Senin, 13 Agustus 2018

Keliling Jakarta Dua Hari, Tidak Cukup !!







Jakarta, kota yang cukup berarti buat saya. Merantau selama 1,5 tahun cukup membuat saya jatuh cinta dan merindu. Makanya senang sekali saat kemarin bisa datang kembali ke ibukota. Kendati hanya dua hari, cukup mengobati kerinduan saya.



Tiba di hari sabtu pagi, saya langsung menuju Hotel Sofyan di Tebet. Mengikuti acara Updating Breastfeeding Management dan Lactacion Massage Training. Acara pelatihan ini membuat saya senang sekali. Bisa menerima banyak ilmu tentang menyusui plus bertemu banyak teman-teman yang juga sangat peduli tentang menyusui. 



Selesai acara pelatihan, saya menemui mentor menulis saya, Deka Amalia. Kami bertemu di daerah Gatot Subroto. Pertemuan yang sangat saya nantikan. Setahun ini sudah berkenalan secara online. 



Bu Deka, adalah orang yang sangat berjasa atas lahirnya buku solo saya, "Ibuku adalah Sekolah Terbaikku". Bu Deka mentor menulis saya, ketelatenannya dalam membimbing saya berbuah manis. Buku solo saya bisa laku sebanyak 2200 eksemplar. Angka yang cukup fantastis bagi penulis pemula seperti saya.



Setelah bertemu bu Deka, saya meluncur ke daerah Setiabudi. Ada janji dengan sahabat baik. Kami bersahabat sudah 16 tahun. Jarak Jakarta-Surabaya tak membuat hubungan kami renggang. Saya di traktir makan mie Aceh yang paling enak se Jakarta. 



Alhamdulillah, mie goreng kambingnya emang enak. Kami ngobrol sebentar, mulai dari karir hingga asmara. Plus di kasih lipstik pula.. :)




Setelah itu saya menuju Plaza Festival di daerah Kuningan. Dari Setiabudi One saya memilih jalan menuju Plaza Festival. Lumayanlah untuk membakar mie Aceh yang barusan saya makan, haha. Selain itu juga sambil menikmati pemandangan malam Jakarta. 



Di Plaza Festival saya menemui suami, mama dan dua anak saya yang sedang menikmati makan malam. Ya, perjalanan ke Jakarta kali ini saya tidak sendiri. Bawa rombongan!. Selesai makan malam kami pulang ke homestay di daerah Guntur Raya. 



Keesokan harinya, kembali ke hotel Sofyan. Pelatihan hari kedua. Hari minggu usai pelatihan saya pergi berkunjung ke rumah saudara di Setiabudi. Saya tak bisa berlama-lama disana, sebab masih harus berkunjung ke dua tempat. 




Dari Setiabudi meluncur ke Mampang. Bertemu teman kantor dan nostalgia dengan kantor lama. 



Lalu lanjut ke Pondok Aren. Menempuh perjalanan selama 18 km. Makan malam bersama sepupu. 




Jakarta, punya banyak cerita. Banyak tempat yang masih ingin saya kunjungi. Namun sayang waktu terbatas. Tapi kendati singkat, perjalanan kali ini punya hikmah tersendiri. Perjalanan singkat ini mengajarkan saya tentang manisnya silaturahmi. Betapa banyak orang yang belum pernah ataupun jarang saya temui, masih bersikap baik saat bertemu. Selain buat hati senang, silaturahmi bisa bikin panjang umur dan lancar rezeki lho.

Semoga kapan-kapan bisa kembali ke Jakarta dengan waktu yang lebih lama. Terimakasih semuanya. Maaf ya jika ada beberapa orang yang belum sempat saya temui kemarin (sok artis 😎😎). 

Minggu, 12 Agustus 2018

Pentingnya Literasi Digital dalam Keluarga






Dewasa ini relasi antara manusia dengan media digital semakin tidak terpisahkan. Keberadaan media digital tidak bisah dipisahkan dengan internet. Internet sejak ditemukan pada tahun 1980 an memiliki berkembangan yang massif. Internet mampu masuk ke semua ranah kehidupan manusia. Mulai dari ranah publik hingga domestik. Banyak aktivitas yang dilakukan dengan internet. Mulai dari bekerja, belanja, bersosialisasi, transaksi keuangan dan lain sebagainya. 


