Jumat, 13 Juli 2018

Meet Up Sambil Mencicipi Oleh-Oleh Khas Surabaya di D'Neven Surabaya Bersama Blitz Community



Bulan syawal identik dengan maraknya acara halal bi halal. Berbagai postingan halal bi halal bersliweran di media sosial. Banyak yang posting acara halal bi halal, mulai dari halal bi halal dengan teman SD sampai halal bi halal sekomplek. Duh asli bikin envy. Sebab hingga syawal mau habis  tak ada acara hala bi halal yang kuhadiri,, duh kasian banget yaaa..

Hingga akhirnya ada juga yang ngajakin halal bi halal. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Adalah mbak Nurul yang menginisiasi acara halal bi halal bersama Blitz Community. Fyi, Blitz Community adalah komunitas Blogger, Infuencer dan Netizen Indonesia. Sudah setahun saya bergabung di komunitas ini. Biasanya kami saling ngobrol di grup WA. Bahas apa aja, mulai dari masalah perbloggeran sampai gosip-gosip ria ala lambe turah, hehe. Akhirnya sesama member Blitz bisa jumpa di darat, halah..



D'Neven Surabaya di pilih sebagai tempat halal bi halal. Lokasinya strategis dan mudah dijangkau oleh semua peserta halal bi halal. Mulai dari Surabaya, Sidoarjo dan Bangkalan. Maklum anggota Blitz Community tidak hanya dari Surabaya saja. Selain itu tempatnya unyu banget. Desain minimalis dengan interior dominan berwarna putih. Cocok banget dengan dresscode kami yang colourfull!



Identiknya acara ibu-ibu, pastinya selalu heboh dan rame. Saling bertukar cerita apa aja.



Ditengah acara, ternyata ada owner D'Neven yang datang ke store. Langsung deh "ditanggap" buat ikutan gabung ngerumpi, hehehe. Adalah Kak Daniel Wiyata yang merupakan owner D'Neven. Manggilnya sengaja kak ya, karena masih under 30 lho tapi sudah sukses berbinis.




Kak Daniel bercerita tentang sejarah D'Neven yang berdiri sejak tahun 2002. D'Neven bertujuan untuk tetap bisa melestarikan kue spiku yang merupakan kue khas Surabaya. D'Neven menyuguhkan spiku resep jadul dengan berbagai variasi kekinian. Harapannya supaya generasi milinealpun bisa suka dengan kue yang legendaris ini.




Variasi spiku D'Neven banyak lho dan juga unik rasanya. Penasaran apa saja variasinya? Ini ya aku kasih tahu variasi spikoe D'Neven beserta harganya.



Classic Original 76K

Triple Vanilla 76K




Old Style 79K

Triple Chocolate 79K



Ladies and Gentleman 79K –> spiku pakai green tea dan  cappucino.




 Ini rasanya kopi banget.

Charcoal Cheesecake 89K –>  berbahan dasar charcoal, lalu dipadukan dgn cheesecake yang sangat lembut.



Cheesecakenya pakai cream cheese 100% , makanya harus disimpan di lemari es.

The King 89K –> spiku rasa duren yang rasanya duren banget!. Sebab durennya di buat dari durian asli.



Tanpa bahan campuran lainnya. Duren lovers harus coba ini. Varian ini menjadi varian yang paling banyak di pesan lho.

Tak hanya Kak Daniel yang ada di store, ternyata Ibu Zaneta Illona Chandra, selaku Operational Manager D’Neven Surabaya juga hadir. Bu Zaneta memberi kesempatan kepada kami untuk melihat proses finishing dari Spiku Charcoal Cheesecake.



Teman-teman Blitz dengan khusus melihat bagaimana bu Zaneta mengolesi kue spiku dengan selai blueberry. Dan terkesima saat bu Zaneta memotong kue spiku secara terpresisi tanpa bantuan penggaris.



Potongan spiku langsung pas saat di masukkan ke box. Amazing!!.

Oh ya selain pembelian di store, D'Neven juga melayani pesanan untuk membuka sweet corner di berbagai acara spesial. Mulai dari ulang tahun, lamaran hingga acara wedding. D'Neven juga bekerjasama dengan beberapa hotel di Surabaya seperti Luminor, Zoom, Neo, Midtown dan Fave. Bagi para tamu dari lima hotel tersebut akan mendapat diskon saat membeli spiku D'Neven.

