Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat

Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat


Ada satu kalimat yang terus terngiang setelah mendengar cerita tentang mangrove di Raja Ampat:

“Karena ada hutan, kitorang perempuan itu hidup.”

Kalimat yang disampaikan Loesye Ermy Fainno, penerima Women Champion Badan Restorasi Gambut dan Mangrove 2022, terasa sederhana. Namun, semakin dipikirkan, semakin dalam maknanya.

Sebab bagi masyarakat pesisir, hutan bukan sekadar bentang alam yang menghijau di antara pulau-pulau. Hutan adalah ruang hidup, sumber penghidupan, sekaligus warisan yang perlu dijaga agar tetap dapat dinikmati generasi berikutnya.

Hal itu terlihat jelas di Kampung Friwen, Raja Ampat.

Ketika mangrove berarti kehidupan


Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat

Pada 2018, masyarakat adat Kampung Friwen dan Kampung Yenbeser mulai merasakan keresahan karena hutan mangrove mengalami degradasi. Salah satu penyebabnya adalah pengambilan kayu untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan homestay dan resort.

Masyarakat kemudian mulai bergerak. Ada pemetaan partisipatif, identifikasi jenis mangrove, hingga pelatihan pengolahan produk mangrove sebagai pangan lokal.

Kerusakan yang terjadi bukan persoalan kecil.

Di kawasan Mangrove Doredor, tutupan mangrove selama 2009–2019 mengalami perubahan. Pada 2019, tingkat kerusakannya mencapai 57 persen atau sekitar 133 hektare dari total 233 hektare. Padahal, kawasan ini merupakan wilayah adat yang dijaga masyarakat Kampung Friwen dan menjadi salah satu kawasan pemijahan ikan di Selat Dampier, Raja Ampat.

Ketika mangrove rusak, yang hilang bukan hanya pohon.

Ada habitat ikan dan biota laut yang ikut terancam. Ada sumber pangan masyarakat yang berkurang. Ada pula sumber penghidupan yang ikut terdampak.

Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat


Akar mangrove yang kompleks menjadi tempat berlindung dan pemijahan berbagai spesies laut. Ekosistem ini juga menyediakan nutrisi bagi rantai makanan perairan serta membantu menyaring sedimen dan polutan di wilayah pesisir.

Jadi, menjaga mangrove pada akhirnya juga berarti menjaga sumber pangan.

Dari kepiting sampai buah mangrove


Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat


Ketika mendengar kata mangrove, mungkin yang pertama terbayang adalah hutan di tepi laut dengan akar-akar yang muncul dari lumpur.

Namun, ekosistem ini ternyata juga menyediakan berbagai sumber pangan.

Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat

Mangrove yang sehat menjadi habitat bagi kepiting bakau dan moluska. Bagi masyarakat pesisir, hasil laut tersebut dapat menjadi sumber protein sekaligus mendukung pendapatan keluarga jika dimanfaatkan secara berkelanjutan. Rehabilitasi mangrove juga menjadi bagian penting untuk memastikan tempat pemijahan alami bagi biota laut tetap tersedia.

Tidak berhenti pada hasil laut.

Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat

Buah mangrove jenis Bruguiera gymnorrhiza, misalnya, dapat diolah menjadi tepung sebagai substitusi karbohidrat lokal. Buah tersebut juga dapat dikembangkan menjadi sirup, minuman, kue, dan keripik.

Ada pula madu mangrove yang memanfaatkan nektar bunga mangrove sebagai sumber ekonomi alternatif bagi masyarakat pesisir. Pemanfaatan ini sekaligus dapat mendorong praktik budidaya lebah yang terintegrasi dengan upaya menjaga kelestarian hutan.

Saya jadi melihat bahwa hubungan antara hutan dan pangan ternyata sangat dekat.

Hutan yang lestari menyediakan ruang bagi pangan untuk tumbuh, berkembang, dan terus tersedia.

Ketahanan pangan tidak hanya soal makanan

Selama ini ketika mendengar istilah ketahanan pangan, mungkin yang lebih sering terbayang adalah ketersediaan makanan di meja makan.

