Senin, 31 Juli 2017

Membuat Gedung Ala Chacha

Chacha memang tidak terlalu suka bermain balok.
Dia seringkali menyukai aktivitas outdoor atau membuat percobaan sains sederhana.
Namun bila sedang ingin bermain balok, dia juga bisa betah berlama-lama memainkannya.
Seperti kali ini dia menyusun balok-balok dengan ukuran-ukuran yang berbeda.
Katanya dia membangun kumpulan gedung-gedung.
Dengan bermain balok seperti ini juga akan memnerikan stimulus bagi kecerdasan matematika logisnya.
Kenapa?
Menyusun balok adalah cara agar anak berlatih menghadapi masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak.





Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah.
Dengan memberikan stimulus-stimulus tersebut diharapkan anak akan menyukai pelajaran matematika karena matematika ternyata ada disekitar mereka dan mereka mengetahui tujuan belajar matematika.
Melalui permainan, matematika akan menjadi lebih mudah dipahami.


#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day12

Minggu, 30 Juli 2017

Berhitung Bersama Pom-Pom

Berhitung Bersama Pom-Pom

Masih dalam pekan menstimulus matematika logis pada anak, kali ini kami bermain bersama pom-pom.
Hari ini kami bermain peran.







Chacha sebagai penjual, saya menjadi pembeli.
Chacha menjual kue, dari pom-pom.
Dengan permainan ini Chacha belajar menjumlah kue (pom-pom) dan transaksi jual beli.
Dengan bermain matematika menjadi lebih mudah dipahami.


#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day11

Sabtu, 29 Juli 2017

Memasang Tali Sepatu

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menstimulasi kecerdasan matematika logis anak.
Misalnya dengan mengajak anak memasang tali sepatu.





Memasang tali sepatu adalah masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak.
Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah.
Permainan tali sepatu ini juga akan membuat anak menyukai pelajaran matematika karena diajarkan sambil bermain.
Selain itu anak menyadaru bahwa  matematika ternyata ada disekitar mereka dan mereka mengetahui tujuan belajar matematika.

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day10


Jumat, 28 Juli 2017

Menggambar Bangun Ruang

Saat ini Chacha sudah mengenal beberapa bangun ruang.
Lingkaran, Segitiga, Bujur sangkar dan persegi panjang.
Hari ini dia mencoba menggambar bangun ruang tanpa bantuan penggaris.








Menggambar segitiga, bujur sangkar dan persegi panjang.
Hasilnya?
Ya begitulah,, namanya juga masih balita.
Proses adalah yang utama, hasil apapun tetap harus kita apresiasi.
Setuju??

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day9

Halal Bi Halal Ala Komunitas HEBAT Surabaya Raya





Hari minggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 23 Juli 2017 saya dan suami menghadiri acara halal bi halal dengan teman-teman Komunitas HEBAT Surabaya Raya. Komunitas HEBAT adalah komunitas yang bergerak di bidang Home Education. HEBAT sendiri adalah akronim dari Home Education Based on Akhlaq and Talents. Sudah setahun saya menjadi anggota komunitas tersebut. Kegiatan kami selama ini adalah diskusi online, kami aktif di grup WhatssApp (WA). Namun komunitas ini juga sering mengadakan kegiatan ofline.


Acara halal bi halal ini diadakan di Gedung BPPNFI yang terletak di Gebang Putih Surabaya. Acara di buka oleh lantunan ayat Al Qur’an yang dihafalkan oleh putri Bunda Tina, salah satu member  komunitas HEBAT. Acara selanjutnya embukaan oleh ketua panitia acara kopdar Bapak Yasser kemudian dilanjutkan pengenalan Komunitas HEBAT oleh ketua HEbAT Surabaya Raya, Bapak Nur Yahya. Pak Yahya menjelaskan secara singkat visi dan misi komunitas HEBAT, juga siapa saja pengurusnya dan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan. 

Para Pengurus Komunitas HEBAT Surabaya Raya




Acara selanjutnya adalah mini workshop tentang bagimana teknis memulai Home Education. Narasumber mini workshop kali ini adalah Bunda Deasy selaku kordinator utama komunitas HEBAT. Dalam paparannya Bunda Deasy menjelaskan bahwa memulai Home Education tidaklah sulit. Kita hanya perlu memberikan ruang bagi anak-anak untuk bebas berkreasi. Mendampingi mereka dengan sabar, rileks dan optimis. Bunda Deasy juga berbagi pengalaman bagaimana keluarga beliau mengalami jatuh bangun dalam menjalankan Home Education.


Bunda Deasy, sebagai narasumber mini workshop



Dalam menjalankan Home Education (HE) berbasis fitrah ada delapan prinsip utama yang harus dipahami, yaitu :

  • HE berbasis Fitrah adalah Kewajiban bukan Pilihan
  • HE berbasis Fitrah adalah proses INSIDE OUT (mengeluarkan, membangkitkan, memfasilitasi, menumbuhkan) fitrah/potensi anak-anak kita, bukan OUTSIDE IN (menjejalkan/mengajarkan/memasukkan)
  • HE bukan memindahkan sekolah ke rumah
  • Anak tidak dinilai dari kognitif, menghafal, serta kemampuan akademik, padahal ada banyak Fitrah yang mesti dikembangkan/dikeluarkan.
  • HE tidak berorientasi pada Ijazah/Ujian akademik
  • HE bukan untuk menghindari biaya sekolah
  • HE tidak terobsesi membentuk anak “super” tapi menerima anak sebagai anugerah yang mesti dibimbing untuk tuntas di masa Aqil Balighnya
  • Orang tua yang berHE mesti Rileks, Optimis, Sabar dan Yakin dengan proses yang dijalani, dengan cara terus belajar dan mengupgrade diri.



Setelah memaparkan teori pelaksanaan HE, para peserta diajak praktek menerapkan HE. Dimulai dengan menciptakan misi keluarga sampai pada menuliskan fitrah-fitrah yang dimiliki oleh anak-anak kita. Dengan demikian dalam melaksanakan HE akan lebih focus dan sesuai dengan kemampuan keluarga. HE memeberikan ruang pada keunikan setiap keluarga.
Workshop ini juga dihibur oleh Bunda Pipik yang menyumbang beberapa lagu. Bunda Pipik adalah member HEBAT yang juga menciptakan swing komunitas HEBAT. Bunda Pipik juga memiliki kemampuan dalam menciptakan lagu anak-anak. Anak-anak yang tadinya berada di  kids corner diajak masuk kedalam ruangan dan bernyanyi bersama.

Panitia banyak membagikan door prize bagi peserta, total ada 50 door prize yang dibagikan. Acara diakhiri dengan makan tumpeng bersama. Halal bi halal komunitas HEBAT Surabaya Raya ini memang komplit. Tak sekadar bersilahturahmi tapi juga saling berbagi ilmu dan pengalaman dalam menerapkan home education.


Ditulis Oleh : Dian Kusumawardani, S.Sos
Home Educator Omah Rame dan Member Komunitas HEBAT Surabaya Raya

Kamis, 27 Juli 2017

Belajar Menggaris

Stimulasi matematika logis Chacha hari ini adalah belajar menggaris.
Chacha membantu saya membuat papan bintang untuknya.










Kami membuat papan bintang dari kertas karton.
Tiap item apresiasi dibatasi oleh garis.
Nah Chacha lah yang bertugas membuat garis-garis tersebut.

Walaupun belum senpurna, setidaknya dia sudah mau mencoba.
Saya apresiasi apapun hasilnya.
Goalnya adalah dia antusias dan mau belajar.
Itu sudah cukup.


#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day8

Rabu, 26 Juli 2017

Fun Math

Matematika yang kebanyakan menjadi momok bagi kebanyakan orang, termasuk saya.
Ternyata matematika bisa menjadi hal yang menyenangkan.
Kok bisa?
Bisa lah, bila diajarkan sambil bermain.







Seperti malam ini, sebelum tidur Chacha ingin bermain buku berkotak pas ini.
Buat saya ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan berbagai konsep matematika padanya.

Mulai dari mengenal bentuk, angka hingga berhitung.
Chacha senang sekali.
Ada 4 permainan dalam buku ini yang dia mainkan malam ini.

Semoga melalui cara-cara yang menyenangkan ini membuat dia bisa menyukai matematika.
Kalau sudah suka, akan mudah untuk memahaminya.
Bukan begitu?


#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day7

Selasa, 25 Juli 2017

Mengenal Bangun Ruang

Matematika tak selalu identik dengan hutungan.
Mengenal bangun ruang juga merupakan salah satu kegiatan dalam menstimulus kecerdasan matematika logis pada anak.