Di akhir acara, kami semua membeli spiku D'Neven untuk keluarga di rumah. Pilihan saya adalah The King dan Charcoal Cheesecake yang merupakan dua varian favorit para pelanggan D'Neven. Ini acara halal bi halal terseru. Bisa kumpul bareng sambil mencicipi kue khas Surabaya. Apalagi bisa lihat proses pembuatan kue secara langsung plus ngobrol sama ownernya. Luar biasa kan?




Buat kamu yang pengen nyobain spiku kekinian dari D'Neven saya bagi voucher diskon ya.
Caranya, kirim WA atau telepon 0812 3410 9001. Lalu bilang kode voucher diskonnya Dian LoveDNeven. Diskonnya 5% lhoo..
Spiku bisa langsung di kirim ke rumah.





D’Neven Surabaya

Ngagel Jaya Tengah 93 Surabaya, 60284

Telp/WA:  0812 3410 9001






Senin, 09 Juli 2018

Lima Pelajaran Berharga yang di Dapat dari Film Koki-Koki Cilik


Sumber Gambar : MNCP


Momen liburan sekolah dijadikan peluang bagi para sineas untuk menyajikan beragam film yang menghibur. Begitu juga dengan para sineas dalam negeri. Ada beberapa film anak yang saat ini bisa dinikmati di bioskop. Salah satunya adalah film Koki-Koki Cilik karya Ifa Isfansyah.

Film Koki-Koki Cilik menjadi pengalaman pertama Chacha nonton di bioskop. Ya, di usianya yang baru lima tahun, ini untuk kali pertama Chacha kami ajak menonton di bioskop. Awalnya suami tidak setuju, menurutnya belum waktunya anak seusia itu nonton bioskop. Suami khawatir anak akan jadi kecanduan nonton di bioskop, dan itu adalah hal yang hedon baginya. Tapi saya punya pendapat berbeda. Tak apa anak memiliki pengalaman menonton di bioskop, asalkan kita beri pengertian bahwa menonton di bisokop adalah sebuah hiburan. Dimana bukanlah rutinitas yang harus sering dilakukan. Selain itu tentunya kita sebagai orangtua benar-benar selektif memilih jenis film yang akan di tonton oleh anak.

Pilihan kami jatuh pada Koki-Koki Cilik, sebagai film pertama yang di tonton Chacha. Di awal kemunculannya film ini sudah mencuri perhatian kami. Cerita tentang anak yang memiliki impian menjadi koki yang disuguhkan dalam film ini, seperti apa yang di cita-citakan oleh Chacha. Dia juga berkeinginan untuk menjadi koki.

Pengalaman Nonton Bioskop Pertama Kali Bagi Chacha



Maka hari minggu kemarin kami ajak Chacha ke bioskop. Dia sangat excited. Melihat setiap bagian dari bioskop. Memperhatikan setiap profesi orang-orang yang bekerja di bioskop. Mulai dari bagian ticketing hingga penjual popcornnya. Sepanjang film berlangsung dia khusyu memperhatikan. Menikmati setiap adegan yang disajikan.

Film ini tidak hanya menghibur, tapi juga kaya pesan-pesan yang mendidik. Tak hanya untuk anak-anak, tapi juga bagi orangtua. Setidaknya ada lima pelajaran berharga yang bisa diambil dari film Koki-Koki Cilik.

1. Pentingnya Menabung

Diawal cerita film ini sudah menyuguhkan sebuah nilai positif. Yaitu mengajarkan pentingnya menabung untuk bisa mendapatkan apa yang kita ingingkan. Seperti yang dilakukan oleh tokoh utama, Bima (Farras Fatik). Bima yang berasal dari keluarga yang tidak mampu sangat ingin mengikuti Cooking Camp yang biayanya sangat mahal. Menabung setahun untuk bisa mengumpulkan uang pendafataran sebesar sepuluh juta rupiah.
Pelajaran menabung ini juga menjadi acuan bagi saya sebagai orangtua. Tentunya sebagai orangtua kitalah yang harus menunjukkan contoh pada anak. Membiasakan untuk menebung semenjak dini.

