Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Love Hate Relationship Mertua dan Menantu, Ini Tips untuk Menghadapinya

 

Love Hate Relationship Mertua dan Menantu, Ini Tips untuk Menghadapinya



Apa yang dicemaskan perempuan setelah menikah? Banyak! Salah satunya sih bagaimana menjalin hubungan dengan mertua. Saya juga begitu. Jujur, saat pertama kali menikah, rasanya deg-deg an. Bagaimana nggak deg-deg an, kalau harus tinggal di rumah mertua. Apalagi, meski sebelum menikah saya dan suami berpacaran selama 4 tahun, pertemuan saya dan ibu mertua hanya 3x. Dan selama itu juga, saya tak pernah berkomunikasi secara intens. 


Love Hate Relationship Menantu dan Mertua


Banyak yang bilang, hubungan menantu dan mertua itu seringkali love hate relationship, terlebih hubungan antara ibu mertua dan menantu perempuan. Kadang akur, kadang berkonflik. 


Entah siapa yang memulai, dalam masyarakat kita seringkali ibu mertua digambarkan sebagai sosok yang menyebalkan. Suka mengatur dan mau menang sendiri. Akibatnya, banyak perempuan yang sudah berpikiran buruk terhadap mertuanya, sekalipun belum pernah bertemu. 


Bagaimana dengan saya? Hmm, pada awalnya saya tak langsung berpikir bahwa ibu mertua saya itu sosok yang menyebalkan. Hanya saja, dalam hati saya sepertinya sudah membentengi diri. Harus kuat jika berhadapan dengan ibu mertua. 


Saya seperti menjaga jarak. Bersikap waspada. Bersiap jika memang mertua akan seperti cerita orang-orang kebanyakan. Padahal, saya belum berinteraksi dengan mertua. Parah! 


Penyebab Hubungan Menantu dan Mertua Kurang Harmonis


Lalu, sebenarnya apa sih penyebab hubungan menantu dan mertua kurang harmonis? Masa iya hubungan menantu dan mertua kurang harmonis itu karena banyaknya sinetron yang menyajikan cerita mertua kejam dan menantu teraniaya? Hmm, bisa jadi sih! Tapi tentu saja bukan itu penyebabnya. 


Ada beberapa hal lain yang menyebabkan mengapa hubungan menantu dan mertua kurang harmonis, misalnya ;


Karakter yang berbeda


Perbedaan karakter seringkali menjadi penyebab utama mengapa hubungan menantu dan mertua kurang harmonis. 


Tentu saja mertua dan menantu punya perbedaan karakter. Keduanya dibesarkan di era berbeda. Belum lagi, kondisi keluarga masing-masing, perbedaan pola asuh keluarga tentu akan menghasilkan karakter yang berbeda. 


Ibu mertua saya lahir di era 50 an, beliau lahir dan besar di pedesaan. Khas, perempuan tradisional pada umumnya. Sementara saya, lahir di era 90 an. Lahir dan besar di kota. Tentu saja karakter perempuan modern melekat kuat dalam diri saya. 


Perbedaan karakter inilah yang seringkali menjadi konflik mertua dan menantu. Misalnya, ibu mertua adalah sosok ibu rumah tangga sejati, tentu saja pintar masak. Saya? Duh, masak sekadar bisa, itupun yang sederhana. 


Hubungan mertua dan menantu


Kami pernah terlibat konflik, saya tak bisa membersihkan ikan dengan baik. Ibu pun mengambil alih. Saya merasa dicampuri. Ibu merasa menantunya tak becus. 


Mertua belum siap melepas anaknya


Penyebab hubungan menantu dan menantu kurang harmonis seringkali disebabkan oleh ketidaksiapan mertua dalam melepas anaknya. Mertua perempuan seringkali sulit melepas anak lelakinya. Ibu mertua tak siap jika anak lelakinya menikah. Tak siap berbagi cinta anak lelakinya dengan orang lain. 


Baca Juga : Pernikahan Sederhana, Memorable Tanpa Ribet


Ini yang membuat ibu mertua seringkali terlihat jengkel dengan menantu perempuannya. Menganggap menantu perempuannya merebut anaknya. 


Saya pun sempat mengalami konflik karena kondisi ini. Di awal, penerimaan keluarga suami kurang baik terhadap saya. Saat suami datang melamar, ibu mertua merasa kami terlalu cepat untuk menikah. Menurut mereka, suami baru satu tahun kerja. Meski pekerjaannya mapan (PNS), dianggap masih belum punya apa-apa. Wajar sih, saya sendiri juga merasa belum siap untuk cepat menikah. Tapi suami yang ngebet. 😌😌😌


Mereka tak tahu kami sudah menjalin hubungan selama empat tahun. Kalau dihitung-hitung empat tahun masa pacaran tentu sudah pantas untuk menikah. Namun, memang secara finansial kami belum mapan. 


