Senin, 30 Juli 2018

Tips Olah Sampah Ala Omah Rame



Kesadaran tentang pengolahan sampah memang sudah jadi gaya hidup kekinian. Tak hanya tentang bagaimana memilah sampah, sekarang zero waste pun sudah jadi gaya hidup bagi sebagian besar orang. Bagaimana dengan saya? Jujur saja, awalnya saya termasuk orang yang tidak mau repot dengan urusan pengolahan sampah. Bagi saya buang sampah pada tempatnya sudah cukup. Perkara selanjutnya bagaimana sampah di olah bukan menjadi urusan saya. 

Hingga ada sesuatu yang akhirnya mengganggu saya. Selama dua tahun tinggal di perumahan, ada hal yang sangat berbeda tentang permasalahan sampah. Dulu ketika tinggal di perkampungan, setiap hari ada tukang sampah yang ambil sampah di rumah. Tapi pindah ke perumahan, sampah tidak diambil setiap hari. Sampah diambil 3 hari sekali, kadang seminggu sekali bahkan pernah sepuluh hari baru diambil. Bayangkan, berapa banyaknya sampah yang menumpuk. Sampah yang menumpuk menimbulkan permasalahan baru. Bau yang tak sedap dan bisa jadi sumber penyakit. 

Awalnya saya berpikir bagaimana bila mencari tukang sampah baru. Tukang sampah yang bisa ambil sampahnya tiap hari. Tapi kata tetangga yang sudah tinggal lebih lama di perumahan, hal itu tidak bisa dilakukan. Tidak ada yang bisa cari tukang sampah baru. Jadi sudah sejak dulu seperti ini. Dan sepertinya warga hanya bisa pasrah. 

Di tingkat RT, kami punya bank sampah. Jadi sampah-sampah an organik dikumpulkan dalam satu wadah penyimpanan, lalu jika sudah terkumpul banyak akan di jual ke tukang rombeng. Uang hasil penjualan akan dimasukkan ke kas RT. Biasanya nanti bisa dijadikan tambahan pemasukan saat acara rekreasi RT.

Bank Sampah Milik RT 




Tapi bank sampah belum bisa sepenuhnya mengatasi masalah menumpuknya sampah. Wajar saja, sampah rumah tangga merupakan sampah terbesar yang dihasilkan. Di Indonesia, salah satu penghasil sampah terbesar adalah rumah tangga, dengan rata-rata setiap orang menghasilkan 800 gram sampah per hari. Jadi perlu adanya kesadaran dari tiap rumah tangga untuk bijak mengelolah sampah.

Maka saya mulai dari rumah kami. Omah rame pun mulai berbenah dalam mengelolah sampah. Beberapa cara Omah Rame dalam mengelola sampah adalah : 

1. Pisahkan jenis-jenis sampah
Kami memisahkan sampah sampah organik dan sampah anorganik.

2. Diet Plastik
Meminimalisir pembelian makanan dan minuman kemasan. Setiap belanja membawa tas kain dan wadah plastik. Pertama kali ke pasar bawa banyak wadah plastik untuk tempat ikan dan daging, memang repot. Selain itu juga dianggap aneh dengan para penjual di pasar. Tapi seiring berjalannya waktu, hal tersebut akan terlewati.




3. Kelola Sampah Secara Bijak

Sampah anorganik kami setorkan ke bank sampah. Selain itu, sampah anorganik yang berupa botol bekas air mineral kami tukarkan dengan tiket Surabaya Bus. Yap, pemerintah kota Surabaya punya bis yang tiketnya dari botol plastik bekas. Ini bisa menghemat ongkos transportasi kami.




Sampah organik misalnya sisa sayuran, kami kubur di halaman. Agar terurai menjadi kompos. Kedepannya kami akan buat lubang biopori. Supaya lebih optimal pengolahannya.



Memang baru segini sih langkahnya. Masih banyak PR bagi kami. Baru seminggu melakukan hal ini, ternyata cukup signifikan dalam mengurangi volume sampah. Fyi, baru hari ini juga tukang sampahnya datang. Sampah baru diambil setelah 10 hari yang lalu.

