Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Mencegah Stunting Tidak Dimulai Saat Anak Pendek, tetapi Sejak Ibu Mengandung

 


“Bu, kalau anak saya pendek, apakah itu stunting?”

Pertanyaan seperti ini beberapa kali saya dengar ketika mendampingi ibu sebagai konselor menyusui. Biasanya pertanyaan itu muncul ketika anak sudah mulai besar dan orang tua membandingkan tinggi badannya dengan teman sebaya.

Saya memahami kekhawatiran itu. Sebagai ibu, saya pun pernah melewati fase ketika setiap perubahan berat badan, pola makan, tidur, hingga tumbuh kembang anak menjadi perhatian.

Namun, setelah bertahun-tahun mendampingi ibu menyusui, saya belajar bahwa ada satu hal penting yang sering terlambat kita sadari:

mencegah stunting tidak dimulai ketika anak terlihat pendek. Pencegahan dimulai jauh sebelumnya.

Bahkan, sebelum seorang perempuan mengandung.

Kabar baik yang tidak boleh membuat kita lengah

Indonesia sebenarnya sedang berada dalam perjalanan yang menggembirakan.

Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen, dari 21,5 persen pada 2023. Angka tersebut untuk pertama kalinya berada di bawah 20 persen. Jumlah balita yang mengalami stunting juga turun dari sekitar 4,8 juta pada 2023 menjadi sekitar 4,4 juta pada 2024.

Ini bukan sekadar angka.

Di balik penurunan tersebut ada kerja pemerintah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, pemerintah daerah, komunitas, keluarga, dan jutaan ibu yang setiap hari berusaha memastikan anak-anaknya mendapatkan gizi terbaik.

Capaian tersebut layak diapresiasi.

Tetapi bagi saya, angka 19,8 persen juga merupakan pengingat bahwa pekerjaan belum selesai.

Target pemerintah masih jauh lebih rendah. Kementerian Kesehatan menyebut target jangka panjang prevalensi stunting Indonesia adalah 5 persen pada 2045.

Artinya, kita tidak boleh berhenti pada keberhasilan hari ini.

Kita harus bertanya: bagaimana memastikan anak-anak yang lahir berikutnya tumbuh sehat sejak awal kehidupannya?

Jawabannya membawa kita kembali kepada ibu.

Sebelum menjadi ibu, seorang perempuan sudah harus dipersiapkan

Sebagai konselor menyusui, saya semakin memahami bahwa kesehatan seorang anak tidak dapat dipisahkan dari kesehatan ibunya.

Cerita pertumbuhan seorang anak tidak dimulai ketika ia lahir.

Bahkan tidak dimulai ketika seorang ibu mengetahui dirinya hamil.

Ia bisa dimulai sejak seorang anak perempuan masih menjadi remaja.

Salah satu contohnya adalah anemia pada remaja putri.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang kembali disoroti Kementerian Kesehatan pada 2026 menunjukkan 54,8 persen remaja putri belum pernah mendapatkan Tablet Tambah Darah (TTD). Bahkan, 51,4 persen remaja putri yang tidak mengonsumsi TTD menyebut tidak mengetahui manfaatnya. 

Angka ini membuat saya berpikir.

Jika kita ingin mencegah stunting sejak awal, maka edukasi tidak boleh baru diberikan ketika seorang perempuan sudah menjadi ibu.

Anak perempuan hari ini adalah calon ibu di masa depan.

Karena itu, program seperti Aksi Bergizi dan pemberian TTD kepada remaja putri bukan sekadar program kesehatan remaja. Dalam perspektif yang lebih luas, ini merupakan bagian dari investasi untuk menyiapkan generasi berikutnya.

Pencegahan stunting memang harus dimulai sedini mungkin.

Ketika ibu hamil, yang dirawat bukan hanya janinnya

Saya sering melihat bagaimana kehamilan membuat seluruh perhatian keluarga tertuju kepada bayi dalam kandungan.

“Berat bayinya berapa?”

“Sudah kelihatan jenis kelaminnya?”