Hari ini Chacha bermain dengan buku berkotak pas.
Mengenal bangun ruang melalui permainan ini sangat menyenangkan bagi Chacha.


#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day6



Senin, 24 Juli 2017

Bermain Puzzle Hitungan

Salah satu indikator dalam merangsang kecerdasan matematika logis pada anak adalah dengan mengajak anak belajar memecahkan masalah (problem solving).
Belajar memecahkan masalah (problem solving) bisa dilakukan melalui mainan
Menyusun lego atau bermain puzzle adalah cara agar anak berlatih menghadapi masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak.

Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah.






Sore ini Chacha bermain puzzle.
Puzzle yang dia mainkan kali ini adalah puzzle hitungan.
Puzzle ini mengajak Chacha menghitung benda-benda yang tergambar dari puzzle tersebut.
Permainan ini tidak sekadar menyusun puzzle namun juga mengenalkan konsep penjumlahan dan pengurangan.
Walaupun dalam prakteknya Chacha belum bisa membedakan mana tanda penjumlahan mana tanda pengurangan.
Dia hanya bisa menghitung benda-benda yang tergambar dalam puzzle tersebut.

Tidak mengapa nak, kita akan belajar sedikit demi sedikit.
Menyesuaikan dengan usia dan kemampuanmu.


#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day5

Minggu, 23 Juli 2017

Mengenal Ibnu Haitsam

Semua anak lahir cerdas, masing-masing diberikan potensi dan keunikan yang menjadi jalan mereka untuk cerdas di bidangnya masing-masing.
Dua macam kecerdasan dasar yang memicu munculnya kecerdasan yang lain adalah kecerdasan bahasa dan kecerdasan matematika logis.

Membaca adalah salah satu upaya dalam mengasah kecerdasan bahasa.
Kemarin, sebelum tidur Chacha ingin membaca buku seri ilmuwan muslim.
Salah satunya adalah Ibnu Haitsam.

Siapa Ibnu Haitsam?
Ibnu Haitasam atau yang dikenal juga dengan nama Alhazen adalah seorang ilmuwan muslim kelahiran Basrah.
Ibnu Haitsam adalah seorang ilmuwan matematika.








Selain matematika, beliau juga ahli di bidang fisika.
Salah satu penemuannya adalah cara kerja mata manusia.
Sehingga dia dijuluki sebagai " Bapak Optik " dan Bapak Fisika Modern.

Beliau juga menemukan kamera Obscuro, yang merupakan cikal bakal dari kamera saat ini.
Banyak karya ilmiah yang ditulisnyan
Salah satunya adalag Kitab Al- Manazir yang menjelaskan tentang pengelihatan dan cahaya.

Membaca buku seri ilmuwan muslim ini, menambah pengetahuan Chacha.
Dia juga mengenal manfaat matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Dan memupuk kebanggaannya sebagai seorang muslimah.
Bahwa banyak ilmuwan muslim yang memiliki pengaruh besar bagi dunia.

Sumber :
Buku Seri Ilmuwan Muslim

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day4


Sabtu, 22 Juli 2017

Karaoke Matematika

Pola pengajaran matematika di rumah dan di sekolah yang menyenangkan, kreatif, kontekstual, realistik, menekankan pada proses dan pemahaman anak dan problem solving (pemecahan masalah).

Kreatif dalam mengenalkan dan mengajarkan konsep matematika serta dengan berbagai macam permainan dan alat peraga yang menarik.




Hitungan merupakan salah satu bagian dari konsep matematika.
Banyak konsep-konsep kreatif yang bisa kita lakukan untuk mengenalkan anak pada hitungan.

Hari ini rumah kami memiliki media edukatif baru.
Melalui media ini Chacha bisa mengenal hitungan dengan riang gembira.
Kok bisa?
Bisa lah, kan mengenal hitungan sambil karaoke.
Ada beberapa lagu yang berisi tentang matematika.
Mulai dari mengenal berbagai jenis angka hingga hitungan.

Dengan demikian belajar matematika menjadi hal yang menyenangkan.


#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day3

Jumat, 21 Juli 2017

Belajar Matematika Sambil Belanja

Apa yang ada di benak kita, ketika berbicara tentang matematika?
Pasti yang terbesit adalah matematika itu sulit.
Padahal matematika itu bisa dipahami dengan cara-cara sederhana.

Lalu sekarang pertanyaannya bagaimana mengajarkan matematika pada anak?
Haruskah memasukkan anak ke tempat les matematika?
Haruskah anak bisa dengan cepat menghitung angka-angka?

Hitungan bukanlah indikator utama dalam mengasah kecerdasan matematika anak.
Ada hal yang lebih krusial dikenalkan dalam mengasah kecerdasan matematika anak.








Apa itu?
Menanamkan konsep matematis logis sejak dini, bukan buru-buru mengajarkan kemampuan berhitung ke anak.

Banyak cara menstimulasi matematika logis pada anak.
Salah satunya adalah dengan mengajak anak berbelanja.
Ketika kita mengajak anak berbelanja, libatkan ia dalam transaksi sehingga semakin melatih keterampilan pengoperasian seperti penjumlahan dan pengurangan.

Chacha memang belum ditahap menjumlah dan mengurangi.
Saat belanja dia hanya belajar menghitung berapa item barang belanjaan kami.
Melihat dan mengetahui transaksi yang kami lakukan.

Namun melalui kegiatan ini dia menjadi antusias mengenal matematika.
Harapan kami, kegiatan ini akan menstimulus kemampuan matematika logisnya.
Semoga...


#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day2

Kamis, 20 Juli 2017

Mengenal Matematika Dimana Saja

Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematika logis.
Gardner mendefinisikan kecerdasan matematis logis sebagai kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan.






Saya tidak pernah menggagas Chacha untuk cepat pandai dalam hitungan.
Sebab kecerdasan matematika tidak melulu soal hitungan.
Namun, akhir-akhir ini Chacha suka sekali menghitung.
Semua benda yang ia temui di hitung.

Seperti kemarin, ketika berjalan-jalan ke mall dia antusias menghitung kursi-kursi yang berjejer.
Ada 52 kursi, namun dia baru bisa menghitung sampai 40.
Tidak masalah, saya terima setiap kemajuan yang dia tunjukkan.


#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs
#Day1

Rabu, 19 Juli 2017

Camilan Rabu

Camilan Rabu πŸ˜‹ πŸ“‘

✨Manfaat Belajar Matematika Untuk Anak-anak Dan Dewasa

Banyak orang tidak suka belajar matematika. Sulit, begitulah alasannya. Soal-soal di buku matematika tidak berhubungan dengan problem di kehidupan nyata. Begitu alasan lainnya.

Belajar matematika sebenarnya mendatangkan banyak manfaat dan keuntungan. Apa saja?

🌸Simak di bawah ini:
πŸ”ΉPola Pikir Yang Sistematis
Dengan mempelajari matematika, kita terbantu berpikir sistematis karena kita jadi terbiasa berhitung & menimbang. Secara tidak sadar kita telah melatih otak terbiasa berpikir secara runut sehingga mudah dalam mengorganisasi sesuatu.

πŸ”ΉLogika berpikir Lebih Berkembang

Semua bahasan matematika yg kita pelajari mencakup atau mencerminkan kemampuan berpikir logis. Kita dilatih untuk tidak bersandar pada asumsi dan praduga. Semua kesimpulan harus kita hasilkan melalui penghitungan yang tepat & pembuktian yang logis.

πŸ”ΉTerlatih Berhitung

Semua orang pasti membutuhkan kemampuan berhitung, bahkan dalam skala yang sederhana seperti menghitung uang jajan atau uang belanja 😊. Dengan terampil berhitung, maka kita akan terbiasa melakukannya dengan tepat dan cepat.

πŸ”ΉMampu Menarik Kesimpulan Secara Deduktif

Matematika sering disebut sebagai ilmu yang bersifat deduktif. Artinya, matematika membantu seseorang dalam menarik kesimpulan berdasarkan pola yang umum, sehingga membiasakan otak untuk berpikir secara obyektif dan rasional.

Kemampuan berpikir obyektif dan rasional ini adalah kemampuan soft skill yg berguna untuk memecahkan masalah dalam semua lini kehidupan.

πŸ”ΉMenjadi Teliti, Cermat Dan Sabar

Pelajaran matematika melatih kita menjalani proses yang panjang dengan penuh kesabaran dan kecermatan. Kualitas ini sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah dalam semua bidang kehidupan.

