Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Tentang Joker, Pengasuhan dan Risak




Joker, film ini menjadi trending topik akhir-akhir ini. Hampir semua studio di bioskop-bioskop memutar film ini. Saya pun sempat dua kali kecewa karena tak dapat tiket. Film ini adalah film yang spesial dan sangat ditunggu-tunggu oleh suami. Maklum dia penggemar DC Comic. Hmm, seperti apa sih filmya kok sampai membludak penontonnya dan menjadi film yang ditunggu tunggu.





Tentang Joker



Akhirnya, hari senin kemarin saya dan suami berhasil dapat tiket. Maklum karena film spesial, suami maunya nonton di Premiere, jadi nggak bisa dipesan online. Mencuri waktu saat makan siang, kami pun berhasil dapat tiket nonton Joker.


Saya memang nggak membaca komik-komik DC. Tapi melalui film dan serialnya, saat tahu siapa itu Joker. Joker adalah musuh bebuyutannya Batman. Dia adalah sumber kekacauan di Gotham City.


Sebelum nonton film ini, banyak kabar yang tidak merekomendasikan menonton film ini. Katanya film ini penuh dengan kekejian. Katanya, film ini berbahaya untuk orang yang mengalami gangguan mental. Hmm, saya semakin penasaran, makanya pengen buru-buru nonton.

Bekerja sebagai badut




Saat film dimulai, perasaan saya langsung berkecamuk. Bagaimana tidak, saya kasihan pada Arthur Fleck. Dia bekerja sebagai seorang badut, lalu sekelompok anak-anak remaja mengganggunnya. Mengambil papannya, kemudian memukulinya. Duh, sungguh adegan awal yang  memilukan.


Lalu adegan demi adegan semakin mengiris hati. Begitu suramnya kehidupan Arthur. Banyak menerima perlakuan tidak menyenangkan dari lingkungan, hidup miskin di apartemen reyot, merawat ibunya yang sakit dan harus terus berobat untuk gangguan mental yang dideritanya. 


Arthur bertansformasi menjadi joker



Sampai akhirnya dia diberi pistol oleh temannya. Disini titik balik dimulai. Arthur yang semula hanya diam dengan gangguan-gangguan yang dideritanya, menjelma menjadi seorang pembunuh berdarah dingin. Dia tega membunuh orang-orang jahat yang mengganggunya. Dia menjelma sebagai Joker. Sumber kekacauan kota Gotham.


Joker dan Pengasuhan



Sebagai seorang ibu, saat menontin film ini saya semakin disadarkan akan peran saya. Bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Pendidikan dari ibu akan mempengaruhi kepribadian anak.


Arthur mengalami gangguan mental akibat siksaan dari ibunya. Ibu dan pacar ibunya suka sekali menyiksa Arthur saat masih kecil. Namun anehnya, Arthur masih menyayangi ibunya. Merawat ibunya dengan sabar. Duh, disini emosi saya teraduk kembali. 


Dalam sosiologi, sesorang yang melakukan penyimpangan sosial salah satu sebabnya adalah adanya sosialisai yang tidak sempurna. Sosialisasi tidak sempurna terjadi jika agen-agen sosialisasi tidak bisa melaksanakan tugasnya. Dalam hal ini, ibu Joker gagal melakukan tugasnya. Dia tidak merawat dan mengasuh anaknya dengan baik. 


Arthur dan ibunya



Joker dibesarkan dengan kekerasan. Tak ada kasih sayang yang utuh. Ditambah lagi lingkungan sekitarnya. Kota Gotham menjelma menjadi kota yang kejam. Pengangguran, hama tikus dan sampah membuat warga kota ini kehilangan kepekaan sosialnya. Abai terhadap orang-orang miskin seperti Arthur ini.


Menonton Joker membuat saya harus semakin memperbaiki diri. Banyak-banyak menggigit lidah, agar lisan terjaga dari sumpah serapah kepada anak. Mengatur emosi, agar jangan sampai melakukan kekerasan pada anak, baik fisik maupun verbal. 


Joker dan Perisakan



Film Joker ini juga menggambarkan bagaimana buruknya dampak perisakan alias bullying. Korban bullying akan mengalami trauma. Trauma akan kekerasan itu pada akhirnya membuat Joker bertransformasi menjadi pembunuh berdarah dingin.