“Sudah mulai menendang?”

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar.

Namun, ada satu pertanyaan yang tidak boleh dilupakan:

“Bagaimana kondisi ibunya?”

Ibu hamil membutuhkan asupan gizi yang cukup, pemeriksaan kehamilan, pemantauan kondisi kesehatan, pencegahan anemia, serta dukungan dari keluarga.

Kementerian Kesehatan mendorong pemeriksaan kehamilan secara teratur sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan ibu dan janin. Intervensi selama kehamilan juga mencakup pemberian TTD dan dukungan pemenuhan kebutuhan gizi.

Ada pula Gerakan Ibu Hamil Sehat, yang menempatkan kesehatan ibu selama kehamilan sebagai bagian penting dalam upaya menurunkan masalah kesehatan ibu dan anak.

Bagi saya, pesannya sederhana:

merawat janin berarti juga merawat ibunya.

Sebab janin tumbuh di dalam tubuh seorang perempuan yang membutuhkan makanan bergizi, pemeriksaan kesehatan, istirahat, rasa aman, dan dukungan.

Ibu hamil tidak seharusnya berjuang sendirian.

Setelah bayi lahir, dukungan harus terus berlanjut

Kemudian bayi lahir.

Tangis pertama terdengar.

Keluarga bahagia.

Tetapi perjalanan mencegah stunting baru memasuki tahap berikutnya.

Sebagai konselor menyusui, saya sering mendampingi ibu yang sebenarnya memiliki keinginan kuat untuk memberikan ASI, tetapi menghadapi berbagai tantangan.

Ada ibu yang khawatir ASI-nya tidak cukup.

Ada yang mengalami puting lecet.

Ada bayi yang sulit melakukan pelekatan.

Ada ibu yang kelelahan karena kurang tidur.

Ada pula ibu yang justru kehilangan kepercayaan diri karena terlalu banyak mendengar komentar dari lingkungan.

Dalam situasi seperti itu, saya belajar bahwa kalimat “ASI harus eksklusif” saja tidak cukup.

Ibu membutuhkan dukungan nyata.

Ketika seorang ibu mengatakan, “Saya ingin menyusui,” mungkin pertanyaan terbaik yang bisa kita berikan bukan:

“ASI-mu keluar banyak, kan?”

Tetapi:

“Apa yang bisa kami lakukan supaya kamu bisa menyusui dengan nyaman?”

ASI eksklusif selama enam bulan merupakan bagian penting dari upaya memenuhi kebutuhan gizi bayi. Setelah enam bulan, ASI tetap dilanjutkan bersama pemberian makanan pendamping ASI yang tepat. Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya melanjutkan pemberian ASI hingga anak berusia 23 bulan. 

Di sinilah pencegahan stunting bukan hanya menjadi urusan ibu.

Ayah perlu terlibat.

Kakek dan nenek perlu memahami informasi yang benar.

Tenaga kesehatan perlu memberikan dukungan.

Konselor menyusui dan komunitas juga dapat menjadi bagian dari ekosistem pendukung.

Sebab ibu yang didukung akan lebih kuat menjalani perjalanan pengasuhan.

MPASI bukan sekadar membuat anak kenyang

Ketika bayi memasuki usia enam bulan, perjalanan berikutnya dimulai.

MPASI.

Saya sering mendengar orang tua berkata, “Yang penting anak mau makan.”

Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah makanan yang masuk ke tubuh anak cukup memenuhi kebutuhan gizinya?”

Kementerian Kesehatan mendorong pemberian MPASI yang tepat dan kaya protein hewani bagi anak usia di atas enam bulan. Telur, ikan, ayam, daging, dan sumber protein hewani lainnya dapat menjadi bagian dari menu anak sesuai kebutuhan dan kondisi keluarga.

Ini juga mengajarkan kita bahwa mencegah stunting tidak selalu berarti menyediakan makanan mahal.

Pangan lokal pun dapat menjadi sumber gizi.

