Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Peran Pemuda dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Perubahan Iklim

Peran Pemuda dalam Menghadapi Perubahan Iklim - Malam itu saat pulang kerja, saya melihat orang seenaknya membuang sambah di sungai. Ingin saya mengejarnya, tapi motornya terlalu cepat melaju. Saya geram, kenapa harus membuang sampah di sungai? 

Apakah teman-teman juga pernah mengalami apa yang saya rasakan? Sering kesal melihat orang yang masih suka membuang sampah sembarangan. 

Rupanya tak hanya saya saja yang kesal dengan perilaku membuang sampah di sungai. Anindya Kusuma Putri, Putri Indonesia 2015 juga merasakan hal yang sama. Anin yang saat ini menjadi Sport & Tourusm Influencer ini kesal saat boatnya sering berhenti. Bukan, bukan karena macet tentunya. Mana ada macet di laut! Tapi karena banyaknya sampah di laut yang akhirnya menghambat jalannya boat. Duh!

Sampah memang masih menjadi PR besar bagi Indonesia. Indonesia masih menjadi negara penyumbang  sampah plastik ke laut nomor dua di dunia. Ah parah banget ya...

Masalah sampah, kerusakan lingkungan, perubahan iklim dan upaya melestarikan hutan menjadi topik yang dibahas dalam webinar "I Love Indonesia Online Blogger Gathering" pada 8 Januari 2021. Saya beruntung bisa menjadi salah satu peserta, bertemu dengan sesama rekan blogger dan para penggiat lingkungan.

Perubahan Iklim

Baca Juga : Kala Si Kecil Ikut Gerakan Adopsi Hutan

Acara ini diselenggarakan oleh Blogger Perempuan dan Golongan Hutan. Dipandu oleh Fransiska Soraya, hadir 3 narasumber kece : 

1. Edo Rakhman, Koordinator Koalisi Golongan Hutan

2. Anindya Kusuma Putri, Putri Indonesia 2015, Sport & Tourism Influencer, Aktris

3. Syaharani, Mahasiswi Universitas Indonesia, Penggiat Aksi Jeda untuk Iklim

Edo Rakhman , Pemimpin Harus Adil!

"Jadi pemimpin harus adil! Adil terhadap generasi di masa yang akan datang". 

Bang Edo menjelaskan bahwa pemimpin tidak boleh mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memikirkan generasi di masa yang akan datang. Pembangunan yang tidak mempedulikan generasi di masa depan sama saja merusak lingkungan. 

Jika lingkungan rusak, maka manusia sendiri yang akan menerima akibatnya. Contoh nyata adalah pandemi COVID-19 yang sedang kita hadapi saat ini. Pandemi terjadi karena satwa liar yang harusnya dilindungi di hutan, malah diperjual belikan. 

Perubahan Iklim

Bang Edo juga menekankan pentingnya peran pemuda dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kenapa perlu pemuda? Ya karena pemudalah yang akan menjadi pemimpin di masa depan. 

Ini juga yang menjadi latarbelakang diselenggarakannya blog competition "Seandainya aku menjadi pemimpin, apa yang aku lakukan untuk Indonesia", pada November 2020. 

Blog competition hasil kolaborasi antara Golongan Hutan dan Blogger Perempuan ini diikuti oleh 200 blogger dan menghasilkan 30 finalis yang mengikuti webinar ini. 

Menurut bang Edo, saat ini sudah banyak pemuda yang peduli terhadap upaya penyelamatan lingkungan. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh beberapa organisasi yang bergabung dalam Gerakan Golongan Hutan, 80% respondenya adalah pemuda berusia 17-30 tahun. 

Para pemuda ini peduli terhadap isu-isu terkini seperti  perubahan iklim, ekonomi, infrastruktur, lingkungan, pendidikan dan perubahan sosial. Kepedulian pemuda ini perlu didukung, agar bisa terwujud dalam aksi nyata penyelamatan lingkungan. 

Anindya Kusuma Putri, Being an Eco Traveller

Anindya Kusuma Putri menjadi pembicara kedua dalam webinar ini. Anin menceritakan pengalaman nya menjelajah keindahan alam Indonesia. Mulai dari mendaki gunung Rinjani hingga menyelam di laut Bali. 

Anindya yang juga meruapakan putri Indonesia 2015 ini sejak SMA sudah tertarik dengan kegiatan pecinta alam. Anin sudah keluar masuk hutan. Mendaki gunung-gunung di Indonesia. 

Perubahan Iklim

Alam memberikan banyak pelajaran bagi Anin. Dari alam dia belajar bagaimana bisa survive, belajar kerjasama dalam tim hingga belajar bahwa manusia itu nggak ada apa-apanya. Manusia itu kecil diantara alam yang membentang luas. 

Anin juga jadi tahu bahwa Indonesia itu bagus. Sayang jika tidak dijaga kelestariannya. Bahkan orang asing saja peduli. Anin teringat saat dia melihat turis asing yang menegur orang mandi menggunakan sabun di sumber air bersih. Bahan kimia yang ada di sabun bisa merusak sumber air warga. Bayangkan jika sumber air minum tercemar bahan kimia? 

Baca Juga : Langkah Bersama Atasi Perubahan Iklim

Terakhir Anin memberikan pesan untuk menjadi traveller yang bertanggungjawab. Tidak merusak alam. Dimulai dengan hal sederhana, membawa kantong plastik untuk sampah yang dihasilkan. Bawa pulang sampah yang dihasilkan. Jangan ditinggal di gunung, hutan ataupun laut yang kita datangi. Being an eco traveller!

