Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat

Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat


Ada satu kalimat yang terus terngiang setelah mendengar cerita tentang mangrove di Raja Ampat:

“Karena ada hutan, kitorang perempuan itu hidup.”

Kalimat yang disampaikan Loesye Ermy Fainno, penerima Women Champion Badan Restorasi Gambut dan Mangrove 2022, terasa sederhana. Namun, semakin dipikirkan, semakin dalam maknanya.

Sebab bagi masyarakat pesisir, hutan bukan sekadar bentang alam yang menghijau di antara pulau-pulau. Hutan adalah ruang hidup, sumber penghidupan, sekaligus warisan yang perlu dijaga agar tetap dapat dinikmati generasi berikutnya.

Hal itu terlihat jelas di Kampung Friwen, Raja Ampat.

Ketika mangrove berarti kehidupan


Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat

Pada 2018, masyarakat adat Kampung Friwen dan Kampung Yenbeser mulai merasakan keresahan karena hutan mangrove mengalami degradasi. Salah satu penyebabnya adalah pengambilan kayu untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan homestay dan resort.

Masyarakat kemudian mulai bergerak. Ada pemetaan partisipatif, identifikasi jenis mangrove, hingga pelatihan pengolahan produk mangrove sebagai pangan lokal.

Kerusakan yang terjadi bukan persoalan kecil.

Di kawasan Mangrove Doredor, tutupan mangrove selama 2009–2019 mengalami perubahan. Pada 2019, tingkat kerusakannya mencapai 57 persen atau sekitar 133 hektare dari total 233 hektare. Padahal, kawasan ini merupakan wilayah adat yang dijaga masyarakat Kampung Friwen dan menjadi salah satu kawasan pemijahan ikan di Selat Dampier, Raja Ampat.

Ketika mangrove rusak, yang hilang bukan hanya pohon.

Ada habitat ikan dan biota laut yang ikut terancam. Ada sumber pangan masyarakat yang berkurang. Ada pula sumber penghidupan yang ikut terdampak.

Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat


Akar mangrove yang kompleks menjadi tempat berlindung dan pemijahan berbagai spesies laut. Ekosistem ini juga menyediakan nutrisi bagi rantai makanan perairan serta membantu menyaring sedimen dan polutan di wilayah pesisir.

Jadi, menjaga mangrove pada akhirnya juga berarti menjaga sumber pangan.

Dari kepiting sampai buah mangrove


Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat


Ketika mendengar kata mangrove, mungkin yang pertama terbayang adalah hutan di tepi laut dengan akar-akar yang muncul dari lumpur.

Namun, ekosistem ini ternyata juga menyediakan berbagai sumber pangan.

Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat

Mangrove yang sehat menjadi habitat bagi kepiting bakau dan moluska. Bagi masyarakat pesisir, hasil laut tersebut dapat menjadi sumber protein sekaligus mendukung pendapatan keluarga jika dimanfaatkan secara berkelanjutan. Rehabilitasi mangrove juga menjadi bagian penting untuk memastikan tempat pemijahan alami bagi biota laut tetap tersedia.

Tidak berhenti pada hasil laut.

Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat

Buah mangrove jenis Bruguiera gymnorrhiza, misalnya, dapat diolah menjadi tepung sebagai substitusi karbohidrat lokal. Buah tersebut juga dapat dikembangkan menjadi sirup, minuman, kue, dan keripik.

Ada pula madu mangrove yang memanfaatkan nektar bunga mangrove sebagai sumber ekonomi alternatif bagi masyarakat pesisir. Pemanfaatan ini sekaligus dapat mendorong praktik budidaya lebah yang terintegrasi dengan upaya menjaga kelestarian hutan.

Saya jadi melihat bahwa hubungan antara hutan dan pangan ternyata sangat dekat.

Hutan yang lestari menyediakan ruang bagi pangan untuk tumbuh, berkembang, dan terus tersedia.

Ketahanan pangan tidak hanya soal makanan

Selama ini ketika mendengar istilah ketahanan pangan, mungkin yang lebih sering terbayang adalah ketersediaan makanan di meja makan.

Padahal, cerita dari Raja Ampat memperlihatkan bahwa ketahanan pangan juga berkaitan dengan bagaimana sebuah masyarakat menjaga ekosistem yang menjadi sumber pangannya.

