Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Teknologi Pengolahan Limbah, Mengubah Sampah Menjadi Berkah

Teknologi Pengolahan Limbah

Ngomongin sampah memang nggak ada habisnya. Sampah-sampah yang terus menumpuk di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) nyatanya menjadi sumber permasalahan baru. 

Sampah-sampah di TPA membutuhkan solusi tepat agar cepat terolah. Dan tentunya ini juga berhubungan dari proses sampah sebelum sampai ke TPA.

Sampah menjadi masalah yang serius untuk segera diselesaikan. Oleh karena itu, butuh kolaborasi dari banyak pihak. Sebagaimana pesan dari sebuah webinar yang bertajuk "Teknologi Pengolahan Limbah" yang saya ikuti beberapa hari lalu. 

Masalah Sampah di Indonesia

Sampah masih menjadi permasalahan serius di Indonesia. Saya mengikuti webinar dari Universitas Lambung Mangkurat beberapa hari lalu. Dimana data-data tentang persoalan sampah di Indonesia sangat memprihatinkan. Ini juga yang mendorong para akademisi di Universitas Lambung Mangkurat dan UIN Raden Mas Said Surakarta berkolaborasi untuk menghadirkan solusi mengatasi sampah di Indonesia. 

Jumlah Sampah yang Menumpuk

Teknologi Pengolahan Limbah

Tahu tidak, menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2020 jumlah sampah di Indonesia sebanyak 67,8 juta ton. Jumlah ini menunjukkan belum adanya pengelolaan sampah secara komprehensif dan tuntas. Ini yang membuat masalah sampah di Indonesia masih belum bisa diselesaikan. 

Belum lagi persoalan sampah plastik. Data dari SWI (Sustainable Waste Indonesia) mencatat bahwa ada 88,17% sampah plastik di Indonesia tidak di daur ulang. 

Baca Juga : Sepuluh Langkah Memulai Gaya Hidup Zero Waste dari Rumah

Bagaimana dengan sampah makanan? Duh, ini juga masih jadi PR besar. Setiap orang di Indonesia memproduksi sampah sebanyak 300 kg/tahun. Tak heran jika akhirnya Indonesia menjadi negara kedua penghasil sampah makanan di dunia. 

Belum Adanya Budaya Pilah Sampah

Teknologi Pengolahan Limbah

Sebenarnya menumpuknya sampah di Indonesia ini dimulai karena belum adanya budaya pilah sampah. Masyarakat masih menumpulkan sampah menjadi satu lalu dibuang ke tempat sampah. Sampah-sampah ini akhirnya berkahir di TPA. 

Sampah sendiri terdiri dari tiga kategori, yaitu : 

⏺️ Sampah Organik 

⏺️ Sampah Material Daur Ulang

⏺️ Sampah Residu

Bila sampah-sampah sudah terpilah berdasarkan kategorinya, tentu akan memudahkan proses pengolahannya. Misalnya, sampah organik bisa diolah menjadi bahan baku kompos, budidaya maggot bahkan bisa menjadi agro industri. 

Menengok Pengolahan Sampah di Jepang

Teknologi Pengolahan Limbah

Pada webinar kemarin juga dipaparkan bagaimana pengolahan sampah di Jepang. Ternyata pengolahan sampah di Jepang sudah dimulai dari diri sendiri. 

Sejak dini orang Jepang sudah diajarkan untuk memilah sampah. Sampah-sampah yang dihasilkan setiap rumah tangga di Jepang adalah sampah-sampah yang sudah terpilah berdasarkan kategorinya. 

Tempat sampah yang ada di fasilitas umum juga sudah tersedia berdasarkan kategori. Mulai dari sampah organik, sampah kertas, sampah plastik hingga sampah tutup botol. 

Bahkan, pengambilan sampah juga dijadwalkan berdasarkan kategorinya. Bila ada yang membuang sampah tidak sesuai jadwal, akan diberi stiker peringatan. 

Teknologi Pengolahan Limbah

Kebiasaan dan peraturan pemilahan sampah ini membuat sampah-sampah di Jepang bisa ditangani dengan baik. Sampah menjadi mudah terolah. 