Yang dibutuhkan adalah pengetahuan tentang kebutuhan anak, kemampuan mengolah makanan, serta kemauan keluarga untuk memberikan makanan yang beragam dan bergizi.

Karena anak tidak hanya membutuhkan makanan agar kenyang.

Anak membutuhkan makanan agar bertumbuh.

Posyandu: tempat sederhana dengan peran luar biasa

Ada satu kebiasaan yang menurut saya sering dianggap sepele: membawa anak ke Posyandu.

Padahal, menimbang dan mengukur anak secara rutin adalah bagian penting dalam memantau pertumbuhan.

Posyandu kini juga terus diperkuat melalui Integrasi Layanan Primer (ILP). Posyandu tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat menimbang balita, tetapi menjadi bagian dari pelayanan kesehatan yang mencakup berbagai kelompok usia, termasuk anak, remaja, ibu hamil, dewasa, hingga lansia. Layanan dapat mencakup pemeriksaan kesehatan dasar, penyuluhan gizi, deteksi dini, dan konseling. 

Transformasi ini menurut saya penting.

Sebab kesehatan tidak seharusnya hanya hadir ketika seseorang sudah sakit.

Kesehatan harus hadir lebih dekat, lebih awal, dan lebih mudah dijangkau.

Bagi keluarga dengan balita, Posyandu dapat menjadi tempat untuk melihat apakah pertumbuhan anak berjalan sesuai jalurnya dan menjadi pintu masuk untuk mendapatkan bantuan ketika ditemukan masalah.

Kemenkes juga menganjurkan penimbangan dan pengukuran balita secara rutin di Posyandu agar pertumbuhan anak dapat dipantau. 

Jangan menunggu anak terlihat pendek baru datang ke Posyandu.

Datanglah justru agar kita bisa mencegah masalah sebelum terlambat.

Pemerintah sudah bergerak, kita tinggal memastikan gerakannya sampai ke keluarga

Jika melihat berbagai kebijakan yang sudah dilakukan, pencegahan stunting di Indonesia sesungguhnya dibangun melalui banyak pintu.

Ada Aksi Bergizi dan pemberian TTD untuk remaja putri.

Ada pemeriksaan dan pemantauan kehamilan.

Ada Gerakan Ibu Hamil Sehat.

Ada dukungan gizi bagi ibu hamil yang membutuhkan.

Ada promosi ASI eksklusif.

Ada edukasi MPASI dan pentingnya protein hewani.

Ada pemantauan pertumbuhan balita.

Ada imunisasi.

Ada penguatan Posyandu melalui Integrasi Layanan Primer.

Ada pula upaya deteksi dan penanganan anak yang mengalami masalah gizi.

Semua ini menunjukkan bahwa pencegahan stunting bukan program yang berdiri sendiri. Ia merupakan rangkaian intervensi yang menyentuh berbagai fase kehidupan.

Kementerian Kesehatan bahkan merangkum pesan sederhana pencegahan stunting melalui pendekatan ABCDE:

A — Aktif minum Tablet Tambah Darah.

B — Bumil teratur melakukan pemeriksaan kehamilan.

C — Cukupi konsumsi protein hewani.

D — Datang ke Posyandu setiap bulan.

E — Eksklusif memberikan ASI selama enam bulan.

Pesan ini sederhana.

Tetapi penerapannya membutuhkan kerja bersama.

Jangan jadikan ibu sebagai satu-satunya penjaga pintu

Sebagai ibu sekaligus konselor menyusui, ada satu hal yang ingin saya tekankan.

Jangan sampai kampanye pencegahan stunting justru membuat ibu merasa menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kesehatan anak.

Ketika anak tidak mau makan, ibu yang disalahkan.

Ketika berat badan anak tidak naik, ibu yang ditanya.

Ketika ASI tidak lancar, ibu yang dianggap kurang berusaha.

Padahal, anak tumbuh di dalam sebuah keluarga.

Maka keluarga pula yang harus menjadi sistem pendukungnya.

Ayah bisa membantu memastikan ibu makan dengan baik.