Jadi, pelajaran matematika itu beririsan dengan berbagai bidang kehidupan. Mulailah mencintai matematika dan nikmatilah manfaatnya dalam kehidupan.


Sumber Bacaan:
- Rudi S. - 6 Agustus 2016
www.educenter.id/5-manfaat-pelajaran-matematika-untuk-masa-depan/

- Effective Teaching: Teori Dan Aplikasi, Daniel Muijs and David Reynolds, Pustaka Pelajar, 2008

Senin, 17 Juli 2017

Tantangan 10 Hari

*Tantangan 10 hari*
*Level 6*

Matematika bukan hanya tentang angka dan hitungan namun juga ada hubungannya pada kelogisan berpikir dan pemecahan masalah.

Matematika tersebar di sekitar kita, seperti saat hebohnya bersama anak anak mencari segala sesuatu yang berbentuk bulat di dalam rumah, semua berlarian, melihat sekeliling dan berebutan menyebutkan benda yang ditemukannya.

Atau saat seru ngobrol dengan si kakak sambil menghitung jumlah rumah di 1 blok komplek sehingga menemukan jumlah rumah seluruh cluster yang terdiri dari 6 blok.

Atau saat indahnya si kecil memotong kue supaya cukup dibagi bersama kakak kakaknya.

Atau saat cerianya bersama anak anak menghitung jumlah langkah kaki ke masjid terdekat.

Saat saat menunggu kakak selesai mengerjakan desain interior kamarnya sendiri,
dan seterusnya ...dan seterusnya.


🌸Tantangan 10 hari level 6🌸
 *Temukan Matematika di sekitarmu*

 ❤ Bagi yang sudah menikah dan memiliki anak, temukan matematika dalam aktivitas sehari-hari bersama ananda. Jadikan momen aha! Tuliskan keseruannya.

πŸ’› Bagi yang belum mempunyai anak dan belum menikah, temukan  matematika dalam aktivitas keseharian mu, tuliskan kisah menariknya.

Bagi anda yang menggunakan blog, berikan label:
IIP
KuliahBunsay
ILoveMath
MathAroundUs

Kirimkan tugas tantangan ke link...

Gunakan hashtag:
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUsP

Resume

RESUME diskusi
Senin, 17 Juli 2017 pukul 20.00-21.00
Pemateri: Bunda Septi Peni Wulandani
Korlan: Ratih Tahiyatur


_Institut Ibu Profesional_
_Kelas Bunda Sayang sesi #6_

*MENSTIMULUS  MATEMATIKA LOGIS  PADA ANAK*

Semua anak lahir cerdas, masing-masing diberikan potensi dan keunikan yang menjadi jalan mereka untuk cerdas di bidangnya masing-masing.  Dua macam kecerdasan dasar yang memicu munculnya kecerdasan yang lain adalah kecerdasan bahasa dan kecerdasan matematis logis. Dimana di  dua kecerdasan ini banyak orangtua yang salah menstimulus, tidak paham tujuannya untuk apa, ingin anak-anaknya segera cepat menguasai dua hal tersebut, sehingga banyak diantara anak-anak BISA menguasai dua kecerdasan tersebut tetapi mereka TIDAK SUKA.  Sebagaimana kita ketahui di materi sebelumnya bahwa

" *Membuat anak BISA itu mudah, membuatnya SUKA baru tantangan* "


*MATEMATIKA LOGIS*

Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematika logis. Gardner mendefinisikan kecerdasan matematis logis sebagai _kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan_.

Dapat diartikan juga sebagai *_kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya_*


Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematika logis  dan kecerdasan bahasa. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan bahasa diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa.


*CIRI-CIRI ANAK DENGAN KECERDASAN MATEMATIKA LOGIS*

a.  Anak gemar bereksplorasi untuk memenuhi rasa ingin tahunya seperti menjelajah setiap sudut

b. Mengamati benda-benda yang unik baginya

c.  Hobi mengutak-atik benda serta melakukan uji coba

d. Sering bertanya tentang berbagai fenomena dan menuntut penjelasan logis dari tiap pertanyaan yang diajukan.

e. Suka mengklasifikasikan berbagai benda berdasarkan warna, ukuran, jenis dan lain-lain serta gemar berhitung

Yang sering salah kaprah di dunia pendidikan dan keluarga saat ini adalah buru-buru menstimulus matematika logis anak dengan cara memberikan pelajaran berhitung sejak dini. Padahal berhitung adalah bagian kecil dari sekian banyak stimulus yang harus kita berikan ke anak untuk merangsang kecerdasan matematika logisnya.Dan harus diawali dengan berbagai macam tahapan  pijakan sebelumnya.

Yang perlu kita pelajari di Ibu Profesional adalah Bagaimana kita merangsang kecerdasan matematis logis anak sejak usia dini? Bagaimana kita menanamkan konsep matematis logis sejak dini? bukan buru-buru mengajarkan kemampuan berhitung ke anak.

*STIMULASI MATEMATIKA LOGIS DI SEKITAR KITA*

*Bermain Pasir*
Dengan bermain pasir anak sesungguhnya belajar estimasi dengan menuang atau menakar yang kelak semua itu ada dalam matematika.

*Bermain di Dapur*

a.Saat berada di dapur, kita bisa mengenalkan konsep klasifikasi dan pengelompokan yang berkaitan dengan konsep logika matematika, misalnya dengan cara anak diminta mengelompokkan sayuran berdasarkan warna.

b. Mengasah kemampuan berhitung dalam pengoperasian bilangan sederhana, misalnya ketika tiga buah apel dimakan satu buah maka sisanya berapa.

c. Membuat bentuk-bentuk geometri melalui potongan sayuran.

d. Membuat kue bersama, selain dapat menambah keakraban dan kehangatan keluarga, anak-anak juga dapat belajar matematika melalui kegiatan menimbang, menakar, menghitung waktu.

*Belajar di Meja Makan*
Saat dimeja makan pun kita bisa mengajarkan pembagian dengan bertanya pada anak, misalnya supaya kita sekeluarga kebagian semua, roti  ini kita potong jadi berapa ya? Lalu bila roti sudah dipotong-potong, angkat satu bagian dan tanyakan seberapa bagiankah itu? Hal ini terkait dengan konsep pecahan.


*Belajar Memahami  Kuantitas*

a. ketika melihat akuarium, tanyakan berapa jumlah ikan hias di akuarium tersebut?

b.Ketika duduk di depan ruma atau sedang jalan-jalan, tanyakan berapa jumlah sepeda motor yang lewat dalam jangka waktu 1 menit?

*Belajar mengenalkan konsep perbandingan, kecepatan, konsep panjang dan berat*

a. Menanyakan pada anak roti mana yang ukurannya lebih besar, roti bolu atau  donat?

b. Mengenalkan dan menanyakan pada anak, mana yang lebih cepat,  mobil atau motor?

c. Mengenalkan dan menanyakan ke anak mana yang lebih tinggi  pohon kelapa atau  pohon jambu?

d. Menanyakan ke anak mana yang lebih berat, tas kakak atau tas adik?


*Kegiatan di Luar Rumah*

a.Mengajak anak berbelanja
ketika kita mengajak anak berbelanja, libatkan ia dalam transaksi sehingga semakin melatih keterampilan pengoperasian seperti penjumlahan dan pengurangan.

b. Bisa juga dengan permainan toko-tokoan atau pasar-pasaran dengan teman-temannya.

c. Kita juga dapat memberikan anak mainan-mainan yang edukatif seperti balok-balok, tiruan bentuk-bentuk geometri dengan dihubungkan dengan benda-benda disekitar mereka  Ada bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang dan lain-lain. Pengenalan bentuk geometri yang baik, akan membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya anak akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah segitiga dan sebagainya.

d. Permainan Tradisional
Permainan-permainan tradisional pun dapat merangsang dan meningkatkan kecerdasan matematis logis anak seperti permainan congklak atau dakon sebagai sarana belajar berhitung, permainan patil lele, permainan lompat tali, permainan engklek dll.

e.Belajar Memecahkan Masalah ( problem solving) melalui mainan
Menyusun lego atau bermain puzzle adalah cara agar anak berlatih menghadapi masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah. Misalnya ketika sedang menalikan sepatu, anak akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikan hingga tuntas.