Setiap tahunnya pengguna internet terus bertambah. Di Indonesia, menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet sebesar 143, 2 juta jiwa. Angka ini menunjukkan kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya. Pengguna internet di Indonesia mencapai 54,68 % dari total populasi. Pengguna internet sebagian besar berada di Pulau Jawa, yaitu sekitar 58,08%. APJII juga melakukan survey tentang panetrasi pengguna internet berdasarkan usia. Hasil survey menunjukka data panetrasi pengguna internet paling banyak adalah usia remaja (13-18 tahun) yaitu sebesar 75, 50%. 


Penelitian lain menunjukkan bahwa dewasa ini usia muda semakin banyak yang sudah terpapar internet. Di Amerika, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Common Sense Media pada tahun 2014 menunjukkan bahwa 72% anak usia di bawah 8 tahun dan 38% bayi di bawah usia 2 tahun sudah akrab dengan media digital seperti smartphone, tablet, IPad dan IPod yang sudah terkoneksi dengan internet. 


Dalam kehidupan sehari-hari juga kita temui di beberapa public space seperti mall, swalayan, bandara dan lain sebagainya anak-anak usia 3-9 tahun asyik dengan gadgetnya masing-masing. Mereka menikmati berbagai jenis game dan film melalui internet. Youtube menjadi hal yang sangat akrab bagi anak-anak saat ini. Bahkan menjadi seorang youtubers adalah cita-cita bagi kebanyakan anak masa kini.


Dengan perkembangan teknologi internet yang pesat, cakupan penyebaran konten digital juga semakin luas dan beragam. Munculnya konten-konten bermuatan negatif dan kabar bohong atau hoax, ponografi hingga cyberbullying  menjadi sebuah permasalahan serius yang harus diperhatikan. Disinilah keluarga perlu ambil bagian. Mengingat keluargalah sebagai pihak yang pertama kali mengenalkan anak pada internet. Keluarga perlu mengambil peran dalam menumbuhkan literasi digital. 


Apa itu Literasi Digital Keluarga


Literasi digital adalah ketertarikan, sikap, dan kemampuan individu menggunakan teknologi digital dan alat komunikasi untuk mengakses, mengelola, mengintegrasikan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi, membangun pengetahuan baru, membuat, dan berkomunikasi dengan orang lain agar dapat berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat. Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, keluarga memiliki peran penting dalam menumbuhkan literasi digital setiap anggotanya. Literasi digital keluarga berarti sebuah usaha yang dilakukan oleh setiap anggota keluarga dalam praktik literasi digital. 


Mengapa perlu ada literasi digital? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita bedah satu per satu dampak yang ditimbulkan oleh media digital, khususnya bagi anak.


Dampak Positif :


  • Anak mengerti teknologi komputer melalui media games dalam gadget.
  • Anak mudah mencari informasi dalam mempermudah mengerjakan tugas belajarnya.
  • Merangsang kreativitas dan kompetensi.
  • Sebagai media bersama orangtua dalam mencari hiburan.
  • Mengetahui berbagai jenis budaya yang ada di dunia.
  • Sarana mengekspresikan suara hati serta pelarian positif dari tekanan dan kejenuhan.
  • Memiliki kesempatan bergabung dengan komunitas dari berbagai belahan dunia.

Dampak Negatif :


  • Akses informasi yang tak terbatas, 
  • Kehidupan glamor yang banyak ditunjukkan akan membuat anak terseret penyalagunaan narkoba dan seks bebas.
  • Kebingungan identitas jenis kelamin dan peran gender karena adanya pengaruh transgender yang menjadi role model dunia bisnis digital.
  • Membentuk citra diri berdasarkan hal yang sering ditontonnya, dimana kebanyakan bersifat negatif. Hal ini terjadi karena anak masih belum bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. 
  • Anak menjadi asyik dengan dunianya sendiri. Interaksinya hanya dengan layar, mendegradasi dirinya sebagai makhluk social.
  • Kurangnya interaksi dengan keluarga membuat hubungan dengan keluarga menjadi tidak harmonis.
  • Lupa waktu, keasyikan berinteraksi dengan gadget membuat anak lupa waktu. Mereka lupa waktu belajar, makan bahkan mandi. Sebagian besar waktunya didedikasikan untuk gadgetnya. 