2. Kerja Keras untuk Meraih Cita-Cita


Sumber Gambar : MNCP


Kegigihan Bima untuk menjadi seorang koki ditunjukkan dengan beragam kerja keras yang ia lakukan. Mulai dari mengumpulkan uang pendaftaran dengan bekerja di pasar, mengantar belanjaan tetangga-tetangganya. Sering praktek memasak di rumah dengan buku resep milik almarhum ayahnya. Hingga belajar dengan chef Rama (Morgan Oey) ditengah-tengah waktu istirahatnya di Cooking Camp.
Sungguh hal yang luar biasa. Penuh nilai, bahwa dalam mencapai cita-cita kita harus kerja keras untuk mendapatkannya.

3. Persahabatan

Sumber Gambar : MNCP


Namanya juga film anak-anak, cerita juga tidak lepas dari kisah perdahabatan anak. Di cooking camp, Bima memiliki banyak sahabat yang selalu menyemangatinya. Diantaranya seperti Niki (Clarice Cutie), Melly (Alifa Lubis), Key (Romaria Simbolon), Kevin (Marcello), dan Alva (Ali Fikry).
Persahabatan mereka sungguh manis. Mulai dari saling mendukung dengan menyalurkan energi hingga ada Niki yang sengaja menjatuhkan masakannya agar Bima tidak dieliminasi.

4. Fair Play

Sumber Gambar : MNCP


Cooking Camp adalah ajang kompetisi bagi anak-anak yang mengikutinya. Dimana ada Audrey (Choley X) sebagai juara bertahan. Di film ini mengajarkan untuk bersaing secara sehat. Kecurangan tidak bisa ditoleransi. Seperti yang dilakukan oleh Oliver (Patrick Milligan), perbuatannya mencurangi Bima membuat dia harus dieliminasi.
Selain itu sikap jiwa besar dalam bersaing juga ditunjukkan oleh Bima. Hingga di babak final, Bima tetap menganggap Audrey sebagai temannya bukan saingan yang harua dikalahkan. Bima tetap bersikap baik pada Audrey walaupun saat Bima membutuhkan pembelaan dan Audrey tidak mau membantu.
Di ending, pengorbanan Bima untuk Audrey berbuah manis.

5. Memahami Bakat Anak

Sumber Gambar : MNCP


Last but not least, pelajaran berharga dari film ini adalah pentingnya orangtua memahami bakat anak. Bahwa setiap anak itu unik, mereka punya perannya masing-masing. Tindakan bu Dian (Aura Kasih) yang terus memaksa Audrey untuk menjadi koki adalah hal yang tidak baik untuk di contoh. Adalah tidak baik memaksakan anak melakukan sesuatu yang bukan menjadi passionya. Audrey suka sekali menari, tapi mamanya (bu Dian) tidak mendukung. Mamanya memaksa Audrey untuk terus memasak.
Sebagai orangtua hal yang harus dilakukan adalah memahami bakat anak. Kemudian mendukung bakat tersebut. Agar kelak anak-anak mampu melaksanakan peran peradabannya dengan baik.


Secara keseluruhan film berdurasi 91 menit ini adalah tontonan yang menghibur. Baik secara visual maupun alur ceritanya. Film ini juga mampu menjadi tuntunan, sebab kaya akan nilai-nilai positif.

Harapannya semakin banyak sineas dalam negeri yang menghasilkan karya terbaik. Tontonan yang juga bisa jadi tuntunan. Agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi gemilang di masa yang akan datang.

Maju terus film Indonesia.

Selasa, 03 Juli 2018

Sebuah Perjuangan Mendapatkan Keturunan



Kemarin, saya dan suami bertakziah ke rumah teman. Anaknya baru saja meninggal dunia. Takziah kali ini berbeda dengan sebelumnya. Kunjungan belasungkawa kami kali ini memberi banyak pelajaran berharga bagi saya pribadi.

Ceritanya, teman kami ini sudah tujuh tahun menikah namun belum dikaruniai momongan. Selama tujuh tahun ini mereka berdua terus berikhtiar mengunjungi berbagai dokter spesialis kandungan. Kesimpulannya, hanya dengan cara bayi tabung mereka bisa mendapatkan keturunan.

