperti inilah yang menjadi favorit Chacha.
Melakukan percobaan sains sederhana.
Dia selalu easy dan enjoy menjalani setiap percobaan yang kami lakukan bersama.






Semoga nanti dia bisa menjadi hebat di bidangnya (Excellent).
Dan setelah ketiga hal tersebut di atas tercapai pasti akan muncul produktivitas dan apreasiasi karya di bidangnya (earn).

Amin..

#Day7
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Selasa, 22 Agustus 2017

Menghitung Usia Pohon

Eksplorasi alam bebas adalah kegiatan yang selalu membuat Chacha berbinar-binar.
Usai meneliti bagian-bagian tanaman, Chacha ingin mengetahui bagaimana cara menghitung usia pohon.





Chacha sudah tau jika pohon adalah makhluk hidup.
Seperti manusia, maka pohon juga punya usia.
Lalu bagaimana cara menghitung usia pohon?

Caranya gampang kok..
Carilah pohon, lingkarkan tali pada batang pohon..
Tandai akhir lingkaran pada tali dgn dipegangi tangan.

Ukur panjang tali hasil lingkaran tsb dgn penggaris
Jika sudah tau ukurannya, tinggal dibagi 2,5

Nah pohon yg diukur chacha hari ini ukuran kelilingnya 75 cm
Jadi pohon itu sudah berusia 30 tahun.

Kegiatan ini akan mengasah fitrah keimanan dan fitrah belajaranya.
Mengasah konsep hubungan dengan Tuhan dan konsep melek perubahan.


#Day6
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Pentingnya Membangkitkan Fitrah Seksualitas Pada Anak di Era Digital



Beberapa hari terakhir media sosial di hebohkan dengan kasus pelecehan seksual yang dialami siswi TK di Bogor. Kasus ini terjadi sekitar tiga bulan lalu, tepatnya di bulan Mei. Namun mengapa kembali menjadi viral, karena sampai sekarang kasus tersebut belum bias diselesaikan. Kekerasan seksual terhadap anak menjadi sebuah fenomena gunung es. Begitu banyak yang belum terpecahkan. Berdasarkan data dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), setiap tahunnya angka kekerasan seksual pada anak terus meningkat. Data terakhir KPAI menunjukkan bahwa dari tahun 2014 ke 2015, kasus kekerasan seksual pada anak meningkat 100%.
Terjadinya kekerasan seksual pada anak tidak bisa dilepas dari peran orang tua. Pola pengasuhan orang tua menjadi faktor yang penting dalam mencegah anak menjadi korban ataupun pelaku kekerasan seksualitas. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa sekarang adalah era digital. Apa itu era digital ? Era digital merupakan istilah yang digunakan dalam kemunculan digital, jaringan internet, atau lebih khusus lagi teknologi informasi (www.winstarlink.com). Era digital ditandai dengan adanya teknologi, di mana terjadi peningkatan pada kecepatan dan arus pergantian pengetahuan dalam ekonomi dan kehidupan masyarakat (www.igi-global.com).
Studi di Indonesia menyebutkan setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet, di mana 80% responden menggunakan internet untuk mencari data dan informasi, 70% untuk bertemu teman online melalui platform media sosial, 65% untuk musik, dan 39% untuk situs video. 24% berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal dan 25% memberitahukan alamat dan nomor telepon mereka. 52% menemukan konten pornografi melalui iklan atau situs yang tidak mencurigakan dan 14% mengakui telah mengakses situs porno secara sukarela. Hanya 42% responden yang menyadari risiko ditindas secara online dan 13% di antaranya telah menjadi korban. (400 subyek usia 10-19 tahun, Sumber: Unicef dan Kemenkominfo, 2014).
Pengasuhan di era digital tentu berbeda dengan pengasuhan zaman dulu. Orang tua perlu merubah pola pengasuhannya. Salah satu pola pengasuhan di era digital adalah pendidikan berbasis fitrah. Setiap anak lahir dengan fitrahnya masing-masing. Tugas orangtua adalah membangkitkan fitrah yang dimiliki anak, agar fitrah-fitrah tersebut mampu berkembang optimal.
Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Pendidikan fitrah seksualitas tentu berbeda dengan pendidikan seks. Memulai pendidikan fitrah seksualitas tentu pada awalnya tidak langsung mengenalkan anak pada aktivitas seksual, seperti masturbasi atau yang lainnya.
Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai pada pendidikan fitrah seksualitas ini. Pertama, membuat anak mengerti tentang identitas seksualnya. Anak bisa memahami bahwa dia itu laki-laki ataupun perempuan. Anak sudah harus bisa memastikan identitas seksualnya sejak berusia tiga tahun. Orangtua mengenalkan organ seksual yang dimiliki oleh anak. Ada baiknya dikenalkan dengan nama ilmiahnya, misalnya vagina pada perempuan atau penis pada laki-laki. Mengapa harus nama ilmiah? Ini menghindarkan pada pentabuan. Selama ini pembicaraan seputar seksuitas dianggap tabu oleh masyarakat. Karena penjelasannya seringkali tidak secara ilmiah. Hal yang tabu ini bisa mendorong anak untuk mencari-cari secara sembunyi-sembunyi. Dan ini pada akhirnya akan memulai datangnya masalah penyimpangan seksual pada anak. Orangtua harus menjadi pihak pertama yang secara jujur dan terbuka dalam menyampaikan hal yang berkaitan dengan organ seksual anak. Sehingga anak akan mampu dengan jelas memahami identitas seksualnya.
Kedua, mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya. Anak mampu menempatkan dirinya sesuai peran seksualitasnya. Seperti cara berbicara, cara berpakaian atau merasa, berpikir dan bertindak. Sehingg anak akan mampu dengan tegas menyatakan "saya laki-laki" atau "saya perempuan". Ketiga, mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual. Ketika anak sudah lancar berbicara dan mulai berkativitas dengan peer groupnya di luar rumah, maka orangtua perlu mengajarkan tentang area pribadi tubuhnya. Area pribadi tubuh adalah bagian tubuh yang tidak boleh dipegang oleh orang lain, kecuali untuk pemeriksaan atau untuk dibersihkan. Hanya orangtua ataupun dokter yang boleh memegang area pribadi ini. Ada empat area pribadi yaitu anus, kemaluan, payudara dan mulut.  Dengan demikian anak akan waspada kepada pihak-pihak yang akan melakukan kejahatan seksual padanya.
Bila anak sudah mengerti fitrah seksualitasnya, maka dia akan mampu melindungi tubuhnya dari kejahatan seksual. Anak yang fitrah seksualitasnya berkembang dengan baik, akan terhindar dari kejahatan seksual, baik sebagai korban maupun pelaku.