Mengingat media digital lebih banyak memberikan dampak negatif daripada positif, disinilah pentingnya keluarga melakukan literasi digital. Pentingnya keluarga melakukan literasi digital diperkuat dengan hasil penelitian dari Jaringsn Pegiat Literasi Digital (Japelidi) pada tahun 2017. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa orangtua (12,3%) menjadi salah satu kelompok sasaran dalam kegiatan literasi digital. Selain itu ada pelajar (29,55%), mahasiswa (18,5), masyarakat umum (15,22%), guru dan dosen (10,14), komunitas (7,16%), dan lainnya (ormas, LSM, media, pemerintah) sebanyak (6,86%) dan peneliti hanya (0,29%).  Lalu bagaimana cara melakukan literasi digital?.

Bagaimana Melakukan Literasi Digital Keluarga





Menurut Marc Prensky, para orangtua adalah digital immigrant, sementara anak-anak adalah digital native. Digital immigrant ada;ah mereka yang lahir sebelum perkembangan teknologi digital yang pesat. Sedangkan digital native adalah mereka yang lahir saat perkembangan digital begitu pesat. 


Sebagaimana karakteristik imigran pada konteks kewilayahan, digital immigrant-lah yang perlu melakukan adaptasi dalam kondisi saat ini. Sebuah hal yang tidak realistis bila para imigran menuntut dunia tetap seperti keinginannya atau memaksa para native untuk mengikuti cara hidup seperti mereka dulu. 


Banyak orangtua yang kesulitan dalam mengikuti perkembangan teknologi digital saat ini. Beberapa diantaranya tidak ingin belajar dan berubah, memilih untuk berada pada zona nyamannya. Akibatnya mereka menyalahkan teknologi itu sendiri. Lalu sebaiknya bagaimana sikap orangtua dalam menghadapi perkembangan teknologi digital ini?. Inilah yang menjadi kunci utama dalam melakukan literasi digital keluarga. Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai upaya literasi digital dalam keluarga antara lain :


💠Orangtua adalah model pembelajaran bagi anak-anak
Seperti kata pepatah, anak adalah peniru ulung. Literasi digital pada keluarga dimulai dari orangtua. Orangtua menunjukkan penggunaan media digital secara bijak. Tidak sembarangan mempercayai dan men share berita yang belum jelas kebenarannya. Menggunakan media digital untuk meningkatkan kualitas kehidupan keluarga. Seperti saya semua aplikasi yang ada di smartphone saya berguna untuk meningkatkan kapasitas saya sebagai seorang ibu. Misalnya saya install WA, WizIQ dan VC untuk menimba ilmu di kelas-kelas parenting online. Atau Cookpad ketika butuh referensi untuk menyajikan menu keluarga.
Bila saya harus online saya jelaskan pada anak-anak bahwa saya ada pekerjaan. Tidak sekadar main hp. Bila ingin bermedia sosial, maka akan saya lakukan saat anak-anak tidur. 

💠Batasi Waktu
Internet dan media digital bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Namun penggunaannya perlu diatur. Di rumah kami ada aturan gadget free mulai pukul 18.00-21.00. Saat itu semua gadget diletakkan, kami bermain bersama. Membaca buku dan saling mengobrol dengan anak-anak.
Bagi anak-anak, di home education kami ada yang namanya arena IT. Arena IT ini setiap hari Rabu. Saat arena IT, anak-anak boleh bereksplorasi dengan berbagai jenis gadget yang ada di rumah. Mulai dari laptop, smartphone, printer ataupun berselancar di dunia maya. Anak-anak boleh nonton youtube saat arena IT. Dengan waktu yang diatur tentunya. Cukup satu jam saja. 

💠Pilih dan Pilah
Anak-anak kita saat ini adalah anak-anak yang terlahir sebagai generasi Z atau generasi NET. Gen Z ini lahir pada zaman di mana internet, komputer dan telepon genggam sudah menjadi hal yang biasa. Mereka dikandung dan dilahirkan oleh ayah ibu yang hampir semua selalu membawa bawa smartphone. 