Akibatnya, awal-awal pernikahan begitu menegangkan. Saya merasa ibu mertua membenci saya. Saya merasa, ibu mertua menganggap saya terlalu ngebet untuk dinikahi. 


Tinggal seatap


Tinggal seatap seringkali makin memperuncing hubungan mertua dan menantu. Saat tinggal mertua, tentu saja menantu harus tahu diri. Mengikuti peraturan yang ada. 


Seringkali inilah yang menjadi sumber konflik. Mertua merasa menantu tidak bisa menghargai aturan yang berlaku di rumahnya sementara menantu merasa aturan tersebut terlalu menyesakkan. Sangat berat untuk dijalani. 


Saya pun sempat setahun tinggal di rumah mertua. Tentu saja ada konflik karena ini. Saya masih ingat, kami sempat berbeda pendapat tentang cara mencuci. Sebelum menikah, saya tak pernah mencuci dengan tangan. Selalu menggunakan mesin cuci. Akibatnya, saya belum terlalu mengerti cara mencuci dengan tangan. Saat membilas pakaian, saya menyalakan kran air. Sambil membilas, kran terus menyala. Maksudnya biar sabun bisa segera hilang. Lalu mertua menggedor pintu kamar mandi, dia mengomel apa yang saya lakukan itu boros air. Menurutnya cara membilas pakaian tidak seperti itu. Duh, saya salah! 


Perbedaan gaya hidup


Perbedaan gaya hidup antara mertua dan menantu bisa jadi pemicu ketidakharmonisan. Seringkali mertua menganggap menantunya boros. 


Misalnya, bagi ibu mertua yang lahir di zaman dulu dan pintar masak, kalau sering beli makanan di luar itu boros. 


Mertua ikut campur


Namanya orang tua, pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Kadang, mertua ingin anaknya seperti yang dipikirkan. Sehingga seringkali ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. 


Misalnya, memilihkan sekolah untuk cucunya, mengatur bagaimana urusan keuangan, sampai pemilihan kontrasepsi. 


Ini yang seringkali membuat menantu tidak nyaman. Siapa juga yang suka jika rumah tangga dicampuri. 



Menantu tidak menghormati mertua


Terkadang karena sudah tidak bisa menjalin hubungan baik dengan mertua, seringkali menantu menjaga jarak bahkan bersikap tidak hormat. 


Sikap ini tentu memicu konflik dan bisa membuat hubungan mertua dan menantu semakin tidak harmonis. 



Tips Agar Hubungan Mertua dan Menantu Menjadi Harmonis



Pernikahan sejatinya tak hanya menyatukan dua orang saja, tetapi dua keluarga. Mertua menjadi orang tua kedua. Sudah selayaknya berhubungan baik. Apalagi, pernikahan adalah hubungan seumur hidup. 


Beberapa tips di bawah ini bisa membantu untuk keharmonisan hubungan antara mertua dan menantu. 


Komunikasi adalah kunci



Komunikasi adalah kunci, ini bukan isapan jempol. Memang ini kuncinya. Beberapa faktor penyebab konflik antara mertua dan menantu adalah adanya perbedaan. Tentu saja dengan komunikasi yang baik, perbedaan-perbedaan yang ada harus diterima. 


Baca Juga : 8 Resolusi Pernikahan untuk Rumah Tangga Harmonis dan Bahagia


Misalnya, soal cara mencuci baju seperti yang saya ceritakan diatas. Saat dikasih tahu mertua, memang sih rasanya sebal. Dikritik itu nggak enak! 


Tapi, setelah dipikir-pikir, saya nggak salah karena nggak tahu jika cara mencuci di rumah mertua seperti itu. Mertua juga nggak salah, karena niatnya kasih tahu. Jika keduanya sudah komunikasi, masalah selesai. Saat mencuci berikutnya, saya sudah tahu bagaimana cara yang benar sesuai peraturan di rumah mertua. Case closed. 


Mandiri dan bertanggung jawab


Jika ingin mertua tidak mencampuri urusan rumah tangga, maka pasangan suami istri harus mandiri dan bertanggung jawab. Tunjukkan pada mertua, bahwa setiap keputusan rumah tangga adalah pilihan yang bertanggung jawab. 


Baca Juga : Rice Cooker Miyako, Sajikan Cinta Ibu dalam Sepiring Nasi


Kalau misalnya kita ingin mertua tidak ikut campur soal keuangan, buktikan kita mandiri dalam keuangan. Bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga tanpa harus minta bantuan mertua. 


Jangan sampai tak suka dibilang boros, tetapi memang hobi jajan sampai nggak bisa bayar tagihan ini itu. Ujung-ujungnya minta bantuan mertua. Malu! 


Meluangkan waktu bersama


Sesekali luangkan waktu bersama mertua. Ajak mertua jalan-jalan berdua atau sekadar makan. Bisa juga dengan menyempatkan waktu menelpon.