Di kawasan pesisir, perubahan iklim dapat menambah kerentanan tersebut. Kenaikan permukaan air laut dapat mengancam habitat pemijahan ikan dan krustasea. Cuaca ekstrem dapat memengaruhi produksi pangan dan aktivitas nelayan, sementara intrusi air laut dapat menurunkan ketersediaan air tawar untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian.

Karena itu, menjaga ekosistem bukan pekerjaan yang terpisah dari upaya memenuhi kebutuhan pangan.

Justru keduanya saling berhubungan.

Ketika perempuan menjadi bagian penting dari perubahan


Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat

Hal lain yang menarik dari cerita Kampung Friwen adalah besarnya peran perempuan.

Materi Wawiyai Steve menunjukkan bahwa sekitar 90 persen perempuan di wilayah tersebut menggantungkan kehidupannya pada kawasan pesisir. Aktivitasnya beragam, mulai dari memanfaatkan mangrove sebagai pangan, berkebun, mencari ikan dan kerang-kerangan, hingga aktivitas ekonomi lainnya.

Perempuan juga terlibat aktif dalam berbagai kelompok usaha dan kegiatan perlindungan mangrove. Mulai dari pengolahan produk mangrove, agroforestri, kerajinan tangan, patroli kawasan, hingga Kelompok Kerja Perempuan Perlindungan Mangrove.

Dalam materi ketahanan pangan berbasis mangrove, sekitar 35 perempuan di Desa Friwen juga disebut mendapatkan penguatan untuk mengelola bisnis rumahan berbasis produk mangrove, mulai dari penetapan harga hingga manajemen pesanan secara kolektif.

Pemberdayaan perempuan, dengan demikian, bukan sekadar tambahan dalam program konservasi.

Ia menjadi bagian dari cara masyarakat menjaga sumber daya alam sekaligus membangun ketahanan ekonomi keluarga.

Menjaga hutan tidak selalu berarti menjauhkan manusia dari hutan. Sebaliknya, masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan perlu mendapatkan ruang untuk mengelola, memanfaatkan, sekaligus menjaganya secara berkelanjutan.

Dari restorasi menuju masa depan

Perubahan tentu tidak terjadi dalam semalam.

Masyarakat Friwen dan Yenbeser melakukan pembibitan, persemaian, dan penanaman kembali kawasan yang mengalami kerusakan. Upaya restorasi tersebut kemudian berjalan bersama penguatan kelembagaan dan pengelolaan kawasan melalui skema Hutan Desa.

Pada 2024, Kampung Friwen mendapatkan Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa seluas 1.025 hektare. Kawasan tersebut diperuntukkan bagi ruang lindung, ruang pemanfaatan, dan ruang pemanfaatan konservasi, dengan kelembagaan yang melibatkan LPHD, kelompok usaha, kelompok patroli, serta kelompok kerja perempuan.

Baca Juga : Saatnya #UbahPerilaku untuk Hadapi Perubahan Iklim

Artinya, konservasi bukan hanya tentang menanam pohon.

Ada proses panjang untuk membangun kesadaran, kelembagaan, keterampilan, usaha, jejaring, hingga dukungan kebijakan.

Pengelolaan hutan mangrove melalui skema Hutan Desa diharapkan dapat membuat wilayah pesisir lebih tangguh menghadapi perubahan iklim, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjaga hutan untuk generasi mendatang.

Lalu, apa hubungannya dengan kelor?


Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat


Cerita mangrove di Raja Ampat kemudian membuat saya teringat pada satu tanaman lain yang sering kita jumpai: kelor.

Keduanya memang berbeda. Mangrove merupakan ekosistem pesisir, sedangkan kelor lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari di daratan.

Namun, ada satu hal yang sama: keduanya menunjukkan bahwa alam bisa memiliki banyak peran bagi kehidupan manusia.

Kita bisa melihat tumbuhan bukan hanya sebagai sesuatu yang tumbuh di sekitar kita, tetapi juga sebagai sumber pangan dan bagian dari lingkungan yang perlu dijaga.

Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat


Biji kelor, misalnya, juga telah diteliti untuk membantu proses penjernihan air. Ini membuat saya kembali melihat bahwa satu tanaman pun bisa memiliki manfaat yang lebih luas daripada yang selama ini kita bayangkan.