Mengubah Sampah Menjadi Berkah

Padahal, sampah sebenarnya memiliki nilai ekonomi yang tinggi bila dikelola dengan baik. Tak hanya sampah daur ulang saja, sampah makanan pun bisa menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi. 

Mengubah sampah menjadi berkah tak hanya butuh kolaborasi banyak pihak. Tetapi juga dengan bantuan alat teknologi pengolahan limbah. 

Teknologi Pengolahan Sampah Plastik

Teknologi Reinigen menjadi salah satu bentuk teknologi pengolahan sampah yang bisa mengubah sampah menjadi berkah. Dengan teknologi Reinigen ini sampah-sampah baik sampah plastik maupun sampah makanan bisa diolah menjadi barang dengan nilai ekonomi tinggi yang bisa memberdayakan masyarakat sekitarnya. 

Teknologi Pengolahan Limbah

Melalui mesin cacah pilah, sampah-sampah yang ada di TPA bisa dipasahkan berdasarkan kategorinya. Sampah organik diolah menjadi pupuk dan kompos. Sedangkan sampah anorganik dikelola menjadi bahan baku industri. Melalui proses pembuatan bahan komposit pada tungku vertikal. 

Pengolahan sampah plastik ini adalah inisiasi dari daurulang.id. Limbah plastik dengan formula khusus sudah diusulkan menjadi paten. 

Paten yang diusulkan juga sudah dikembangkan produksinya. Mulai dari pembuatan kusen, paving blok hingga papan dekoratif. Dimana semuanya juga sudah dijual di beberapa marketplace. 

Kalau teman-teman mau tahu lenih banyak, bisa meluncur ke laman daurulang.id. Disana tak hanya ada penjelasan konsep saja tapi juga ada beragam jenis mesin pengolahan limbah dengan harganya masing-masing. 

Teknologi Pengolahan Sampah Makanan

Bagaimana dengan pengolahan sampah makanan? Bukankah Indonesia memiliki jumlah sampah makanan yang tinggi? Tentu ini juga bisa menjadi potensi yang besar bila dikelola dengan baik. 

Teknologi Pengolahan Limbah

Sebenarnya sudah banyak cara mengolah sampah makanan skala rumahan yang bisa dipraktikkan. Namun pengomposan yang lama (± 30 hari) dan alat yang tidak mampu menghilangkan emisi bau selama biodegradasi membuat masyarakat enggan mengolah sampah makanan. Belum lagi biaya pengolahannya juga mahal. 

Baca Juga : 7 Cara Kelola Sampah Makanan dari Rumah, Karena Sampahmu Adalah Tanggung Jawabmu

Masyarakat ingin sampah makanan bisa segera terolah dengan cepat setelah dibuang. Agar tidak ada lindi dan bau yang menyengat. 

Ini yang kemudin membuat tim CST (Center for Science and Technology) UIN Raden Mas Said Surakarta membuat prototipe alat pengolahan limbah makanan yang diberi nama "Thermal Composter". 

Thermal Composter adalah sebuah teknologi pengolahan limbah makanan skala rumahan. Teknologi ini terdiri dari controler menggunakan smartphone, unit disinfektan, unit pencacah, ruang pengomposan, unit additive mikroorganism, uni pemanas dan unit pengaduk spiral. 

Teknologi Pengolahan Limbah

Dengan Thermal Composter ini limbah makanan akan diolah menjadi produk dalam waktu singkat (3 hari). Prosesnya juga mudah, cukup dioperasikan lewat smartphone. 

Penggunaan teknologi pengolahan limbah bisa membantu pengelolaan sampah menjadi lebih cepat dan mudah. Sampah bisa diubah menjadi berkah. Menghabiskan barang-barang dengan nilai ekonomi tinggi. 

Semoga artikel tentang pengolahan sampah ini bisa menginspirasi teman-teman. Boleh lho cerita tentang cara pengolahan sampah yang sudah teman-teman lakukan. 

Ditunggu ceritanya di kolom komentar, ya. 

Terima kasih.



