Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Kurangi Jejak Karbon dari Makananmu, Agar Bumi Tetap Lestari

Jejak karbon


Halo, teman deestories.. 

Apa kabar? 

Semoga baik-baik saja, ya! 


Hari ini saya mau cerita bagaimana bisa mengurangi jejak karbon dari makanan yang kita makan. 


Ya, ternyata saat kita makan, kita punya potensi menghasilkan jejak karbon. Bahkan, jejak karbon yang dihasilkan dari proses makan ini tidak kalah besar dengan emisi yang dihasilkan oleh bahan bakar fosil, loh. 


Mengenal Jejak Karbon 


Jejak karbon (carbon footprint) adalah ukuran dampak aktivitas manusia yang dinyatakan dalam jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer. Gas rumah kaca ini mengandung berbagai macam emisi, salah satunya adalah karbon dioksida (CO2).


Karbon dioksida (CO2) mengalami peningkatan konsentrasi paling tinggi akibat dari aktivitas manusia di berbagai sektor seperti penggunaan listrik dan air, konsumsi produk-produk makanan, penggunaan kendaraan, dan aktivitas industri lainnya. 


Hal ini membuat konsentrasi gas rumah kaca semakin meningkat yang pada akhirnya akan meningkatkan pemanasan global dan perubahan iklim.


Salah satu sumber emisi yang menyumbang jejak karbon cukup tinggi berasal dari makanan yang kita konsumsi. Food’s carbon footprint atau jejak karbon di makanan adalah ukuran emisi gas rumah kaca yang berasal dari seluruh proses makanan dari mulai produksi hingga siap untuk dikonsumsi.



Bagaimana Makanan Bisa Menghasilkan Jejak Karbon


Jejak karbon adalah pemicu munculnya pemanasan global. Sebagian besar aktivitas manusia menghasilkan jejak karbon, termasuk saat makan. 


Siapa sangka, makan yang merupakan kebutuhan dasar manusia menjadi penyumbang jejak karbon yang besar. 


Penelitian yang dilakukan oleh Our World in Data, menyebutkan bahwa jejak karbon makanan merupakan emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan mulai dari proses awal bahan pertanian makanan hingga pembuangannya. Makanan menghasilkan 13,7 miliar metrik ton emisi GRK secara global.


Makanan penghasil jejak karbon


Dalam proses produksi makanan, terdapat empat sektor yang berkontribusi terhadap emisi GRK, yakni peternakan dan perikanan (31%), produksi tanaman (27%), penggunaan tanah sebagai lahan pertanian (24%), dan rantai suplai makanan (18%).


Sapi potong memiliki kontribusi yang besar terhadap jejak karbon makanan. Satu kilogram (kg) sapi potong dapat menghasilkan 60 kg emisi GRK (kgCO2e).


Kontributor emisi GRK terbesar berikutnya dari produk makanan adalah domba dan kambing. Satu kilogram daging domba dan kambing tercatat menghasilkan 24 kgCO2e.


Baca Juga : Langkah Bersama Atas Perubahan Iklim


Kemudian, satu kilogram keju dan sapi perah sama-sama menghasilkan 21 kgCO2e. Adapun, emisi GRK yang dihasilkan satu kilogram cokelat sebesar 19 kgCO2e.


Cara Mengurangi Jejak Karbon dari Makanan 


Tentunya manusia tidak boleh egois. Jangan sampai kebutuhan makannya, merusak bumi. Apa gunanya kenyang jika bumi yang menjadi tempat kita tinggal rusak? Tentu, dampaknya akan kembali pada manusia sendiri. 


Kini, saatnya kita mulai mengurangi jejak karbon dari makanan yang kita makan. Bagaimana caranya? 


Jangan membuang makanan


Jangan membuang makanan menjadi langkah awal dalam mengurangi jejak karbon. Saat kita membuang makanan, saat itu juga kita menghasilkan limbah makanan yang merupakan penyumbang utama emisi gas rumah kaca. Itu karena makanan yang dibuang terurai di tempat pembuangan sampah dan menghasilkan gas metana, gas rumah kaca yang sangat kuat. 