Padahal, cerita dari Raja Ampat memperlihatkan bahwa ketahanan pangan juga berkaitan dengan bagaimana sebuah masyarakat menjaga ekosistem yang menjadi sumber pangannya.

Di kawasan pesisir, perubahan iklim dapat menambah kerentanan tersebut. Kenaikan permukaan air laut dapat mengancam habitat pemijahan ikan dan krustasea. Cuaca ekstrem dapat memengaruhi produksi pangan dan aktivitas nelayan, sementara intrusi air laut dapat menurunkan ketersediaan air tawar untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian.

Karena itu, menjaga ekosistem bukan pekerjaan yang terpisah dari upaya memenuhi kebutuhan pangan.

Justru keduanya saling berhubungan.

Ketika perempuan menjadi bagian penting dari perubahan


Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat

Hal lain yang menarik dari cerita Kampung Friwen adalah besarnya peran perempuan.

Materi Wawiyai Steve menunjukkan bahwa sekitar 90 persen perempuan di wilayah tersebut menggantungkan kehidupannya pada kawasan pesisir. Aktivitasnya beragam, mulai dari memanfaatkan mangrove sebagai pangan, berkebun, mencari ikan dan kerang-kerangan, hingga aktivitas ekonomi lainnya.

Perempuan juga terlibat aktif dalam berbagai kelompok usaha dan kegiatan perlindungan mangrove. Mulai dari pengolahan produk mangrove, agroforestri, kerajinan tangan, patroli kawasan, hingga Kelompok Kerja Perempuan Perlindungan Mangrove.

Dalam materi ketahanan pangan berbasis mangrove, sekitar 35 perempuan di Desa Friwen juga disebut mendapatkan penguatan untuk mengelola bisnis rumahan berbasis produk mangrove, mulai dari penetapan harga hingga manajemen pesanan secara kolektif.

Pemberdayaan perempuan, dengan demikian, bukan sekadar tambahan dalam program konservasi.

Ia menjadi bagian dari cara masyarakat menjaga sumber daya alam sekaligus membangun ketahanan ekonomi keluarga.

Menjaga hutan tidak selalu berarti menjauhkan manusia dari hutan. Sebaliknya, masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan perlu mendapatkan ruang untuk mengelola, memanfaatkan, sekaligus menjaganya secara berkelanjutan.

Dari restorasi menuju masa depan

Perubahan tentu tidak terjadi dalam semalam.

Masyarakat Friwen dan Yenbeser melakukan pembibitan, persemaian, dan penanaman kembali kawasan yang mengalami kerusakan. Upaya restorasi tersebut kemudian berjalan bersama penguatan kelembagaan dan pengelolaan kawasan melalui skema Hutan Desa.

Pada 2024, Kampung Friwen mendapatkan Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa seluas 1.025 hektare. Kawasan tersebut diperuntukkan bagi ruang lindung, ruang pemanfaatan, dan ruang pemanfaatan konservasi, dengan kelembagaan yang melibatkan LPHD, kelompok usaha, kelompok patroli, serta kelompok kerja perempuan.

Baca Juga : Saatnya #UbahPerilaku untuk Hadapi Perubahan Iklim

Artinya, konservasi bukan hanya tentang menanam pohon.

Ada proses panjang untuk membangun kesadaran, kelembagaan, keterampilan, usaha, jejaring, hingga dukungan kebijakan.

Pengelolaan hutan mangrove melalui skema Hutan Desa diharapkan dapat membuat wilayah pesisir lebih tangguh menghadapi perubahan iklim, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjaga hutan untuk generasi mendatang.

Lalu, apa hubungannya dengan kelor?


Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat


Cerita mangrove di Raja Ampat kemudian membuat saya teringat pada satu tanaman lain yang sering kita jumpai: kelor.

Keduanya memang berbeda. Mangrove merupakan ekosistem pesisir, sedangkan kelor lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari di daratan.

Namun, ada satu hal yang sama: keduanya menunjukkan bahwa alam bisa memiliki banyak peran bagi kehidupan manusia.

Kita bisa melihat tumbuhan bukan hanya sebagai sesuatu yang tumbuh di sekitar kita, tetapi juga sebagai sumber pangan dan bagian dari lingkungan yang perlu dijaga.

Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat


Biji kelor, misalnya, juga telah diteliti untuk membantu proses penjernihan air. Ini membuat saya kembali melihat bahwa satu tanaman pun bisa memiliki manfaat yang lebih luas daripada yang selama ini kita bayangkan.

Mungkin karena itu, ketika berbicara tentang perubahan iklim, kita tidak harus selalu memulainya dari sesuatu yang jauh dan besar.

Kita bisa mulai dengan bertanya:

Apa yang tumbuh di sekitar kita?

Apa manfaatnya bagi kehidupan?

Dan apa yang bisa kita lakukan agar sumber daya itu tetap ada untuk generasi berikutnya?

Dari Raja Ampat ke Bangkok

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut terasa semakin relevan menjelang Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 3–11 Oktober 2026.

Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat


Mengusung tema utama “Rai Likit: Economy we Shape, Climate we Share”, festival iklim perkotaan tahunan ini menjadi salah satu gerakan iklim terbesar di Asia Tenggara yang menghubungkan masyarakat, komunitas, serta berbagai institusi untuk menciptakan perubahan nyata bagi kota.

Menariknya, cerita dari Raja Ampat juga mengingatkan bahwa isu iklim tidak hanya tentang kota.

Ketika berbicara tentang ekonomi yang kita bentuk dan iklim yang kita bagi, kita juga perlu melihat bagaimana masyarakat di berbagai wilayah mengelola sumber daya alamnya. Bagaimana pangan diproduksi. Bagaimana mata pencaharian dibangun. Dan bagaimana alam dijaga agar tetap mampu menopang kehidupan.

Baca Juga : Langkah Bersama Atasi Perubahan Iklim

Di Kampung Friwen, pengelolaan mangrove tidak berhenti pada kegiatan penanaman. Masyarakat juga mengembangkan pemanfaatan hasil mangrove sebagai pangan lokal, usaha masyarakat, ekowisata, hingga kegiatan perlindungan kawasan.

Dengan begitu, menjaga ekosistem dan membangun ekonomi masyarakat tidak harus menjadi dua hal yang berlawanan.

Keduanya bisa berjalan bersama ketika masyarakat memiliki pengetahuan, ruang kelola, kelembagaan, dan kesempatan untuk terlibat.

Dan mungkin, di situlah salah satu pesan penting yang bisa kita bawa dari cerita mangrove Raja Ampat menuju percakapan tentang aksi iklim.

Perubahan tidak hanya dibentuk oleh kebijakan besar atau institusi besar. Perubahan juga dibentuk oleh pilihan dan aksi masyarakat sehari-hari.

Mulai dari bagaimana kita memperlakukan hutan, mengelola pangan, mendukung ekonomi lokal, hingga menjaga sumber daya agar tetap tersedia bagi generasi berikutnya.

Sebab pada akhirnya, ekonomi yang kita bangun dan iklim yang kita hadapi memang menjadi tanggung jawab bersama.

Dan seperti yang saya pelajari dari mangrove di Raja Ampat:

Jaga hutan, jaga sumber pangan, jaga kehidupan. 

1 komentar

  1. Salut luar biasa untuk masyarakat Friwen dan Yenbeser yang telah kompak melakukan pembibitan, persemaian, dan penanaman kembali kawasan yang mengalami kerusakan.
    Memang semua itu tanggung jawab kita bersama ya
    Apalagi kalau upaya restorasi tersebut berjalan bersama penguatan kelembagaan dan pengelolaan kawasan melalui skema Hutan Desa. Jadi nanti generasi muda selanjutnya masih bisa menyaksikan semua itu. Bukan hanya sejarah atau cerita saja

    Kampung Friwen yang sudah mendapatkan Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa seluas 1.025 hektare semoga bisa mempertahankannya.
    Pertahankan kawasan tersebut yang memang diperuntukkan untuk ruang lindung, ruang pemanfaatan, dan ruang pemanfaatan konservasi, dengan kelembagaan yang melibatkan LPHD, kelompok usaha, kelompok patroli, serta kelompok kerja perempuan.

    BalasHapus