Mungkin karena itu, ketika berbicara tentang perubahan iklim, kita tidak harus selalu memulainya dari sesuatu yang jauh dan besar.

Kita bisa mulai dengan bertanya:

Apa yang tumbuh di sekitar kita?

Apa manfaatnya bagi kehidupan?

Dan apa yang bisa kita lakukan agar sumber daya itu tetap ada untuk generasi berikutnya?

Dari Raja Ampat ke Bangkok

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut terasa semakin relevan menjelang Bangkok Climate Action Week (BKKCAW) 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 3–11 Oktober 2026.

Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat


Mengusung tema utama “Rai Likit: Economy we Shape, Climate we Share”, festival iklim perkotaan tahunan ini menjadi salah satu gerakan iklim terbesar di Asia Tenggara yang menghubungkan masyarakat, komunitas, serta berbagai institusi untuk menciptakan perubahan nyata bagi kota.

Menariknya, cerita dari Raja Ampat juga mengingatkan bahwa isu iklim tidak hanya tentang kota.

Ketika berbicara tentang ekonomi yang kita bentuk dan iklim yang kita bagi, kita juga perlu melihat bagaimana masyarakat di berbagai wilayah mengelola sumber daya alamnya. Bagaimana pangan diproduksi. Bagaimana mata pencaharian dibangun. Dan bagaimana alam dijaga agar tetap mampu menopang kehidupan.

Baca Juga : Langkah Bersama Atasi Perubahan Iklim

Di Kampung Friwen, pengelolaan mangrove tidak berhenti pada kegiatan penanaman. Masyarakat juga mengembangkan pemanfaatan hasil mangrove sebagai pangan lokal, usaha masyarakat, ekowisata, hingga kegiatan perlindungan kawasan.

Dengan begitu, menjaga ekosistem dan membangun ekonomi masyarakat tidak harus menjadi dua hal yang berlawanan.

Keduanya bisa berjalan bersama ketika masyarakat memiliki pengetahuan, ruang kelola, kelembagaan, dan kesempatan untuk terlibat.

Dan mungkin, di situlah salah satu pesan penting yang bisa kita bawa dari cerita mangrove Raja Ampat menuju percakapan tentang aksi iklim.

Perubahan tidak hanya dibentuk oleh kebijakan besar atau institusi besar. Perubahan juga dibentuk oleh pilihan dan aksi masyarakat sehari-hari.

Mulai dari bagaimana kita memperlakukan hutan, mengelola pangan, mendukung ekonomi lokal, hingga menjaga sumber daya agar tetap tersedia bagi generasi berikutnya.

Sebab pada akhirnya, ekonomi yang kita bangun dan iklim yang kita hadapi memang menjadi tanggung jawab bersama.

Dan seperti yang saya pelajari dari mangrove di Raja Ampat:

Jaga hutan, jaga sumber pangan, jaga kehidupan. 

41 komentar

  1. Salut luar biasa untuk masyarakat Friwen dan Yenbeser yang telah kompak melakukan pembibitan, persemaian, dan penanaman kembali kawasan yang mengalami kerusakan.
    Memang semua itu tanggung jawab kita bersama ya
    Apalagi kalau upaya restorasi tersebut berjalan bersama penguatan kelembagaan dan pengelolaan kawasan melalui skema Hutan Desa. Jadi nanti generasi muda selanjutnya masih bisa menyaksikan semua itu. Bukan hanya sejarah atau cerita saja

    Kampung Friwen yang sudah mendapatkan Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa seluas 1.025 hektare semoga bisa mempertahankannya.
    Pertahankan kawasan tersebut yang memang diperuntukkan untuk ruang lindung, ruang pemanfaatan, dan ruang pemanfaatan konservasi, dengan kelembagaan yang melibatkan LPHD, kelompok usaha, kelompok patroli, serta kelompok kerja perempuan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren banget nih masyarakat Friwen dan Yen beserta atas pengelolaan hingga konservasi lahan dengan mangrove-nya. Emg lahan pesisir tuh cocoknya diberikan pengelolaan mangrove ini.

      Dan mereka bs meniru masyarakat dia desa ini dlm pengelolaan mangrove sehingga bs memberikan nilai ekonomi lebih. Selain tentu saja mencegah erosi, banjir dan meredam dampak tsunami kecil.