Baca Juga : 7 Cara Mengelola Sampah Makanan di Rumah. Karena Sampahmu Adalah Tanggung Jawabmu


Selama kurun waktu 100 tahun, metana diperkirakan memiliki dampak 34 kali lebih besar daripada karbon yang telah terbakar pada pemanasan global. 


Kurangi konsumsi daging


Daging merah menjadi penyumbang terbesar jejak karbon. Hal ini karena emisi dari produksi ternak, terutama daging sapi dan sapi perah merupakan 14,5% dari emisi gas rumah kaca akibat manusia di dunia. 


Kita bisa membatasi konsumsi daging, dengan lebih banyak mengkonsumsi protein nabati dari sayuran, tahu, ataupun tempe. 


Mengurangi konsumsi olahan susu


Perlu juga membatasi konsumsi susu dan olahannya, seperti keju untuk mengurangi jejak karbon. 


Studi lain juga menyimpulkan bahwa produksi susu merupakan kontributor utama perubahan iklim. Sapi perah dan kotorannya mengeluarkan gas rumah kaca seperti metana, karbon dioksida, oksida nitrat, dan amonia. 


Keju membutuhkan begitu banyak susu untuk diproduksi, hal ini dikaitkan dengan emisi gas rumah kaca yang lebih besar dari produk hewani seperti telur, dan ayam. 


Cobalah makan lebih sedikit keju dan ganti susu dengan alternatif nabati seperti almond atau susu kedelai.


Berbelanja makanan secara bijak


Cara Mengurangi jejak karbon dari makanan

Berbelanja makanan secara bijak bisa dimulai dengan membuat daftar makanan apa saja yang dibutuhkan agar tidak membeli dalam jumlah yang berlebihan. 


Selain itu, periksa juga label makanan apakah produk tersebut terindikasi mengalami proses dengan jejak karbon yang tinggi atau tidak. 


Kurangi juga pembelian frozen food dan makanan kemasan kaleng atau plastik karena mereka memiliki jejak karbon yang tinggi.


Mengompos


Mengompos bisa mencegah menumpuknya sampah makanan di tempat pembuangan akhir, mencegah timbulnya gas metana. 


Mengompos sampah makanan


Di rumah, saya biasa mengompos sampah makanan dengan beberapa metode. Mulai dari mengubur, menggunakan keranjang takakura hingga felita. 


Berkebun


Berkebun juga bisa jadi langkah mengurangi jejak karbon dalam makanan kita, lho. Dengan berkebun kita tak perlu pergi berbelanja ke pasar. Tidak ada transportasi yang menghasilkan jejak karbon. 


Keterbatasan lahan bukan masalah. Sudah banyak metode berkebun di lahan terbatas yang bisa kita contoh. 


Kebun mini saya di rumah menghasilkan daun ketela, cabe, tomat, terong, timun, dan jeruk purut. Cukup membantu saya dalam memasak. 


Ikut tantangan Team Up for Impact


Kita bisa ikut tantangan TUFI (Team Up for Impact) untuk mengurangi jejak karbon dari makanan. Ya,  makanan ini menjadi salah satu kategori dari tantangan TUFI. 


Ada beberapa tantangan sub kategori makanan yang bisa kita pilih, mulai dari :


  • Makan makanan yang tidak bersampah

  • Makan makanan lebihan

  • Share konten manajemen food waste

  • Install aplikasi manajemen food waste

  • Belanja di pasar basah

  • Belajar proses makanan


Kebetulan kali ini saya memilih ikut tantangan makan makanan yang tidak bersampah. Indonesia menghasilkan sampah makanan sekitar setengah kilogram setiap hari, 60% adalah sampah konsumsi, 40% adalah sampah produksi. 


Beberapa jenis makanan tertentu bisa dimakan utuh tanpa meninggalkan sampah. Salah satunya yang banyak ditemui di setiap rumah adalah telur. 


Tantangan TUFI


Selain bisa dimasak dengan berbagai cara, kulitnya bisa dimanfaatkan untuk makanan ternak, binatang, dan pupuk. 


Selain kategori makanan, ada lima kategori lain yang bisa dipilih, yaitu Sampah, Digital, Energi, Bisnis Hijau, dan Aktivisme. 


