SCRIPT ANTI M1 BL Seminggu Toilet Training, Luluskah? - Dee Stories

Seminggu Toilet Training, Luluskah?



Aluna kini sudah berusia 3 tahun 7 bulan. Saya mulai resah. Di usianya dia masih pakai diapers. Padahal, dulu kakaknya sudah lepas diapers sejak usia 3 tahun. Padahal banyak anak-anak lain yang bahkan sudah lepas diapers sejak usia 1,5 tahun. Semua keresahan itu membuat saya bertekad melakukan toilet trainning lagi pada Aluna. Kok lagi? Iya dulu saat dia berusia dua tahun saya sudah pernah mengajaknya toilet trainning, namun gagal πŸ˜₯πŸ˜₯.


Toilet Trainning







Toilet training pada dasarnya melatih anak untuk buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) pada tempatnya. Tidak lagi membuat anak BAK dan BAB di diapers. Toilet trainning ini juga menjadi awal melatih kemandirian anak. Bagaimana mereka bisa BAK dan BAB sendiri.


Selain itu saat toilet trainning juga membuat anak belajar anatomi tubuhnya. Anak jadi tahu nama-nama bagian tubuhnya dan juga fungsinya masing-masing. 


Toilet trainning terkadang menjadi proses yang tidak mudah. Penolakan anak biasanya membuat orangtua putus asa. Sebagaimana yang pernah saya alami dulu, saat Aluna berusia 2 tahun. Saya bahkan berhenti cukup lama untuk memulai kembali. Duh...


Kapan Memulai Toilet Trainning



Langkah pertama sebelum memulai toilet training tentunya saya mencari tahu dahulu. Kapan saat yang tepat untuk mengajak anak toilet training. Sekalipun saya tahu, setiap anak itu unik. Tidak bisa disamakan dengan anak lainnya. Termasuk usia saat memulai toilet trainning.


Menurut berbagai literatur yang saya baca, beberapa psikolog menyebutkan bahwa toilet training bisa dimulai sejak anak berusia 1,5 tahun. Dengan catatatan pada saat ini anak sudah bisa lancar berjalan dan berbicara. 


Mengajak anak toilet trainning memang tidak hanya melihat umurnya saja. Tapi kita juga harus tahu tanda-tanda kesiapan fisik dan psikis anak. 


Tanda-tanda fisik anak siap untuk diajak toilet training antara lain :


πŸ’  Dapat duduk tegak
πŸ’  Mampu jongkok 5-10 menit tanpa berdiri dulu
πŸ’  Sudah memiliki jadwal BAK dan BAB yang cukup 
πŸ’  Dapat menaik-turunkan celananya sendiri


Sedangkan untuk tanda-tanda kesiapan psikis anak siap toilet training adalah :


πŸ’  Sudah mengenal rasa ingin  BAK dan BAB 
πŸ’  Bisa mengungkapkan kebutuhan untuk BAK dan BAB secara  verbal maupun nonverbal
πŸ’  Merasa tidak nyaman dengan kondisi basah atau kotor di celana dan ingin segera diganti
πŸ’  Dapat membedakan BAK dan BAB
πŸ’  Memahami instruksi sederhana dan bisa meniru perilaku orang lain
πŸ’ Tertarik dengan kebiasaan dan kegiatan orang dewasa di kamar kecil
πŸ’ Minta diajari menggunakan toilet


Idealnya jika anak sudah memiliki tanda-tanda fisik dan psikis seperti diatas, kita baru bisa mengajaknya melakukan toilet training. Namun jujur saja, Aluna belum memiliki semua tanda-tanda diatas. Aluna belum bisa mengungkapkan keingiannnya untuk BAK dan BAB. Bukan karena dia belum lancar berbicara, melainkan dia sendiri sudah terlalu nyaman BAK dan BAB di diapers.


Keputusan saya mulai mengajaknya toilet training lebih karena menurut saya usianya sudah cukup besar. Sudah terlau besar untuk terus menerus pakai diapers.


Cerita Toilet Training Aluna






Seminggu kemarin saya mulai mengajak Aluna untuk toilet training. Saya akan ceritakan hari pertama hingga hari ketujuh ya.