Kemudian mereka mengambil keputusan. Memilih mengikuti program bayi tabung. Mahalnya biaya bayi tabung sudah mereka persiapkan. Rutin menabung selama dua tahun. Sungguh luar biasa keinginan mereka untuk mendapatkan keturunan.

Alhamdulillah, mereka pun mendapatkan keturunan. Tak tanggung-tanggung, Allah memberikan dua sekaligus. Kembar perempuan dan laki-laki. Sungguh karunia yang luar biasa. Saya yang mengetahui berita itu dari sosial media mereka, ikut merasa senang dan bersyukur. Betapa baiknya Allah, mengijabahi setiap doa mereka.

Hingga usia kandungan menginjak 6 bulan, kabar buruk datang menghampiri. Calon bayi dalam kandungan terpaksa harus dilahirkan, bila tidak nyawa si Ibu tidak akan tertolong. Sebuah keputusan yang besar, saya tahu hati teman saya pasti campur aduk tak karuan.

Akhirnya, operasi dilakukan. Kedua bayi kembar pun terpaksa dilahirkan, kendati usia kandungan baru 6 bulan. Setelah lahir, keduanya dirawat intensif. Biayanya tentu tidak murah. Seminggu kemudian, bayi perempuan meninggal dunia. Membuat hati orangtuanya sangat sedih tak karuan.

Perawatan selama seminggu menghabiskan dana yang tak sedikit. Sekitar 170 juta rupiah. Ini yang kemudian membuat teman memindahkan perawatan ke rumah sakit pemerintah, dengan memakai BPJS. Sebuah cerita yang mengharukan, ketika semua biaya rumah sakit itu ditanggung oleh seorang dokter yang dermawan. Teman saya tak membayar sepeser pun.

Disini mereka berdua sangat bersyukur. Dibalik cerita kehilangan ini, Allah karuniakan rezeki yang tak terduga. Kemudian teman saya tersebut ingat akan suatu peristiwa. Rutinitasnya bersedekah nasi bungkus setiap minggu. Pernah salah satu tukang becak yang menerima sedekah tersebut berujar "suatu saat nasi ini akan menyelamatkan anau.". Disini dia pun tersentak, tak menyangkan amalan sederhananya itulah yang menjadi pembuka rezeki perawatan bagi anaknya. Subanallah, begitu luar biasanya sedekah itu.

Duka kembali datang, berselang seminggu putera kedua pun menyusul saudarinya. Dua anak yang begitu diharapkan, kini telah pergi selamanya. Kehilangan kedua ini tentu lebih menusuk hati. Kesedihan yang lebih mendalam. Menguburkan anak kedua kalinya dalam waktu berdekatan, siapa yang tahan. Apalagi kehilangan kedua ini di depan mata. Saat melihat kondisi anak terus menurun tanpa bisa berbuat apa-apa. Ah, saya yang hanya mendengarkan saja tak kuasa menahan tangis. Apalagi mereka berdua yang mengalaminya.

Namun ketegaran mereka berdua begitu nyata. Mereka sudah ikhlas, mengambil hikmah dari kehilangan ini. Mungkin belum saatnya mereka memiliki keturunan. Bahkan sang istri menantang, agar tahun depan kembali program bayi tabung lagi. Subanallah, semoga Allah selalu mempermudah ikhtiar mereka.

Takziah kali ini memberikan saya hikmah yang luar biasa. Betapa saya harus selalu bersyukur dengan nikmat keturunan yang Allah berikan. Memiliki dua puteri yang cantik dan juga tumbuh sehat. Menjalani masa kehamilan dan kelahiran tanpa masalah yang berarti. Sekarang waktunya saya merawat karunia Allah itu dengan sebaik-baiknya. Menjadikan keduanya anak-anak yang sholeha dan berkembang sesuai dengan fitrahnya.

Kunjungan kali ini juga memberikan saya pelajaran, betapa sedekah itu sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Siapa yang ikhlas memberi, akan Allah balas dengan berlipat ganda.