Dengan memberikan stimulus-stimulus tersebut diharapkan anak akan menyukai pelajaran matematika karena matematika ternyata ada disekitar mereka dan mereka mengetahui tujuan belajar matematika. Dengan model stimulus ini anak-anak akan paham makna kabataku (kali, bagi, tambah, kurang) sebagai sebuah proses alamiah sehari-hari, bukan deretan angka yang bikin pusing. Mereka jadi paham bahwa :

Menambah ➡ proses menggabungkan

Mengurangi ➡ proses memisahkan

Mengalikan ➡ proses menambah/menjumlahkan secara berulang.

Membagi ➡ proses mengurangi secara berulang.


Tentu hal ini harus didukung dengan pola pengajaran matematika di  rumah dan di sekolah yang menyenangkan, kreatif, kontekstual, realistik, menekankan pada proses dan pemahaman anak dan problem solving (pemecahan masalah).

Kreatif dalam mengenalkan dan mengajarkan konsep matematika serta dengan berbagai macam permainan dan alat peraga yang menarik.

Dengan demikian matematika akan menjadi pelajaran yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu.



_Salam Ibu Profesional_



/ _Tim Fasilitator Bunda Sayang_/


πŸ“šSumber bacaan:

_Hernowo, Menjadi Guru yang Mampu dan Mau Mengajar dengan Menyenangkan, MLC, 2005_

_Howard Gardner, Multiple Intelligence,  Gramedia, 2000_

_Septi Peni Wulandani, Jarimatika, Mudah dan Mneyenangkan, Kawan Pustaka, Agromedia, 2009_

TANYA JAWAB:

πŸ’1⃣ Bunda Septi, berdasarkan pengalaman Ibu, butuh waktu berapa lama anak-anak mulai distimulus kecerdasan matematika logis hingga mereka menjadi suka dg matematika?

Dan apakah bagi anak-anak yg hanya diajarkan matematika di sekolah, dan terlanjur tidak suka matematika, proses stimulus kecerdasan  matematika logis ini harus diulang dari awal? Terimakasih πŸ™πŸ»πŸ˜Š

Ainun IIP Surabaya

1⃣ Mbak Ainun, matematika logis itu bisa distimukus sejak anak-anak mulai bisa berbicara. Nanti akan terlihat ketika anak suka mengelompokkan, suka menjajarkan sesuatu yg sama, itu artinya matematika logisnya mulai berkembang.

Untuk anak-anak yang terlanjur mengenal matematika hanya yg ada di sekolah saja,  harus dipahamkan tentang matematika logis dan matematika realistik. Sehingga anak-anak paham mengapa mereka harus belajar matematika. Dengan cara ini anak-anak akan sangat menyukai matematika karena sesuai dengan kebutuhannya.

Contoh : Saya tidak pernah meminta Elan untuk mempelajari matematika yg diajarkan di sekolah. Tetapi saya menstimulus dg berbagai hal logis dan projek. Dari projek2 itulah Elan mulai merasa perlu belajar perkalian, permutasi dll. ✅


πŸ’2⃣Assalaamu'alaikum Ibu Septi.

Bu anak sulung saya ini cenderung suka berhitung, usianya baru 5,8 tahun. Dia juga talkactive. Yang mau saya tanyakan bu :
a. Di beberapa buku kami di rumah, halaman belakangnya ada lembar tambah dan kurang. Dia selalu kekeuh pingin ngerjain padahal menurut kami agak sulit untuk usianya. Bagaimana sebaiknya bu?
b. Karena senang dengan hitungan, dia sering minta dispensasi dengan angka.

Bun, aku makannya 5 sendok lagi ya

Bun, 5 menit lagi ya mandinya aku masih ngantuk

Bun aku beresinnya yang 2 ini aja ya

πŸ˜…πŸ™ˆ
Itu gimana ya bu? paling susah sih masalah makan selalu dihitung padahal belum tentu dia kenyang
c. Bersambung dengan membaca dan berbicara, dia senang menggambar dan bercerita dengan gambarnya. Tapi dia belum tertarik dengan baca, namun selalu menulis. Dia tiru tulisan yang saya tulis. Dalam menggambar, dia juga sering melibatkan angka angka.
Itu bagaimana ya bu?
Terima kasih ibu atas pencerahannya. πŸ™πŸ»

Ismi_IIP Bandung

2⃣ Teh Ismi, artinya anak teteh kecerdasan matematika logisnya saat ini terlihat menonjol. Maka perkuat terus, ini namanya *meninggikan gunung* ( anak terlihat suka angka perkuat dengan angka dan bilangan)  bukan _meratakan lembah_ ( anak tidak suka matematika, pusing kalau lihat angka, justru kita les kan matematika).
yang
Tahapan mengenalkan angka dan bilangan ke anak adalah sbb :

Mengenal bilangan
Mengenal lambang bilangan
Mengenal konsep kabataku

Semua menggunakan benda kongkrit dulu, jangan buru2 di dril apalagi disuruh menghafal

b. Kalau anak lebih suka menulis daripada membaca, tidak masalah. Berarti begitulah caranya membacanya, kemungkinan besar bergaya visual ✅

πŸ’3⃣Bunda, mau tanya dong...

Mulai usia berapakah sebaiknya kita mulai mengenalkan konsep2 kabataku bu?

Rima_IIP Banyumas Raya

3⃣ Mbak Rima, konsep kabataku sebaiknya disampaikan setelah konsep mengenal bilangan, lambang bilangan/angka sudah disampaikan dengan baik.

Anak-anak paham apa itu angka dan bilangan ( keduanya jelas berbeda)

Saya mengenalkan bilangan ke anak-anak itu lama sekali.

Bahkan mengenalkan angka "0" ( nol) itu misteri yang luar biasa kalau dibahas secara detil. Matematika itu asyik jadinya.

Saya berikan contoh betapa hebohnya belajar bilangan πŸ‘‡

πŸ’4⃣Assalaamu'alaikum Bunda,
melihat materi #6 ini, saya benar-benar sedih karena sepertinya sudah salah dalam memberikan stimulasi tentang matematika. Sehingga anak saya sekarang, bukan tidak suka matematika, tapi kurang teliti dan terburu-buru dalam mengerjakan soal matematika sehingga banyak yang salah. Padahal, kalau mengerjakan tugas di rumah yang saya dampingi, fine-fine aja alias bisa dan paham dalam mengerjakannya. Yang saya ingin tanyakan bagaimana memberikan stimulasi yang tepat untuk kasus seperti ini. Makasih...

Iyie_IIP Cirebon

4⃣ Wa'alaykumsalam mbak Iyie, biasanya kita itu penginnya mengajarkan memang instan, karena tidak ingin anak-anak kita tertinggal di sekolah.

Matematika yg diajarkan secara cepat atau instan itu akan membuat anak tidak paham akar masalahnya.

Sehingga saat kondisi tegang, buru-buru, memori yang didapatkanpun akan cepat menguap.

Maka mulai sekarang kuatkan di konsep ya mbak.

Contoh : anak paham bagaimana cara menemukan 3x4 = 12. Kuatkan dulu dengan berbagai permainan dan konsep real, setelah itu ijinkan anak menemukan sendiri perkaliam yang lain.✅

πŸ’5⃣Assalamualaikum Ibu Septi,

Putra Saya sekarang sudah kelas 2 SD, dulu waktu di kelas 1 Matematika setelah di review Alhamdulillah Paham tapi pada saat Ada Ulangan yang kebetulan Saya berhalangan review Ada beberapa yg secara konsepnya dasarnya sudah kuat, tapi saat Kita belajar bersama lagi Alhamdulillah ingat lagi, Saya berfikir disini mungkin secara pemahaman dasar kurang pas Saya menjelaskan konsepnya...

Mohon Tipsnya untuk saya bisa perbaiki Cara membimbingnya

Terimakasih Bu atas jawabannya

Lulu - Bekasi

5⃣ Wa'alaykumsalam mbak lulu, apa yg mbak lakukan ketika review? Anak-anak mengulang mengerjakan soal-soal yang ada, atau membuat metode lain saat mengenalkan soal matematika yg sama.

Kalau sekedar mengulang soal yg sama, memang akan memendekkan masa anak paham sebuah konsep

Tetapi kalau membuat metode memahamkan konsep dengan cara yg berbeda, akan awet pemahaman itu.

Contoh :

Ketika anak-anak belajar tentang geometri. Luas segitiga, maka saya tidak meminta mereka unt menghafal luas segitiga adalah .....

Tetapi saya mengajak anak2 mengambil kertas berbentuk persegi panjang, yuk kita potong dua tepat secara garis diagonal. Andaikata luas persegi panjang itu ( p x l), berapakah luas segitiga?

