Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Pekan ASI Sedunia 2026: Mengapa Tema Tahun Ini Terasa Sangat Personal bagi Saya?

Pekan ASI Sedunia 2026: Mengapa Tema Tahun Ini Terasa Sangat Personal bagi Saya?


"Menyusui untuk Awal Kehidupan yang Berkelanjutan: Perkuat Apa yang Sudah Berjalan."

Ketika pertama kali membaca tema Pekan ASI Sedunia 2026, saya tidak langsung memikirkan statistik, rekomendasi WHO, atau kampanye global.

Yang muncul justru potongan-potongan kenangan.

Tangisan bayi pertama saya yang kesulitan menyusu.

Rasa putus asa ketika ASI belum juga terasa cukup.

Ibu mertua yang setiap hari datang membawa tumisan daun katuk agar saya tetap kuat dan produksi ASI lancar.

Mama yang dengan penuh kasih menjaga cucunya dan memberikan ASI perah ketika saya harus kembali bekerja.

Dan suami yang selama bertahun-tahun menjadi "Ayah ASI”, karena hampir semua waktunya di rumah dihabiskan untuk mendukung keberhasilan perjalanan menyusui kami.

Tema tahun ini terasa begitu dekat dengan perjalanan hidup saya. Sebab saya menyadari satu hal: saya tidak pernah menyusui sendirian.

Perjalanan yang Berawal dari Keraguan

Banyak orang melihat hasil akhirnya.

Mereka tahu saya berhasil menyusui dua anak hingga usia tiga tahun.

Sebagian bahkan mengenal saya sebagai konselor menyusui.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa perjalanan itu dimulai dengan penuh keraguan.

Anak pertama saya mengalami kesulitan menyusu. Proses pelekatan tidak selalu berjalan mulus. Sebagai ibu baru, saya diliputi pertanyaan yang mungkin juga pernah dirasakan banyak perempuan lain.

"Apakah ASI saya cukup?"

"Apakah bayi saya kenyang?"

"Apakah saya ibu yang baik?"

Di masa-masa seperti itu, godaan untuk menyerah selalu datang.

Tetapi setiap kali rasa lelah muncul, selalu ada seseorang yang menguatkan.

Saya beruntung memiliki ibu mertua yang tidak sekadar memberi nasihat, tetapi juga hadir melalui tindakan nyata. Beliau menyiapkan makanan bergizi yang dipercaya membantu menjaga kondisi tubuh saya selama menyusui. Mungkin bagi orang lain itu terlihat sederhana. Bagi saya, itu adalah bentuk cinta yang membuat saya merasa tidak berjuang sendirian.

Mama saya pun menjadi bagian penting dari perjalanan ini. Ketika saya kembali bekerja, beliau menjaga bayi saya dengan penuh kasih dan memberikan ASI perah yang sudah saya siapkan. Saya bisa bekerja dengan lebih tenang karena tahu kebutuhan anak saya tetap terpenuhi.

Dan tentu saja, ada suami.

Orang yang selalu percaya bahwa saya bisa melewati semua ini, bahkan ketika saya sendiri mulai meragukannya.

Saya Belajar bahwa Menyusui Adalah Kerja Tim

Selama ini kita sering mengatakan bahwa menyusui adalah ikatan antara ibu dan bayi.

Itu benar.

Namun setelah menjalaninya sendiri, saya percaya bahwa keberhasilan menyusui sesungguhnya adalah hasil kerja sebuah tim.

Suami membantu ketika saya harus begadang.

Ia menggendong bayi setelah menyusu agar saya bisa beristirahat sejenak.

Ia memastikan saya sempat makan.

Ia mendengarkan keluh kesah saya tanpa menghakimi.

Baca Juga : Kunci Sukses Menyusui


Pekan ASI Sedunia 2026: Mengapa Tema Tahun Ini Terasa Sangat Personal bagi Saya?


Ia tidak pernah memaksa saya berhenti ketika menyusui terasa melelahkan.

Dukungan seperti ini sering kali tidak terlihat.

Padahal justru inilah yang membuat seorang ibu mampu bertahan.

Kini saya semakin memahami mengapa tema Pekan ASI Sedunia 2026 menyoroti pentingnya Warm Chain of Support atau Rantai Hangat Dukungan. Tema global tahun ini mengajak semua pihak, keluarga, tenaga kesehatan, tempat kerja, komunitas, organisasi masyarakat, hingga pemerintah, untuk memperkuat sistem dukungan yang telah terbukti membantu keberhasilan menyusui. Fokusnya bukan sekadar mengampanyekan ASI, tetapi memastikan setiap ibu memiliki lingkungan yang memungkinkan ia menyusui dengan optimal.

Ketika membaca penjelasan tersebut, saya merasa seperti sedang membaca kisah hidup saya sendiri.

Dari Ibu Menyusui Menjadi Konselor Menyusui

Perjalanan menyusui ternyata tidak berhenti ketika anak saya disapih.