Ditulis Oleh :
Dian Kusumawardani, S.Sos.
Fasilitator Omah Rame


Senin, 21 Agustus 2017

Peneliti Cilik Ku

Usia 0-7 tahun memang bukan masa keemasan tumbuhnya fitrah bakat anak.
Namun di usia ini tidak ada salahnya bila orangtua mulai memberikan berbagai stimulus untuk menumbuhkan fitrah bakat anak.

Bagaimana caranya?
Menyadur materi kelas bunda sayang ketujuh ini, dalam menemukan fitrah bakat anak
orangtua harus sering melakukan “ *_discovering ability_*” agar anak menemukan dirinya, dengan cara mengajak anak kaya akan wawasan, kaya akan gagasan, dan kaya akan aktivitas.






Sehingga anak dengan cepat menemukan aktivitas yang membuat matanya berbinar-binar(enjoy) tak pernah berhenti untuk mengejar kesempurnaan ilmu seberapapun beratnya (easy)dan menjadi hebat di bidangnya (Excellent).

Setelah ketiga hal tersebut di atas tercapai pasti akan muncul produktivitas dan apreasiasi karya di bidangnya (earn).

Begitu pula yang kami lakukan kepada Chacha.
Kami memperkenalkannya berbagai kegiatan.
Menambah wawasannya baik melalui buku ataupun kegiatan praktek langsung dilapangan.
Sejauh ini, pengamatan kami menemukan bahwa Chacha suka dengan aktivitas outdoor dan melakukan percobaan sains sederhana atau membuat sesuatu sendiri (DIY).

Seperti meneliti tanaman yang ada disekitar rumah.
Dengan kaca pembesar, spidol dan tabel pengamatan dia nampak seperti ahli botani,, he he he.
Dia membedakan bagian-bagian tumbuhan.
Mulai dari daun, bunga, akar dan buah.

Mungkin dia belum mengerti secara ilmiah bagian-bagian tunbuhan tersebut.
Namun yang terpenting, dia berbinar-binar saat melakukan aktivitas tersebut.



#Day5
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Sabtu, 19 Agustus 2017

Outing Seru

Salah satu kegiatan yang membuat Chacha berbinar-binar adalah bila diajak outing.
Dia sangat suka kegiatan fisik dan melihat hal-hal baru.
Maka kemarin kami memutuskan outing ke kebun binatang.

Pergi ke kebun binatang adalah pengalaman yang kedua bagi Chacha.
Namun tetap saja dia sangat excited.
Selain melihat berbagai jenis tumbuhan, Chacha juga bisa melakukan aktivitas fisik di arena outbond.






Hal yang paling membuatnya senang adalah dia bisa naik gajah.
Dia berani naik gajah tanpa kami dampingi.
Pengalaman naik gajah adalah yang pertama baginya.

Melalui kegiatan outing ini anak bisa meresapi kebesaran Allah.
Bahwa semua binatang dan keindahan alam adalah ciptaanNya.
Fisiknya semakin terlatih dengan jelajah saat outing.
Dan yang paling penting, anak merasa senang.

#Day4
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Bunda, Aku Mau Berenang

Siapa yang tak ingin punya anak berprestasi.
Punya bakat yang membanggakan.
Saya pun ingin demikian.
Namun teringat pesan gurunda, bahwa dalam mendidik anak ada prinsip yang harus dipegang.
Apa itu?
Buatlah gunung, jangan meratakan lembah.
Artinya nak yang terlihat berbinar-binar mempelajari sesuatu, kemudian orangtuanya mengijinkan anak tersebut menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempelajari hal tersebut, maka kita sedang mengijinkan lahirnya maestro baru.
Ini namanya membuat gunung. Anak akan memahami misi spesifiknya untuk hidup di muka bumi ini.







Seperti beberapa hari kemarin, di sekolah Chacha ada kolam renang.
Sebulan 2x anak-anak menerima pelajaran berenang.
Chacha sangat senang, dia nampak berbinar-binar.
Kami tawarkan padanya, apa dia mau berenang lebih rutin.
Sebab di sekolah ada ekstra berenang yang dilakukan rutin tiap seminggu sekali.
Mempelajari renang lebih intensif dan profesional.
Dia mau.

Kami pun membelikannya berbagai perlengkapan berenang.
Jum at kemarin adalah hari pertamanya mengikuti renang.
Dia tidak capek, walaupun pulang sekolah langsung ikut ekstra renang.
Dia senang dan bersemangat.
Dan tak sabar untuk berenang lagi.
Alhamdulillah..

#Day3
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Jumat, 18 Agustus 2017

Playmates

Bermain adalah aktivitas favorit anak-anak.
Apalagi bila bermain dengan teman sebayanya.
Saya memang agak membatasi Chacha main diuar, karena kami punya jadwal main bersama di rumah.
Namun kadang bila saya ada waktu untuk menemaninya, maka saya ijinkan dia main di luar.



P


Seperti kemarin, saya ijinkan dia bermain di luar.
Teman-temannya naik mobil-mobilan, sementara Chacha menaiki sekuternya.
Bermain bersama sebayanya selain mengasah kemampuan inter personalnya, juga mampu memberikan "warna" laun dalam ruang berpikir imajinatif dan kreatifnya.
Anak-anak tersebut dapat saling bertukar ide lewat berbagai permainan yang mereka mainkan, tanpa sadar bahwa mereka sebenarnya saling bertukar ide.


#Day2
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Kamis, 17 Agustus 2017

Bersenang-senang di Malam Tirakatan

Kemarin ada acara malam tirakatan di wilayah tempat tinggal kami.
Chacha sangat senang, karena dia bebas bermain dengan terangga yang seusianya.
Chacha memang suka bermain di luar rumah, apalagi dengan banyak teman.