      Hapus
  2. Tahunya mangrove, bagaimana dia bisa menjaga pantai agar tidak terjadi abrasi. Tak disangka ternyata dapat juga untuk diolah sebagai pangan lokal menjadi minuman. Tentunya sudah jadi keharusan menjaga mangrove ini, dan please semoga tidak ada tangan² yang tak bertanggung jawab. Jaga tanaman kita yuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Kalau tahu ilmunya, tahu cara pengolahannya, negara kita ini luar biasa kayanya ya...
      Tapi kenapa yg bagus dan bernilai justru dikeruk negara lain?

      Kepiting bakau yang terkenal itu, bukannya dikonsumsi atau jadi lahan cuan orang Indonesia, itu malah diekspor ke Malaysia dan miris nya orang Indonesia berburu kuliner kepiting itu ke sana. Konyol gak sih?

      Hapus
  3. Duh kalau mendengar Papua tu suka sedih, alamnya dirusak sama pejabat dan pengusaha2 jahat. Bahkan yang terbaru Si Bahlul tu mau ngeruk apaan lagi deh tu :(
    Meresahkan sekali, entah apa yang tersisa beberapa tahun ke depan kalau nggak ada kegiatan konservasi ya.
    Hutan mangrove juga sangat penting ya, untuk menjaga darata Papua dari abrasi air laut. Aku baru tahu ternyata mangrove juga bisa untuk bahan pangan ya? Kirain selama ini ya buat pager laut aja. Nice info.
    Daun kelor aku suka. Disayur bening nyaaamm. Walau di sini jarang yang jual, tapi sesekali nemu kalau pesen abang sayur.
    Yes, janganlah kita merusak alam, karena alam tu baik bener, tahu terima kasih kalau kita merawatnya yaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Iya mbak... Kaya sedih gitu ya tiap baca berita soal Papua, selain berita keindahan alamnya. Dan alamnya yang indah dan jadi kebanggaan itu rawan dirusak. Dalam kasus ini hutan mangrovenya.

      Untung saja masyarakat Friwen dan Yenbesern masih memperjuangkan kelestariannya. Semoga saja generasi berikutnya masih bisa menikmati keindahan dan kekayaan alamnya.

      Hapus
  4. Untungnya masih ada orang2 yang sadar pentingnya hutan mangrove untuk lingkungan mereka ya mba. 57¢ yang rusak, bukan angka kecil. Lebih dari setengahnya 😢. Padahal mangrove itu fungsinya banyak banget, apalagi di area yang rawan tsunami

    Semoga aja dengan kesadaran masyarakat di sana, hutan mangrove nya bisa kembali sehat. Apalagi jadi habitat untuk para kepiting dan hewan lainnya.

    Aku baru melihat buah mangrove juga. Kirain selama ini ga ada buahnya. Jadi penasaran pengen ngerasain acara dan keripik dari buah mangrove

    BalasHapus
  5. Aku baru tahu kalo mangrove ini ada buahnya loo dan nektar bunga nya juga dibikin madu..selama ini tahunya mangrove untuk menjaga ekosistem di daratan ini aja gt tapi ternyata gak cuma akar2nya yang mencegah terjadinya penggerusan tapi buah dan bunganya juga bisa dimanfaatkan...
    Salut dengan warga disana yang bisa bekerjasama untuk mengembalikan fungsi lahan mangrove ini semoga bisa menjadi contoh baik bagi kita semua bahwa kita jg harus melakukan konservasi atas setiap SDA yang kita -manfaatkan

    BalasHapus
  6. Seringkali kita di kota besar lupa kalau apa yang ada di piring kita hari ini sangat bergantung pada kelestarian alam di tempat yang jauh, seperti hutan mangrove di Raja Ampat.
    Hal kecil seperti ini bikin kita sadar, menjaga lingkungan itu bukan sekadar slogan keren buat konferensi internasional, tapi tentang bertahan hidup dan memastikan anak cucu nanti masih bisa makan dan bernapas lega. Yuk, mulai peduli dari hal-hal kecil di sekitar kita!