Anak-anak lsg cepat menjawab 1/2 (pxl)

Oke, kalau panjang bunda ganti jadi alas (a), dan lebar bunda ganti degan tinggi (t), jadi berapakah luas segitiga?

*1/2 a x t* ✅

πŸ’6⃣ Ibu, untuk contoh pengenalan lambang, bilangan dan konsep katabaku bagaimana y?
Saya belum ada gambaran ketiganya. Anak saya umar sekarang 4 tahun

Uus Uswatun Hasanah

6⃣Untukmengenalkan lambang bilangan 2, misalnya. Maka kita  ambil dua apel, mulut kita bicara ini dua apel, tangan kita menuliskan lambang bilangan dua itu seperti ini 2. Konsep kabataku, harus memakai benda konkrit. Menambah itu menggabungkan, mengurangi itu memisahkan, mengalikan itu menambah berulang, membagi itu mengurang berulang ✅

πŸ’7⃣ Bu mau tanya kalo anak ini unt mengerjakan soal matematika bisa dan suka, tapi yang saya kadang bingung mengapa dia suka lupa kalo diminta menentukan arah yang sederhana saja, misalnya kiri atau kanan.ini ada masalah apa ya bu? Padahal usianya sudah 9th

Litasekolahmentari

7⃣Coba cek kepekaan orientasi medannya,  bisa jadi disorientasi, tidak paham kanan kiri, atau kemampuan melihat ruangnya yg perlu distimulus. Yup, ini salah satu contoh kekeliruan kita belajar arah dulu, diminta menyanyi dulu untuk menghafal, sebelum paham konsep✅

πŸ’8⃣ Bunda, saat membimbing matematika, saat memahamkan ke anak, adakah tahapan prosesnya?

Ratih_IIP Jepara

8⃣Pintu gerbang matematika itu *aritmatika* maka pahamkan dulu konsep ini dengan baik.  Karena ini pijakan dasar untuk tahap matematika berikutnya seperti aljabar, geometri dkk.

Perkuat aritmatika sampai tahap anak menemukan rumus sendiri.

Kalau istilah di keluarga kami "merekonstruksi ulang, para ahli menemukan rumus matematika✅

πŸ’9⃣ Apakah anak yang sudah usia SMP bisa diulangi lagi kecintaan nya pada matematika ya bu? Anak saya kalo mengerjakan puzzle, sudoku, tangram,atau teka teki dia sangat jeli dan cepat.
Menurut pengamatan matematika nya kurang baik. Sayangnya waktu SD memang pernah mengalami trauma dengan matematika.

Apakah bisa diperbaiki ya bu?
Karena sayang sekali kemampuan logisnya.

Rima_IIP Banyumas

9⃣Masih bisa mbak, selama tidak dikaitkan terus dengan pelajaran sekolahnya, dan jangan dituntut macam-macam untuk pelajaran sekolahnya.

Eksplorasi banyak hal tentang matematika di sekitar kita✅

πŸ’πŸ”Ÿ Izin bertanya di sisa waktu bu...
Untuk perkalian, sebaiknya dihafal atau menghitung dengan alat peraga (jari misalnya)?

Yani Retno Hapsari

πŸ”ŸUntuk tahap awal tidak dua-duanya mbak. Kita perlu mengenalkan konsep perkalian dulu.

Saya pakai permainan 3 x 4 saja bisa sampai 1 bulan, sampai anak-anak paham 3 x4.

Setelah itu anak-anak diminta membuat soal sendiri, cari solusinya sendiri, sehingga ketemu Aha! Moment

Diulang-ulang terus, baru dipakai tools yg lain untuk jalan cepat misal jari.

Yang tidak boleh adalah menghafal/di drill✅

πŸ’1⃣1⃣ Bunda Septi adakah masukan buku bacaan untuk menemukan alat peraga matematika?. Wah mesti kreatif nih menemukan alat peraga

Fitrah

1⃣1⃣ https://soundcloud.com/jarimatika-indonesia/perkalian
Ini contoh kumpulan lagu. Mbak saya dulu menerapkan seminggu 1 lagu matematika, seminggu 1 alat peraga matematika. Akhirnya jadi unit usaha sendiri✅

πŸŽ–πŸŽ–πŸŽ–πŸŽ¬πŸŽ¬πŸŽ–πŸŽ–πŸŽ–

Minggu, 16 Juli 2017

Materi 1

_Institut Ibu Profesional_
_Kelas Bunda Sayang sesi #6_

*MENSTIMULUS  MATEMATIKA LOGIS  PADA ANAK*

Semua anak lahir cerdas, masing-masing diberikan potensi dan keunikan yang menjadi jalan mereka untuk cerdas di bidangnya masing-masing.  Dua macam kecerdasan dasar yang memicu munculnya kecerdasan yang lain adalah kecerdasan bahasa dan kecerdasan matematis logis. Dimana di  dua kecerdasan ini banyak orangtua yang salah menstimulus, tidak paham tujuannya untuk apa, ingin anak-anaknya segera cepat menguasai dua hal tersebut, sehingga banyak diantara anak-anak BISA menguasai dua kecerdasan tersebut tetapi mereka TIDAK SUKA.  Sebagaimana kita ketahui di materi sebelumnya bahwa

" *Membuat anak BISA itu mudah, membuatnya SUKA baru tantangan* "


*MATEMATIKA LOGIS*

Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematika logis. Gardner mendefinisikan kecerdasan matematis logis sebagai _kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan_.

Dapat diartikan juga sebagai *_kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya_*


Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematika logis  dan kecerdasan bahasa. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan bahasa diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa.


*CIRI-CIRI ANAK DENGAN KECERDASAN MATEMATIKA LOGIS*

a.  Anak gemar bereksplorasi untuk memenuhi rasa ingin tahunya seperti menjelajah setiap sudut

b. Mengamati benda-benda yang unik baginya

c.  Hobi mengutak-atik benda serta melakukan uji coba

d. Sering bertanya tentang berbagai fenomena dan menuntut penjelasan logis dari tiap pertanyaan yang diajukan.

e. Suka mengklasifikasikan berbagai benda berdasarkan warna, ukuran, jenis dan lain-lain serta gemar berhitung

Yang sering salah kaprah di dunia pendidikan dan keluarga saat ini adalah buru-buru menstimulus matematika logis anak dengan cara memberikan pelajaran berhitung sejak dini. Padahal berhitung adalah bagian kecil dari sekian banyak stimulus yang harus kita berikan ke anak untuk merangsang kecerdasan matematika logisnya.Dan harus diawali dengan berbagai macam tahapan  pijakan sebelumnya.

Yang perlu kita pelajari di Ibu Profesional adalah Bagaimana kita merangsang kecerdasan matematis logis anak sejak usia dini? Bagaimana kita menanamkan konsep matematis logis sejak dini? bukan buru-buru mengajarkan kemampuan berhitung ke anak.

*STIMULASI MATEMATIKA LOGIS DI SEKITAR KITA*

*Bermain Pasir*
Dengan bermain pasir anak sesungguhnya belajar estimasi dengan menuang atau menakar yang kelak semua itu ada dalam matematika.

*Bermain di Dapur*

a.Saat berada di dapur, kita bisa mengenalkan konsep klasifikasi dan pengelompokan yang berkaitan dengan konsep logika matematika, misalnya dengan cara anak diminta mengelompokkan sayuran berdasarkan warna.

b. Mengasah kemampuan berhitung dalam pengoperasian bilangan sederhana, misalnya ketika tiga buah apel dimakan satu buah maka sisanya berapa.

c. Membuat bentuk-bentuk geometri melalui potongan sayuran.

d. Membuat kue bersama, selain dapat menambah keakraban dan kehangatan keluarga, anak-anak juga dapat belajar matematika melalui kegiatan menimbang, menakar, menghitung waktu.

*Belajar di Meja Makan*
Saat dimeja makan pun kita bisa mengajarkan pembagian dengan bertanya pada anak, misalnya supaya kita sekeluarga kebagian semua, roti  ini kita potong jadi berapa ya? Lalu bila roti sudah dipotong-potong, angkat satu bagian dan tanyakan seberapa bagiankah itu? Hal ini terkait dengan konsep pecahan.


*Belajar Memahami  Kuantitas*

a. ketika melihat akuarium, tanyakan berapa jumlah ikan hias di akuarium tersebut?

b.Ketika duduk di depan ruma atau sedang jalan-jalan, tanyakan berapa jumlah sepeda motor yang lewat dalam jangka waktu 1 menit?