Dia tak segan membunuh Murray, komedian favoritnya saat live di televisi. Murray mengolok-olok video stand up Joker, di televisi. Mungkin inilah yang disebut cyber bullying. Padahal, Joker sangat mengidolakan Murray.

Joker, korban perisakan




Dari film Joker ini saya juga belajar mempersiapkan anak terhadap bullying. Apalagi si sulung sering jadi korban bullying. Saat dia bercerita tentang perilaku bullying yang dia terima, saya dengarkan ceritanya. Kemudian, mengenali emosinya. "Kakak pasti tidak suka ya diganggu seperti itu?". Setelah anak menceritakan semuanya, termasuk perasaannya baru saya memberi saran.


Setiap anak diganggu saya selalu ajarkan untuk ; 


1. Saat diganggu, bilang kalau kita tidak suka diperlakukan seperti itu.

2. Kalau masih mengganggu, tinggalkan saja. Tapi jika melakukan kontak fisik misalnya memukul atau mencubit, saya ajarkan anak untuk membalasnya. Ini bukan bearti saya mengajarkan anak untuk bekelahi, tetapi lebih kepada untuk melindungi dirinya.


Korban bully, kebanyakan orang yang lemah. Orang yang diam saja saat diganggu. Dan saya nggak mau anak-anak saya terus diganggu.


3. Bila masih diganggu, saya minta anak melapor pada gurunya. Meskipun terkadang, respon guru sangat mengecewakan.


Seperti tadi pagi. Anak cerita jika temannya memakai rautan pensilnya, tetapi kotorannya dibuang di mejanya. Anak sudah meminta agar temannya membersihkan kotoran tersebut. Tetapi tidak dipedulikan. Lalu anak melapor pada guru. Tahu apa respon gurunya? Gurunya bilang begini " Ya salahmu sendiri, kenapa bawa rautan bagus". 


Duh, rasanya emosi dengar anak cerita seperti itu. Tapi saya berusaha tetap tenang. Lalu mengutakan hati anak. "Its oke sayang, bunda tahu kamu kecewa. Mulai sekarang jangan menggantungkan orang lain. Termasuk gurumu, di sekolah kamu harus mampu melindungi dirimu sendiri. Karena ayah dan bunda tidak selalu ada. Begitu juga gurumu."


Penting mengajarkan anak untuk bersikap tegas terhadap perilaku bullying yang dia terima. Penting bagi kita sebagai orangtua untuk selalu mendengar cerita anak, merespon perasaannyanya.



Nah itu tadi insight yang saya terima setelah menonton Joker. Betapa sekelam apapun cerita film ini, masih ada hal yang bisa kita ambil pelajaran. Dan memang jangan mengajak anak di bawah umur untuk nonton film ini ya. Dan semoga kita tidak turut andil dalam menciptakan Joker-Joker baru dimasyarakat. 





32 komentar

  1. Ya, kadang serba salah. Anak sudah kita ajarkan membela diri tapi kadang malah disalahkan gurunya, tidak mau mendengar alasan dan kronologi kejadian sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu, emang itu yg kadang bikin kesel yaa

      Hapus
  2. Iyess, ajarkan anak bertahan..
    Melindugi dirinya sendiri

    BalasHapus
  3. Aku hari minggu kemarin nonton, nih. Seingatku ibunya bukan menyiksa tapi membiarkan dia disiksa. Sama aja sih, ya. Sedih nontonnya

    BalasHapus
  4. Ikh kok gemes sih denger cerita gurunya. Gurunya tau gak kalau mbak dee punya blog😂 tapi jadi catatan sebagai orang dewasa juga harus mendengarkan cerita dari sudut pandang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iya aku pun shock saat dgr anakku cerita

      Hapus
  5. Aku udah nonton, sesek sendiri hadehhhh. Antara empati dan peperangan hati nurani

    BalasHapus
  6. Sepertinya psikolog dan psikiater wajib nonton film beginian, untuk bahan riset dan keilmuan. Joker, sosok kontroversial yang mungkin bisa dikatakan psikopat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya, ini film bs jadi kajian menarik buar ranah psikologi

      Hapus
  7. Hukum sebab akibat yang menjadikan joker seperti bom waktu yang akhirnya meledak dengan dipicu pemberian pistol oleh temannya