Bermain bersama teman adalah salah satu upaya dalam mengoptimalkan ranah hubungan inter personal.
Semangat bermainnya hingga larut malam.
Chacha tidak terlihat capek, dia sangat senang apalagi dapat hadiah hiburan.
Walaupun kali ini dia belum berpartisipasi dalam lomba yang diadakan.

So lets play and learn.

#Day1
#Tantangan10Hari
#Level7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga


Rabu, 16 Agustus 2017

Malam Tirakatan Ala RT 33

Kemarin adalah kali kedua saya mengikuti tradisi malam tirakatan di RT 33.
Maklum saya sekeluarga adalah warga baru di lingkungan tempat tinggal kami.

Tirakatan kemarin sangat meriah.
Dibuka dengan pembacaan doa.
Kemudian dilanjutkan dengan pembagian berbagai hadiah lomba agustusan yang telah digelar beberapa gari sebelumnya.








Setelah pembagian hadiah selesai, saya disuguhi tontonan perjalananan warga RT 33.
Beragam foto kegiatan RT ditayangkan.
Ini sangat berguna bagi saya yang merupakan warga baru.
Saya tau kegiatan apa saja yang sudah dilakukan oleh warga satu RT.

Seusai pemutaran slide foto kegiatan, para warga makan bersama.
Acara di tutup dengan karaoke antar warga.
Saya dan suami pun ikut menyumbangkan lagu.
Kami duet menyanyikan lagu dari Reza Artamevia dan Masaki Ueda, yang berjudul " Biar Menjadi Kenangan."

Saya yakin di berbagai daerah di Indonesia setiap tanggal 16 Agustus juga merayakan malam tirakatan.
Lalu sebenarnya apa sih makna malam tirakatan itu?
Malam Tirakatan itu sendiri Tirakatan sebenarnya berasal dari bahasa arab Thariqat-Thariq, yang berarti jalan secara harfiahnya. Secara definitif, Thariqat berarti suatu proses perjalan mencari kebenaran, atau mencari jalan yang benar. Bisa diartikan Thariqat atau Tirakat adalah pencarian nilai-nilai kebenaran. Pencarian nilai itulah yang mengilhami adanya malam tirakatan 17 agustus.
Mencari nilai tentang spirit kenegarawanan , spirit pejuangan yang telah dlakukan para pendahulu untuk membuat kemerdekaan indonesia.

Ada beberapa manfaat merayakan malam tirakatan.
Pertama, sebagai ajang berkumpul antar warga sehingga tumbuh hidup yang guyub antar tetangga.
Kedua, mempererat tali silaturahmi antar warga.
Ketiga, menjadi ajang unjuk bakat antar warga
Keempat, ikut serta memeriahkan suasana peringatan hari kemerdekaan.
Dan yang terakhir, yang paling penting adalah untuk menyuskuri nikmat kermerdekaan.

Dirgahayu Indonesiaku.

Senin, 14 Agustus 2017

Reuni, Yes or No ??

Reuni..
Hmmm siapa yang sempat galau untuk datang ke reuni??
Saya ngacung deh..
Beberapa bulan lalu, saya sempat galau untuk mendatangi reuni SMA.
Bahkan akhirnya memutuskan untuk tidak datang.
Kenapa?
Ah,, jadi malu untuk menceritakannya.
Tapi tak apalah, akan saya ceritakan.

Saya malu menghadiri reuni SMA karena saya merasa tidak ada apa-apanya dengan teman-teman lainnya.
Banyak teman yang sudah sukses sekarang ini.
Ada yang sudah jadi manager, kepala cabang, dokter yang handal, pengacara yang sukses atau ibu rumah tangga sosialita.

Lalu saya?
Ah saya hanya seorang ibu rumah tangga.
Kerja hanya sebagai freelancer.
Apa yang salah dengan ibu rumah tangga?
Tidak ada !!
Yang salah adalah saya yang masih terkenang kejayaan masa lalu,, halah..

Saat SMA siapa yang tidak kenal saya.
Aktivis OSIS tapi masih bisa masuk 3 besar di kelas, juga aktif di bidang karya ilmiah remaja.
Selama tiga tahun sekolah,, sudah ada 5 piala yang saya berikan ke sekolah, dua diantaranya berskala nasional.
Masuk PTN favorit tanpa tes.
Sederet prestasi masa lalu itu mrmbuat saya malu akan kondisi saya sekarang.
Merasa tidak sebanding dengan apa yang dimiliki teman-teman saya sekarang.
Mungkin itu yang namanya post power syndrom.

Tapi hari minggu kemarin saya bersemangat mendatangi reuni SMP.
Saya datang dan saya bisa bergembira dengan semua teman yang datang.
Apa yang membuat saya berubah?
Hmm,, ada tiga hal yang saya lakukan.







Pertama, saya lepaskan dan ikhlaskan kehidupan saya di masa lalu. Bahwa yang paling penting adalah kondisi sekarang. Mencoba sembuh dari post power syndrome.

Kedua, menerima keadaan saya sekarang. Bahwa apa yang saya miliki sekarang adalah pilihan hidup saya. Mensyukuri takdir yang saya punya.

Ketiga, jadikan reuni sebagai tempat bersenang-senang. Bergembira bertemu teman lama dan mengingat kejadian seru saat remaja. Bukan ajang pamer semata.

Nah jadi bagaimana? Mau datang reuni? Saya sih Yes..