*Belajar mengenalkan konsep perbandingan, kecepatan, konsep panjang dan berat*

a. Menanyakan pada anak roti mana yang ukurannya lebih besar, roti bolu atau  donat?

b. Mengenalkan dan menanyakan pada anak, mana yang lebih cepat,  mobil atau motor?

c. Mengenalkan dan menanyakan ke anak mana yang lebih tinggi  pohon kelapa atau  pohon jambu?

d. Menanyakan ke anak mana yang lebih berat, tas kakak atau tas adik?


*Kegiatan di Luar Rumah*

a.Mengajak anak berbelanja
ketika kita mengajak anak berbelanja, libatkan ia dalam transaksi sehingga semakin melatih keterampilan pengoperasian seperti penjumlahan dan pengurangan.

b. Bisa juga dengan permainan toko-tokoan atau pasar-pasaran dengan teman-temannya.

c. Kita juga dapat memberikan anak mainan-mainan yang edukatif seperti balok-balok, tiruan bentuk-bentuk geometri dengan dihubungkan dengan benda-benda disekitar mereka  Ada bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang dan lain-lain. Pengenalan bentuk geometri yang baik, akan membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya anak akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah segitiga dan sebagainya.

d. Permainan Tradisional
Permainan-permainan tradisional pun dapat merangsang dan meningkatkan kecerdasan matematis logis anak seperti permainan congklak atau dakon sebagai sarana belajar berhitung, permainan patil lele, permainan lompat tali, permainan engklek dll.

e.Belajar Memecahkan Masalah ( problem solving) melalui mainan
Menyusun lego atau bermain puzzle adalah cara agar anak berlatih menghadapi masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah. Misalnya ketika sedang menalikan sepatu, anak akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikan hingga tuntas.


Dengan memberikan stimulus-stimulus tersebut diharapkan anak akan menyukai pelajaran matematika karena matematika ternyata ada disekitar mereka dan mereka mengetahui tujuan belajar matematika. Dengan model stimulus ini anak-anak akan paham makna kabataku (kali, bagi, tambah, kurang) sebagai sebuah proses alamiah sehari-hari, bukan deretan angka yang bikin pusing. Mereka jadi paham bahwa :

Menambah ➡ proses menggabungkan

Mengurangi ➡ proses memisahkan

Mengalikan ➡ proses menambah/menjumlahkan secara berulang.

Membagi ➡ proses mengurangi secara berulang.


Tentu hal ini harus didukung dengan pola pengajaran matematika di  rumah dan di sekolah yang menyenangkan, kreatif, kontekstual, realistik, menekankan pada proses dan pemahaman anak dan problem solving (pemecahan masalah).

Kreatif dalam mengenalkan dan mengajarkan konsep matematika serta dengan berbagai macam permainan dan alat peraga yang menarik.

Dengan demikian matematika akan menjadi pelajaran yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu.



_Salam Ibu Profesional_



/ _Tim Fasilitator Bunda Sayang_/


πŸ“šSumber bacaan:

_Hernowo, Menjadi Guru yang Mampu dan Mau Mengajar dengan Menyenangkan, MLC, 2005_

_Howard Gardner, Multiple Intelligence,  Gramedia, 2000_

_Septi Peni Wulandani, Jarimatika, Mudah dan Mneyenangkan, Kawan Pustaka, Agromedia, 2009_

Jumat, 14 Juli 2017

Novel Cinta Dua Kodi

Cinta Dua Kodi

Penulis : Asma Nadia

Saya termasuk orang yang jarang banget baca novel.
Entahlah, mungkin saya orangnya suka baper jadi menghindari baca novel yang kebanyakan memang bikin baper.
Namun adalah beberapa koleksi novel di rumah


Hmm ini adalah novel terbaru Asma Nadia.
Sebelumnya saya sudah membaca beberapa tulisan Asma Nadia.
Seperti Sakinah Bersamamu, Catatan Hati Seorang Istri dan Catatan Hati Ibunda.
Dan semuanya juga sukses bikin saya baper.

Nah baru baca halaman pertama novel Cinta Dua Kodi, saya langsung di bikin baper.
Bahas poligami, ah sesuatu yang sensitif bagi saya.
Sempat berpikir tidak meneruskan membaca.
Sebab di awal aja sudah bikin saya emosional,, tuh kan beneran baper an saya.

Novel ini saya bawa saat antar suami ke dokter, yang lumayan lama banget antrinnya.
Akhirnya saya baca juga, daripada bengong.
Ah Asma Nadia memang juara.
Novel ini alurnya maju mundur cantik, he he he.
Bikin penasaran akan ending ceritanya.

Dan tiga jam nungguin suami, kelar juga novel ini saya baca.
Ternyata kisah di novel ini terisnspirasi kisah nyata seorang bussines woman, yang bernama Kartika Sari.
Bagaimana perjalanan hidupnya dari kecil hingga sukses menjalankan bisnisnya, Keke Busana.

Novel ini menceritakan tentang bagiamana perjuangan perempuan dalam menghadapi setiap takdirnya.
Tidak menyerah dengan berbagai ujian yang menerpa.
Bersungguh-sungguh mengejar apa yang di cita-citakan.

Novel ini tidak hanya sukses membuat saya menangis karena jalan ceritanya.
Namun juga memberi saya semangat.
Bahwa sebagai perempuan kita harus kuat dalam menjalani takdir hidup.
Memperjuangkan cita dan cinta.

Seberapa jauh cinta dua kodi akan menerbangkanmu.

Rabu, 12 Juli 2017

Cerita menarik untuk kita ambil pelajaran hidup... 😊

Mooryati Soedibyo, Dian Sastro, dan Metakognisi Susi Pudjiastuti

Oleh Prof. Rhenald Kasali

Saya kebetulan mentor bagi dua orang ini: Dian Sastro dan Mooryati Soedibyo. Akan tetapi, pada Susi Pudjiastuti yang kini menjadi menteri, saya justru belajar.

Ketiganya perempuan hebat, tetapi selalu diuji oleh sebagian kecil orang yang mengaku pandai. Entah ini stereotyping, atau soal buruknya metakognisi bangsa. Saya kurang tahu persis.

Mooryati Soedibyo

Sewaktu diterima di program doktoral UI yang pernah saya pimpin, usianya saat itu sudah 75 tahun. Namun, berbeda dengan mahasiswa lain yang datang pakai jins, dia selalu berkebaya. Anda tentu tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkebaya, bukan?

Akan tetapi, ia memiliki hal yang tak dimiliki orang lain: self discipline. Sampai hari ini, dia adalah satu-satunya mahasiswa saya yang tak pernah absen barang sehari pun. Padahal, saat itu ia salah satu pimpinan MPR.
Memang ia tampak sedikit kewalahan "bersaing" dengan rekan kuliahnya yang jauh lebih muda. Akan tetapi, rekan-rekan kuliahnya mengakui,  kemajuannya cepat. Dari bahasa jamu ke bahasa strategic management dan science yang banyak aturannya.

Teman-teman belajarnya bersaksi: "Pukul 08.00 malam, kami yang memimpin diskusi. Tetapi pukul 24.00, yang muda mulai ngantuk, Ibu Moor yang memimpin. Dia selalu mengingatkan tugas harus selesai, dan tak boleh asal jadi."

Masalahnya, ia pemilik perusahaan besar, dan usianya sudah lanjut. Ada stereotyping dalam kepala sebagian orang. Sosok seperti ini jarang ada yang mau kuliah sungguhan untuk meraih ilmu. Nyatanya, kalangan berduit lebih senang meraih gelar doktor HC (honoris causa) yang jalurnya cukup ringan.

Akan tetapi, Mooryati tak memilih jalur itu. Ia ingin melatih kesehatan otaknya, mengambil risiko dan lulus 4 tahun kemudian. Hasil penelitiannya menarik perhatian Richard D’aveni (Tuck School-USA), satu dari 50 guru strategi teratas dunia. Belakangan, ia juga sering diminta memaparkan kajian risetnya di Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman.

Meski diuji di bawah guru besar terkemuka Prof Dorodjatun Kuntjoro Jakti, kadang saya masih mendengar ucapan-ucapan miring dari orang-orang yang biasa menggunakan kacamata buram dan lidahnya pahit. Ada saja orang yang mengatakan ia "diluluskan" dengan bantuan, "sekolahnya hanya dua tahun", dan seterusnya. Anehnya, kabar itu justru beredar di kalangan perempuan yang tak mau tahu keteladanan yang ia tunjukkan. Kadang ada juga yang merasa lebih tahu dari apa yang sebenarnya terjadi.