Bagaimana cara ikut TUFI ini? 


1. Masuk ke website TUFI di https://teamupforimpact.org/team-up-everyday/


2. Lalu akan muncul kotak dan klik “Ikuti Tantangan”. Klik juga “Mulai Bermain


3. Setelah muncul gambar pohon, klik yang ada tulisan dibawahnya “Team Up For Impact Everyday.


4. Akan muncul list tantangan yang direkomendasikan hari ini. Kita bisa pilih salah satunya yang paling bisa dilakukan hari ini.


5. Scroll ke bawah, akan ada challenge Team Up For Impact berdasarkan enam kategori; sampah, makanan, digital, energy, bisnis hijau, aktivisme


6. Pilih kategori dan masuk ke dalam challenge-nya.


Teman-teman juga bisa juga bisa ikutan dan pilih challenge #BersamaBergerakBerdaya yang kamu banget alias yang paling dekat dan bisa dikerjakan dengan mudah. Ikutan juga giveaway sambil bikin reels. Biar makin banyak yang mendukung dan ikut kampanye peduli lingkungan. 


Penutup


Jadi, yuk ubah pola konsumsi makananmu sekarang juga. Kurangi jejak karbon dari makananmu, agar bumi tetap lestari. 


Are you ready? 







49 komentar

  1. Duhhhh kalau melihat sampah makanan yang terus bertambah sepanjang tahun membuat kita kudu aware banget dengan "makan secukupnya" jangan sampai ambil sepuasnya tapi ngga dihabiskan. Mari kita mulai dari diri kita sendiri

    BalasHapus
  2. Enggak nyangka juga ya, berawal dari hal sepele seperti membuang sisa makanan, ternyata berdampak menghasilkan jejak karbon yang bisa memicu pemanasan global. Jadi inget petuah orang tua kalo makanan nggak boleh ada sisa. Karena dampaknya begitu besar.

    Masalah konsumsi daging, saya sendiri memang jarang, hehehe... Selain mahal, juga kurang baik bagi kesehatan kalo makan daging terus menerus. Tapiiiii, olahan susu , kayak keju ini nih yang paling sering saya makan, wkwkwkwk...

    Oke makasih banyak info yang sangat keren dan bermanfaat dari artikel super duper mantap !!

    BalasHapus
  3. Dari daftar makanan yang meninggalkan jejak karbon, saya memang jarang-jarang menkonsumsi, Mbak. Dan harganya mahal juga. Termasuk tidak ngopi hehehe.
    Namun memang menjaga lingkungan wajib tugas kita semua. Karena dari pola makan kita saja, dan menyisakan makanan, bisa memicu pemanasan global.

    BalasHapus
  4. mari bersama selamatkan bumi dan hutan kita agar tetap lestari. dan sampah makanan ini menjadi hal krusial isunya di Indonesia bagaimana tidak, Indonesia menjadi salah satu dari 5 negara penghasil sampah terbesar di dunia, jadi mari kita kurangi sampah makanan mulai sekarang

    BalasHapus
  5. kalau aku dengan ambil catering harian nih mba, tujuannya biar porsi makan pas dan ngga ada sampah makanan yang kebuang atau bisa diminimalkan lah paling tidak

    BalasHapus
  6. Wow ternyata daging merah menjadi penyumbang terbesar jejak karbon. belum lagi konsumsi susu dan olahannya. emang harus mulai ubah pola konsumsi makanan deh buat mengurangi jejak karbon.

    BalasHapus
  7. Cara terbaik adalah mengatur porsi makanan, jangan sampai berlebihan. Di rumah selalu menerapkan makan secukupnya, termasuk pada anak-anak. Pun saat makan di luar, saya lebih memilih pesan minuman, karena pasti anak-anak kalau pesan makan tidak akan habis karena porsinya cukup banyak. Agar tidak mubazir itulah yang sering saya lakukan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah bener nih buat anak-anak emang harus ambil secukupnya. Aku juga membiasakan mereka ambil sesuai porsi. Mending nambah daripada kebanyakan terus kebuang yhaa kan.