Resume Materi

Resume Materi

⭐Semua Anak Adalah Bintang⭐

Materi Level 7
Kelas Bunda Sayang Koordinator

1⃣Assalamu'alaikum.
Ibu, terkadang saya secara sadar ataupun tidak, suka membanding-bandingkan anak saya dgn anak yg lain, terutama sepupunya yg seumuran dan sama laki-laki, hanya beda 3 minggu. Seperti misalnya anak sy blm lancar berbicara, tp sepupunya sdh 'cerewet'. Anak sy masih suka moody utk makan sendiri, sepupunya sering excited kalau mau makan sendiri.
Dampak yg sy rasakan adalah sy sendiri yg merasa terbebani, terutama kalau lagi kumpul keluarga. Secara tidak langsung kakek neneknya kadang membanding2kan.
Sy sudah berusaha berfikiran positif, bahwa anak sy memang fase pertumbuhannya beda, karakter bawannya beda, dsb. Tapi terkadang, tetap saja pikiran yg membebani itu muncul, shg sy kadang merasa kurang nyaman jika ada pertemuan keluarga besar (kelg suami).
Namun, lain halnya saat sy berkumpul dgn keluarga di kampung halaman. Rasanya tidak ada beban sama sekali. Selain krn tidak ada yg sebaya, juga krn anak sy diperlakukan begitu istimewa oleh keluarga (maklum, cucu pertama dan masih satu, hehe).
Kira-kira apa yg menyebabkan pikiran dan perasaan itu muncul ya, Bu? Dan bagaimana cara menyiasatinya agar sy bisa lebih relaxed dan enjoy?
Ohya, anak sy usia 20 bln.

Terima kasih, Ibu. ❤

Savira-Tangerang Kota

➡ Wa'alaykumsalam wt.wb mbak savira. Pada intinya membandingkan anak kita dengan anak orang lain itu TIDAK LAYAK kita lakukan, karena ini termasuk TIDAK MEMULIAKAN anak-anak kita. Dan yang paling parah lagi adalah kita tidak menghargai ciptaanNya.

Maka mulai dari sekarang, kita harus fokus pada kekuatan anak kita, dan siasati kelemahannya.

Bagaimana cara mensiasatinya? Dengan tidak mengungkit2nya dan mengkolaborasikannya dengan anak lain yang punya kelebihan di sisi kelemahan anak kita.

Hal ini akan membuat kita bahagia ketika ada anak lain yang punya kelebihan yg tidak dimiliki oleh anak kita.

apalagi usia 20 bulan, masih terlalu dini mendapatkan _kejahatan_ orang dewasa di sekitarnya. Yaitu orang dewasa yg suka membandingkan dirinya dengan anak lain.✅

Tanggapan :
😭 baik bu, terima kasih. Sy jg merasa tidak baik sekali jika membanding2kan spt itu. Meskipun sy tidak pernah mengungkapkannya di depan anak sy. Krn hanya sy pikirkan, makanya jadi sy yg terbebani sendiri.
Sy baru kepikiran, mungkin apa krn sy dulunya suka jadi anak yg diperlakukan istimewa ya sama orang tua? Jadi sy berharap anak sy juga dinomor-satukan. So, something wrong with me ya, Bu?

Bu Septi :Betul mbak, cara kita mendidik anak itu bisa jadi cermin pola pengasuhan saat kita kecil dulu.

2⃣Assalamualaikum bu...
Ank sya alika (6y5m) suka menggambar,suka bernyanyi, saat saya memasak dia jga semangat ngebantuin, saat saya menjahit, alika jga suka perhatiin, katanya pengen bsa bikin baju princes sendiri, banyak yg alika suka, bagaimana caranya menentukan /memilih kegiatan yg ia paling suka,sehingga kta sebagai ortu bsa mengarahkannya,agar nanti ia bsa enjoy,easy,exallent, earnt dibidangnya.
Risni IIP Payakumbuh-lk

➡ Wa'alaykumsalam uni, biarkanlah mengalir tanpa membuat keputusan apapun. Karena sampai usia anak 9 th saatnya mereka bereksplorasi dengan berbagai hal, kemudian berganti dg cepat. Setelah itu latih untuk fokus, menyelesaikan apa yg dipilihnya dan masih boleh beragam ( 9-14th), usia 14 th ke atas belajar untuk tuntas dan belajar menuju sang maestro di bidangnya masing-masing dengan memperbanyak jam terbang✅

3⃣Iyie - Cirebon
Bagaimana membuat anak fokus mengejar misi spesifiknya, ketika tampaknya masih agak terpengaruh teman-temannya. Makasih...


Mbak Iyie, anak yg masihh mudah terpengaruh teman-temannya itu indikator rasa percaya dirinya kurang, maka tugas kita adalah menguatkan ranah konsep diri anak tersebut. Who am I nya dulu dibahas, sebelum masuk _misi spesifik hidup_✅

4⃣Bismillah
Ibu.. saya punya dua pertanyaan:
1.Bagaimana jika yang suka membandingkan bukan orangtuanya? Tetapi Kakek/neneknya? (Membandingkan dengan sepupu2nya)
Apa yang harus kami lakukan selain menguatkan mental anak? Untuk menjaga perasaan orangtua kami, apakah benar sikap diam kami?
2.Terkait perasaan,  apakah seorang ibu bisa adil memberikan "rasa" kepada semua anakny? Atau memang Fitrah manusia memiliki kecenderungan terhadap seseorang? (Termasuk ketika memiliki lebih dari 1anak) Seringkali kita melihat, ibu yang lebih menyayangi satu anak daripada anak lainnya. Sehingga muncullah pembandingan. Terimakasih pencerahanya Ibu.
Shofi-IIP Bandung

➡Teh Shofi, ketika kakek neneknya yang membandingkan, kalau saya tidak diam teh. Saya langsung gendong anak-anak untuk bermain yg lain, agar hatinya tidak tersakiti ketika dibandingkan. Kemudian saya ajak bicara nenek dan kakeknya. Saya sampaikan bahwa kalau ingin membandingkan cucunya maka jangan di depan anak tersebut tapi panggil ibunya, saya akan tahan mendengarnya. Tapi saya tidak terima ketika anak balita dibandingkan.

Seiring bertambahnya usia, saya latih anak-anak untuk menghadapi ketika mereka dibandingkan oleh orang dewasa lain. Karena saya sdh tidak bisa terus mengawasi bermainnya anak-anak di luar, maka harus tahan mental dan punya solusi untuk menghadapinya. Ini perlu latihan.

2. Orangtua yang pilih kasih, atau menaruh kasih sayang berlebih ke salah satu anaknya itu BERBAHAYA, karena akan menyakiti anak tetsebut, muncul luka batin. Dan menyulitkan posisi "sang anak emas" di mata saudaranya. Sehingga sangat memungkinkan anak ini mendapatkan luka batin dari saudaranya. Ngeri kan impactnya✅

5⃣Mengenai discovering ability. Jujur saja saya belum punya bayangan tentang aktivitas ini.