Hari Pertama



Di hari pertama, saya masih memakaikan Aluna diapers. Namun mulai mengajaknya ke toilet tiap dua jam sekali. Dia pun mau, setiap saya ajak ke toilet dia pun selalu pipis. Hingga diapersnya kering, karena memang tidak pipis disitu. Hanya urusan BAB belum. Aluna masih BAB di diapers. 


Saya senang, menurut saya hari pertama ini adalah kemajuan yang bagus. Aluna sudah belajar pipis di toilet. Sekalipun masih pakai diapers. 


Hari Kedua



Hari kedua, seperti kemarin. Saya masih memakaikan diapers. Namun drama mulai terjadi. Aluna tidak mau pipis di kamar mandi. Tiap diajak pipis, tidak ada pipis yang dikeluarkan. Dan diapersnya pun penuh. Dia pipis di diapers. Haduhhh, saya langsung emosi rasanya.


Hari Ketiga


Saya pun curhat di media sosial, banyak saran yang saya dapat perihal toilet training ini. Akhirnya di hari ketiga saya memutuskan untuk tidak memakaikannya diapers. 


Aluna nangis, tapi saya biarkan. Saya tetap tidak memakaikannya diapers. Saya ajak dia ke kamar mandi setiap satu atau dua jam sekali. Bahkan saat tidur tetap tanpa diapers.


Tempat tidurnya saya kasih perlak. Ya biar kalau dia pipis tidak membasahi kasur.


Seharian dia 2x BAK dan BAB di celana. Tapi saat tidur baik siang maupun malam dia tidak mengompol. Alhamdulillah menurut saya ini adalah awal yang bagus.


BAK nya sudah banyak di kamar mandi. Soal BAB memang saya maklumi dulu. Target saya dia bisa BAK dulu. Lalu dilanjutkan mengajarinya BAB. Step by step dulu lah.


Hari Keempat



Hari keempat, Alunavsudah tidak menangis saat hanya memakai celana dalam. Hanya sesekali merengek, mengapa dia tidak pakai diapers. 


Saya jelaskan padanya, kalau dia sudah besar. Sudah waktunya pipis di kamar mandi.


Hari keempat, dia BAK sekali di celana dalam. Peningkatan dari kemarin. BAB nya masih di celana dalam πŸ˜₯. Tapi saat tidur juga tidak mengompol.


Hari Kelima



Hari kelima lebih baik dari kemarin. Aluna sama sekali tidak pipis di celana. Sepanjang hari dia pipis di kamar mandi. Hanya selama hari ini dia belum BAB. 


Hari Keenam



Jika lima hari sebelumnya toilet training saya lakukan saat Aluna di rumah, hari keenam lebih menantang. Kami pergi ke luar kota. Dan sudah komitmen dengan suami, meskipun bepergian Aluna tetap tidak pakai diapers.


Dia sepakat, pun harus siap-siap rela bila nanti Aluna pipis di mobil, hehe. Sebelum berangkat, kami ajak Aluna pipis di kamar mandi. Alhamdulillah dia bisa pipis banyak sebelum berangkat.


Perjalanan hanya dua jam, jadi kami yakin Aluna tidak akan mengompol di mobil. Namun, nyatanya perjalanan lebih dari dua jam. Maka kami putuskan berhenti sejenak di rest area. Mengajak Aluna pipis. Saat di toilet rest area, dia tidak bisa pipis.


Ya sudah kami pun melanjutkan perjalanan. Dalam hati saya berdoa, jangan sampai Aluna BAK di mobil. Apalagi sampai BAB. Duh gawat nantinya. 


Saat masih di tol, dia pun meminta pipis. Haduh, paniklah kami. Beruntung saat itu ada truck mogok . Jadi kami bisa berhenti di depannya. Aluna pun terpaksa pipis di pinggir jalan. Lalu dibersihkan dengan tisu basah. Mau gimana lagi, darurat. Daripada pipis di dalam mobil.


Dan malamnya, Aluna pun mengompol di kasur hotel. Beruntung saya sudah membawa perlak. Jadi kasur hotel tak sampai basah. Padahal sebelum tidur, dia sudah pipis. Biasanya saat di rumah, tengah malam dia terbangun. Lalu saya mengajaknya ke toilet. Tapi mungkin karena kecapekan di jalan dan dinginnya udara Malang, membuat Aluna akhirnya mengompol.