Seperti kata Aa Gym, mulai dari 3M. Mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang. Langkah kecil akan tetap berarti bila dilakukan secara konsisten. Semoga Omah Rame bisa semakin baik lagi dalam mengolah sampah.

Nah, ini cerita Omah Rame dalam mengelola sampah. Bagaimana dengan kamu? Sharing yuk,, bagaimana kamu mengelolah sampahmu. 


Senin, 23 Juli 2018

Festival "Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan"



" Rek ayo rek, mlaku-mlaku nang Tunjungan
Rek ayo rek, ramai-ramai bebarengan...
Cak ayo cak, sopo gelem melu aku
Cak ayo cak, golek kenalan cah ayu.."

Penggalan lirik ciptaan Mus Mudjiono tersebut menggambarkan suasana jalan Tunjungan Surabaya. Kawasan Tunjungan merupakan kawasan yang sangat legendaris bagi warga Surabaya. Sejak dulu kala, Tunjungan menjadi kawasan yang memiliki pengaruh penting dalam bidang perekonomian.





Saat ini kawasan Tunjungan dijadikan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah kota Surabaya. Bangunan-bangunan tempo dulu yang telah lama berdiri tetap dipertahankan. Tunjungan dijadikan salah satu wisata heritage Surabaya.




Di kawasan ini juga digelar festival "Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan". Sebuah festival yang ditujukan untuk melesatrikan jajanan khas Surabaya. Awalnya festival ini digelar setahun dua kali. Tapi sejak tahun ini, festival ini diadakan setiap sebulan sekali.



Bulan Juli, festival ini diadakan pada hari Sabtu kemarin. Festival digelar dari pukul 16.00 hingga 22.00 WIB. Saat festival berlangsung, kawasan Tunjungan ditutup untuk kendaraan bermotor. Tahun ini ada 150 UKM (Usaha Kecil Menengaah) yang ikut berpartisipasi dalam acara ini. Difestival ini pengunjung tak hanya bisa menikmati bernagai kuliner khas Surabaya saja, tapi juga ada berbagai produk craft dan panggung hiburan.




Kemarin saya juga berkesempatan datang ke festival ini. Sayangnya kedatangan saya terlalu larut. Sehingga saya sudah tidak bisa memilih kuliner, sebab sudah banyak yang habis. Tak hanya kuliner khas Surabaya saja yang bisa dinikmati disini. Tapi juga ada beberapa kuliner khas daerah lainnya. Seperti Kerak Telor Jakarta, Nasi Kuning Banjar hingga Serabi Notosuman khas Solo juga bisa dinikmati disini.




Harapannya festival ini menjadi jembatan kesuksesan bagi para pelaku UKM di Surabaya. Selain itu juga melestarikan kearifan lokal khas Surabaya. Mulai dari kuliner hingga sejarahnya.

Tertarik untuk mengunjungi festival ini?

Sabtu, 21 Juli 2018

Film 22 Menit, Tak Sekadar Menunjukkan Kehebatan Polisi. Ada Tiga Pelajaran Berharga yang Bisa Diambil.







Akhir pekan ini saya dan suami memilih menghabiskan waktu bersama dengan menonton bisokop. Film yang menjadi pilihan kami kali ini adalah film 22 Menit. Sebuah film karya Eugene Panji dan Myrna Paramita. Film ini dibintangi oleh beberapa artis papan atas. Diantaranya Ario Bayu, Mathias Mucus, dan Ardina Rasti.


Film 22 Menit ini terinspirasi kisah nyata peristiwa bom Sarinah atau bom Thamrin yang terjadi di Jakarta pada Januari 2016 lalu. Film ini menceritakan bagaimana gemilangnya kesatuan polisi dalam memberantas aksi terorisme hanya dalam waktu 22 menit. Secara kesuruhan film berdurasi 1 jam 11 menit ini banyak berfokus pada lembaga kepolisian itu sendiri. Bagaimana polisi menjalankan tugas-tugasnya. Baik menjadi polisi lalu lintas sampai polisi satuan tindak terorisme.