    BalasHapus
  7. Saya takjub pas ke hutan Magrove di Pik Jakarta Utara, saya melihat langsung bagaimana Hutan Mangrove bukan saja garda depan menjaga pantai, tapi juga rumah bagi beragam hewan. Makanya hutan mangrove harus terus dijaga. Jangan sampai rusak karena ulah manusia tak beranggung jawab. Karena bukti nyata, hutan mangrove tidak hanya memberikan kehidupan bagi satwa, tapi memberi manfaat juga bagi manusia. saya baru tahu ada madu mangrove.

    BalasHapus
  8. Sering merasa sedih juga melihat kerusakan lingkungan kita selama ini. Tidak hanya mangrove, tetapi hampir semua alam di Indonesia ini makin rusak. Penyebabnya adalah orang-orang serakah yang semaunya sendiri tanpa memikirkan akibatnya bagi orang banyak. Kalau sudah begitu, pemerintah yang seharusnya bisa menindak. Namun, pemerintah juga tidak bisa terlalu diharapkan, oleh karena itu, masyarakat sendiri yang harus lebih banyak ambil peranan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak. Kalau di kalimantan sini hutannya berangsur menghilang digantikan sama kebun sawit. Bahkan pegunungan meratus juga sempat terancam mau dijadikan tambang batubara. Untung hal tersebut bisa dicegah oleh para aktivis lingkungan di sini

      Hapus
  9. Kadang kita baru sadar pentingnya hutan ketika mulai merasakan dampaknya, padahal urusan hutan ternyata dekat sekali dengan isi piring kita sehari-hari ya mbak Dee.

    Menarik juga melihat hutan bukan cuma sebagai kumpulan pohon, tapi bagian dari rantai pangan yang sering luput kita pikirkan. Padahal ini cuman mangrove loh. Belum tanaman lain. Manfaat mangrove ini udah luar biasa sekali.

    Kalau sumbernya rusak, yang ikut kena dampaknya kan bukan cuma satwa, tapi manusia juga. Jadi menjaga hutan sebenarnya sama saja sedang menjaga dapur kita sendiri.

    Kali ini kita belajar dari masyarakat Friwen dan Yen beserta ini.

    BalasHapus
  10. Merusak alam dan keseimbangannya otomatis merusak segalanya tidak hanya manusia tapi hewan dan juga semua yang ada di sana ikut terdampak negatif dan pohon mangrove adalah sumber kehidupan Yang menaungi banyak satwa dan juga memberikan banyak keuntungan bagi semuanya

    BalasHapus
  11. Saya baru tahu lho sebesar itu manfaat dari mangrove, sampai bisa dijadikan sirup dan tepung segala. Benar-benar bermanfaat jika kita bisa meberdayakannya, jadi tak hanya jadi 'benteng' di pantai saja, ya.

    Kalau daun kelor saya sudah sering dengar manfaatnya yang banyak dan di sekitar rumah juga ada beberapa yang nanam, tapi karena memang belum terbiasa untuk mengonsumsinya, jadi maju mundur pas mau coba mengolah daun kelor ini, malah di sini daun kelor ini dikenal buat ngusir hantu oleh masyarakat .. hehe

    BalasHapus
  12. Masya Allah keren-keren ya kaum perempuan Kampung Friwen , mereka turun langsung dalam menjaga keseimbagan alam dengan menjaga habitat mangrove. BTW saya baru tahu lho kalau buah magrove bisa dijadikan makanan baik berupa tepung, sirup, minuman, kue, maupun keripik. Selama ini tahunya mangrove berfungsi untuk menahan abrasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun demikian kak, ga disangka ternyata mangrove itu ada buahnya. Daku pikir kayak semacam tumbuhan monokotil. Bersyukur di sana terus melestarikan kebudayaan lokal ini, biar generasi berikutnya juga tahu soal ini

      Hapus
    2. Betul Kak, memang harus ada yang mengawali ya. Supaya generasi muda punya role model dalam melestarikan alam. Sehingga tetap terawat dan bisa diwariskan kepada generasi yang akan datang.