Hari Ketujuh



Hari ketujuh, kami masih di Malang. Selama di tempat wisata, Aluna sudah bolak-balik pipis di kamar mandi. Lalu tiba-tiba, saat makan siang mendadak dia bilang ingin BAB. Saya pun langsung membawanya ke toilet. Dan setelah tiga hari tidak BAB, Aluna pun berhasil BAB di toilet. Duh,, saya senang sekali. 


Hal yang Harus Dipersiapkan Saat Toilet Training






Perjalanan seminggu toilet training ini rasanya campur aduk. Cukup menguras tenaga dan emosi saya. Namun saya akan cerita, apa saja yang saya persiapkan saat mengajak Aluna toilet training.


1. Celana dalam lucu



Saya membelikan beberapa celana dalam baru untuk Aluna. Sengaja pilih gambar yang lucu, agar dia mau memakainya.


2. Team yang solid


Saat toilet training saya juga dibantu oleh mama dan suami. Saya minta bantuan mereka berdua untuk mengajak Aluna ke toilet. Terutama mama, saya mohon mama bersabar. Mengajak Aluna bolak-balik ke toilet, saat saya harus bekerja. Alhamdulillah mama dan suami kompak melatih Aluna juga.


3. Kain pel



Kain pel yang nyaman selalu ada didekat saya saat mengajari Aluna toilet training. Setiap Aluna pipis dilantai, saya dengan sigap langsung mebersihkannya. 


4. Waktu



Ini yang paling penting. Saya harus menyediakan waktu. Saya pun rela merelakan dua jam waktu rutin saya menulis. Hanya agar saat saya di rumah, semua waktu saya hanya tercurah untuk kebutuhan toilet training Aluna.


5. Tenaga



Saya harus punya tenaga ekstra saat toilet training ini. Harus punya tenaga untuk selalu megepel lantai yang terkena BAK Aluna. Harus punya tenaga mencuci setiap celana dalam Aluna yang terkena BAK dan BAB.


6. Hati yang lapang



Last but not least, pastinya saat toilet training ini saya harus memiliki hati yang lapang. Punya kesabaran untuk rutin mengajak Aluna ke toilet. Stay cool saat dia BAK dan BAB di toilet. Intinya saya harus menjaga mood. Agar Aluna tetap happy menjalani toilet training ini.



Begitulah cerita saya selama seminggu mendapingi Aluna toilet training. Semua prosesnya memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa. Terimakasih buat semua teman-teman yang sudah memberikan saran dan dukungan pada saya. 


Saya belum tahu apakah selama seminggu ini sudah dikatakan kalau Aluna lulus toilet training. Kami akan jalani dulu semua prosesnya.


Bagaimana dengan teman-teman semua. Punyakah pengalan seru seputar toilet training? Kalau punya, jangan ragu berbagi di kolom komentar ya. 😊😊😊


23 komentar

  1. Seminggu itu termasuk cepat lho mbak. Aluna hebat sudah bisa yaa.. Sy bacanya sampai deg2an..hehe. dulu waktu sulung juga begini. Tp usia dua tahun agak lebih sulit memulainya buat sy. Alhamdulillah memang berhasil juga. Anak kedua sy kurang mau repot. G sanggup sama najis di mana-mana.. Hiks. Jd saya ajarkan ke kamar mandi dengan tetap pakai popok. Sekarang sudah pintar Alhamdulillah.. Yg penting kita telaten ngajakin bak ke kamar mandi..insya Allah bisa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iya mbak..
      Alhamdulillah

      Tapi emang harus ekstra sabar mbak...

      Hapus
  2. hebat seminggu sudah bisa, anak saya sudah berbulan-bulan belum lulus hihihi tapi memang anak saya masih belum bisa diajak berdiskusi, jadi ini yang bikin lama :D

    BalasHapus
  3. masha Allah mba, perlu kesabaran ekstra ya saat anak toilet training, setelah 7 tahun, saya jg harus siap2 nih buat toilet training lagi anak ketiga. masih lama sih anaknya masih 7 bulan tp udah kebayang aja rempongnya saat toilet training

    BalasHapus
  4. Yeay, aluna hebat, semoga terus konsisten ya... Yang paling berat memang nyiapin kesabaran, huhu... Anak kedua belum mulai tt nih, mau beresin nyapih dulu...