Film dengan alur maju mundur ini cukup membuat penonton ikut tegang saat menonton adegan bagaimana polisi berusaha menangkap pelaku teror. Ada lima sudut pandang yang diceritakan dalam film ini. Ario Bayu menjadi anggota pasukan anti terorisme bernama Ardi, Ade Firman Hakim memainkan polisi lalu lintas bernama Firman, Ardina Rasti sebagai pelanggar lalu lintas bernama Dessy, Hana Malasan menjadi pengunjung kedai kopi bernama Mitha, dan Ence Bagus memerankan office boy bernama Anas. Dimana kelimanya saling terkait dan ada di tempat yang sama saat peristiwa teror terjadi.


Kendati ada beberapa logika cerita yang kurang pas dalam film ini, ada tiga pelajaran berharga yang bisa diambil dari film ini.
Pertama, setiap pekerjaan memiliki resiko tersendiri. Adegan awal menceritakan bagaimana Firman (Ade Firman Hakim) berkonflik dengan calon istrinya. Pernikahannya terancam batal karena dia dipindahtugaskan ke daerah perbatasan. Disini sebagai seorang polisi harus siap menjalankan setiap tugas yang diberikan. Siap ditugaskan dimanapun dan kapanpun. Film ini juga menceritakan bagaimana polisi adalah pekerjaan dengan resiko besar. Bahkan terkadang nyawa menjadi taruhannya. Salut kepada para polisi yang dengan berani menjakankan setiap tugasnya. Sebenarnya tak hanya polisi yang memiliki resiko pekerjaan, setiap pekerjaan memiliki resikonya masing-masing. Tentunya kita harus sudah paham dan siap dalam menerimanya.

Kedua, maut tak pernah permisi. Kisah haru para korban dalam film ini mengajarkan pada saya bahwa maut bisa datang kapan saja. Tanpa kita sadari, bila sudah waktunya pasti ajal akan menemui kita. Inilah yang harunya menjadi pengigat untuk senantiasa berbuat baik. Mengumpulkan banyak bekal saat hari pembalasan nanti. Sebab maut tak pernah datang dengan permisi. Siapkan saja diri kita.

Ketiga, pentingnya Kerjasama Tim
Di film ini juga diajarkan bahwa dalam sebuah tim diperlukan kerjasama. Keberhasilan polisi dalam mengatasi aksi tetorisme dalam waktu singkat tak terlepas dari baiknya kerjasama antar semua kesatuan polisi. Mulai dari anggota hingga jendral bersatu mengatasi aksi teror tersebut. Sebuah tim akan selalu butuh kerjasama yang baik untuk mencapai tujuan.


Meskipun endingnya terasa mengagantung, film ini cukup menghibur untuk mengisi akhir pekan. Bagaimana dengan kamu? Apa film pilihanmu akhir pekan ini?



Jumat, 13 Juli 2018

Meet Up Sambil Mencicipi Oleh-Oleh Khas Surabaya di D'Neven Surabaya Bersama Blitz Community



Bulan syawal identik dengan maraknya acara halal bi halal. Berbagai postingan halal bi halal bersliweran di media sosial. Banyak yang posting acara halal bi halal, mulai dari halal bi halal dengan teman SD sampai halal bi halal sekomplek. Duh asli bikin envy. Sebab hingga syawal mau habis  tak ada acara hala bi halal yang kuhadiri,, duh kasian banget yaaa..

Hingga akhirnya ada juga yang ngajakin halal bi halal. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Adalah mbak Nurul yang menginisiasi acara halal bi halal bersama Blitz Community. Fyi, Blitz Community adalah komunitas Blogger, Infuencer dan Netizen Indonesia. Sudah setahun saya bergabung di komunitas ini. Biasanya kami saling ngobrol di grup WA. Bahas apa aja, mulai dari masalah perbloggeran sampai gosip-gosip ria ala lambe turah, hehe. Akhirnya sesama member Blitz bisa jumpa di darat, halah..