37 komentar

  1. Keren nih, mesinnya bisa pisahin sampah organik dan anorganik. Moga cara ini banyak diadopsi di mana2, ya

    BalasHapus
  2. Dan Indonesia termasuk negara yang menyumbang sampah terbesar loh, sedih deh lihat peringkat tertingga tapi dalam hal seperti ini. Andaikan masyarakat di Indonesia bisa taat dalam mengelola sampah, aku yakin kita juga bisa kok kayak negara tetangga yang selalu bisa mengelola sampahnya dengan baik.

    BalasHapus
  3. Bisa dibilang seperti permasalahan klasik tapi memang soal sampah ini harus terus ditangani dan disosialisasikan ya biar makin paham cara pengelolaan yang baik

    BalasHapus
  4. wah mesinnya keren nih. semoga aja di daerah lain juga ada. btw saya kaget pas lihat logo ULM di fotonya ternyata yang ngadain webinar kampus saya dulu ya walau beda almamater. mantap deh

    BalasHapus
  5. Keren. Semoga cara pengolahan sampah begini banyak diadaptasi.

    Memang sih, rasanya pemilahan sampah di tanah air masih belum banyak diterapkan di ranah rumah tangga saja, sederhananya. Bahkan budaya buang sampah pun masih yaaaa begitulah.

    BalasHapus
  6. Jadi teringat berserakannya sampah plastik di sepanjang Pantai Kuta dan tempat2 lainnya beberapa waktu silam. Kayak gini nih, merusak alam dan lingkungan, membuat ikan2 mati gara2 ga sengaja menelan sampah tersebut. Alhamdulillaah kini sudah ada teknologi pengolahan limbah daurulang.id ya mbak Dian. Yuk, kita sama2 sukseskan program yang sedang berjalan ini dan seterusnya.

    BalasHapus
  7. Aku masih gemes aja sama kelambatan pemda mbak Dian... mungkin dari pemerintah pusat sih udah oke banget, yaaa

    aku usul, kenapa sih ngga tiap kelurahan diberikan incinerator aja? Kenapa oh kenapa? Apa sih masalah lainnya? Omaygad, udah puluhan tahun loh ini masalah sampahnya, kadang aku kasian gitu sama petugas dan penduduk yang ketiban sampah

    BalasHapus
  8. Masalah sampah di Indonesia masih menjadi momok yang mengerikan. Harus dimulai dari diri sendiri dan dapat diikutin oleh semua orang

    BalasHapus
  9. Pengolahan sampah memang masih menjadi krusial ya mbak, secara tidak langsung sadar tidak sadar kadang masih aja menghasilkan sampah.

    Setuju dengan beberapa progam baik pengolahan sampah di artikel ini, yukk sama2 bergerak

    BalasHapus
  10. Aku ngerasa bersalah beneran ga milah sampah. Berkat artikel mbaa aku bakal coba pisah deh. Ini emang mesti dibiasakan dan dikampanyekan kan yaaa.

    BalasHapus
  11. MasyaAllah, kereeen.
    semoga semua segera bisa merasakan keunggulan teknologi pengolahan limbah ini ya, biar gak ada lagi tuh sampah-sampah berserakan justru malah bisa mendatangkan berkah buat orang lain yang lebih membutuhkan.

    BalasHapus
  12. Bagus sekali inovasi teknologi pengolahan mba. Aku pribadi mengakui masih berusaha untuk belajar memilah sampah-sampah. Namun satu sisi di truk sampah semua di gabung jadi satu. Setidaknya kita upayakan ya :)

    BalasHapus
  13. Negara kita sepertinya emang darurat sampah, Mbak. Kemarin main ke kampung yang gak jauh dari Jakarta. Prihatin banget sampah berserakan di mana-mana. Samping rumah dijadikan tempat pembuangan. Bayangkan betapa gak nyamannya melihat pemandangan seperti itu. Nah menurut saya edukasi pengolahan sampah, cara membuang dan bagaimana penanganan sampah rumah tangga yang baik, sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Pendidikan masyarakat pada intinya

    BalasHapus
  14. Emang banyak banget nemukan sampah yang menumpuk dan membutuhkan penangganan yang serius, kalau ada pengolahan limbah sampah dengan teknologi memadai, keren deh

    BalasHapus
  15. Nah iya, mengelola sampah makanan di rumah itu memang gak mudah. Kadang timbul bau busuk yang menyengat. Kitanya udah bertekad mengolah sampah tapi kadang orang di rumah atau di sekitar suka protes dengan baunya. Akhirnya menyerahkan proses pengolahan pada petugas sampah, deh!