Generasi Z ini tentu saja berbeda dengan generasi orang tuanya, mereka memiliki karakteristik :

  • memiliki ambisi besar untuk sukses
  • cenderung praktis dan berperilaku instan
  • cinta kebebasan dan eksplorasi
  • cenderung percaya diri
  • memiliki keinginan besar untuk mendapatkan pengakuan
  • mereka sangat mahir dalam menggunakan gadget dan teknologi dalam keseluruhan aspek kehidupan, lebih memilih komunikasi dunia maya, dan menjadi bagian komunitas besar dalam jaringan

Dengan demikian kita tidak bisa menjauhkan mereka dengan media digital. Sesuai dengan fitrahnya, mereka perlu berinteraksi dengan dunia digital. Namun caranya adalah dengan pilih dan pilah. Misalnya, untuk anak-anak kami terlebih dahulu mendonwload kan video-video youtube yang akan mereka tonton. Dengan begini anak-anak akan terhindar dari tontonan yang tidak sesuai. Pilihan video kami disesuaikan dengan tema-tema yang sedang kami bahas di jadwal home education rumah kami. Terkadang ada juga video yang hanya bersifat hiburan semata.

💠 Dampingi

Last but not least adalah selalu damping anak-anak saat berinteraksi dengan dunia digital, terutama saat mereka belum mengerti mana yang baik dan mana yang buruk. Temani anak-anak saat menonton chanel youtube favoritnya, larutlah dalam kegembiraan saat menonton. Tak perlu berkomentar saat tayangan berlangsung. Setelah usai, diskusikan pada anak apa hikmah yang mereka dapat dari tontonan itu. Kegiatan ini akan melatih komunikasi yang baik antara orangtua dan anak. Bila kebiasaan ini dapat berlangsung dengan baik secara terus menerus, maka orangtua akan jadi sahabat terbaik bagi anak. 

Internet dan media digital tidak perlu dihindari apalagi dimusuhi. Orang tua perlu untuk selalu mengikuti perkembangannya agar dapat membimbing dan mengarahkan anak dan keluarganya dalam memanfaatkan teknologi digital. Dengan literasi digital dalam keluarga, maka teknologi digital dapat digunakan sebagai sarana peningkatan kualitas keluarga. Orangtua menjadi pelopor yang mempersiapkan generasi cerdas digital.

Referensi :
  • Bunda Sayang, 
  • Literasi Digital Keluarga, Universitas Gajah Mada, 2017
  • https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/m/index.php?r=tpost/view&id=4899

















Jumat, 10 Agustus 2018

Home Education Berbasis Digital





Keluarga secara sosiologis di definisikan sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat. Keluarga menjadi agen sosialisasi primer dalam menanamkan nilai dan norma sosial. Maka sejatianya, pendidikan yang utama adalah pendidikan keluarga. Menyadari peran tersebut, saya dan pasangan bersepakat bahwa kami akan menerapkan home education dalam keluarga kami.


Apa itu Home Education


Home Education  (HE) atau pendidikan berbasis rumah sejatinya adalah amanah bagi setiap orangtua. Melalui home education orangtua berperan sebagai pendidik utama anak. Dengan HE rumah-rumah menjadi miniature peradaban. Peradaban sebuah masyarakat berawal dari rumah. Dalam proses pelaksanaannya HE dilakukan dengan cara membangkitkan dan menumbuhkan (inside out) semua potensi fitrah yang ada dalam diri anak agar mereka mampu mencapai peran sejatinya dengan akhlak mulia.


Mengapa Perlu Home Education

Ada empat alasan utama mengapa perlu menerapkan HE.

💠 No One Responsible Except Us

Tidak ada yang lebih bertanggungjawab mendidik anak-anak selain orangtua. HE adalah amanah dan kesejatian peran bagi semua orangtua, tidak tergantikan oleh siapapun dan tidak bisa digantikan oleh siapapun.
Dan tidak ada lembaga dan guru yang paling ikhlas di muka bumi ini selain orangtua.        
                                                                                                                                                             
💠 It Takes A Village To Raise A Child

Diperlukan orang sekampung untuk membesarkan anak. Konsep berjamaah hendaknya juga diimplementasikan untuk pendidikan. HE juga memerlukan dukungan komunitas sekitar. 

💠Helping Children With Their Own Potency
Setiap anak itu unik. Mereka memiliki potensinya sendiri. Pendidikan adalah proses interaksi antara fitrah individual dan fitrah komunal. Rumah menjadi tempat terbaik untuk berinteraksi, merawat dan menumbuhkan fitrah. Melalui HE setiap potensi anak dapat dikembangkan sesuai fitrah dan peran peradabannya.

💠Miniatur Peradaban
Rumah adalah miniature peradaban. Bila rumah mampu menumbuhkan setiap potensi fitrah, maka akan secara kolektif menjadi awal mula berdirinya peradaban yang baik.


