Minggu, 29 April 2018

Wisata Ampel Surabaya, Menikmati Jejak Sejarah Hingga Kuliner yang Tak Terlupakan






Menjalani pernikahan selama enam tahun ini membuat kami harus selalu bisa menjaga komitmen dan memelihara rasa cinta diantara kami berdua. Salah satu cara untuk bisa menghangatkan hubungan, kami selalu menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu berdua saja. Menikmati our quality time. Salah satu cara mengisi our quality time adalah travelling tipis-tipis. Kenapa kok tipis-tipis, ya    karena perginya nggak jauh-jauh. Cukup sekitar Surabaya saja, maklum masih ada dua balita yang nggak bisa ditinggal lama-lama.
Kali ini saya mengajak suami untuk berjalan-jalan di kawasan Ampel Surabaya. Menjadi turis di kampong sendiri. Mengapa saya berkata begitu? Saya lahir dan menghabiskan waktu remaja saya di kawasan Ampel. Tinggal bersama kakek yang merupakan keturunan Arab. Hingga kini masih banyak saudara yang masih tinggal di kawasan Ampel.

Our Quality Time Kali Ini : Ampel


Hal yang paling membuat saya terkejut adalah, ternyata suami yang juga orang asli Surabaya baru pertama kali masuk ke kawasan wisata religi Ampel ini. Wah sayang, kamu mainnya terlalu jauh sih, hehehe. Kami masuk ke kawasan Ampel melalui pintu utama, dari arah Jalan Nyamplungan. Oh ya fyi, kawasan wisata religi Ampel ini juga bisa masuk lewat Jalan KH. Mas Mansyur.

Menyusuri Jejak Religi Di Masjid Ampel
Tempat yang pertama kami kunjungi adalah Masjid Ampel. Disini kami melihat betapa megahnya masjid yang dibangun sejak tahun 1421. Saat kami datang banyak peziarah yang mengunjungi masjid. Para peziarah itu kebanyakan adalah para guru dan murid. Maklum ketika kami kesana, sedang musim ujian. Para peziarah menyakini berdoa dan berziarah ke Ampel akan mempermudah urusan mereka, misalnya sukses menjalani ujian.
Selain makam Sunan Ampel, disini juga ada makam Mbah Soleh yang juga banyak dikunjungi para peziarah. Mbah Soleh adalah sahabat karib Sunan Ampel yang ikut membantu dalam pembangunan Masjid Ampel. Mbah Soleh ini diyakinin memiliki nyawa sembilan. Beliau meninggal selama Sembilan kali. Dan komplek makam yang ada disekitar Masjid Ampel diyakini sebagai makam Mbah Soleh.

Peziarah


Banyak masyarakat yang meyakini bahwa air kran wudhu Masjid Ampel memiliki kesaktian tertentu. Air ini diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Maka tak heran jika banyak orang yang berbondong-bondong mengisi botol dengan air kran tersebut.  


Menyusuri Jejak Sejarah di Kawasan Ampel
Kawasan Ampel dikenal juga sabagai Kampung Arab. Keberadaan Kampung Arab ini tidak terlepas dari politik non akulturatif yang diterapkan oleh Belanda pada masa kolonialisme. Kampung-kampung diciptakan agar setiap budaya yang ada tidak bercampur satu sama lain.


Di kawasan Ampel ini banyak bangunan-bangunan kuno yang masih kokoh berdiri. Salah satunya adalah Hotel Kemadjoean. Hotel ini telah beroperasi sejak tahun 1928, dan masih menerima tamu hingga kini. Harga sewanya juga cukup murah. Kamar termahal di hotel ini dibandrol seharga Rp. 90.000/malam.
Kuliner di Kawasan Ampel
Kendati mayoritas kawasan Ampel dihuni oleh etnis Arab, disini juga ada banyak etnis lainnya. Mulai dari etnis Cina, India atau orang Indonesia asli yaitu suku Jawa, Banjar dan Madura. Keberagaman etnis tersebut membuat kuliner Ampel menjadi lebih beragam. Selain kuliner khas timur tengah, disini juga ada nasi Madura yang sangat lezat, aneka kuliner khas Banjar dan lain sebagainya.

Martabak Mie


Saya memilih martabak mie sebagai camilan yang menemani saya menyusuri Ampel. Martabak mie adalah martabak yang terbuat dari tepung yang diisi bihun. Kemudian digoreng dengan gajih atau mentega. Martabak ini disajikan lengkap dengan petis sebagai cocolannya. Camilan ini biasanya dijual oleh orang Madura yang tinggal di kawasan Ampel. Makan martabak mie membuat saya serasa kembali ke masa kecil. Dulu, ada penjual martabak mie yang berdagang di depan rumah Kakek saya. Ah jadi rindu…
Lalu, perjalanan kuliner kami dilanjutkan dengan menyantap Gule Maryam. Gulai yang terbuat dari berbagai rempah khas timur tengah dipadu dengan kacang hijau. Membuat rasanya menjadi lebih enak dan gurih. Kami makan gule ini dengan roti Maryam. Roti khas timur tengah dengan rasa yang tak kalah gurih.

Gule Maryam


Saatnya Berburu Oleh-Oleh
Puas menikmati kuliner, saatnya berburu oleh-oleh. Ketika mengunjungi Ampel, tak perlu kesulitan untuk berburu oleh-oleh. Disini ada satu kawasan yang biasa disebut Ampel Gubah, tempat dimana banyak orang berjualan. Mulai dari busana muslim hingga berbagai pernak-pernik khas Timur Tengah.



Toko-toko yang ada disni kebanyakan dimiliki oleh orang Arab. Saat menyusuri kawasan ini terdengar berbagai lagu dengan irama timur tengah. Membuat saya seolah-olah sedang berbelanja di Arab saja, hehehe.

Oleh-Oleh Pilihan Kami


Ada empat barang yang saya beli, yaitu sorban, hena, siwak dan lipstick Arab. Sorban untuk suami, karena memang dia sudah lama ingin punya sorban. Hena untuk anak sulung kami, Chacha. Siwak untuk Aluna, sedangkan saya mencoba lipstik Arab. Semua dapat barangnya masing-masing.
Alhamdulillah, kami berdua puas menikmati perjalanan di Ampel. Menyusuri setiap jejak religi yang ada. Bernostalgia dengan sejarah Indonesia dan juga  kenangan masa kecil saya. Mengobati kerinduan mencicipi kuliner khas Ampel. Dan yang paling penting, our quality time kami kali ini bisa menjadi semangat baru untuk saling bekerjasama menjalani komitmen rumah tangga. Amin…

3 komentar:

  1. Ku udah pernah ke Ampel Surabaya ini, tapi cuma sebentar, belum sampai menikmati kulinernya :)
    Jadi pengen meluangkan waktu seharian di Ampel.

    BalasHapus
  2. duh pengen deh jalan -jalan ke Ampel lagi , terakhir kesana jaman kuliah dan itu blm sampai mencicipi kulinernya.

    BalasHapus
  3. Pernah sekali ke Ampel, ramai banget. Tapi belum pernah nyicipi kulinernya.

    BalasHapus

Menikmati Makan Malam Romantis di Rooftop Darmo Steakhouse Batiqa Hotel Darmo Surabaya

Beberapa bulan lagi, pernikahan kami menuju tahun ke tujuh. Tujuh tahun menjalani pernikahan, rasanya luar biasa. Bahagia dan kesedihan...