Review Novel Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 : Nostalgia Kisah Cinta SMA




Okey, saya memang bisa di bilang telat. Euforia Dilan sudah terjadi beberapa bulan yang lalu. Tapi saya sekalipun ingin, belum pernah nonton dan baca novelnya. Maklum alasan klasik, kesibukan emak-emak.

Tapi kemarin ketika ada acara kantor di Yogya, saya menyempatkan mampir ke toko buku. Dan akhirnya saya memilih novel ini. 

Novel ini bisa membuat saya senyum-senyum sendiri saat membacanya. Saat membaca saya seakan kembali ke masa putih abu-abu. Romansa kisah cinta SMA memang bisa jadi memorable ya!.

Novel Dilan, , Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 ini sukses menggambarkan bagaiman anak tahun 90 an saat pecaran. Mulai dari semangat pergi ke sekolah untuk bisa bertemu kekasih, berkirim surat lewat teman hingga saling melepas rindu di telepon. Ya, seperti itulah ketika pacaran di tahun 90 an. Sederhana namun sangat berkesan.

Di novel ini, Dilan yang seorang ketua genk motor justru memiliki banyak sifat positif. Juara kelas dan sangat dekat dengan ibunya. Percayalah, sebandel-bandelnya laki-laki kalau dia dekat dengan ibunya, pasti dia akan sangat menghargai perempuan. Bagaimana Dilan sangat ingin menjaga Milea, seperti rayuan mautnya ini. 
“Hati-hati Lia, jangan ada yang melukaimu. Nanti besoknya orang itu akan hilang”

Dilan menjadi lelaki idaman khas anak SMA. Sederhana dan romantis. Apalagi romantisnya terkesan apa adanya. Tidak perlu di buat-buat. Ataupun terlalu puitis. Setiap rayuan yang Dilan lontarkan kepada Milea, mengalir dengan sederhana dan sudah mampu membuat perempuan melambung tinggi. Saya pun ikutan baper, saat Dilan merayu seperti ini : “kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tau kalo sore”. Duh rasanya senyum-senyum sendiri, berasa jadi Milea. Hahahaha.






Dilan sangat menjunjung tinggi kehormatan. Dia tidak terima bila ada yang berlaku sewenang-wenang. Seperti saat upacara, dia melawan salah seorang gurunya yang sangat melecehkan. Atau saat dia menghajar Anhar, teman genk motornya yang telah menampar Milea.

Saya juga jatuh cinta pada deskripsi latar novel ini. Pidi Baiq sukses membuat saya bisa membayangkan betapa asri dan tenangnya kota Bandung di era 90 an. Membuat saya ingin segera datang ke Bandung!.

Novel ini adalah novel remaja yang dikemas sangat menarik. Kisah cinta khas remaja era 90 an yang masih malu-malu. Tak perlu harus berakhir di pelaminan lah. Toh jalan masih panjang. Makanya saya sebagai pembaca tak ingin memaksakan Dilan harus menikah dengan Milea di akhir cerita. Kisah cinta remaja, cukup dinikmati selagi bisa. Dikenang bila sudah terlewati. 

Novel Dilan ini adalah salah satu bagian dari trilogi. Masih ada dua jilid lagi.  Adalah Dilanku Tahun 1991 dan  Milea. Saya tak sabar membaca dua jilid lanjutannya. Tak sabar menunggu kisah cinta Dilan dan Milea. Tak sabar untuk ikutan baper saat mendengar rayuan Dilan. Hehehe.

Bagaimana dengan kamu? Sudahkah kamu baca novel Dilan? Bagaimana menurutmu? 



Review Novel Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 : Nostalgia Kisah Cinta SMA Review Novel Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 : Nostalgia Kisah Cinta SMA Reviewed by Dee_Arif on Agustus 01, 2018 Rating: 5

1 komentar:

  1. Aku belum pernah baca novel dilan..
    Belum pernah nonton filmnya juga soalnya secara full.

    BalasHapus

Blogger, Profesi Impian?

Blogger, menjadi salah satu profesi pilihan bagi beberapa orang. Kendati saat ini posisinya sudah mulai digeser oleh para youtuber da...

Diberdayakan oleh Blogger.