Memulai Home Education

Orangtua adalah fasilitator utama dalam menjalankan home education. Maka langkah awal dalam memulai home education dimulai dari orangtua lebih dahulu. Orangtua perlu mendidik dirinya terlebih dahulu. Memperbanyak ilmu yang bisa mendukung proses home education. Baru kemudian hal-hal teknis dalam home education bisa dilakukan.

Teknik memulai home education (HE) menurut Septi Peni Wulandani (SME Home Education) adalah sebagai berikut :

a) Berdiskusi secara rutin antara anda dan pasangan tentang konsep HE.  Jadikan setiap hari minggu sebagai waktu khusus dalam membahas HE. Mulai dari perencanaan program hingga evaluasi pelaksanaannya.


b) Seringlah belajar bersama dengan pasangan kita tentang HE, baik dengan silaturahim, ikut seminar, bedah buku dan lain-lain kemudian segera tentukan apa hal-hal baik yang bisa segera kita terapkan di keluarga kita.

c) Berpeganglah teguh pada Al Quran dan Hadist sebagai acuan utama kita mendidik anak. Yang lain hanya jadikan referensi, jangan justru membuat anda bingung.

d) Belajarlah melihat potensi unik anak-anak kita, kemudian perkuat sisi keunikan tersebut, ingat anak kita adalah “limited edition” hanya kita yang paham, jangan pasrahkan ke orang lain.
Setiap anak memiliki potensinya masing-masing. Kenali potensinya dengan banyak melakukan kegiatan bersama. Amati dan catat setiap hasil belajar bersama anak, dengan demikian kita akan mampu  mengetahui potensi anak.  


e) Mulailah membuat kurikulum untuk anak-anak kita dengan sederhana, mulai dari aktivitas mereka 0-2 tahun, 2-7 tahun, 7-10 tahun, 10-14 dan lebih dari 14 tahun.

f) Perkuat bonding anda bersama anak-anak  di usia 0-7 tahun ini. Perkuat dengan bahasa ibu dan bermain bersama alam. Jadi sebaiknya jangan terlalu dini memasukkan anak ke lembaga yang bernama “sekolah.”
Lakukan banyak aktivitas bersama anak, khususnya aktivitas di alam bebas. Biarkan anak mengamati dan mengambil pelajaran dari alam sekitarnya.


g) Ketika sudah memasuki usia sekolah perkaya wawasan anak dengan berbagai konsep pendidikan. *Ingat* “sekolah” itu hanya bagian pilihan dari pendidikan, bukan satu-satunya.

Home Education Berbasis Digital

Sesuai dengan perkembangan zaman, dimana saat ini teknologi digital berkembang sangat masif, maka kami melakukan home education berbasis digital. Home education berbasis digital berarti menggunakan berbagai bentuk teknologi digital dalam pelaksanaan home education. Ada tujuh langkah yang kami lakukan dalam melaksanakan home education berbasis digital.

1. Pilih Teknologi

Langkah awal memulai home education berbasis digital adalah dengan memilih perangkat teknologi. Teknologi digital didefinisikan sebagai  Teknologi digital adalah teknologi yang dilihat dari pengoperasionalannya tidak lagi banyak menggunakan tenaga manusia. Tetapi lebih cenderung pada sistem pengoprasian yang serba otomatis dan canggih dengan sistem komputeralisasi.

Beberapa teknologi digital yang menjadi pilihan kami antara lain :

a. Smart Phone



Smart Phone atau telepon pintar adalah telepon gengam yang mempunyai kemampuan dengan pengunaan dan fungsi yang menyerupai komputer. Melalui smart phone, kami bisa mencari referensi yang mendukung proses home education kami. Selain itu, dengan smart phone kami bisa terhubung dengan berbagai komunitas yang sangat membatu kami menjalankan home education.

b. Modem


Modem berasal dari singkatan dari modulator demodulator. Modem adalah alat yang menyediakan sinyal internet. Ya, apalah arti era digital tanpa internet. Internet adalah teknologi yang menghubungkan kita dengan dunia secara luas. Sejak ditemukan pada tahun 1969, internet telah banyak memberikan kemudahan bagi umat manusia, khususnya dalam mencari informasi.


c. Laptop
Laptop menjadi alat pembelajaran home education kami. Dengan laptop kami sebagai orangtua bisa menyajikan berbagai materi home education. Juga menuliskan setiap progres home education kami.


