Kamis, 21 Juni 2018

Tradisi Lebaran di Kampung Halaman




Setelah menempuh perjalanan hampir lima jam, kami berempat tiba di Sukowati Bojonegoro. Perjalanan mudik kali ini sungguh melelahkan. Tak biasanya perjalanan jadi selama itu. Bis yang kami tumpangi berhenti tepat di rumah makan Hita. Tempat dimana arisan keluarga besar di gelar. Ya, arisan keluarga besar menjadi salah satu tradisi lebaran setiap tahunnya. Semua keluarga keturunan Kakek suami dari pihak ayah berkumpul.

Saat arisan keluarga berbagai acara di gelar. Diawali dengan membacakan silsilah keluarga. Kemudian lanjut sungkeman pada para tetua. Lalu saling bersalam-salaman antar keluarga. Setelah acara saling bermaaf-maafan selesai, ada acara seru yang dinantikan semua orang. Apa itu? Acara bagi-bagi doorprize. Setiap tahun saat ada arisan, masing-masing keluarga membawa hadiah. Hadiah tersebut kemudian dikumpulkan jadi satu untuk selanjutnya diundi. Ya begitu acara penukaran doorprize di keluarga kami. Sebagai penutup, ada acara ramah tamah alias makan-makan. Berbagai masakan disajikan. Mulai dari asem-asem daging, sayur asam, urap-urap, empek-empek hingga es puter.




Saat mudik, tak lupa kami juga berziarah ke makam keluarga yang letaknya tidak jauh dari rumah. Di makam ini ayah suami dikuburkan. Suami telah menjadi anak yatim sejak dia kelar 1 SD. Setiap tahun kami menyambangi makam tersebut. Anak-anak juga kami ajak berziarah, agar mereka mengenal yangkungnya walau dari batu nisannya. Ziarah kubur juga membuat kita untuk senantiasa ingat akan kematian. Bahwa hidup itu hanya sementara.

Saat sore hari acara yang dilakukan adalah berkeliling ke rumah saudara lainnya. Mulai dari saudara di daerah kota hingga Mojoranu Bojonegoro. Anak-anak selalu bersemangat saat diajak berkeling. Perjalanan kami dengan motor bisa membuat anak-anak sekalian menikmati suasana kota Bojonegoro.

Mudik tak lengkap tanpa mencicipi kuliner khas. Mulai dari cemilan yang disuguhkan seperti ledre, rengginang, kacang goreng dan lain sebagainya. Atau menikmati lezatnya Asem-Asem Daging khas Bojonegoro. Asem-asem ini berbeda dari lainnya. Adanya daun kedondong menjadikan masakan ini memiliki cita rasa yang khas dan selalu dirindukan. Suami pun sampai nambah-nambah kalau makan ini, hehehe.



Makan asem asem tak lengkap tanpa ditemani kerupuk legendaris khas Bojonegoro. Kerupuk BangJo.
Kerupuk BangJoo, sebutan mudah untuk kata abang (merah) dan ijo (hijau). Nama BangJo disebut karena kerupuk ini memang berwarna merah dan hijau, selain tentu saja ada warna lain seperti kuning dan putih. Krupuk ini disebut kerupuk klenteng, karena letak pabriknya di belakang klenteng Hok Swie Bio. Tepatnya berlokasi di Jalan Jaksa Agung Suprapto Nomor 132, Bojonegoro.

Nah itu tadi cerita tentang tradisi lebaran kami di kampung halaman. Semua tradisi itu sangat dirindukan. Mudik membawa sejuta makna dan cerita. Bagaimana tradisi lebaranmu? Sharing yukk.. :)

4 komentar:

  1. Seru lebarannya tahun ini ya mbak, kerupuk bangjo itu bikinnya pake ubi kayu ya mbak?

    BalasHapus
  2. Hmmm,, nggak deh kayaknya...

    BalasHapus
  3. Kompak bgt ya keluarganya,, biasanya ngumpulin keluarga dlm satu acara itu bsa mencucurkan keringat sebaskom,, *asli gue lebay

    BalasHapus
  4. Mudik dan kumpul keluarga setahun sekali selalu menyenangkan ya mbak

    BalasHapus

Menikmati Makan Malam Romantis di Rooftop Darmo Steakhouse Batiqa Hotel Darmo Surabaya

Beberapa bulan lagi, pernikahan kami menuju tahun ke tujuh. Tujuh tahun menjalani pernikahan, rasanya luar biasa. Bahagia dan kesedihan...