Zuhriyyah-lamongan

➡ Discovering ability itu adalah kemampuan untuk menjelajah potensi anak-anak. Guru dan orang tua hebat adalah mereka yang memiliki discovery ability yang tinggi hingga bisa menemukan potensi tersebunyi anak sekecil debu sekalipun. Jelajahilah di empat area kehidupannya, meliputi: Ranah hubungan intra personal (Konsep diri). Rana hubungan inter personal (hubunga sesama). Ranah hubungan dengan Change Factor(Melek Perubahan). Dan ranah hubungan dengan Tuhan-nya (melek spiritual) .

Jika di empat area ini kita lakukan proses discovery dengan sempurna. Dan terus berupaya menemukan keunggulan anak di ranah tersebut, maka percayalah kita telah berada pada posisi on track dalam mebesarkan anak menuju high impact, yang kelak akan menggetarkan dunia.insya Allah✅

6⃣ Assalamu'alaikum.

Bu Septi, sy Wita dr Gresik. Membaca materi ini langsung teringat tentang fitrah bakat.
Ketika anak sudah berbinar mengerjakan sesuatu, waktunya akan banyak habis utk itu.
Yg ingin sy tanyakan :
1. Di usia brapa idealnya anak sudah perlu pendampingan mentor utk peningkatan skill nya?
Misalnya kecenderungan anak menggambar, apa dgn memberikan les menggambar itu merupakan langkah yg baik?

2. Tentang *Meninggikan gunung, jangan meratakan lembah* . Sering dicontohkan dgn si matematika. Indikatornya bagaimana ketika anak tak perlu diajari matematika, sdgkn matematika ada dalam setiap aspek kehidupan. Suami sering bilang "kalo matematika SD seharusnya semua anak itu bisa". Menurut ibu bagaimana?

➡ wa'alaykumsalam mbak wita,

1. Prinsip di keluarga saya *murid siap, guru datang*
Sehingga siapkan anak kita di bidangnya dengan sungguh2, maka pasti Allah akan mengirimkan mentor untuk mereka selain diri kita. Dan mentor itu hadir dalam jalan sunyi, bukan di tengah keramaian apalagi yg cari duit untuk itu. Sehingga les-les dsb itu jadikan bagian dari laku hidup anak untuk menemukan mentornya, tapi BUKAN cara satu-satunya.

2. Untuk matematika, tidak ada tulisan yg mengatakan jangan diajari matematika kan mbak. Tapi disana tertulis bahwa kalau anak tidak suka matematika, jangan dileskan matematika. Artinya matematika itu perlu, (lihat materi di sesi #6) tapi caranya tidak harus seragam dengn yg lain, dan hasil yg dicapai juga jangan diseeagamkan.

Sehingga tugas kita adalah menguatkan "delivery method" ke anak-anak. Melalui jalan yg dia suka.

Contoh saya mengajarkan ke anak ttg matematika lewat bola dan aktivitasnya. Karena anak tsb phobia pelajaran matematika tapi sangat suka main bola. Ya saya harus lewat bola unt memantik kemampuan matematis logisnya.✅

7⃣Bismillah

Bagaimana mengatasi anak2 yang terkontaminasi hal hal yang tidak baik.  Alias oleh oleh dari bermain diluar. 

Rasanya jadi tantangan tersendiri  bagi saya,  terutama ketika paksu sedang DL. 

Akhir akhir ini anak anak mendapat kosakata negatif dari luar  dan kata kata tersebut keluar jika sedang kesal. 

Karina - IIP Babel

➡mbak Karina, anak yg mudah terpengaruh kata-katanya dari luar, indikator komunikasi produktif kita di rumah belum berjalan dengan baik. Sehingga daya serapnya lebih banyak untuk kata-kata kotor.

Karena sejatinya memory anak itu hanya bisa diisi satu hal, hal baik atau hal buruk. Ketika sudah full dengan hal baik, maka pasti akan menolak hal buruk, demikian juga sebaliknya.

Sama juga dengan hati ( qalbu) hanya bisa diisi satu hal, yaitu Allah atau setan. Kalau hati kita senantiasa terisi penuh dengan mengingat DIA, maka setan tidak bisa masuk, bahkan mendekat saja tidak kuasa, demikian juga sebaliknya.

Tanggapan :
Terima kasih ibu.. 

Jadi,  catatan evaluasi bagi kami. 

Anak2 baru berusia 7 tahun dan 5 tahun. 

Apakah bermain  bebas di luar selama satu jam terlalu berlebihan bu?

Bu Septi : Kalau saya kurang mbak kalau cuma 1 jam di luar. Karena saya selalu ikut kemanapun anak-anak bermain, bahkan ajak anak tetangga untuk ikut bermain dengan saya.

Terlalu lama kalau kita mengerjakan hal lain, dan anak-anak diminta main di luar sana.

Sama juga dg gadget, akan menjadi hal yg terlalu lama kalau 30 menit dikasih gadget, agar kita bisa tenang mengerjakan yg lain.

Akan terasa kurang 30 menit bergadget ria kalau kita bermain bersama mereka.

Intinya, MAIN BARENG✅

8⃣Salam kenal mbk mekar,  saya nisfah iip lamongan.
Mau nitip pertanyaan
1. Anak kami haikal (4,5th) mulai setahun yg lalu,  sudah kelihatan suka sama binatang. Ayam,  kucing, ikan, kambing..
Melihat hal tsb kami berencana di ultah ke5 nya kami hadiahkan akuarium tuk mengetahui sejauh mana ketertarikannya. Tp renc trwujud lbih cepat (meski beralih k kolam ikan hias) saat 6 bulan lalu iseng dia minta beli ikan hias yg awalnya hanya 5 ekor @ 1.000 an dan masih menggunakan toples sebagai wadah ikannya. Ternyata saya lihat dia rajin sekali merawat ikannya dg mengecek setiap saat dan tdk lupa kasih makan setiap hari. Akhirnya berkembang ada anak2 ikan. Jdi butuh tempat yg lbih luas ( kolam ikan) ,  kami bikin bersama saat game family project kemarin. Sampai saat ini ikan2 peliharaannya ini semakin berkembang, dan kami izinkan untuk menambah jenis baru kalau dulia sukses merawat ( artinya ikannya tidak mati ).
Pertanyaannya bu septi
1. Apakah kami terlalu dini tuk kasih tanggungjawab tsb kepada anak usia (4,5th) ini, meski kami slalu ikut serta??
2. Melihat dia kurang tertarik ( butuh adaptasi ) jika ada mainan buatan ( misal,  prosotan di alun2, mandi bola) Ada kehawatiran,  dia terlalu asyik dg dunia ikannya,  sampe gk begitu tertarik dg hal lain yg bersifat tdk natural??
Mhon saran dan bimibingannya bu

➡mbak nisfah, bersyukur sekali ketika putranya sudah tumbuh hal yang disukainya sejak dini.