Syaharani, Kenali Krisis Iklim

Syaharani menjadi pembicara terakhir dalam webinar kali ini. Mahasiswi cantik asal Universitas Indonesia ini mengajak semua yang hadir untuk mengenali krisis iklim. 

Krisis iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia sehingga menyebabkan perubahan komposisi atmosfer secara global untuk jangka waktu yang lama. 

Perubahan Iklim

Aktivitas manusia menjadi penyumbang terbesar terjadinya krisis iklim ini, mulai dari efek gas rumah kaca hingga pembakaran hutan. 

Bila tidak segera ditangani, krisis iklim akan menimbulkan beragam masalah : 

1. Mencairnya es dan kenaikan permukan laut

2. Intensitas bencana alam dan cuaca ekstrim

3. Konflik sosial berkepanjanga

4. Wabah penyakit

Peran Pemuda 

Lalu apa yang bisa pemuda lakukan untuk mengatasi perubahan iklim ini? Ini menjadi pertanyaan dari salah satu peserta webinar, Shabrina Yasmin kepada Syaharani. 

Menurut Syaharani, pemua bisa melakukan 3B untuk mengatasi perubahan iklim. Apa itu? 

1. Belajar : belajar banyak hal tentang perubahan iklim. Apa itu perubahan iklim, apa saja penyebabnya dan bagaimana mengatasinya. 

2. Bergerak : kalau kita sudah tahu banyak informasi tentang perubahan iklim, saatnya untuk bergerak. Mulai dari perubahan gaya hidup menjadi minim sampah ataupun zero waste hingga mengajak orang disekitar untuk ikut bergabung menyelamatkan lingkungan. 

Baca Juga : Sepuluh Langkag Memulai Gaya Hidup Zeri Waste dari Rumah

3. Bawel : kita juga perlu bawel mengkampanyekan pentingnya gerakan menjaga lingkungan. Bisa melalui kampanye di sosial media ataupun dengan aksi turun ke jalan. Bisa juga dengan menuliskan artikel-artikel seputar perubahan iklim di blog. Agar semakin banyak orang yang teredukasi dan tergerak untuk mengatasi perubahan iklim ini. 

Saya pun sudah memulainya. Belajar banyak tentang perubahan iklim, salah satunya dengan mengikuti webinar ini. Bergerak dengan menerapkan gaya hidup minim sampah. Dan bawel mengkampanyekan isu-isu lingkungan di media sosial dan blog pribadi. Artikel-artikel seputar lingkungan yang saya tulis bisa dilihat disini.

Nah bagaimana? apa yang sudah teman-teman lakukan untuk mengatasi masalah perubahan iklim ini? Ceritakan pengalaman teman-teman menjaga lingkungan pada kolom komentar ya...

Terima kasih...

13 komentar

  1. Belajar. Bergerak. Bawel.
    Nah bergerak ini sih yang paling krusial. Terkadang kita banyak belajarnya doang, trus enggak bergerak2 karena mungkin merasa overwhelmed dengan drastis nya perubahan yang harus dilakukan. One step at a time.

    BalasHapus
  2. Benar mbak Dee, kalau kitanya yang merusak lingkungan ya sebenarnya merugikan diri kita juga. Oleh sebabnya kesadaran diri perlu ditingkatkan dengan adanya sosialisasi rutin seperti ini

    BalasHapus
  3. Ya ampun ada ada aja macet di laut akibat sampah. Alam mengajarkan kita banyak pelajaran dan banyak keuntungan yang bisa di dapatkan jika kita memelihara, merawat dan menjaga dengan baik oleh semua kalangan termasuk generasi muda

    BalasHapus
  4. Salut edukasi yang ditulis melalui artikel di blognya, menginspirasi perubahan dimulai dari diri sendiri dan keluarga yuk jaga kebersihan

    BalasHapus
  5. Nah, setuju sekali. Generasi muda punya peran penting dalam melestarikan lingkungan. Indonesia punya kekayaan alam melimpah, dan itu perlu dijaga serta dilestarikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju sama pak Sam, karena di tangan generasi muda juga yang nantinya akan meneruskan untuk menjaga kelestarian lingkungan

      Hapus
  6. Baiklah, saya akan bawel nih..
    Bawel untuk kebaikan boleh dong ya hehe
    Salam lestari 🙏😀

    BalasHapus
  7. Tepat banget apa Kata Syaharani ya?
    Kita harus 3B jika ingin berkontribusi
    Dan emang harus berkontribusi agar alam dapat dinikmati generasi muda

    BalasHapus
  8. Talk less do more ya kak.
    Percuma kampanye banyak-banyak tapi no action. Karena selain berbicara, juga harus bergerak demi perubahan yang keboh baik

    BalasHapus
  9. Sering banget Mbak lihat yang buang sampah sembarangan. Kena lemparan sampah dari dalam mobil pun pernah. Rombongan pengajian pula pelakunya :( Dobel syedih jadinya.

    BalasHapus
  10. Memang menjaga kelestarian lingkungan harus diajarkan sejak dini, ya.. seperti membuang sampah ini. Harus mulai dari kecil, dari rumah demi generasi muda yang mencintai lingkungan.

    BalasHapus
  11. Setuju banget Mbak. Justru mereka inilah yang wajib dari usia dini ikut serta secara aktif dalam menghadapi perubahan iklim. Karena merekalah nanti yang akan merasakannya

    BalasHapus