D'Neven Surabaya di pilih sebagai tempat halal bi halal. Lokasinya strategis dan mudah dijangkau oleh semua peserta halal bi halal. Mulai dari Surabaya, Sidoarjo dan Bangkalan. Maklum anggota Blitz Community tidak hanya dari Surabaya saja. Selain itu tempatnya unyu banget. Desain minimalis dengan interior dominan berwarna putih. Cocok banget dengan dresscode kami yang colourfull!



Identiknya acara ibu-ibu, pastinya selalu heboh dan rame. Saling bertukar cerita apa aja.



Ditengah acara, ternyata ada owner D'Neven yang datang ke store. Langsung deh "ditanggap" buat ikutan gabung ngerumpi, hehehe. Adalah Kak Daniel Wiyata yang merupakan owner D'Neven. Manggilnya sengaja kak ya, karena masih under 30 lho tapi sudah sukses berbinis.




Kak Daniel bercerita tentang sejarah D'Neven yang berdiri sejak tahun 2002. D'Neven bertujuan untuk tetap bisa melestarikan kue spiku yang merupakan kue khas Surabaya. D'Neven menyuguhkan spiku resep jadul dengan berbagai variasi kekinian. Harapannya supaya generasi milinealpun bisa suka dengan kue yang legendaris ini.




Variasi spiku D'Neven banyak lho dan juga unik rasanya. Penasaran apa saja variasinya? Ini ya aku kasih tahu variasi spikoe D'Neven beserta harganya.



Classic Original 76K

Triple Vanilla 76K




Old Style 79K

Triple Chocolate 79K



Ladies and Gentleman 79K –> spiku pakai green tea dan  cappucino.




 Ini rasanya kopi banget.

Charcoal Cheesecake 89K –>  berbahan dasar charcoal, lalu dipadukan dgn cheesecake yang sangat lembut.



Cheesecakenya pakai cream cheese 100% , makanya harus disimpan di lemari es.

The King 89K –> spiku rasa duren yang rasanya duren banget!. Sebab durennya di buat dari durian asli.



Tanpa bahan campuran lainnya. Duren lovers harus coba ini. Varian ini menjadi varian yang paling banyak di pesan lho.

Tak hanya Kak Daniel yang ada di store, ternyata Ibu Zaneta Illona Chandra, selaku Operational Manager D’Neven Surabaya juga hadir. Bu Zaneta memberi kesempatan kepada kami untuk melihat proses finishing dari Spiku Charcoal Cheesecake.



Teman-teman Blitz dengan khusus melihat bagaimana bu Zaneta mengolesi kue spiku dengan selai blueberry. Dan terkesima saat bu Zaneta memotong kue spiku secara terpresisi tanpa bantuan penggaris.



Potongan spiku langsung pas saat di masukkan ke box. Amazing!!.

Oh ya selain pembelian di store, D'Neven juga melayani pesanan untuk membuka sweet corner di berbagai acara spesial. Mulai dari ulang tahun, lamaran hingga acara wedding. D'Neven juga bekerjasama dengan beberapa hotel di Surabaya seperti Luminor, Zoom, Neo, Midtown dan Fave. Bagi para tamu dari lima hotel tersebut akan mendapat diskon saat membeli spiku D'Neven.

Di akhir acara, kami semua membeli spiku D'Neven untuk keluarga di rumah. Pilihan saya adalah The King dan Charcoal Cheesecake yang merupakan dua varian favorit para pelanggan D'Neven. Ini acara halal bi halal terseru. Bisa kumpul bareng sambil mencicipi kue khas Surabaya. Apalagi bisa lihat proses pembuatan kue secara langsung plus ngobrol sama ownernya. Luar biasa kan?




Buat kamu yang pengen nyobain spiku kekinian dari D'Neven saya bagi voucher diskon ya.
Caranya, kirim WA atau telepon 0812 3410 9001. Lalu bilang kode voucher diskonnya Dian LoveDNeven. Diskonnya 5% lhoo..
Spiku bisa langsung di kirim ke rumah.