Justru dari pengalaman itulah lahir keinginan untuk membantu ibu-ibu lain.

Sejak 2018, saya menjadi konselor menyusui dan hingga kini telah aktif sekitar sepuluh tahun di organisasi pendukung ibu menyusui. Selama mendampingi berbagai keluarga, saya melihat pola yang sama berulang kali.

Pekan ASI Sedunia 2026: Mengapa Tema Tahun Ini Terasa Sangat Personal bagi Saya?


Masalahnya sering kali bukan karena ibu tidak ingin menyusui.

Masalahnya adalah ibu merasa sendirian.

Ada yang kehilangan kepercayaan diri karena komentar lingkungan.

Baca Juga : Konselor Laktasi, Bantu Ibu Sukses Menyusui

Ada yang berhenti menyusui karena tidak mendapatkan dukungan saat kembali bekerja.

Ada pula yang sebenarnya mampu, tetapi tidak memiliki tempat untuk bertanya ketika menghadapi tantangan.

Sebaliknya, saya juga menyaksikan bagaimana dukungan sederhana mampu mengubah segalanya.

Kalimat, "Saya bantu ya," kadang lebih berarti daripada puluhan artikel tentang manfaat ASI.

Menyusui Dua Anak hingga Tiga Tahun, Bahkan Tandem Nursing

Perjalanan saya berlanjut ketika anak kedua lahir.

Saya kembali menyusui.

Kali ini dengan pengalaman yang lebih banyak, tetapi tantangannya juga berbeda.

Saya menjalani tandem nursing, menyusui kakak dan adiknya secara bersamaan.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa menyusui bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

Menyusui adalah tentang membangun kedekatan.

Tentang belajar memahami ritme masing-masing anak.

Tentang mengatur energi, emosi, dan waktu.

Tentang menerima bahwa ada hari-hari ketika semuanya terasa melelahkan, tetapi juga ada hari-hari ketika pelukan kecil itu membuat semua perjuangan terasa layak.

Data Mengingatkan Kita bahwa Dukungan Masih Sangat Dibutuhkan

Apa yang saya alami ternyata sejalan dengan pesan yang terus disuarakan oleh WHO dan UNICEF.

Secara global, kurang dari separuh bayi berusia di bawah enam bulan mendapatkan ASI eksklusif, padahal menyusui merupakan salah satu intervensi paling efektif untuk meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup bayi. 

WHO dan UNICEF juga menegaskan bahwa investasi pada sistem pendukung menyusui masih jauh dari cukup. Padahal, setiap investasi sebesar US$1 untuk dukungan menyusui diperkirakan dapat menghasilkan manfaat ekonomi sekitar US$35 melalui penurunan biaya kesehatan, peningkatan produktivitas, dan kesehatan ibu serta anak yang lebih baik.

Angka-angka tersebut mengingatkan kita bahwa keberhasilan menyusui bukan hanya urusan seorang ibu, melainkan investasi bagi keluarga, masyarakat, dan masa depan sebuah bangsa.

Perkuat Apa yang Sudah Berjalan

Bagi saya, tema Pekan ASI Sedunia 2026 bukan sekadar slogan tahunan.

Tema ini mengajak kita melihat kembali siapa saja yang telah menjadi bagian dari perjalanan menyusui seorang ibu.

Saya teringat ibu mertua yang memasak dengan penuh perhatian.

Saya teringat mama yang menjaga cucunya agar saya tetap bisa bekerja.

Saya teringat suami yang memilih menjadi teman seperjuangan, bukan sekadar penonton.

Saya juga teringat ratusan ibu yang pernah saya dampingi sebagai konselor menyusui. Mereka datang dengan cerita yang berbeda-beda, tetapi memiliki harapan yang sama: ingin memberikan yang terbaik bagi buah hatinya.

Karena itu, menurut saya, cara terbaik merayakan Pekan ASI Sedunia bukan hanya dengan membagikan poster atau mengucapkan selamat.

Mari kita bertanya kepada ibu menyusui di sekitar kita, "Apa yang bisa saya bantu hari ini?"

Bisa jadi, bantuan kecil itu adalah mata rantai yang selama ini mereka butuhkan untuk terus melangkah.

Dan jika hari ini saya bisa mengatakan bahwa saya berhasil menyusui dua anak hingga usia tiga tahun, bahkan melalui perjalanan tandem nursing, saya tahu keberhasilan itu bukan semata-mata karena keteguhan saya.

Itu adalah hasil dari sebuah rantai dukungan yang tidak pernah putus.

Mungkin inilah makna paling indah dari tema Pekan ASI Sedunia 2026.

Perkuat apa yang sudah berjalan. Karena setiap ibu yang berhasil menyusui, hampir selalu dikelilingi oleh orang-orang yang memilih untuk ikut berjalan bersamanya.


Tidak ada komentar

Posting Komentar