Akan tetapi, ada satu hal yang sulit mereka sangkal. Perempuan yang meraih doktor pada usia 79 tahun ini berhasil mewujudkan usahanya menjadi besar tanpa fasilitas. Perusahaannya juga go public. Padahal, yang menjadi dosennya saja belum tentu bisa melakukan hal itu, bahkan membuat publikasi ilmiah internasional saja tidak. Namun, Bu Moor juga berhasil mengangkat reputasi jamu di pentas dunia.

Dian Sastro

Dia juga mahasiswi saya yang keren. Sewaktu diterima di program S-2 UI, banyak juga yang bertanya: apa benar artis mau bersusah payah belajar lagi di UI?

Anak-anak saya di UI tahu persis bahwa saya memang cenderung bersahabat, tetapi mereka juga tahu sikap saya: "no bargain on process and quality".

Dian, sudah artis, dan sedang hamil pula saat mulai kuliah. Urusannya banyak: keluarga, film, dan seabrek tugas. Namun lagi-lagi, satu hal ini jarang dimiliki yang lain: self discipline. Ia tak pernah abai menjalankan tugas.
Sebulan yang lalu, setelah lulus dengan cum laude dari MM UI, ia berbagi pengalaman hidupnya di program S-1 pada kelas yang saya asuh.

"Saat ayah saya meninggal dunia, ibu saya berujar: kamu bukan anak orang kaya. Ibu tak bisa menyekolahkan kalau kamu tidak outstanding," ujarnya.

Ia pun melakukan riset terhadap putri-putri terkenal. Di situ ia melihat nama-nama besar yang tak lahir dari kemudahan. "Saya tidak cantik, dan tak punya apa-apa," ujarnya.

Dengan uang sumbangan dari para pelayat ayahnya, ia belajar di sebuah sekolah kepribadian. Setiap pagi, ia juga melatih disiplin, jogging berkilo-kilometer dari Jatinegara hingga ke Cawang, ikut seni bela diri. "Mungkin kalian tak percaya karena tak pernah menjalaninya," ujarnya.

Itulah mental kejuangan, yang kini disebut ekonom James Heckman sebagai kemampuan nonkognisi. Dian lulus cum laude dari S-2 UI, dari ilmu keuangan pula, yang sarat matematikanya. Padahal, bidang studi S-1 Dian amat berjauhan: filsafat.

Metakognisi Susi

Sekarang kita bahas menteri kelautan dan perikanan yang ramai diolok-olok karena "sekolahnya". Beruntung, banyak juga yang membelanya.

Khusus terhadap Susi, saya bukanlah mentornya. Ia terlalu hebat. Ia justru sering saya undang memberi kuliah. Dia adalah "self driver" sejati, yang bukan putus sekolah, melainkan berhenti secara sadar. Sampai di sini, saya ingin mengajak Anda merenung, adakah di antara kita yang punya kesadaran dan keberanian sekuat itu?

Akan tetapi, berbeda dengan kebanyakan orangtua yang membiarkan anaknya menjadi "passenger", ayah Susi justru marah besar. Pada usia muda, di pesisir selatan yang terik, Susi  memaksa hidup mandiri. Ditemani sopir, ia menyewa truk dari Pangandaran, membawa ikan dan udang, dilelang di Jakarta. Hal itu dijalaninya selama bertahun-tahun, seorang diri.
Saat saya mengirim mahasiswa pergi "melihat pasar" ke luar negeri yang terdiri dari tiga orang untuk satu negara, Susi membujuk saya agar cukup satu orang satu negara. Saya menurutinya (kisah mereka bisa dibaca dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor).

Dari usaha perikanannya itu, ia jadi mengerti penderitaan yang dialami nelayan. Ia juga belajar seluk-beluk logistik ikan, menjadi pengekspor, sampai terbentuk keinginan memiliki pesawat agar ikan tangkapan nelayan bisa diekspor dalam bentuk hidup, yang nilainya lebih tinggi. Dari ikan, jadilah bisnis carter pesawat, yang di bawahnya ada tempat penyimpanan untuk membawa ikan segar.

Dari Susi, kita bisa belajar bahwa kehidupan tak bisa hanya dibangun dari hal-hal kognitif semata yang hanya bisa didapat dari bangku sekolah. Kita memang membutuhkan matematika dan fisika untuk memecahkan rahasia alam. Kita juga butuh ilmu-ilmu baru yang basisnya adalah kognisi. Akan tetapi, tanpa kemampuan nonkognisi, semua sia-sia.

Ilmu nonkognisi itu belakangan naik kelas, menjadi metakognisi: faktor pembentuk yang paling penting di balik lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar, wirausaha kelas dunia, dan praktisi-praktisi andal. Kemampuan bergerak, berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, respek, berhubungan baik dengan orang lain, tahu membedakan kebenaran dengan pembenaran, mampu membuka dan mencari "pintu" adalah fondasi penting bagi pembaharuan, dan kehidupan yang  produktif.

Manusia itu belajar untuk membuat diri dan bangsanya tangguh, bijak mengatasi masalah, mampu mengambil keputusan, bisa membuat kehidupan lebih produktif dan penuh kedamaian. Kalau cuma bisa membuat keonaran dan adu pandai saja, kita belum tuntas mengurai persepsi, baru sekadar mampu mendengar, tetapi belum bisa menguji kebenaran dengan bijak dan mengembangkannya ke dalam tindakan yang produktif.

Ketiga orang itu mungkin tak sehebat Anda yang senang melihat kecerdasan orang dari pendekatan kognitif yang bermuara pada angka, teori, ijazah, dan stereotyping. Akan tetapi, saya harus mengatakan, studi-studi terbaru menemukan, ketidakmampuan meredam rasa tidak suka atau kecemburuan pada orang lain, kegemaran menyebarkan fitnah dan rasa benar sendiri, hanya akan menghasilkan kesombongan diri.

Anak-anak kita pada akhirnya belajar dari kita, dan apa yang kita ucapkan dalam kesaharian kita juga akan membentuk mereka, dan masa depan mereka.
_Institut Ibu Profesional_
_Review Materi Bunda Sayang sesi #5_

πŸ“š *MEMBANGUN KELUARGA LITERASI* πŸ“š

Selamat untuk anda para bunda di kelas bunda sayang yang sudah berhasil menyelesaikan tantangan game level  5.

Banyak kreasi literasi yang muncul, mulai dari pohon literasi, pesawat literasi, galaksi literasi dll. Semua yang sudah bunda kerjakan di tantangan kali ini sesungguhnya bukan hanya melatih anak-anak dan seluruh anggota keluarga untuk SUKA MEMBACA,  melainkan melatih diri kita sendiri agar mau berubah.

Seperti tagline yang kita gunakan di tantangan level 5 kali ini, yang menyatakan

"  *_for things to CHANGE, I must CHANGE FIRST_*"

Sebagaimana yang kita ketahui, tantangan abad 21, tidak cukup hanya membuat anak sekedar bisa membaca, menulis dan berhitung, melainkan kita dan anak-anak dituntut untuk memiliki kemampuan membaca, menulis, berhitung, berbicara dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat di sekitar kita. Kemampuan inilah yang saat ini sering  disebut literasi ( _National Instiute for Literacy, 1998_ )

Institut Ibu Profesional akan mendorong munculnya gerakan literasi yang nyata yaitu mulai dari dalam keluarga kita. Apabila seluruh keluarga Ibu Profesional sudah menjalankan gerakan literasi ini maka akan muncul _rumah  literasi_, muncul _kampung literasi_, dan insya Allah negara kita dipenuhi masyarakat yang literat. Tidak gampang mempercayai dan menyebarkan berita yang baik tapi belum tentu benar, makin memperkuat struktur berpikir kita, sehingga selalu mengutamakan "berpikir terlebih dahulu, sebelum berbicara, menulis dan menyebar berita ke banyak pihak"

*KOMPONEN LITERASI*

☘ *Literasi Dini ( Early literacy)*
_Kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah_. Pengalaman anak-anak dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.

☘ *Literasi Dasar ( Basic Literacy)*
_Kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi_

☘ *Literasi Perpustakaan (Library Literacy)*
_Kemampuan memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah_

☘ *Literasi Media (Media Literacy)*
_Kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya_.

☘ *Literasi Teknologi (Technology Literacy)*
_Kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi_

_Kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet_

☘ *Literasi Visual (Visual Literacy)*
_Pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat_


*_Keluarga hebat adalah keluarga yang terlibat_*

Maka libatkanlah diri kita dalam gerakan literasi di dalam keluarga terlebih dahulu.