Sudah benar apa yg mbak kerjakan, dan jadikan family project terus agar dia tidak merasa terbebani dengan ikan.

Lihatlah bakat apa yg terlihat dg project ikan ini, apakah merawatnya, melakukan hal-hal detil, mengembangkan dll.

Sangat wajar jika anak-anak yg sdh asyik dengan mainan naturalnya tidak lagi tertarik dg mainan buatan. Artinya BENAR.

Makanya ketika saya buat school of life lebah putih, sengaja tidak saya sediakan mainan buatan, seperti prosoran dll, krn itu akan mematikan naluri alamiah anak untuk membuat mainan dari hal nyata di sekitarnya.

Akhirnya anak-anakpun sekarang terampil membuat mainan. Yang penting ada lapangan pasti jadi seru✅

Semua Anak Adalah Bintang

_Institut Ibu Profesional_
_Kelas Bunda Sayang sesi #7_

*SEMUA ANAK ADALAH BINTANG*

Anak-anak yang terlahir ke dunia merupakan anak-anak pilihan, para juara yang membawa bintangnya masing-masing sejak lahir. Namun setelah mereka lahir, kita, orang dewasa yang diamanahi menjaganya, justru lebih sering “membanding-bandingkan” pribadi anak ini dengan pribadi anak yang lain.  

*BANDINGKANLAH ANAK-ANAK KITA DENGAN DIRINYA SENDIRI, BUKAN DENGAN ANAK ORANG LAIN*

Jadi kalimat yang harus sering anda keluarkan adalah,

✅ “ *Apa bedanya kakak 1 tahun yang lalu dengan kakak yang sekarang?*"

bukan dengan kalimat

 ❌ “Mengapa kamu tidak seperti si A, yang nilai raportnya selalu bagus?”

❌ ”Mengapa kamu tidak seperti adikmu?” 

Kita, orang dewasa yang dipercaya untuk melejitkan “ _mental jawara_” anak, justru lebih sering memperlakukan mereka menjadi anak rata-rata, yang harus sama dengan yang lainnya. 

*MEMBUAT GUNUNG, BUKAN MERATAKAN LEMBAH*

_Ikan itu jago berenang, jangan habiskan hari-harinya dengan belajar terbang dan berharap terbangnya sepintar burung_

Seringkali kalau ada anak-anak yang tidak menyukai matematika, kita paksakan anak untuk ikut pelajaran tambahan matematika agar nilainya sama dengan anak-anak yang sangat menyukai matematika. Ini namanya meratakan lembah. Anak akan menjadi anak yang rata-rata.

_Burung itu jago terbang, apabila sebagian besar waktunya habis untuk belajar terbang, maka dalam beberapa waktu ia akan menjadi maestro terbang_

Anak yang terlihat berbinar-binar mempelajari sesuatu, kemudian orangtuanya mengijinkan anak tersebut menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempelajari hal tersebut, maka kita sedang mengijinkan lahirnya maestro baru. Ini namanya membuat gunung. Anak akan memahami misi spesifiknya untuk hidup di muka bumi ini. 

*ENJOY, EASY, EXCELLENT, EARN*

Kita sebagai orangtua harus sering melakukan “ *_discovering ability_*” agar anak menemukan dirinya, dengan cara mengajak anak kaya akan wawasan, kaya akan gagasan, dan kaya akan aktivitas.

Sehingga anak dengan cepat menemukan aktivitas yang membuat matanya berbinar-binar(enjoy) tak pernah berhenti untuk mengejar kesempurnaan ilmu seberapapun beratnya (easy)dan menjadi hebat di bidangnya (Excellent).

Setelah ketiga hal tersebut di atas tercapai pasti akan muncul produktivitas dan apreasiasi karya di bidangnya (earn).

*ALLAH TIDAK PERNAH MEMBUAT PRODUK GAGAL*

Tidak ada anak yang bodoh di muka bumi ini, yang ada hanya anak yang tidak mendapatkan kesempatan belajar dari orangtua/guru yang baik, yang senantiasa tak pernah berhenti menuntut ilmu demi anak-anaknya, dan memahami metode yang tepat sesuai dengan gaya belajar anaknya. 

*ANAK-ANAK TERLAHIR HEBAT, KITALAH YANG HARUS SELALU MEMANTASKAN DIRI AGAR SELALU LAYAK DI MATA ALLAH, MEMEGANG AMANAH ANAK-ANAK YANG LUAR BIASA*

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Sumber bacaan

_Septi Peni Wulandani, Semua Anak adalah Bintang, artikel IIP, 2016_

_Abah Rama, Talents Mapping, Jakarta, 2016_

_Dodik Mariyanto, Belajar Cara Belajar, paparan seminar, 2016_

Jumat, 11 Agustus 2017

Merobek Tisu

Aluna suka sekali dengan tisu.
Setiap ada tempat tisu,, dia segera mengeluarkan semua tisunya.
Sekarang tidak hanya mengeluarkan tisu tapi juga suka merobeknya.








Aktivitas merobek adalah aktivitas sederhana namun sangat menyenangkan bagi si kecil.
Seru karena si kecil bisa menemukan hal yang baru.
Tisu selembar bisa dirubah menjadi kecil-kecil.