      Hapus
  8. Kondisi saat ini memang kurang oke ya, sehingga harus saling dukung kurangi emisi karbon ini

    BalasHapus
  9. Baru tahu banget kalau daging sapi menyumbang paling tinggi jejak karbon di antara makanan-makanan lain. Harus makin bijak nih dalam memilih dan memilah jenis makanan yang akan kita konsumsi agar tidak menambah dampak buruk bagi keberlangsungan hidup bumi kita

    BalasHapus
  10. Ternyata ga baik ya menyisakan makanan. Meski kadang aku kasih buat pakan ayam. Ga nyangka bs menyebabkan emisi karbon gt ya. Hrs mulai skrg nih kita antisipasi biar bumi kita nggak marah dan menimbulkan bencana di sana sini.

    BalasHapus
  11. Buang makanan selain bikin miris, juga menyebabkan bertambahnya jejak karbon. Suka ngelus dada lho kalau lihat makanan jadi sampah 😢

    BalasHapus
  12. Sebetulnya banyak keuntungan dalam aksi mengurangi jejak karbon dari menu makanan lho
    Selain lebih hemat (protein hewani kan mahal), juga lebih sehat
    Karena organ pencernaan kita lebih mirip herbivora daripada carnivora

    BalasHapus
  13. Suka sedih kalau lihat orang makan enggak dihabiskan, selain mibadzir juga menyebabkan emisi karbon. Aku kalau di rumah suka ngomel kalau makan tidak dihabiskan, terus kalau jajan dan enggak habis ya aku bawa pulang. Di makan lagi di rumahm jangan sampai ada sampah makanan.

    BalasHapus
  14. banyak banget ternyata ya mba yang bisa kita lakukan untuk mengurangi karbon. Jangan sampe satu pun kita ngga bisa ikut bersumbangsih untuk bumi..

    BalasHapus
  15. Hadits Rosululloh ternyata mengajarkan kita banyak hal.
    Bukan hanya menghargai usaha para petani saat menanam dan melewati segala prosesnya, tapi juga menghabiskan dan bertanggungjawab dengan makanan yang kita makan adalah bagian dari gerakan kita untuk menjaga lingkungan tetap lestari.

    MashAllaa~

    BalasHapus
  16. Ternyata sampah makanan menjadi salah satu pemicu menyumbang jejak karbon yang cukup tinggi ya. Dan untuk mengurangi sampah makanan banyak cara yang bisa kita lakukan, mari semangat kita semua untuk mengurangi sampah makanan ya.

    BalasHapus
  17. Wah, ternyata produksi susu dan turunannya penyumbang emisi karbon terbesar ya? Padahal saya suka susu kemasan, tapi emang ngga setiap hari sih

    BalasHapus
  18. Wah pencinta daging gimna nih mbak... meski itu bukan aku. Tapi aku sedih oalahan susu masuk. Namun demi menjaga bumi maka harus siap nih mengurangi produk olahan yg disebutkan di atas.
    .terlihat sederhana tapi berdampak y mbak

    BalasHapus
  19. hmm .. salah satunya adalah sektor transportasi untuk mengundang emisi karbondioksida, yuk ... hindari penggunana kendaraan pribadi

    BalasHapus
  20. bisa banget kita mulai dari rumah turut serta mengurangi jejak karbon ya, minimal habisin makanan gitu. kalo anak gak abis ya, abisin sama emaknya. meski auto gemuk jadinya, hehehe

    BalasHapus
  21. Kalau daging memang jarang konsumsi, mau ayam atau sapi malah bosan. Tetapi, kalau susu suka stok. Apalagi ada si kecil di rumah. Padahal peternakan menyumbang jejak karbon yang cukup tinggi.

    BalasHapus
  22. Setuju banget kakak untuk menjaga bumi ini kita memang perlu mengurangi jejak karbon. Kebetulan banget aku tidak penyuka daging merah.

    BalasHapus
  23. Nah setuju dari makanan kita bisa mengurangi jejak karbon ya kak . Caranya memilih bahan pangan yang minim menghasilkan jejak karbon.