D’Neven Surabaya

Ngagel Jaya Tengah 93 Surabaya, 60284

Telp/WA:  0812 3410 9001






Senin, 09 Juli 2018

Lima Pelajaran Berharga yang di Dapat dari Film Koki-Koki Cilik


Sumber Gambar : MNCP


Momen liburan sekolah dijadikan peluang bagi para sineas untuk menyajikan beragam film yang menghibur. Begitu juga dengan para sineas dalam negeri. Ada beberapa film anak yang saat ini bisa dinikmati di bioskop. Salah satunya adalah film Koki-Koki Cilik karya Ifa Isfansyah.

Film Koki-Koki Cilik menjadi pengalaman pertama Chacha nonton di bioskop. Ya, di usianya yang baru lima tahun, ini untuk kali pertama Chacha kami ajak menonton di bioskop. Awalnya suami tidak setuju, menurutnya belum waktunya anak seusia itu nonton bioskop. Suami khawatir anak akan jadi kecanduan nonton di bioskop, dan itu adalah hal yang hedon baginya. Tapi saya punya pendapat berbeda. Tak apa anak memiliki pengalaman menonton di bioskop, asalkan kita beri pengertian bahwa menonton di bisokop adalah sebuah hiburan. Dimana bukanlah rutinitas yang harus sering dilakukan. Selain itu tentunya kita sebagai orangtua benar-benar selektif memilih jenis film yang akan di tonton oleh anak.

Pilihan kami jatuh pada Koki-Koki Cilik, sebagai film pertama yang di tonton Chacha. Di awal kemunculannya film ini sudah mencuri perhatian kami. Cerita tentang anak yang memiliki impian menjadi koki yang disuguhkan dalam film ini, seperti apa yang di cita-citakan oleh Chacha. Dia juga berkeinginan untuk menjadi koki.

Pengalaman Nonton Bioskop Pertama Kali Bagi Chacha



Maka hari minggu kemarin kami ajak Chacha ke bioskop. Dia sangat excited. Melihat setiap bagian dari bioskop. Memperhatikan setiap profesi orang-orang yang bekerja di bioskop. Mulai dari bagian ticketing hingga penjual popcornnya. Sepanjang film berlangsung dia khusyu memperhatikan. Menikmati setiap adegan yang disajikan.

Film ini tidak hanya menghibur, tapi juga kaya pesan-pesan yang mendidik. Tak hanya untuk anak-anak, tapi juga bagi orangtua. Setidaknya ada lima pelajaran berharga yang bisa diambil dari film Koki-Koki Cilik.

1. Pentingnya Menabung

Diawal cerita film ini sudah menyuguhkan sebuah nilai positif. Yaitu mengajarkan pentingnya menabung untuk bisa mendapatkan apa yang kita ingingkan. Seperti yang dilakukan oleh tokoh utama, Bima (Farras Fatik). Bima yang berasal dari keluarga yang tidak mampu sangat ingin mengikuti Cooking Camp yang biayanya sangat mahal. Menabung setahun untuk bisa mengumpulkan uang pendafataran sebesar sepuluh juta rupiah.
Pelajaran menabung ini juga menjadi acuan bagi saya sebagai orangtua. Tentunya sebagai orangtua kitalah yang harus menunjukkan contoh pada anak. Membiasakan untuk menebung semenjak dini.

2. Kerja Keras untuk Meraih Cita-Cita


Sumber Gambar : MNCP


Kegigihan Bima untuk menjadi seorang koki ditunjukkan dengan beragam kerja keras yang ia lakukan. Mulai dari mengumpulkan uang pendaftaran dengan bekerja di pasar, mengantar belanjaan tetangga-tetangganya. Sering praktek memasak di rumah dengan buku resep milik almarhum ayahnya. Hingga belajar dengan chef Rama (Morgan Oey) ditengah-tengah waktu istirahatnya di Cooking Camp.
Sungguh hal yang luar biasa. Penuh nilai, bahwa dalam mencapai cita-cita kita harus kerja keras untuk mendapatkannya.