Selain itu, aktivitas merobek ini juga mengasah motoriknya.
Abaikan terlebih dahulu rumah yang kotor, yang penting anak bahagia.
Jangan lupa ikut bermain bersama ya..
:)


#HomeEducation
#FBE.Aluna.1y5m
#FitrahFisik
#FitrahPerkembangan

Rabu, 09 Agustus 2017

Mencoba Jatuh Cinta Pada Matematikat

Alhamdulillah,,
Beribu syukur kembali saya panjatkan,, memiliki kesempatan belajar dalam komunitas yang luar biasa ini.
Institut Ibu Profesional membuat saya selalu belajar untuk menjalani peran saya secara profesional.

Tantangan level 6 ini, tidak hanya bermanfaat bagi Chacha.
Namun juga sangat bermanfaat bagi saya.
Materi ini mampu membelalakkan mata saya.
Bahwa banyak cara mudah dan menyenangkan untuk bisa memahami matematika.



B



Materi ini membuat saya dan Chacha mampu bersenang-senang dalam memahami matematika.
Membuat saya optimis, bahwa saya akan bisa membimbing Chacha memahami matematika.
Sebumnya, saya sempat putus asa.
Bahwa kelak akan memasukkan Chacha ke lembaga kurus matematika.
Sebab merasa saya tak mampu.

Terimakasih IIP..
Terimakasih Bu Septi..

Dan saya pun jatuh cinta,, padamu matematika.. !!!!


#AliranRasa
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Review Game Level 6 : I Love Math

_Institut Ibu Profesional kelas_ _Review kelas Bunda Sayang sesi #6_

๐Ÿ“š *MENSTIMULUS KECERDASAN MATEMATIS LOGIS* ๐Ÿ“š

Bunda setelah kurang lebih selama 1 bulan kita belajar bersama tentang bagaimana menstimulus kecerdasan matematis logis pada diri kita dan anak-anak, maka sekarang kita bisa merasakan bahwa matematika itu bukanlah sesuatu yang jadi momok buat anak-anak. Matematika itu sangat dekat dengan kita. Kalau dulu bahkan sampai saat ini kita merasakan bahwa "matematika" itu adalah pelajaran yang sulit, kemungkinan besar karena kita  menjalani proses yang salah. Itulah pentingnya mengapa kita harus mengubah konsep pemahaman kita tentang matematika di Institut ibu Profesional ini, sehingga anak-anak kita akan selalu bahagia dengan matematika.


Sebagaimana kita tahu, matematika adalah sarana agar anak-anak kita memiliki kemampuan:

a. *Berpikir logis*

b. *Berpikir Kritis*

c. *Memecahkan masalah secara sistematis*

d. *Melatih ketelitian, kecermatan dan kesabaran*

e. *Menarik kesimpulan secara deduktif  (menarik kesimpulan berdasarkan pola yang umum. Hal ini akan membiasakan otak kita untuk berpikir secara objektif)*

Apabila melihat kelima hal diatas, sudah selayaknya kita sebagai orangtua tidk terpaku dan bahkan stress untuk hal-hal kecil di konten matematikanya. Misal ketika anak-anak kita latih perkalian saja tidak hafal-hafal. Jangan sampai gagal fokus,  karena yang kita sasar adalah kemampuan life skill anak melalui matematika, bukan kemampuan anak menghafal ilmu di matematika. Sehingga kita harus pandai untuk mencari celah dan mencari jalan lewat ilmu matematika yang mana agar anak-anak kita memiliki life skill seperti yang disebutkan di atas.

Contoh :
*Studi Kasus* :
_Ketika ada seorang anak yang sudah kelas 3 ke atas, sangat susah menghafal perkalian_

*Solusi*:
_Maka kita tidak akan memaksa anak tersebut setiap hari dengan berbagai hafalan. Kita akan melatih kemampuan berpikir logisnya_

*Kegiatan* :
_Ambil matematika dalam kehidupan sehari-hari, misal, label obat, kemudian lihat di label tersebut,  apoteker menuliskannya adalah 3 x 1_

" _Kira-kira menurut kakak apa artinya 3 x1 di aturan minum obat ini?_"

_Anak-anak akan berpikir dan mencari jawaban berdasarkan pengalamannya minum obat saat sakit_:

*_pagi minum 1 kapsul, siang 1 kapsul dan malam 1 kapsul_*


*Stimulus*  : _Setelah jawaban berpikir logisnya berjalan, kita stimulus dengan berpikir kritisnya_

" *_Andaikata apoteker itu menulisnya 1 x 3, apa kira-kira yang harus kita lakukan, apakah ada bedanya dengan 3 x 1?_* "


*Kegiatan* :
_Anak mulai melatih kemampuan memecahkan masalahnya secara sistematis. Berikan ruang anak untuk menyampaikan gagasannya tentang 3 x 1 dan 1 x 3, tanpa kita buru-buru menyalahkan atau mengoreksi_

*Kegiatan bermain*:

a. _Siapkan pernak-pernik yang berjumlah 6, (bisa 6 kerikil, 6 permen atau  6 buah mainan yang sama) dan 6 piring kecil-kecil_

b. _Ibu memberikan perintah, yuk kita lomba menata perkalian 3 x 1 dengan piring dan pernak-pernik_

c. _Ibu menata piring dan kerikilnya sendiri, anak menata piring dan kerikilnya sendiri_

d. _Ibu melihat apa yang ditata anak misal anak menata 3 piring, masing-masing diisi 1 kerikil. Ibu memberikan komentar_

 " *_Aha, keren banget Ina sudah bisa membuat perkalian 3 x 1_* "

_Kemudian anak diminta lihat apa yang ditata ibu, misal ibu mengambil 1 piring, diisi 3 kerikil_

" *_Kalau milik ibu ini model perkaliannya seperti apa ya kak?_* "

_Anak mulai menyambungkan informasi satu persatu dan menjawab_

 " *_1 x3 _*"

e. _Ibu memberikan tantangan baru_

" *_Sekarang kita coba buat perkalian 3x2, yuk_* "


Makin terasa ringan kan, kalau matematika kita dekatkan dengan hal-hal yang realistik di kehidupan anak-anak. Pendekatan matematika secara realistik ini harus bunda jadikan modal belajar agar anak-anak suka belajar matematika. Kalau anak-anak sudah suka, mereka akan menjadi pembelajar mandiri, dan kita cukup menjadi teman belajarnya saja.