Pahami komponen-komponen literasi, dan lakukan perubahan yang paling mungkin kita kerjakan secepatnya.

Pohon literasi janganlah berhenti hanya sampai di tantangan materi kali ini saja. mari kita lanjutkan sehingga gerakan ini akan membawa dampak bagi keluarga dan masyarakat sekitar kita.

_Salam Ibu Profesional_


*/Tim Fasilitator Bunda Sayang/*

πŸ“šSumber bacaan :

http://dikdas.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2016/03/Desain-Induk-Gerakan-Literasi-Sekolah1.pdf

_Clay dan Ferguson_ (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) , 2001

_Beers, dkk, A Principal’s Guide to Literacy Instruction, 2009_

_National Institute for Literacy, 1998_

Selasa, 11 Juli 2017

Mengasah Fitrah Bakat

Setiap anak lahir dengan fitrahnya masing-masing.
Fitrah pada dasarnya terdiri atas fitrah yang berhubungan dengan ketuhanan dan fitrah yang berkaitan dengan sisi kemanusiaan.

Salah satu fitrah yang dimiliki oleh setiap anak adalah fitrah bakat.
Fitrah bakat berkaitan dengan sifat unik yang merupakan bawaan lahir.

Di usia pra latih (0-7 tahun), adalah masa penguatan karakter anak.
Pada usia ini fitrah bakat diamati sebagai sifat unik.
Di usia ini orangtua perlu mengamati dan membuat jurnal tentang sifat unik anak.
Sifat unik ditandai dengan aktivitas yang membuat anak suka dan berbinar saat melakukannya.

Sejauh ini, kami mengamati ada dua sifat unik yang menonjol pada diri Chacha.
Pertama, Chacha suka dengan aktivitas fisik yang sifatnya outdor.
Kedua, Chacha sangat antusias bila melakukan percobaan sains sederhana atau membuat prakarya.





Setiap hari dia selalu bertanya "percobaan apa hari ini, Bunda?"
Dan bila kami telah selesai membuat percobaan, dia selalu minta waktu sendiri.
"Aku mau main bebas bunda", begitu katanya.

Seperti hari ini, ketika saya minta ijin untuk menidurkan adiknya, dia asyik sendiri dengan bahan-bahan prakaryanya.
Ketika adiknya sudah tidur, dia menunjukkan hasil karyanya pada saya.
Luar biasa imajinasinya, katanya dia membuat : bak mandi, meja makan, roket, pelindung kuda poni, bahkan yang membuat saya terkejut ketika dia menunjukkan bahwa dia membuat alat pelindung gempa bumi.

Mungkin sekarang memang apa yang dia buat jauh dari gambaran apa yang dia sebutkan itu.
Namun yang terpenting saat ini adalah memelihara imajinasinya, memupuk kreativitasnya.
Sesuai dengan pesan gurunda, "Fokus Pada Cahayanya".


#HomeaEducation
#Portofolio.FBE.Chacha.4y3m
#FitrahBakat

Senin, 10 Juli 2017

Buat Ikan Yuk Bun

Setelah membaca buku tentang ikan, Chacha ingin membuat prakarya berbentuk ikan.
Kali ini prakarya yang di buat Chacha berbahan dasar stik es krim.

Bahan :
- stik es krim
- lem kayu
- wiggle eyes
- manik-manik
- kertas hvs






Cara :
1. Rekatkan 4 buah stik es krim secara diagonal diatas kertas hvs.
2. Lalu, rekatkan pula 4 buah stik es krim di atas stik es krim pada nomor satu.
3. Tempelkan wiggle eyes pada stik es krim bagian atas.
4. Rekatkan manik-manik sebagai hiasan gelembung udara ikan

Kakak sangat antusias.
Sambil mengerjakan prakarya ini, kakak juga belajar bahwa ikan adalah makhluk hidup, ciptaan Allah.
Ikan hidup di air.

#HomeEducation
#Portofolio.FBE.Chacha.4y3m
#FitrahKeimanan
#FitrahBelajar
#FitrahSeni

Minggu, 09 Juli 2017

Sensory Book

Aluna suka sekali berinteraksi dengan buku.
Setiap hari selalu memegang buku.
Tangan mungilnya sudah terampil membolak-balik buku.

Salah satu buku favoritnya adalah buku " Hmm" yang mrmbahas jenis-jenis emosi.






Keunikan buku ini adalah terdapat halaman yang bisa di raba.
Aluna belajar membedakan berbagai jenis permukaan buku.

Manfaat kegiatan ini adalah :
1. Menstimulasi indera peraga
2. Menstimulasi motorik kasar
3. Mengenal berbagai macam tekstur benda, dari yang halus hingga kasar
4. Mengeksplorasi reaksi anak saat menyentuh halaman sensory


#HomeEducation
#Portofolio.Aluna.1y.4m
#FitrahBelajar
#FitrahPerkembangan

Kamis, 06 Juli 2017

Lolipop

" Bunda, ayo percobaan " pinta Chacha.
Setiap hari Chacha selalu berkata demikian.
Tiap hari selalu minta melakukan percobaan.
Baik percobaan sains sederhana maupun sekedar membuat barang dari bahan-bahan yang ada di rumah.

Kali ini kami membuat lolipop.
Memanfaatkan sisa kertas kado yang ada di rumah.

Bahan yang harus disiapkan :
1. Kertas kado
2. Stik es krim
3. Double tape
4. Pensil
5. Uang koin 500 rupiah





Caranya :
1. Buat bulatan pada kertas kado menggunakan uang koin
2. Gunting bulatan tersebut
3. Tempel bulatan pada stik es krim

Banyak sekali manfaat yang di dapat dari kegiatan ini, antara lain :
1. Mengasah keterampilan anak
2. Meningkatkan bonding antara ibu dan anak, karena membuat mainan bersama-sama
3. Membuat anak mampu memanfaatkan bahan-bahan yang ada di rumah untuk menjadi benda yang lebih bermanfaat

Inspirasi : Buku Rumah Main Anak 2

#HomeEducation
#Portofolio.FBE.Chacha.4y3m
#FitrahSeni

Selasa, 04 Juli 2017

Bongkar Lemari Bukunya

Pagi ini, selepas bangun tidur Aluna bergegas menuju rak buku.
Dia mengambil buku-buku evabook binatang peliharaan dari Seri Dunia Binatang.

Buku ini selalu jadi favorit Aluna.
Bahannya dari gabus sehingga aman buat bayi seusianya, tak akan sobek.
Ilustrasinya menarik, full colour.
Isi cerita tentang binatang-binatang peliharaan.
Anak-anak kan suka sekali dengan binatang.







Melalui buku ini saya bisa memperkenalkan padanya jenis-jenis binatang ciptaan Allah.
Mengasah fitrah keimanannya dengan imaji positif tentang ciptaan Allah.

Membacakan anak buku juga akan menstimulus kemampuan berbahasanya.
Gerakannya membolak-balik buku mengasah motoriknya.

Yuk bongkar lemari bukunya nak...


#HomeEducation
#Portofolio.FBE.Aluna.1y4m
#FitrahKeimanan
#FitrahBelajar

Pohon Litetasi, Riwayatmu Kini

Game kelima ini sungguh sangat menyenangkan
Membuat pohon literasi yang mampu menyemangati kami untuk lebih gemar membaca.
Menjadikan membaca sebagai kegiatan wajib di keluarga.

Meski tantangan 10 hari sudah berakhir, kami masih rutin menempelkan hasil bacaan kami di pohon literasi.
Sejauh ini memang masih didominasi dengan bacaan anak-anak.
Anak-anak tidak pernah tidak berinteraksi dengan buku setiap harinya.





Saya juga mulai rutin membaca di depan anak-anak.
Menunjukkan kepada mereka bahwa saya juga suka membaca.
Namun memang ayah yang belum punya waktu membaca buku.
Ayah lebih banyak membaca artikel dari smart phone nya.

Semoga dengan adanya pohon literasi ini, membaca menjadi kebiasaan kami sekeluarga.
Menjadikan rumah kami sebagai rumah literasi.

#gamelevel5
#bundaSayang
#IIP
 #KuliahBunsayIIP

Menikmati Makan Malam Romantis di Rooftop Darmo Steakhouse Batiqa Hotel Darmo Surabaya

Beberapa bulan lagi, pernikahan kami menuju tahun ke tujuh. Tujuh tahun menjalani pernikahan, rasanya luar biasa. Bahagia dan kesedihan...