    BalasHapus
  8. Saya setuju mba bahwa orang tua adalah pondasi karakter anak. Film ini ngajarin kita banyak hal ya mba bahkan tentang diri kita sendiri dan bagaimana perilaku kita mempengaruhi orang lain. Enggak mudah memang melawan bullying. Selain memberikan bekal dan penguatan mental pada keluarga kita, kita juga harus berbuat hal yang sama dengan orang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, film ini sarat nilai parenting sebetulnya

      Hapus
  9. jadi banyak yang membanding-bandingkan joker dengan naruto, joker dengan nobita, joker dengan nabi muhammad saw, dll. Yaa... tidak semua orang perannya protagonis seperti nobita, naruto dan cerita2 di sinetron, kebanyakan ya mirip joker. tapi sebisa mungkin kita harus berusaha jangan sampai kita seperti joker dengan cara melawan tindakan bullying itu dan sebisa mungkin keluar dari lingkungan yang membawa pengaruh buruk.

    BalasHapus
  10. Mbaaaaa, mana tuh gurunya? manaaa???? suruh kursus mulut dulu bahahaha.
    Gemes juga saya!

    Ya Allah, saya nggak mau nonton filmnya, karema saya punya trauma terhadap darah,saya takut liat hal-hal yang kejam, takut saya ikutan hiks.

    Tapi baca ini, ya ampun, saya sering banget marahin anak pertama saya, terlebih sekarang saya sering kecapekan, kurang tidur karena ngurus semua seorang diri.

    Harus lebih ikhlas lagi menjalani hidup, biar hati tetap damai.
    Dan bisa jadi ibu yang baik.

    Makasih tulisannya mba, berarti banyak buat saya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iya mgkn gurunya lagi capek pas itu..

      Sama mbak, sejak punya anak kedua kadang anak pertama sering jadi sasaran kemarahan, duhh..

      Memang harus banyak2 sbaar jadi ibu

      Hapus
  11. Saya tahu cerita joker dari spoiler yang saya baca. Dari situ saya nemutuskan untuk tidak menonton. Karena takut adegan keras yang berdarah-darah. Tapi saya sepakat, film ini mengingatkan kita untuk tidak julid kepada orang lain dan berhati-hati dalam bersikap. Jangan sampai apa yg kita lakukan membuat orang lain jadi jahat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya adegan bunuh2an itu nggak banyak kok..

      G sesadis yg diceritakan orang :)

      Hapus
  12. Aku baru ngeeh setelah baca review film nya di blog kk, dr kmrn gak ngerti2, ini ttg apa sih ramai banget, intinya kondisi psikologis dr Joker it sendiri ya kak, ets ksi bocoran dong endongnya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Endingnya di lihat di bioskop saja ya, haha

      Hapus
  13. Sampai saat ini saya belum berani nonton film Joker ini, masih ada rasa ketakutan terbayang-bayang adegan film. Beberapa teman memang sudah nonton dan menceritakan sedikit ceritanya, nambah deh makin takut padahal ini banyak mencari favorit yah.

    BalasHapus
  14. Iya, Film Joker mengingatkan pada masa-masa kita masih kecil ... emang bener ya, pendidikan di rumah benar-benar penting banget

    BalasHapus
  15. Aku terfokus pada kata "bullying". Luar biasa ya dampaknya. Bisa jadi ada banyak "Joker" di sekitar kita :( Makasih buat ulasannya, Mbak.

    BalasHapus
  16. Sampai akhir penayangan saya gak sempat nonton filmnya.. Padahal dah jauh2 hari niat mau nonton.. Tahu jalan ceritanya setelah membaca review..

    BalasHapus
  17. Waw saya salut sekali bagaimana mbak mengajarkan anak menghadapi perilaku bullying. Tidak semua orang bisa begitu. Saya sempat merasa sebal saat membaca gimana reaksi guru anaknya Mbak waktu anaknya melapor soal perilaku temannya yang enggak mau membersihkan sisa rautan pensil. Kok begitu sih, jadi guru? Apa guru enggak belajar psikologi anak? Itu baru soal rautan pensil, gimana soal perisakan ya?

    Yah menggantungkan ke guru dan sekolah memang tidak bisa. Benar kata mbak, bagaimanapun ortu yang tetap harus pegang peranan.

    BalasHapus