    BalasHapus
  16. Keren inovasinya. Thermal Composter udah dijual untuk umum kah? Cocok untuk penggunaan pribadi atau skala RT ya? Penasaran harganya berapa.

    BalasHapus
  17. Ngomongin sampah sering bikin sedih. Huhu, tiap hari kita nyampah, tapi pengolahannya masih sangat sedikit ya. Budaya di kita memang jauh dari budaya Jepang dan Korea. Yang semua masyarakatnya udah sadar dan disiplin dalam hal sampah. Patut diapresiasi nih daurulang.id ini. Punya komitmen dalam menangani sampah. Semoga masyarakat semakin banyak yang peduli dengan ini. Biar sampah yang dibuang ke alam semakin sedikit.

    BalasHapus
  18. Keren banget ya di Jepang sampai ditentukan hari pengambilan sampah sesuai jenisnya.
    Juga tak kalah keren pengolahan sampah plastik inisiasi dari daurulang id. Semoga bisa diterapkan di TPA_TPA di Indonesia sehingga masalah pengolahan sampah bisa ada solusinya

    BalasHapus
  19. Masalah sampah ini bukan perkara sepele ya Mba. Kadang suka gemes kalau lihat anak yang dengan cueknya buang sampah sembarangan. Ortunya juga engga menegur. Kebiasaan seperti ini Yang harus diperbaiki sih. Dari lingkungan kecil dulu harus terbiasa mengelola sampah dengan benar. Salut juga sama Jepang yang udah punya teknologi keren buat kelola sampah. Negara mereka juga bersih. Perlu banyak belajar nih dari mereka.

    BalasHapus
  20. Sampah ini masalah banyak orang ya. Sehari aja udah berapa tuh sampah yang kita produksi. Lihat Jepang, wah mereka mah oke banget soal sampah. Bahkan barang pun jadi sampah dan gak ada yang ambil karena buang ya harus bayar. Semoga adanya daurulang.id bisa bantu pengelolaan sampah kita. Yuk mulai dari diri sendiri

    BalasHapus
  21. masih kurang ya kesadaran untuk memilah sampah. Di tempatku kan sudah ku pilah tapi nanti dibawa ke tempat sampah RW tetap saja dicampur dengan yang lain. Memang perlu kesadaran dan juga aturan mulai tingkat bawah untuk memilah dan mengolah sampah.

    BalasHapus
  22. Selalu bermimpi Indonesia bisa bagus pengelolaan sampahnya kyk yg sering kita tonton di drama Jepang atau drakor yaa. Tapi entah kapaaaan. Sebenarnya juga ada bbrp pihak baik swasta maupun LSM dan mungkin jg dinas2 plat merah terkait kasi edukasi soal ini tapi yambuh kok blm bia berubah jg perilaku masyarakatnya, msh banyak yg enteng buang kasur ke sungai bahkan duh.
    Bagus banget ada yang punya teknologi gini, moga makin berkembang seiring perubahan mindset dan perilaku masyarakat jg yaaa

    BalasHapus
  23. Sampah ini masalah yang enggak ada habisnya, apalagi soal memilah sampah, duh PR besar... Sudah disosialisasikan pun juga banyak yang abai... dan banyak juga sih yg buang sampah masih sembarangan

    BalasHapus
  24. Thermal Composter ukuran mesinnya berapa yaa? apa memungkinkan di setiap rumah memiliki thermal composter jadi limbha rumah tangga cepat terolah tanpa meninggalkan bau