Dan yang terakhir, hikmahnya adalah betapa gigih dan sabarnya mereka berdua mendapatkan keturunan. Semoga Allah mempermudah setiap ikhtiar mereka. Kelak akan menganugerahi keturunan yang sholeh dan sholeha. Juga semoga kisah ini bisa menginspirasi yang lainnya, yang masih berjuang untuk mendapatkan keturunan. Jangan pernah berputus asa, yakinlah akan pertolongan Allah. Lakukan ikhtiar disertai doa yang tak terputus. Kemudian bertawakallah dengan sabar dan ikhlas. Niscaya Allah akab memeberikan karuniaNya.
Insyaallah.

Kamis, 21 Juni 2018

Tradisi Lebaran di Kampung Halaman




Setelah menempuh perjalanan hampir lima jam, kami berempat tiba di Sukowati Bojonegoro. Perjalanan mudik kali ini sungguh melelahkan. Tak biasanya perjalanan jadi selama itu. Bis yang kami tumpangi berhenti tepat di rumah makan Hita. Tempat dimana arisan keluarga besar di gelar. Ya, arisan keluarga besar menjadi salah satu tradisi lebaran setiap tahunnya. Semua keluarga keturunan Kakek suami dari pihak ayah berkumpul.

Saat arisan keluarga berbagai acara di gelar. Diawali dengan membacakan silsilah keluarga. Kemudian lanjut sungkeman pada para tetua. Lalu saling bersalam-salaman antar keluarga. Setelah acara saling bermaaf-maafan selesai, ada acara seru yang dinantikan semua orang. Apa itu? Acara bagi-bagi doorprize. Setiap tahun saat ada arisan, masing-masing keluarga membawa hadiah. Hadiah tersebut kemudian dikumpulkan jadi satu untuk selanjutnya diundi. Ya begitu acara penukaran doorprize di keluarga kami. Sebagai penutup, ada acara ramah tamah alias makan-makan. Berbagai masakan disajikan. Mulai dari asem-asem daging, sayur asam, urap-urap, empek-empek hingga es puter.




Saat mudik, tak lupa kami juga berziarah ke makam keluarga yang letaknya tidak jauh dari rumah. Di makam ini ayah suami dikuburkan. Suami telah menjadi anak yatim sejak dia kelar 1 SD. Setiap tahun kami menyambangi makam tersebut. Anak-anak juga kami ajak berziarah, agar mereka mengenal yangkungnya walau dari batu nisannya. Ziarah kubur juga membuat kita untuk senantiasa ingat akan kematian. Bahwa hidup itu hanya sementara.

Saat sore hari acara yang dilakukan adalah berkeliling ke rumah saudara lainnya. Mulai dari saudara di daerah kota hingga Mojoranu Bojonegoro. Anak-anak selalu bersemangat saat diajak berkeling. Perjalanan kami dengan motor bisa membuat anak-anak sekalian menikmati suasana kota Bojonegoro.

Mudik tak lengkap tanpa mencicipi kuliner khas. Mulai dari cemilan yang disuguhkan seperti ledre, rengginang, kacang goreng dan lain sebagainya. Atau menikmati lezatnya Asem-Asem Daging khas Bojonegoro. Asem-asem ini berbeda dari lainnya. Adanya daun kedondong menjadikan masakan ini memiliki cita rasa yang khas dan selalu dirindukan. Suami pun sampai nambah-nambah kalau makan ini, hehehe.



Makan asem asem tak lengkap tanpa ditemani kerupuk legendaris khas Bojonegoro. Kerupuk BangJo.
Kerupuk BangJoo, sebutan mudah untuk kata abang (merah) dan ijo (hijau). Nama BangJo disebut karena kerupuk ini memang berwarna merah dan hijau, selain tentu saja ada warna lain seperti kuning dan putih. Krupuk ini disebut kerupuk klenteng, karena letak pabriknya di belakang klenteng Hok Swie Bio. Tepatnya berlokasi di Jalan Jaksa Agung Suprapto Nomor 132, Bojonegoro.

Nah itu tadi cerita tentang tradisi lebaran kami di kampung halaman. Semua tradisi itu sangat dirindukan. Mudik membawa sejuta makna dan cerita. Bagaimana tradisi lebaranmu? Sharing yukk.. :)

Meet Up Sambil Mencicipi Oleh-Oleh Khas Surabaya di D'Neven Surabaya Bersama Blitz Community

Bulan syawal identik dengan maraknya acara halal bi halal. Berbagai postingan halal bi halal bersliweran di media sosial. Banyak yang po...