d. Printer


Dengan printer kami bisa mencetak semua dokumen yang dibutuhkan untuk home education. Mulai dari kurikulum, jadwal harian, laporan portofolio hingga mencari materi pengajaran.
Printer juga membantu kami dalam menyediakan worksheet bagi home education di rumah kami.

e. Smart Hafiz



Home education berbasis digital juga membutuhkan perangkat yang memadai. Salah satunya adalah "Smart Hafiz". Smart Hafiz merupakan Inovasi terbaru dari Al Qolam , produk edukasi anak-anak Islami yang memiliki banyak sekali konten edukasi dan juga Fun. Dengan kualitas suara yang sangat baik, smart hafiz ini memiliki fitur karaoke untuk media anak mengaji dan bernyayi.


2. Pilih Aplikasi

Setelah memilih perangkat teknologi, langkah selanjutnya adalah memilih aplikasi. Aplikasi di era digital bagai pisau bermata dua. Bila kita tidak bisa memilih dengan baik, maka akan menjadi hal yang negatif. Beberapa aplikasi yang kami pilih untuk mendukung home education dalam keluarga kami antara lain :

a. WhatsApp


WhatsApp Mesenger atau WhatsApp saja adalah aplikasi pesan untuk smartohone dengan basic mirip BlackBerryMessenger. WhatsApp Messenger merupakan aplikasi pesan lintas platform yang memungkinkan kita bertukar pesan tanpa biaya SMS, karena WhatsApp Messenger menggunakan paket data internet yang sama untuk email browsing web, dan lain-lain.

WhatssApp menjadi sekolah virtual bagi kami. Banyak ilmu yang kami dapat dengan bergabung dalam grup WhatssApp. Grup WhatssApp yang kami ikuti adalah komunitas-komunitas yang berkaitan dengan home education, misalnya HEBAT Community dan Institut Ibu Profesional.

b. Note


ColorNote Notepad adalah salah satu dari sekian banyak aplikasi yang ada di Android untuk pencatatan virtuaal. Dengan aplikasi ini saya dapat mengisi ponsel cerdas saya dengan 'post-it' berwarna-warni, untuk memastikan saya tidak lupa hal penting apa pun.

Note saya gunakan untuk mencatat hasil home education, membuat cek list harian, menulis artikel dan lain sebagainya. Mengetik di note menjadi pilihan terbaik saat saya tidak bisa menggunakan laptop.

c. Youtube


Youtube, siapa yang tak tahu dengan aplikasi ini. Aplikasi ini memungkinkan setiap orang untuk membagikan berbagai video. Youtube menjadi sarana bagi kami dalam mencari berbagai video edukasi.


3. Batasi Waktu



Di era digital seperti ini, menjadi tidak mungkin bila tidak memperkenalkan anak dengan teknologi. Home education berbasis digital adalah sarana bagi kami untuk mendidik anak sesuai zamannya.

Lalu bagaimana kami mengenalkan teknologi pada anak tanpa membuatnya kecanduan dan menerima dampak negatif atas teknologi itu sendiri. Cara kami dalan mengenalkan anak dengan teknologi adalah dengan membuat arena digital dalam home education kami.

Seminggu sekali anak-anak bebas bereksplorasi dengan berbagai teknologi digital. Mulai dari belajar mengenal huruf dengan laptop ataupun menonton berbagai video edukasi dari youtube.

Adanya batasan waktu dalam mengeksplorasi teknologi digital akan membuat anak mengenal teknologi tanpa kecanduan. Tidak ada larangan dalam mengenal teknologi. Namun tetap ada batasannya.

4. Pilih dan Pilah
Dalam mengakses segala informasi dari internet, pastikan untuk memilih dan memilahnya. Pilih informasi yang jelas sumbernya. Jangan mengambil semua informasi, pilih yang sesuai dengan kebutuhan. Agar tak banjir informasi, tentukan dulu informasi apa saja yang kita perlukan.

Selain itu, pastikan telah menonton terlebih dahulu setiap video yang akan diberikan pada anak. Seleksi video sesuai umur dan kebutuhan mereka. Jangan sampai mengandung unsur kekerasan maupun pornografi.

5. Dampingi

Kendati telah mensortir setiap video yang akan diberikan pada anak, tetap dampingi anak saat menontonnya. Dampingi anak saat menonton video, berikan penjelasan ketika ada yang tidak mereka mengerti dari konten video.