3. Persahabatan

Sumber Gambar : MNCP


Namanya juga film anak-anak, cerita juga tidak lepas dari kisah perdahabatan anak. Di cooking camp, Bima memiliki banyak sahabat yang selalu menyemangatinya. Diantaranya seperti Niki (Clarice Cutie), Melly (Alifa Lubis), Key (Romaria Simbolon), Kevin (Marcello), dan Alva (Ali Fikry).
Persahabatan mereka sungguh manis. Mulai dari saling mendukung dengan menyalurkan energi hingga ada Niki yang sengaja menjatuhkan masakannya agar Bima tidak dieliminasi.

4. Fair Play

Sumber Gambar : MNCP


Cooking Camp adalah ajang kompetisi bagi anak-anak yang mengikutinya. Dimana ada Audrey (Choley X) sebagai juara bertahan. Di film ini mengajarkan untuk bersaing secara sehat. Kecurangan tidak bisa ditoleransi. Seperti yang dilakukan oleh Oliver (Patrick Milligan), perbuatannya mencurangi Bima membuat dia harus dieliminasi.
Selain itu sikap jiwa besar dalam bersaing juga ditunjukkan oleh Bima. Hingga di babak final, Bima tetap menganggap Audrey sebagai temannya bukan saingan yang harua dikalahkan. Bima tetap bersikap baik pada Audrey walaupun saat Bima membutuhkan pembelaan dan Audrey tidak mau membantu.
Di ending, pengorbanan Bima untuk Audrey berbuah manis.

5. Memahami Bakat Anak

Sumber Gambar : MNCP


Last but not least, pelajaran berharga dari film ini adalah pentingnya orangtua memahami bakat anak. Bahwa setiap anak itu unik, mereka punya perannya masing-masing. Tindakan bu Dian (Aura Kasih) yang terus memaksa Audrey untuk menjadi koki adalah hal yang tidak baik untuk di contoh. Adalah tidak baik memaksakan anak melakukan sesuatu yang bukan menjadi passionya. Audrey suka sekali menari, tapi mamanya (bu Dian) tidak mendukung. Mamanya memaksa Audrey untuk terus memasak.
Sebagai orangtua hal yang harus dilakukan adalah memahami bakat anak. Kemudian mendukung bakat tersebut. Agar kelak anak-anak mampu melaksanakan peran peradabannya dengan baik.


Secara keseluruhan film berdurasi 91 menit ini adalah tontonan yang menghibur. Baik secara visual maupun alur ceritanya. Film ini juga mampu menjadi tuntunan, sebab kaya akan nilai-nilai positif.

Harapannya semakin banyak sineas dalam negeri yang menghasilkan karya terbaik. Tontonan yang juga bisa jadi tuntunan. Agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi gemilang di masa yang akan datang.

Maju terus film Indonesia.

Selasa, 03 Juli 2018

Sebuah Perjuangan Mendapatkan Keturunan



Kemarin, saya dan suami bertakziah ke rumah teman. Anaknya baru saja meninggal dunia. Takziah kali ini berbeda dengan sebelumnya. Kunjungan belasungkawa kami kali ini memberi banyak pelajaran berharga bagi saya pribadi.

Ceritanya, teman kami ini sudah tujuh tahun menikah namun belum dikaruniai momongan. Selama tujuh tahun ini mereka berdua terus berikhtiar mengunjungi berbagai dokter spesialis kandungan. Kesimpulannya, hanya dengan cara bayi tabung mereka bisa mendapatkan keturunan.

Kemudian mereka mengambil keputusan. Memilih mengikuti program bayi tabung. Mahalnya biaya bayi tabung sudah mereka persiapkan. Rutin menabung selama dua tahun. Sungguh luar biasa keinginan mereka untuk mendapatkan keturunan.

Alhamdulillah, mereka pun mendapatkan keturunan. Tak tanggung-tanggung, Allah memberikan dua sekaligus. Kembar perempuan dan laki-laki. Sungguh karunia yang luar biasa. Saya yang mengetahui berita itu dari sosial media mereka, ikut merasa senang dan bersyukur. Betapa baiknya Allah, mengijabahi setiap doa mereka.

Hingga usia kandungan menginjak 6 bulan, kabar buruk datang menghampiri. Calon bayi dalam kandungan terpaksa harus dilahirkan, bila tidak nyawa si Ibu tidak akan tertolong. Sebuah keputusan yang besar, saya tahu hati teman saya pasti campur aduk tak karuan.

