Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Dari Meja Makan ke Gambut: Belajar Keragaman Pangan dari Sepiring Kentang

 

Dari Meja Makan ke Gambut: Belajar Keragaman Pangan dari Sepiring Kentang

Ada satu kebiasaan yang sedang saya ubah belakangan ini: mengurangi konsumsi nasi. Bukan berarti saya berhenti makan nasi sama sekali. Saya hanya berusaha mencari variasi sumber karbohidrat, salah satunya dari umbi-umbian.

Kentang menjadi salah satu pilihan yang cukup sering hadir di rumah. Apalagi, anak-anak saya juga suka kentang. Bahan makanan yang satu ini bisa diolah menjadi berbagai hidangan. Mulai dari kentang goreng, mashed potatoes, perkedel, sambal goreng kentang, sampai donat kentang.

Satu bahan, tetapi bisa menghadirkan banyak pilihan menu.

Awalnya, saya melihat kentang sebatas bahan makanan yang praktis dan disukai keluarga. Namun, setelah mengikuti webinar Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan, saya mulai memikirkan pangan dari sudut pandang yang lebih luas.

Ternyata, apa yang tersaji di meja makan memiliki hubungan dengan alam, keanekaragaman hayati, dan kehidupan masyarakat yang menjaga sumber pangan mereka.

Gambut bukan lahan kosong

Dari Meja Makan ke Gambut: Belajar Keragaman Pangan dari Sepiring Kentang


Webinar yang diselenggarakan oleh Eco Blogger Squad bersama Pantau Gambut dan Nusantara Food Biodiversity ini membuka wawasan saya tentang hubungan antara kebakaran hutan dan lahan (karhutla), biodiversitas, serta ketahanan pangan.

Selama ini, ketika mendengar berita karhutla, hal yang langsung terbayang mungkin adalah hutan terbakar, asap yang mengganggu aktivitas, dan dampaknya bagi kesehatan. Padahal, persoalannya jauh lebih luas, terutama ketika kebakaran terjadi di kawasan gambut.

Ekosistem gambut merupakan lahan basah yang terbentuk dari akumulasi bahan organik dan menyimpan karbon dalam jumlah besar. Gambut juga memiliki karakteristik hidrologi yang penting bagi keberlangsungan ekosistemnya.

Ketika gambut mengalami degradasi, perubahan hidrologi dan struktur tanah dapat terjadi, disertai pelepasan cadangan karbon ke atmosfer. Kebakaran gambut pun memiliki karakteristik khusus karena api dapat membara jauh di bawah permukaan tanah dan bertahan dalam waktu lama.

Dari Meja Makan ke Gambut: Belajar Keragaman Pangan dari Sepiring Kentang


Menurut data dari Pantau Gambut, total 24,2 juta hektare Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) di Indonesia, sekitar 16,4 juta hektare dikategorikan memiliki tingkat kerentanan kebakaran sedang hingga tinggi, berdasarkan data Peatland Fire Alert 2023. Sementara itu, sekitar 10,3 juta hektare atau 43 persen dikategorikan memiliki kerentanan banjir sedang hingga tinggi berdasarkan data Drowned Peatland 2025.

Dari Meja Makan ke Gambut: Belajar Keragaman Pangan dari Sepiring Kentang


Angka-angka tersebut mengingatkan saya bahwa gambut bukanlah lahan kosong yang tidak memiliki fungsi. Ekosistem ini perlu dijaga karena kerusakannya membawa konsekuensi bagi lingkungan.

Ketika ekosistem terganggu, pangan ikut terdampak

Dari Meja Makan ke Gambut: Belajar Keragaman Pangan dari Sepiring Kentang


Lalu, apa hubungannya gambut dengan makanan yang kita konsumsi sehari-hari?

Jawabannya terletak pada hubungan antara ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Ekosistem yang sehat mendukung kehidupan beragam jenis tumbuhan dan makhluk hidup. Sebagian dari keanekaragaman tersebut menjadi sumber pangan, baik yang dibudidayakan maupun yang diperoleh masyarakat dari lingkungan sekitarnya.

