Sabtu, 02 Desember 2017

Kampung Warna-Warni : Transformasi Kampung Kumuh Menjadi Kampung Wisata




Alhamdulillah, akhirnya pukul 09.00 pagi kami sampai di stasiun Malang.
Destinasi pertama kami adalah Kampung Warna-Warni ini terletak di
Desa Jodipan, kecamatan Blimbing, Kota Malang.
Lokasinya sekitar 700 meter dari stasiun Malang.
Maka kami menempuhnya dengan berjalan Kaki.











Begitu masuk kampung, kami diwajibkan membayar tiket masuk sebesar Rp. 2.500 per orang.
Tiket kami berupa gantungan kunci, wah bisa sekalian menjadi aksesoris ni.







Kampung Warna-Warni sebenarnya adalah kampung biasa, tempat tinggal warga.
Namun yang membuatnya istimewa adalah rumah-rumah disini di cat warna-warni.
Ada 17 jenis warna yang menghiasi kampung ini.


Selain warna-warni, kampung ini memang di hias dengan menarik, memiliki beberapa spot yang bisa dijadikan tempat berfoto selfie.
Seperti payung warna-warni yang bergantung, rumah pohon, jembatan kayu , dan lain sebagainya.








Sebelum menjadi destinasi wisata, kampung ini dikenal sebagai daerah kumuh.
Maklum letaknya di daerah aliran sungai brantas.
Pemukiman sekitar sungai biasanya tumbuh menjadi pemukiman kumuh.


Inisiator dari kampung warna-warni ini berasal dari sejumlah mahasiwa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang yang tergabung dalam kelompok Guyspro.


Salah satu spot wisata yang ada di kampung ini adalah jembatan kaca.
Jembatan kaca ini menjadi penghubung antara Kampung Warna-warni Jodipan di selatan dengan Kampung Tridi Ksatriyan di utara yang dibelah oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.






 Pengunjung bisa melintasi jembatan kaca sekaligus melihat ke bawah sungai secara langsung.
Ketika ingin memasuki kampung Tridi, pengunjung harus kembali membayar tiket masuk.
Tiket seharga Rp. 2.000, tiket berbentuk stiker yang bisa dijadikan kenang-kenangan.


Sayangnya, masalah sanitasi masih menjadi masalah di kampung ini.
Disini masih banyak warga yang tidak memiliki toilet pribadi.
Warga yang tidak punya toilet pribadi, menggunakan toilet umum yang ada di kampung ini.
Bahkan tadi kami melihat seorang ibu yang memandikan anaknya di depan rumah.
Selain itu, masih banyak warga yang membuang sampah di sungai.
Sungai disekitar kampung ini dipenuhi banyak sampah.







Kampung warna-warni sudah menjadi salah satu destinasi wisata Malang.
Sudah banyak pengunjung yang datang kesini setiap harinya.
Maka sudah selayaknya masalah sanitasi menjadi diperhatikan.
Supaya pengunjung tak hanya  bisa menikmati warna-warni bangunan saja, tapi juga udara segar dari lingkungan yang bersih.


Nah ini pengalaman kami di Kampung Warna-Warni.
Bagaimana dengan kamu?
Adakah yang tertarik berkunjung?
Atau mungkin ada yang sudah pernah kesini?
Feel free to share ya gaes..

23 komentar:

  1. Lucu kampungnya warna warninya tapi kurang foto2nya mbak hehhee

    BalasHapus
  2. Suka sama tiketnya. Unik dan lain daripada yg lain ya...

    BalasHapus
  3. Kalau dari segi pariwisata memang menarik. Tapi kalau dari segi teknis saya kurang setuju dengan keberadaan kampung itu, mereka tinggal di bantaran sungai yang notabene harus bebas dari pemukiman. Karena apa? Saat debit sungai tinggi dan meluap maka dipastikan kampung itu akan tergenang.

    BalasHapus
  4. Ternyata lokasinya dekat dengan stasiun Malang ya. Kirain jauh sampe ke arah Batu. Kalo gini, next time kudu banget mampir ke sini.

    BalasHapus
  5. kalau ke Malang lagi jangan lupa ke kampung topeng mbak
    gak kalah juga sama kampung warna-warni

    BalasHapus
  6. Wahhh ramee warnanya, bikin jadi lebih hidup ya mba. Keren idenya kampung kumuh bisa jadi destinasi wisata kekinian

    BalasHapus
  7. Pro dan kontra sih, di satu sisi kampung warna warni itu kreatif banget, bisa merubah sesuatu menjadi hal yang lebih baik. Tapi ya konsekuensinya, karena kampungnya ada di dekat sungai, harus siap kalau debit air sungai naik.
    Dan sepertinya kesadaran masyarakat sekitar akan sampah harus diperbaiki karna ya kampung tersebut sudah menjadi destinasi wisata.
    After all, kampung ini memang keren luarr biasaaa

    BalasHapus
  8. Sayang bgt yaa mba masyarakat'y msh suka buang sampah di sungai.pdhl kampung warna warni nya udh keren bgt.

    BalasHapus
  9. Penasaran sama Kmampung Jodipan..belum sempat mampir :)
    Terima kasih sharingnya Mbak

    BalasHapus
  10. Hai mbak terimakasih telah menulis berimbang semoga masyarakat dan inisiator teus berbenah agar kampung warna-warni tetap menjadi tujuan wisata :))

    BalasHapus
  11. jadi lebih keren ya
    pas untuk yang hobby foto foto
    dan keliatan kayak kue ranibow..

    BalasHapus
  12. @ Tuti Saca : hehe,iya cuma itu foto-fotonya

    BalasHapus
  13. @ Rita Dewi : iya,, bisa skalian jadi souvenir

    BalasHapus
  14. @ Dian Puspita : iya mbak,, sepertinya kampung ini juga akan segera digusur, pemerintah malang sudah menyiapkan rusun

    BalasHapus
  15. @ ipeh alena : iya,, dekat.., dari stasiun bisa dilihat kampungnya,, jalan kaki saja,,skalian olahraga,,hihi

    BalasHapus
  16. @ Ikrom Zayn : oh ya,, dimana itu? jauhkah dari pusat kota malang?

    BalasHapus
  17. @ Ria Kurniasih : iya,, kreatif

    BalasHapus
  18. @ Khonsa : iya,, sepertinya memang ada wacana dari pemerintah malang, untuk menggusur kampung ini,,

    BalasHapus
  19. @ Eka Aprilya : iya, mungkin juga sampah itu dari pengunjung, karena saat saya disana juga jarang menemukan tempat sampah

    BalasHapus
  20. @ Dian Restu : iya mbak,, ayo di coba mampir :)

    BalasHapus
  21. @ Rahma Zaini : iya mbak,, saya menulis yang saya lihat :)

    BalasHapus
  22. @ Adi Stia : memang untuk yang suka foto-foto harus mampir kesini, hehe

    BalasHapus
  23. Wah bagus banget, bikin pengen kembali ke Kota Malang nih bu.. Rindu sama hujan dan bahasa jawanya.. T_T

    BalasHapus

Tradisi Lebaran di Kampung Halaman

Setelah menempuh perjalanan hampir lima jam, kami berempat tiba di Sukowati Bojonegoro. Perjalanan mudik kali ini sungguh melelahkan. T...