Akhirnya, operasi dilakukan. Kedua bayi kembar pun terpaksa dilahirkan, kendati usia kandungan baru 6 bulan. Setelah lahir, keduanya dirawat intensif. Biayanya tentu tidak murah. Seminggu kemudian, bayi perempuan meninggal dunia. Membuat hati orangtuanya sangat sedih tak karuan.

Perawatan selama seminggu menghabiskan dana yang tak sedikit. Sekitar 170 juta rupiah. Ini yang kemudian membuat teman memindahkan perawatan ke rumah sakit pemerintah, dengan memakai BPJS. Sebuah cerita yang mengharukan, ketika semua biaya rumah sakit itu ditanggung oleh seorang dokter yang dermawan. Teman saya tak membayar sepeser pun.

Disini mereka berdua sangat bersyukur. Dibalik cerita kehilangan ini, Allah karuniakan rezeki yang tak terduga. Kemudian teman saya tersebut ingat akan suatu peristiwa. Rutinitasnya bersedekah nasi bungkus setiap minggu. Pernah salah satu tukang becak yang menerima sedekah tersebut berujar "suatu saat nasi ini akan menyelamatkan anau.". Disini dia pun tersentak, tak menyangkan amalan sederhananya itulah yang menjadi pembuka rezeki perawatan bagi anaknya. Subanallah, begitu luar biasanya sedekah itu.

Duka kembali datang, berselang seminggu putera kedua pun menyusul saudarinya. Dua anak yang begitu diharapkan, kini telah pergi selamanya. Kehilangan kedua ini tentu lebih menusuk hati. Kesedihan yang lebih mendalam. Menguburkan anak kedua kalinya dalam waktu berdekatan, siapa yang tahan. Apalagi kehilangan kedua ini di depan mata. Saat melihat kondisi anak terus menurun tanpa bisa berbuat apa-apa. Ah, saya yang hanya mendengarkan saja tak kuasa menahan tangis. Apalagi mereka berdua yang mengalaminya.

Namun ketegaran mereka berdua begitu nyata. Mereka sudah ikhlas, mengambil hikmah dari kehilangan ini. Mungkin belum saatnya mereka memiliki keturunan. Bahkan sang istri menantang, agar tahun depan kembali program bayi tabung lagi. Subanallah, semoga Allah selalu mempermudah ikhtiar mereka.

Takziah kali ini memberikan saya hikmah yang luar biasa. Betapa saya harus selalu bersyukur dengan nikmat keturunan yang Allah berikan. Memiliki dua puteri yang cantik dan juga tumbuh sehat. Menjalani masa kehamilan dan kelahiran tanpa masalah yang berarti. Sekarang waktunya saya merawat karunia Allah itu dengan sebaik-baiknya. Menjadikan keduanya anak-anak yang sholeha dan berkembang sesuai dengan fitrahnya.

Kunjungan kali ini juga memberikan saya pelajaran, betapa sedekah itu sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Siapa yang ikhlas memberi, akan Allah balas dengan berlipat ganda.

Dan yang terakhir, hikmahnya adalah betapa gigih dan sabarnya mereka berdua mendapatkan keturunan. Semoga Allah mempermudah setiap ikhtiar mereka. Kelak akan menganugerahi keturunan yang sholeh dan sholeha. Juga semoga kisah ini bisa menginspirasi yang lainnya, yang masih berjuang untuk mendapatkan keturunan. Jangan pernah berputus asa, yakinlah akan pertolongan Allah. Lakukan ikhtiar disertai doa yang tak terputus. Kemudian bertawakallah dengan sabar dan ikhlas. Niscaya Allah akab memeberikan karuniaNya.
Insyaallah.

Menikmati Makan Malam Romantis di Rooftop Darmo Steakhouse Batiqa Hotel Darmo Surabaya

Beberapa bulan lagi, pernikahan kami menuju tahun ke tujuh. Tujuh tahun menjalani pernikahan, rasanya luar biasa. Bahagia dan kesedihan...