Baca Juga : Tak Hanya Manusia, Karhutla Ancam Kehidupan Satwa Liar di Indonesia. Ini Upaya yang Bisa Dilakukan

Ketika ekosistem mengalami kerusakan, keragaman hayati yang bergantung padanya juga dapat terancam. Dampaknya tidak selalu berhenti di kawasan yang terbakar, tetapi dapat berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam tersebut.

Dalam presentasi Ahmad Arif bertajuk Keragaman Biokultural, Kunci Kedaulatan Pangan dan Iklim, saya juga belajar bahwa persoalan pangan bukan hanya mengenai produksi dan ketersediaan makanan. Ada hubungan erat antara sumber pangan, budaya, pengetahuan masyarakat, dan akses terhadap lingkungan tempat mereka hidup.

Presentasi tersebut menyoroti kondisi ketika akses masyarakat terhadap hutan dan sumber pangan lokal berkurang. Akibatnya, ketergantungan pada bahan pangan dari luar dapat meningkat, sementara tradisi dan pengetahuan pangan yang diwariskan antargenerasi ikut terpinggirkan.

Contohnya terlihat dalam pembahasan tentang masyarakat Marind-Anim di Merauke dan masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Adanya perubahan penggunaan lahan dan pembatasan akses terhadap lingkungan dapat berdampak bukan hanya pada sumber pangan, tetapi juga pada kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Dari sini, saya memahami bahwa menjaga lingkungan dan menjaga ketahanan pangan bukanlah dua persoalan yang berdiri sendiri.

Mengapa kita perlu mengenal lebih banyak sumber pangan?

Salah satu hal menarik dari materi Ahmad Arif adalah pentingnya diversifikasi pangan. Dalam presentasinya, disebutkan bahwa sekitar 70 persen asupan kalori yang dibahas bersumber dari beras dan gandum. Kondisi ini disoroti sebagai salah satu alasan untuk mendorong keberagaman sumber pangan dan memperkuat kedaulatan pangan lokal.

https://www.deestories.com/2023/09/Karhutla-mengancam-kehidupan-satwa-liar.html


Angka tersebut saya pahami sebagai pengingat bahwa pola pangan yang terlalu bertumpu pada sedikit sumber dapat membuat sistem pangan lebih rentan terhadap berbagai guncangan.

Dari Meja Makan ke Gambut: Belajar Keragaman Pangan dari Sepiring Kentang




Padahal, Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan yang beragam. Ada sagu, singkong, ubi jalar, talas, kentang, dan berbagai bahan pangan lain yang dimanfaatkan masyarakat dengan cara serta tradisi masing-masing.

Baca Juga : Pelestarian Keanekaragaman Hayati untuk Ketahanan Pangan

Setiap daerah memiliki kondisi lingkungan, sumber daya, dan pengetahuan pangan yang berbeda. Karena itu, keberagaman pangan Nusantara seharusnya menjadi kekuatan, bukan sesuatu yang perlahan dilupakan.

Diversifikasi pangan juga bukan sekadar mengganti nasi dengan bahan makanan lain. Lebih dari itu, kita perlu mengenali sumber pangan yang tersedia, menghargai pengetahuan masyarakat yang mengelolanya, serta menjaga ekosistem yang mendukung keberlanjutan pangan.

Di sinilah saya melihat hubungan antara keragaman pangan dengan upaya menghadapi perubahan iklim. Semakin kita memahami dan menghargai beragam sumber pangan, semakin terbuka pula kesempatan untuk membangun sistem pangan yang tidak hanya bertumpu pada satu pilihan.

Dari kentang goreng sampai sambal goreng kentang

Saya kemudian teringat pada kebiasaan sederhana di rumah.

Dari Meja Makan ke Gambut: Belajar Keragaman Pangan dari Sepiring Kentang

Saat sedang mengurangi nasi, saya mencoba lebih sering memanfaatkan umbi-umbian sebagai variasi sumber karbohidrat. Kentang menjadi salah satu pilihan karena mudah diolah dan disukai anak-anak.