    BalasHapus
  5. Semangat Mbak... Masa masa itu meski sekarang seperti menjengkelkan, tapi kelak akan jadi kenangan terindah yang pernah kita punya. Dan bagi saya perjuangan itu adalah sebuah kebanggaan lho...

    BalasHapus
  6. Duh toilet training ini salah satu tantangan yg berat heuuu... Dan bener banget Bun, harus ada team yg solid plus hati yg lapang untuk memulai toilet training biar nggak stres kitanya haha

    BalasHapus
  7. Anakku yang paling besar jelang 2 tahun dan belum toilet training. Masih tahap kusiapkan untuk beli celana dalam dan sering kuajak ngobrol saat mandi. Doakan aku ya Mba.

    BalasHapus
  8. Wah perjuangan banget ya, Mbak. Saya juga sedang mempersiapkan cara yang paling efektif buat toilet training anak kedua nih. Kalau dulu kakaknya cuman butuh waktu sehari buat lepas diaper. Terima kasih sharingnya ya, Mbak.

    BalasHapus
  9. Tenaga dan hati yang lapang, wajib dimiliki
    Mampu jongkok, harus menjadi perhatian.

    BalasHapus
  10. Wah, selamat... Toilet trainingnya berhasil...yang penting memang sabar dan konsisten ya. Sehingga anak bisa paham kalau bab dan bak harus di kamar mandi. Dan itu butuh hati yang lapang memang.. Hihi..

    BalasHapus
  11. Selamat menikmati masa-masa mengajari toilet training ya mbak. Pasti bikin ketawa besok-besok kalo inget masa-masa ini

    BalasHapus
  12. Duh, jadi keingetan masa2 toilet training anak-anakku deh. Melelahkan tapi membahagiakan. Puas pas anak lulus ya...

    BalasHapus
  13. Ini yang harus di BOLD yaa...
    Hati yang lapang.

    MashaAllah~
    Memang menjadi orangtua itu amanah yang diembannya sungguh warbyasaa...
    Yang belajar di sini gak cuma Aluna yaa...tapi a teamwork.

    Saluutt sama Aluna.
    Good Job, girl.

    BalasHapus
  14. Kebetulan baru melewati masa masa toilet training buat anak pertama. Sempat baper juga Bun liat anak anak orang umur 2 tahun udah pada bisa. Anakku udah 3 tahun setengah baru bisa stop diapers. Kuncinya sabar dan telaten ��

    BalasHapus
  15. kebetulan banget aku lagi mau TT anakku rencana mulai minggu depan bismillah semoga sukses

    BalasHapus
  16. Mengajarkan TT itu emang butuh banget kesabaran saya dulu pernah sehari sampai ngompol 7 kali, dan lucunya kalo si mas ini diajak ke kamar mandi untuk pipis dia gak mau setelah keluar dari kamar mandi dia ngompol heheheh .. emang perlu kesabaran ekstra dan pantang menyerah biar berhasil

    BalasHapus
  17. Subhanallah yac bun melatih toilet training itu emang butuh kesabaran dan ketelatenan serta mood yang baik yac..

    BalasHapus
  18. Sedini mungkin harus mengajarkan anak toilet training ya mba. Biar bisa mandiri kalau mau buang air kecil maupun buang air besar.

    BalasHapus
  19. Anak ku sudah mau 3 tahun belum lulus-lulus toilet training nih.
    lelah banget aku kalau tidur, belum bisa bilang, jadi tiap hari ngomopol, hiks

    BalasHapus
  20. wah aku baru tau ada pelajaran ini untuk anak, boleh dipraktekin ke ponakanku agar lebih pintar yaa :D

    BalasHapus
  21. Masya Allah ya mbak, perjuangan banget masalah toilet training ini. saya TT anak kedua juga butuh waktu lama mbak,,, seminggu dua minggu pertama gagal, mandeg sebulan dua bulan kemudian baru lanjut lagi dan alhamdulillah berhasil...

    BalasHapus
  22. He he he mengajarkan anak-anak toilet training membutuhkan ketelatenan dan kesabaran ibu

    BalasHapus