Yang perlu kita ingat dalam pembelajaran matematika secara realistik adalah :

a. *Anak-anak diajak untuk menemukan kembali bagaimana para ahli dulu menemukan rumus matematika dan ilmu matematika dengan bimbingan kita  ( Guided Reinvention).  Anak-anak akan mengalami proses menemukan kembali konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika sebagaimana ketika konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika itu dulu ditemukan. Sebagai sumber inspirasi untuk merancang pembelajaran  matematika yang menekankan prinsip penemuan kembali (re-invention), dapat digunakan sejarah penemuan konsep/prinsip/rumus matematika*


b.  *Pengetahuan matematika dan pengetahuan lain secara umum,  tidak dapat ditransfer atau diajarkan melalui pemberitahuan dari ibukepada anak, melainkan anak sendirilah yang harus mengkontruksi (membangun) sendiri pengetahuan itu melalui kegiatan aktif dalam belajar*


c, *Menyiapkan model-model yang dibangun sendiri ( self-Developed Models). Sehingga kita bisa  mengaktualisasikan masalah kontekstual ke dalam bahasa matematika, yang merupakan jembatan bagi anak  untuk membuat sendiri model-model dari situasi nyata ke abstrak atau sebaliknya*


Semoga dengan pemahaman ini kita makin paham untuk apa anak-anak kita perlu belajar matematika. Bukan sekedar angka  yang tertulis di rapot, bukan juga sekedar menambah hafalan anak-anak tentang rumus-rumus matematika, tapi lebih dari itu matematika merupakan salah satu pintu masuk anak untuk mendapatkan ketrampilan hidupnya sehingga bisa lebih siap menjalankan peran di dalam kehidupannya kelak.



Salam Ibu Profesional,



/ _Tim Fasilitator Bunda Sayang_ /



๐Ÿ“šSumber Bacaan:

_Fauzan, A. (2002). Applying realistic mathematics education in teaching geometry in Indonesian primary schools. Doctoral dissertation. Enschede: University of Twente_

_Septi Peni (2004) Jarimatika : Mengenalkan Konsep Perkalian Secara Mudah dan Menyenangkan, Kawan Pustaka, Jakarta_

Minggu, 06 Agustus 2017

Belanja Di Tukang Sayur

Pagi ini, saya meminta Chacha berbelanja di tukang sayur.
Tukang sayur yang biasa lewat di depan rumah.
Ini pertama kali meminta Chacha belanja seorang diri.
Ketika tukang sayur sudah ada di depan rumah, Chacha menyebutkan item yang ingin dia beli.

Ada tiga item belanja Chacha : sayur bayam, tempe dan ikan pindang.
Semua habis sepuluh ribu rupiah.
Chacha memberika uang selembar sepuluh ribuan.
Pecahan uang favoritnya, karena warnanya ungu..!!











Belanja hari ini dalam rangka mengenalkan Chacha fungsi uang.
Bahwa bila ingin membeli sesuatu kita butuh uang.
Baru sampai situ pengenalan Chacha akan uang.
Dia belum mengerti nilai uang.

It's okay, step by step ya nak...

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day17

Jumat, 04 Agustus 2017

Mengenal Uang

Di usianya yang menginjak umur 4 tahun, perkembangan pincer graps (kemampuan menggenggam alat tulis) sudah cukup baik.
Hari ini saya mengajak Chacha bermain mengambil koin, selain untuk memperkuat pincer graps nya juga untuk mengenalkannya pada uang koin.
Mengenal uang adalah salah satu unsur kemampuan matematika lho.

Bahan yang dibutuhkan sangat mudah di dapat, yaitu :
* dough
* beragam pecahan uang koin
* penjepit







Caranya :
* uang disusun diatas dough
* ambil uang yang sudah disusun menggunakan pinset

Uang koin yang saya sediakan ada tiga jenis : 100, 200 dan 500.

Permainan ini juga melatih ketelitian, fokus dan konsentrasi si kecil lho.

Inspirasi : Buku Rumah Main Anak 2


#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day16

Kamis, 03 Agustus 2017

Skuteran Sambil Berhitung

Sore hari adalah waktunya Chacha bermain di luar rumah.
Biasanya bermain dengan teman-teman disekitar rumah.
Namun kali ini Chacha sedang ingin bermain skuter.



I


Saya memberinya tantangan, apa bisa dia main skuter sambil menghitung rumah-rumah yang ada dalam satu blok kami.
Dia menyanggupi tantangan tersebut.
Dia hitung setiap rumah yang ada, baik di sisi kanan maupun kiri.

" Ada 32 rumah Bunda " lapornya setelah keliling blok.
" good job nak!"

Matematika bisa dipelajari dimana saja.
Kapanpun dan dengan media apapun.


#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day15

Rabu, 02 Agustus 2017

Membaca Sambil Berhitung

Sebelum tidur, agenda wajib Chacha adalah dibacakan buku.
Malam ini, Chacha memilih buku "Aku Bilang Terimakasih".








Buku ini ada gamesnya lho.
Gamesnya menghitung jumlah gambar di baju tokoh pada buku, Nabil dan Naura.
Kegiatan malam ini seperti sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
Membacanya dapat, berhitung juga dapat.
Alhamdulillah.



#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day14

Selasa, 01 Agustus 2017

Bermain Geometri

Geometri merupakan bagian dari matematika.
Ada bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang dan lain-lain. Pengenalan bentuk geometri yang baik, akan membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik.









Kali ini kakak mempelajari geometri dengan media stik es krim.
Kakak membuat bangun ruang dari stik es krim.
Bangun ruang yang dibuat kakak antara lain persegi panjang, segilima, bujur sangkar dan segitiga.
Kakak sangat senang dan antusias.
Belajar sambil bermain memang selalu menyenangkan.
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day13

Semangat Kartini dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur

Bulan April, identik sebagai bulan Kartini. Bulan dimana kedudukan dan peran perempuan menjadi sorotan. Setiap tanggal 21 April, dip...