Dari Meja Makan ke Gambut: Belajar Keragaman Pangan dari Sepiring Kentang


Kalau ingin camilan, ada kentang goreng. Untuk menu yang lebih lembut, saya bisa membuat mashed potatoes. Ada juga perkedel dan sambal goreng kentang yang akrab dengan masakan rumahan. Bahkan, kentang bisa diolah menjadi donat.

Dari Meja Makan ke Gambut: Belajar Keragaman Pangan dari Sepiring Kentang


Beragam olahan tersebut membuat saya menyadari bahwa mengenal sumber pangan lain tidak harus dimulai dengan sesuatu yang asing atau rumit. Kita bisa memulainya dari bahan yang sudah dikenal keluarga, lalu mengeksplorasi cara mengolahnya.

Tentu saja, cerita saya tentang kentang bukan berarti kentang merupakan pangan khas seluruh wilayah Indonesia atau menjadi pengganti nasi yang cocok bagi semua orang. Kentang adalah salah satu pilihan dalam pengalaman pribadi saya mencari variasi menu.

Justru, dari pengalaman sederhana ini, saya semakin tertarik mengenal sumber pangan lain yang tumbuh atau tersedia di berbagai daerah Indonesia.

Bagaimana masyarakat setempat mengolah singkong? Tradisi apa yang menyertai pemanfaatan sagu? Bagaimana pengetahuan tentang benih, musim tanam, dan pengolahan pangan diwariskan dari generasi ke generasi?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya melihat bahwa setiap bahan pangan bisa menyimpan cerita yang lebih panjang daripada sekadar resep masakan.

Menjaga gambut, merawat keberagaman pangan

Setelah mengikuti webinar tersebut, saya menyadari bahwa hubungan antara gambut dan meja makan memang tidak selalu terlihat secara langsung. Kita mungkin tidak memikirkan kondisi ekosistem ketika sedang menyiapkan kentang goreng untuk anak-anak atau memasak sambal goreng kentang untuk keluarga.

Namun, webinar ini mengajak saya melihat gambaran yang lebih besar. Kondisi lingkungan berkaitan dengan keanekaragaman hayati, sedangkan keanekaragaman hayati memiliki hubungan dengan keberagaman sumber pangan dan kehidupan masyarakat.

Karena itu, menjaga gambut bukan semata-mata urusan mencegah kebakaran atau mengurangi emisi karbon. Perlindungan ekosistem juga perlu dilihat dalam konteks keberlanjutan kehidupan dan sumber daya yang menopang masyarakat.

Baca Juga : Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan: Belajar dari Mangrove di Raja Ampat

Begitu pula dengan keragaman pangan. Upaya mengenal dan mencoba berbagai sumber pangan memang tidak serta-merta menyelesaikan persoalan karhutla atau kerusakan ekosistem. Namun, kebiasaan tersebut bisa menjadi langkah awal untuk memahami pentingnya sistem pangan yang lebih beragam dan menghargai pengetahuan lokal.

Dari Meja Makan ke Gambut: Belajar Keragaman Pangan dari Sepiring Kentang


Saya pun ingin mengajak keluarga untuk terus mengenal bahan pangan yang beragam, tidak hanya melalui apa yang tersedia di meja makan, tetapi juga melalui cerita tentang asal-usulnya dan orang-orang yang menjaganya.

Barangkali kita bisa memulai dari hal sederhana: mencoba satu bahan pangan yang belum pernah diolah sebelumnya, mencari tahu bagaimana bahan tersebut tumbuh, atau belajar tentang tradisi pangan masyarakat di daerah lain.

Sebab, pada akhirnya, pangan bukan hanya soal apa yang kita makan hari ini. Ada alam yang menopangnya, ada keanekaragaman hayati yang perlu dijaga, dan ada pengetahuan masyarakat yang layak dihargai.

Dari meja makan, kita bisa mulai belajar menjaga keragaman pangan. Dari keragaman pangan, kita bisa memahami mengapa menjaga alam begitu penting bagi masa depan kita bersama.


Tidak ada komentar

Posting Komentar