Suami bisa menemani pemeriksaan kehamilan dan Posyandu.

Kakek dan nenek bisa membantu menciptakan lingkungan yang mendukung ASI dan MPASI.

Masyarakat bisa menyediakan akses informasi yang benar.

Kader Posyandu bisa menjadi penghubung antara keluarga dan layanan kesehatan.

Tenaga kesehatan bisa membantu mendeteksi masalah lebih dini.

Dan pemerintah memastikan kebijakan, layanan, edukasi, serta intervensi tersedia dan menjangkau masyarakat.

Inilah gotong royong dalam mencegah stunting.

Jangan tunggu anak pendek untuk mulai peduli

Saya kembali pada pertanyaan di awal:

“Kalau anak saya pendek, apakah itu stunting?”

Saya ingin kita mengubah pertanyaan itu menjadi sesuatu yang lebih awal:

“Apa yang bisa saya lakukan hari ini agar anak saya tumbuh optimal?”

Jawabannya tidak selalu rumit.

Pastikan ibu sehat sejak sebelum hamil.

Cegah anemia pada remaja putri.

Jalani pemeriksaan kehamilan.

Penuhi kebutuhan gizi ibu hamil.

Berikan dukungan agar ibu dapat menyusui.

Berikan ASI eksklusif selama enam bulan.

Lanjutkan ASI dan berikan MPASI yang bergizi.

Pastikan anak mendapatkan imunisasi.

Datang ke Posyandu dan pantau pertumbuhannya.

Dan ketika ada tanda masalah, jangan menunggu. Carilah bantuan.

Karena pencegahan selalu dimulai sebelum masalah terlihat.

Indonesia sudah menunjukkan kemajuan. Prevalensi stunting 19,8 persen pada 2024 adalah capaian yang patut diapresiasi. Bahkan dibandingkan 2019 yang berada pada 27,7 persen, penurunannya menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan selama beberapa tahun telah membawa perubahan. 

Namun bagi saya, angka itu bukan alasan untuk berpuas diri.

Di balik 19,8 persen ada anak-anak yang masih membutuhkan perhatian.

Ada ibu yang masih membutuhkan dukungan.

Ada keluarga yang masih membutuhkan edukasi.

Dan ada jutaan anak Indonesia yang sedang tumbuh dan akan menentukan wajah bangsa ini di masa depan.

Sebagai ibu, saya ingin anak-anak kita tumbuh sehat tanpa harus menunggu masalah datang.

Sebagai konselor menyusui, saya ingin setiap ibu yang ingin menyusui mendapatkan dukungan, bukan penghakiman.

Dan sebagai bagian dari masyarakat, saya ingin pencegahan stunting dipahami bukan sebagai tugas ibu semata, melainkan sebagai gerakan bersama untuk menyiapkan generasi Indonesia yang lebih sehat.

Sebab pada akhirnya, stunting bukan hanya tentang tinggi badan seorang anak.

Ini tentang kesempatan seorang anak untuk tumbuh, belajar, berkembang, dan mencapai potensi terbaiknya.

Maka, mari kita berhenti menunggu anak terlihat pendek untuk mulai peduli.

Mulailah dari remaja putri yang sehat.

Mulailah dari ibu yang sehat.

Mulailah dari kehamilan yang terpantau.

Mulailah dari dukungan menyusui.

Mulailah dari makanan bergizi.

Mulailah dari Posyandu.

Dan yang paling penting, mulailah sebelum terlambat.

Karena mencegah stunting tidak dimulai saat anak pendek.

Mencegah stunting dimulai sejak ibu mengandung, bahkan jauh sebelum seorang perempuan menjadi seorang ibu.

Referensi


  1. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/en/ssgi-2024-prevalensi-stunting-nasional-turun-menjadi-198

  2. https://kemkes.go.id/id/ssgi-2024-prevalensi-stunting-nasional-turun-menjadi-198

  3. https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hpk-kunci-cegah-stunting



#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026

 #HUT81RI

Tidak ada komentar

Posting Komentar