      Hapus
  13. ternyata ada banyak sekali manfaat dari mangrove ini ya. Selama ini mungkin kita tahunya cuma sebagai pohon penahan di pantai padahal ternyata dari akar sampai buahnya bisa dimanfaatkan. Apalagi keberadaan mangrove ini juga bisa menjadi sumber mata pencaharian dari penduduk sekitar ya jadi selain bisa membantu menjaga ekosistem keberadaan mangrove juga berdampak ekonomi bagi warga di sana

    BalasHapus
  14. Ya Allah semoga Papua membaik ya.. bersyukur banget kepedulian yang mau memperbaiki dan menanam mangrove ini ya Kak.. btw kalau soal daun kelor aku baru sadar di sini ada. Tapi terlalu tinggi pohonnya susah juga mau ambil daunnya. Padahal manfaat nya banyak banget ya

    BalasHapus
  15. Menjaga ekosistem mangrove emang penting bagi kelangsungan kehidupan. Aku baru tahu mangrove ada buahnya bahkan ada madu dari bunga mangrove.

    Kemajuan pariwisata dengan meningkatnya homestay dan resort ini emang kayak buah simalakama. Di satu sisi bikin ekonomi masyarakat naik, tapi di sisi lain juga merusak alam.

    BalasHapus
  16. Impian banget ke Raja Ampat.
    Dulu suami ke sana dan mashaAllah.. kalau boleh jujur, sangaatt estetik aseli dari alam ciptaan Allah dan masiiii sangaatt terjaga.
    Dan aku baru tauu kalau Mangrove-nya pun menjadi sumber penghidupan warga pesisir.

    Bener yaa..
    Ketika kita paham apa yang disediakan dengan alam, kita jadi gak pingin lagi berboros-boros ((baca : serakah)) ambil apa yang disediakan alam. Asalkan cukup, maka kita semua tetap bisa hidup berdampingan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Takut banget belum sempat ke Raja Ampat eh alamnya udah rusak T.T
      Itu Bahlul katanya mau bangun apaan lagi deh di sekitaran sana. Dengan alam seindah itu mengapa mereka nggak konsen ke pariwisata aja yaa, maunya malah duit cepet yang bisa didapat dari penambangan T.T

      Hapus
  17. Plot Twist di aku mbak! Kalau mangrove itu bisa jadi kukis dan mieeee... Ulalala jiwa-jiwa perdapuranku meronta denger ini. Tapi di satu sisi realitanya hutan mangrove juga nyaris 50 persen lebih mengalami kerusakan. :(

    Dan yang bikin aku merinding kalau denger misal hutan mangrove rusak yang kena dampaknya tuh ya perempuan-perempuan (kan mereka yang pegang urusan dapur dan perut). Makanya setuju sama statement kalau hutan terjaga sumber pangan pun pasti ikut terjaga.. :)

    BalasHapus
  18. sejak tau mangrove punya fungsi ganda selain sebagai pelindung garis pantai juga sebagai sumber pangan, aku selalu kepo kira-kira tanaman ini fungsi nya apa ya dan bisa dimakan ga ya,
    masyallah alam ini tercipta sesuai kebutuhan kita makhluk hidup, tapi sayang segelintir manusia merusaknya demi mendapat keuntungan pribadi

    BalasHapus
  19. Mangrove banyaaaakk banget faedahnya ya.
    Yang jelas, sebenernya Indonesia ini diberkahi dengan begitu banyak kekayaan alam.
    SDA melimpah dan semestinya bikin berkah.
    tapi karena ulah SDM dan pemerintah yg culas, jadi yha begitulah.

    BalasHapus
  20. sepenting itu keberadaan hutan mangrove, sedih kalau liat berita adanya oknum yang merusak kawasan hutan mangrove.
    di Papua sana,masyarakatnya bener-bener peduli akan lingkungan. Bahkan dari alam pun bisa jadi makanan atau sumber bahan baku makanan sehari-hari.

    BalasHapus
  21. Kadang kemajuan berbanding lurus dengan kerusakan alam dan jadi sedih. Mangrove bukan hanya tumbuhan tapi juga jadi safe place buat makhluk lain. Mama-mama di Papua juga hidup dari hutan. Semoga ada kesadaran untuk tidak mengambil kayu mangrove sembarangan, atau tidak ada denda (pakai hukum adat), Mbak?

    BalasHapus
  22. Sakut unguk masyarakat Friwen. Mangrove ternyata selain berfungsi menahan abrasi air laut, juga bisa sebagai bahan pangan., dibuat tepung dan sebagsinya. Nahkan nektar bunga mangrove juga bisa dimanfaatkan. Baru tahu info ini kak. Terima kasih sharingnya.