    BalasHapus
  25. Kalau habis baca artikel semacam ini terbersit rasa bersalah,ngerasa masih sedikiiit banget peranku dalam hal olah sampah. Apalagi melihat kondisi sekitar. Aku tinggal di desa Mba,yang mana kesadaran memilah sampah masih rendaaah banget. Pokoknya mah di sini sampah apapun akan berakhir sama yaitu: dibakar. Jangan ditanya polusi asap sampah. Hampir setiap sore berlomba-lomba orang buat bakar sampah. Sesek :(((((

    BalasHapus
  26. Nah, iya sepakat... Sejatinya sampah itu tanggung jawab masing-masing pribadi untuk mengolahnya.. Sampahmu tanggung jawabmu. Jadi alam tidak dirugikan

    BalasHapus
  27. Sampah di kita ini memang persoalan serius yaa. apalagi kalau kita gak terbiasa untuk memilah dan memilih sampah. Di tempat pembuangan sampah juga, selalu tercampur antara limbah basah dan limbah kering. organik dan an organik. Karena jadwal pembuangan sampah kita gak jelas. bagus itu menerapkan cara kerja pengolahan sampah di jepang, ada hari-hari tertentu buang sampah

    BalasHapus
  28. Ini keren banget sih, bisa ada di rumah ga? omku dulu sempet bikin alat semacem ini waktu resign ASN tapi belum tau progressnya gimana karena pandemi jadi belum silaturahmi lagi

    BalasHapus
  29. Kebiasaan baik untuk memilah sampah ini memang sangat dibutuhkan.
    Terutama penanganan sampah rumah tangga yang angkanya setiap hari menunjukkan semakin tinggi. Dengan kelola sampah menjadi berkah, maka sampah-sampah ini pun tetap bisa berdaya guna.

    BalasHapus
  30. Keberadaan composter ini sangat membantu yaaa... faktanya kan sampah paling banyak dihasilkan memang dari sisa makanan. Paling mumet nih mengolahnya misal ga punya lahan yang memadai. Dengan adanya composter jadi ada solusi gitu kan.

    BalasHapus
  31. Itu mesin pengolah sampah thermal composter dijual ke masyarakat umum gak sih? Seandainya iya, bisa jadi inovasi teknologi lingkungan yang keren banget karena bisa dimanfaatkan secara luas.

    BalasHapus
  32. aduh saya pengen banget nih mengembangkan alat untuk mendaur ulang sampah di desa kami agar sampahnya bisa menjadi hal yang bermanfaat tetapi memang memerlukan biaya, tempat dan tenaga kerja. Tidak bisa sendirian harus didukung oleh masyarakat sekitar dan juga pemerintah baik pemerintah desa, kecamatan, kabupaten atau provinsi. Syukur-syukur ada perhatian dari pemerintah pusat.

    BalasHapus
  33. masalah sampah tiada habisnya ya. mungkin karena sosialisasi soal ini belum digalakkan ke daerah2. di tempat saya aja masih belum ada pemilahan limbah rumah tangga nih. masih jd beban pak pengumpul sampah seorang, huhuhu

    BalasHapus
  34. paling seneng liat mereka yang kreatif memanfaatkan limbah sampah menjadi suatu produk yang bermanfaat dan mempunyai daya nilai jual

    BalasHapus
  35. salah satu yang bikin gemes

    penonton fanatik drama Korea kok cuma niru makanan Korea, tapi gak cara mereka memisah sampah

    padahal banyak banget drama Korea tentang pemilahan sampah

    BalasHapus
  36. aku langsung ke situsnya dong, liat2. tapi keknya lebih bagus pemerintah yg menyediakan bareng dg rule-nya sekalian. sbb org indo blm terbiasa dg urusan sampah, taunya buang. apa2 harus ada regulasi, klo gak diancem ini itu pd bodo amat

    BalasHapus
  37. Jepang bukan cuma juara soal teknologi dan robot tapi juga urusan sampah. Aku yang juga ikut mendengarkan webinar ini nggak menyangka kalau ada jadwal khusus untuk membuang sampah dan pemberlakuan denda pembuangan sampah elektronik. Semoga kedepan Indonesia bisa meniru ya mbak dan alat pengolah limbah bisa dimiliki tiap daerah

    BalasHapus