Waktu yang kita luangkan bersama mertua bisa meningkatkan bonding. Konflik bisa diminimalisir dan hubungan jadi harmonis. 


Penutup


Hubungan mertua dan menantu memang naik turun, layaknya love hate relationship. Konflik memang tak dapat dihindari, tetapi seharusnya disikapi dengan bijaksana. 


Semoga tips ini bisa membantu menciptakan hubungan harmonis antara mertua dan menantu.








13 komentar

  1. Setuju banget, Kak. Ini konflik klasik yang akan tetap ada di mana pun, hehe. Beruntung jika kita bisa menjalin komunikasi dengan baik, sehingga tidak perlu memperuncing keadaan dengan adanya konflik yang datang silih berganti. Semangaaat Kak Dee, tips-nya sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  2. So far hubungan antara menantu dan mertua bakal baik kok. Syaratnya: tidak tinggal serumah dan adaptasi, serta sabarrrrr.

    BalasHapus
  3. thanks mba sharingnya. semoga saat saya jadi mertua bisa harmonis sama menantu hehe. anak udah pada remaja jadi suka mikir jauh kadang

    BalasHapus
  4. kalau menurut aku pribadi karena mengalami juga, kunci utama selain komunikasi adalah dari dalam diri kitanya. menerima sepenuhnya bahwa mertua juga adalah orangtua kita. meski beda rasa, tapi aku sih mikirnya kek mamah mertua tuh pengganti mamahku yang ada dirumah sana. gitu sih. terus pernah tuh kan ya aku sebel, masakanku gak dimakan suami tapi minta dimasakain mamah mertua. gondok kan ya?

    tapi aku mikir gini, its oke lah namanya juga masakan mamah. aku juga pengennya terus makan masakan mamah. selama mamah mertua masih ada dan kuat masak, mumpung mamah masih ada, gpp lah kalau suami pengen masakan mamah.

    karena sedih banget deh kalau pas lagi pengen masakan mamah tapi mamahnya udah gak ada, sedih banget kan ya?

    BalasHapus
  5. hubungan sama mertua (dan siapa pun) sepertinya perlu saling-saling ya mba.. saling memahami, saling mengerti kondisi ga boleh memaksa harus sama terus wkwk.. Saya sudah merasakan tinggal sama mertua, tinggal jauh dari mertua, tinggal di rumah sendiri, resepnya ya saling menyadari wkwk. Plus komunikasi sama suami harus bagus, hubungan harus kuat karena ujian pernikahan itu dr segala arah. Kalau kita kuat ya Insya Allah kuat mau badai apa juga hwahaaa

    BalasHapus
  6. Komunikasi harus terjalin berarti ya antara mertua dan menantu. Semoga hubungan ini dapat terus harmonis

    BalasHapus
  7. Wah setuju nikah ini memang konflik yang menurutku itu nggak bakalan selesai sebelum pasang suami istri itu tinggal di rumah yang terpisah. Kalau pun ingin tinggal serumah, ya, stok sabarnya kudu seluas samudra

    BalasHapus
  8. Kebanyakan yang kuperhatikan di sekitarku emang begitu sih masalah love hate relationship mertua dan menantu. Kadang mertua yang terlalu ikut campur. Atau menantu yang kadang nggak menghormati mertuanya. Hehehe

    BalasHapus
  9. Saya seatap dengan mertua hihi. Iya wajar sih kalau menantu dan mertua kadang suka gak akur, karena kan baru kenal istilahnya anak dan ibu kandung aja suka gak akur apalagi yang baru dikenal. Jadi butuh waktu penyesuaian

    BalasHapus
  10. wah aku juga pernah menulis tentang ini xD mertua menantu ^^ memang harus saling beradaptasi dan berpikiran terbuka sih ya.. saling menyesuaikan satu sama lain biar ga konflik :D

    BalasHapus
  11. Meskipun ada stereotip tertentu tentang hubungan menantu dan mertua, namun mungkin pertemuan pertama bisa menjadi kesempatan untuk membangun pemahaman dan hubungan yang baik. Siapa tahu, dari love-hate bisa berubah menjadi love-love relationship yang harmonis. Semangat! 😊💕

    BalasHapus
  12. ya allah semoga aku punya mertua yang baik hati dan tulus. kalau aku udah perjanjian sama pasangan, kalau menikah harus tinggal sendiri supaya gak ada konflik :')

    BalasHapus
  13. Aku jarang mencampuri urusan rt anak dan menantu tapi menantuku selalu gak mau dekat. Aku sdh membuka komunikasi tapi ya gitu. Tapi aku sih gak maksa menantuku hrs dekat dengan aku, justru aku kasihan dengan anakku. Makanya aku santai saja. Kalaunengok ke jakrta ya nengok biasa saja. Aku sih gak mau oedulikan mertua hrs akur dg menantu. Selamadua2nya saling menghormati

    BalasHapus