    BalasHapus
  23. Suka banget cara Kakak menyambungkan cerita mangrove, kelor, sampai Bangkok Climate Action Week. Pertanyaan "apa yang tumbuh di sekitar kita?" itu sederhana tapi bikin kepikiran, ternyata aksi iklim bisa dimulai dari yang dekat-dekat saja. Angka kerusakan 57 persen di Doredor juga bikin sedih, tapi lega lihat masyarakatnya bergerak merestorasi.

    BalasHapus
  24. Saya pikir, ketahanan pangan itu cuma dari sisi makanan yang tersedia di meja. Ternyata, lebih luas daripada itu, bahwa semuanya berawal dari ekosistem yang sehat.

    Kalau lihat mangrove memang bukan sekadar pohon di pesisir, tetapi menjadi tempat hidup biota laut, sumber pangan, sekaligus bagian dari penghidupan masyarakat.

    Menarik sekali tentang peran perempuan. Mereka bukan hanya terdampak ketika hutan rusak, tetapi justru menjadi bagian penting dari upaya menjaga dan mengelolanya.

    Pesan “jaga hutan, jaga sumber pangan, jaga kehidupan” terasa sederhana, tetapi dalam sekali bagi kita semua yang membaca artikel ini.

    BalasHapus
  25. Kehadiran mangrove bisa membantu lingkungan sekitatnya. Sebagai pusat kehidupan berbagai satwa. Penahan ombak/tsunami, dan penghasil oksigen serta menyerap C02. Sepenting itu per annum mangrove

    BalasHapus
  26. Mangrove tidak hanya sekedar 'tanaman' tapi mempunyai banyak arti. Artikel yang lengkap menurut saya mbak sampai terlarut membacanya eh la kok sudah di akhir artikel.
    Sepakat apapun yang kita bangun akan menjadi tanggung jawab kit, seperti halnya mangrove, kelor, dan lainnya

    BalasHapus
  27. Baru kepikiran juga kalau menjaga hutan itu sebenarnya bukan cuma soal lingkungan, tapi berkaitan langsung sama sumber pangan kita. Kalau hutannya rusak, dampaknya bisa ke mana-mana dan akhirnya kita juga yang merasakan. Jadi makin sadar kalau menjaga hutan bisa dimulai dari hal-hal sederhana dalam keseharian. Semoga makin banyak yang peduli dan ikut menjaga hutan ya.

    BalasHapus
  28. Sekarang daun kelor sudah sulit ditemui karena pantai-pantai perlahan hilang akibat pembangunan yang sangat masif di pesisir

    BalasHapus
  29. Nah, mangrove bukan hanya penahan abrasi tetapi bisa jadi bahan buat banyak hal yang bermanfaat untuk manusia. Asli mama-mama Friwen ini keren , mereka beneran all out jaga hutan. Keren zoominar eco blogger squad. Menambah wawasan pembaca dan menyebarkan urgent nya menjaga hutan sama dengan menjaga pangan.

    BalasHapus
  30. Ternyata, sebegitu pentingnya mangrove bagi kehidupan dan perputaran ekonomi, ya. Terutama bagi warga Raja Ampat

    BalasHapus
  31. “Karena ada hutan, kitorang perempuan itu hidup.” Sederhana, tetapi maknanya dalam sekali. Salut juga untuk para perempuan di Kampung Friwen yang ikut menjaga mangrove sekaligus mengembangkan usaha berbasis hasil alam. Semoga semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar menanam pohon, melainkan juga menjaga kehidupan dan masa depan generasi berikutnya.

    BalasHapus
  32. Ternyata emang sepenting itu mangrove bagi kehidupan masyarakat. Semoga ini makin memotivasi kita untuk menjaga kelestariannya demi berlangsungnya kehidupan kita juga.

    BalasHapus
  33. setuju, salah satu cara ,merawat hutan (termasuk hutan mangrove) adalah dengan memanfaatkan hasilnya, agar masyarakat setempat menjaga dan berusaha menambah penanamanya
    Eniwei saya pernah nyicipin sirup, dodol dan cookies mangrove, dan ternyata enak banget

    BalasHapus