Setelah menonton, tanyakan pada anak tentang isi video tersebut. Menceritakan kembali isi video yang ditonton akan mengasah kemampuan anak dalam berkomunikasi. Selain itu juga akan mengasah analisa anak.

6. Teladan


Anak-anak adalah peniru ulung. Mereka akan lebih mudah meniru hal yang dilihatnya. Home education berbasis digital bertujuan menggunakan teknologi secara bijak. Memanfaatkan teknologi dalam proses pengasuhan tanpa terseret arus candu dalam teknologi itu sendiri.

Mendidik anak bijak berteknologi dimulai dari teladan yang diberikan oleh orangtua. Jadilah orangtua yang tidak larut dalam teknologi. Seperti kami, saat harus mengakses smart phone juga ada waktunya. Kami akan meletakkan smart phone kami saat membersamai anak-anak. Gadget hour tak hanya berlaku bagi anak, melainkan juga bagi kami.

7. Praktekkan

Home education berbasis digital pada akhirnya adalah mempraktekkan proses pengasuhan di era digital. Menggunakan teknologi secara bijak. Agar kita tidak akan ikut menyukseskan ketakutan yang diprediksi Albert Einstein tentang kemajuan teknologi ini, minimal di keluarga kita sendiri.
" _I fear the day that technology will surpass our human interaction,the world will have a generation of idiots_" - Albert Einstein

Home education berbasis digital adalah salah satu praktek nyata pendidikan keluarga sesuai dengan zamannya. Keluarga menjadi garda terdepan dalam mengantar anak-anak menjadi generasi penerus unggul. Jadikan teknologi untuk mempermudah proses pengasuhan.


#sahabatkeluarga


Referensi :
1. Buku "Fitrah Based Education"
2. Buku "Bunda Sayang"
3. Kuliah Bunda Sayang Materi 12 : Keluarga Multimedia, Institut Ibu Profesional
4. Pengalaman Home Education Omah Rame


Ditulis Oleh : 
Dian Kusumawardani, Sos.
Penggiat home education dan penulis buku "Ibuku adalah Sekolah Terbaikku". 


Selasa, 07 Agustus 2018

Kiat Sukses Menyusui Saat Bencana




Bencana membuat masyarakat harus mengungsi di tenda-tenda pengungsian. Situasi kehidupan saat bencana tentunya bukan kondisi yang ideal. Masyarakat yang semula hidup tenang dalam rumah, kini harus tinggal berdesak-desakan di tenda-tenda pengungsian. Kelaparan, kurangnya pasokan air bersih, lingkungan yang tidak higenies dan buruknya sanitasi menjadi persoalan tambahan yang harus dialami oleh pengungsi.

Situasi saat bencana membuat bayi-bayi rentan terkena penyakit, bahkan bisa mengalami kematian. Di situasi bencana yang darurat ini, ASI (Air Susu Ibu) menjadi solusi yang tepat sebagai asupan makanan terbaik bagi bayi. 

*Manfaat Menyusui Saat Bencana*

Menyusui saat bencana menjadi hal yang sangat penting dan bermanfaat. Beberapa manfaat yang diperoleh dengan tetap menyusui saat bencana antara lain : 




1. Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Zat antibodi dalam ASI akan membuat bayi lebih sehat dan terhindar dari berbagai penyakit yang banyak muncul di daerah bencana. Bayi yang disusui akan memiliki ketahanan tubuh yang baik.

2. Memberikan Ketenangan

Situasi bencana sangat tegang dan bisa mempengaruhi kondisi emosial bayi. Dengan menyusui secara langsung, bayi akan berada dalam dekapan ibunya. Kontak mata dan sentuhan saat menyusui membuat bayi merasa tenang dan aman. Hal ini menjadi sangat diperlukan di situasi bencana.

3. Meningkatkan Kesehatan Emosi 

Dengan tetap  menyusui saat bencana, bayi tidak hanya terhindar dari berbagai penyakit saja. Tapi juga memiliki kesehatan emosi yang baik. Sebagaimana penjelasan sebelumnya, menyusu langsung membuat bayi tenang. Ini akan membuat kondisi emosionalnya tetap baik dan terjaga kendati saat bencana.

4. Aman dan Terjamin

ASI menjadi satu-satunya asupan makanan bayi yang tetap aman produksinya kendati saat bencana terjadi. ASI praktis dan terjamin, bisa langsung diberikan ke bayi. Tidak memerlukan air bersih yang menjadi hal langka saat bencana terjadi.

Lalu bagaimana caranya menyusui saat bencana? Bukankah bencana membuat situasi menjadi tidak ideal untuk menyusui. Bukankah bencana membuat para ibu stres, sehingga ASI nya tidak keluar? 

Ibu menyusui tetap bisa mengeluarkan ASI baik dalam keadaan tenang maupun stres. Payudara bisa mengeluarkan ASI dengan bantuan refleks yang dinamakan letdown reflex yang memang dipengaruhi oleh kondisi emosional ibu, tetapi tidak dengan produksi ASI. Kedua proses ini dipengaruhi oleh 2 hormon yang berbeda (prolaktin dan oksitosin). ASI dipengaruhi suatu refleks yang dinamakan letdown reflex yang memang dipengaruhi oleh stres, tetapi tidak demikian halnya dengan produksi ASI. Kedua proses ini dipengaruhi oleh 2 hormon yang berbeda. Kurangnya pengeluaran ASI, dapat diatasi dengan meningkatkan frekuensi hisapan bayi pada payudara, sehingga meningkatkan pengeluaran hormon oksitosin. 

Menurut penelitian, ibu menyusui memiliki respon yang rendah terhadap stres. Dengan membantu ibi untuk memulai ataupun meneruskan menyusui saat bencana pada akhirnya membuat ibu terhindar dari stres. 

*Kiat Menyusui Saat Bencana*

Berikut adalah kiat-kiat yang bisa dilakukan ibu untuk bisa terus menyusui saat bencana.

1. Tenang dan Rileks

Ibu perlu tetap tenang dalam segala kondisi, termasuk saat bencana. Tak perlu memeikirkan hal-hal lainnya, yang penting saat ini adalah bisa tetap bersama bayinya. Tetap tenang dan rileks saat menyusui.

2. Cari Tempat yang Nyaman

Kendati tenda pengungsian bukanlah tempat yang nyaman, tetaplah bersyukur. Coba cari sydut mana yang bisa membuat ibu nyaman untuk menyusui.

3. Mencari Si "Nyeri"

Saat menyusui, terdapat rasa nyeri atau geli atau tangling sensation pada payudara. Si "nyeri" tersebut adalah Let Down Refleks (LDR) atau refleks pengeluaran ASI. LDR bisa dirangsang dengan hisapan bayi pada payudara secara kuat dan lama. Saat bencana biarkan bayi menghisap lebih kuat dan lama, dengan demikian ASI bisa terus keluar dengan lancar. Tak perlu khawatir bayi akan kekurangan ASI.

4. Memperbanyak Asupan Cairan

Salah satu mitos lainnya saat bencana adalah ibu malnutrisi tidak bisa menyusui bayinya. Situasi bencana terkadang membuat kurangnya asupan makanan bergizi. Namun hal tersebut tidak membuat ibu terhambat untuk terus menyusui. Produksi ASI tidak dipengaruhi status gizi ibu. Hanya 1% pada ibu malturisi berat yang terhambat produksi ASI nya. Pastikan saat bencana ibu tetap menerima asupan makanan. Lebih utama adalah dengan memperbanyak asupan cairan. Ibu menyusui saat bencana, harus lebih banyak mengkonsumsi cairan khususnya air putih. 

5. Terus Menyusui

Rumus sakti tentang produksi ASI adalah semakin sering dikeluarkan, semakin banyak ASI diproduksi. Dengan terus menyusui bayi pada saat bencana, produksi ASI tetap terjaga. Bayi tidak akan kekurangan pasokan makanan terbaiknya.

6. Sabar dan Berdoa

Tak ada satupun hal yang terjadi di dunia ini tanpa campur tangan Tuhan. Saat bencana terjadi, tetaplah bersabar dan berdoa. Semoga bisa melalui bencana ini dengan baik. Semoga hidup kembali berjalan normal. 


Demikian hal yang bisa dilakukan agar tetap bisa sukses menyusui di saat bencana. Semoga tidak ada lagi bencana yang datang menyapa. Selamat menyusui.

Keliling Jakarta Dua Hari, Tidak Cukup !!

Jakarta, kota yang cukup berarti buat saya. Merantau selama 1,5 tahun cukup membuat saya jatuh cinta dan merindu. Makanya se...