    BalasHapus
  24. Padahal hanya 1 kg sapi potong, tapi gak sangka emisinya 60x lipat. Ini memang perlu usaha bersama untuk menanggulangi jejak karbon ini

    BalasHapus
  25. Saya sudah berusaha mengurangi jejak karbon seperti yang dicontohkan di artikel ini, di antaranya ngurangin daging dan susu, duh.. belum semua. Semangat kita untuk mengubah pola konsumsi makanan untuk bantu kurangi jejak karbon agar bumi tetap lestari!

    BalasHapus
  26. Klo kayak gini jadi ingat makan di tempat hajatan, itu makanan banyak terbuang sia², Alhamdulillah klo di rumah saya mengajarkan anak² saya untuk makan dengan benar dan secukupnya untuk meminimalisir mubazir mbak.

    BalasHapus
  27. Salah satu makna dari kenapa kita harus makan secukupnya, dan tidak berlaku mubadzir. Ternyata makanan yang tidak dimanfaatkan bisa berdampak buruk.

    BalasHapus
  28. ternyata y, segitu pengaruhnya ya pola makanan kita sama kelestarian bumi. Jadi memang benar, makanlah secukupnya, biar gak mubadzir :)

    BalasHapus
  29. Wan saya baru tahu fakta klo jejak karbon dari proses makan ini tidak kalah besar dengan emisi yang dihasilkan bahan bakar fosil. Amazing ya. Kudu aware nih

    BalasHapus
  30. memang ya harus mulai dari diri sendiri. informasi kayak gini tuh bermanfaat banget supaya kita juga bisa jadi lebih aware lagi sama pola makan yang bisa berdampak juga sama kelestarian bumi

    BalasHapus
  31. sampah makanan memang tidak begitu terlihat tetapi juga sangat meresahkan karena bisa ditimbun tapi minim pengolahan. jadi yuk kita sama-sama mengurangi pembuangan sampah makanan....

    BalasHapus
  32. Kepikiran pengganti protein selain daging sapi, telur dan susu karena memang biasanya dari pelajaran terdahulu seperti itu ya... Dengan kajian gas metana yang dihasilkan, jadi perhatian khusus untuk mencari sumber nutrisi lain yang memiliki manfaat hampir sama dengan bahan makanan tersebut.

    BalasHapus
  33. Selama ini mikirnya makan, ya makan aja..ternyata salah satu sumber emisi yang menyumbang jejak karbon cukup tinggi berasal dari makanan yang kita konsumsi. Jadi kepikiran...duh, mesti makin bijak nih untuk bantu kurangi jejak karbon dari makanan

    BalasHapus
  34. Waduh, ternyata saya coffee lovers holix juga meninggalkan jejak karbon. Baru tahu saya ini mah... dan daging juga meninggalkan jejak karbon. Artikelnya sangat saya suka, nambah wawasan akan pentingnya aware dengan lingkungan agar tidak terjadi pemanasan global yang semakin parah.

    BalasHapus
  35. Ternyata dari kegiatan konsumsi atau makan kita pun berpotensi jadi jejak emisi ya Mba, beneran harus bijak demi menyayangi bumi. Tipsnya juga bermanfaat sekaligus jadi reminder ini..

    BalasHapus
  36. konsumsi makanan juga bisa memicu sumber emisi kabron, ya ... apalagi kopi hmm ... harus lebih bijak lagi untuk membantu mengurangi jejak karbon dari makanan

    BalasHapus
  37. Aku kyknya udah semua nih, kecuali mengompos hehe :P
    Eh sama ngurangin suus kami masih konsumsi. Kirain yang bikin banyak jejak karbon kalau pas pemotongan dagig sapi bae. Ya jarang beli jg karena mihil #eh haha :p
    Kok baru tau ada aplikasi manajemen food waste, ini namanya apa? Jd pengen install juga nih.

    BalasHapus
  38. Gak nyangka ih kalau daging sapi potong memiliki jejak karbon tertinggi. Tinggi sekali prosentasinya. Kebayang jika banyak resto dengan bahan utama daging sapi memberikan limbah sisa makanan yang banyak dan tidak dihabiskan.

    BalasHapus
  39. Semenjak ikut food combining, kerasa banget diet karbonnya
    Karena pelaku FC kan gak boleh makan karbo bareng daging
    Sementara orang Indonesia belum makan kalo gak makan nasi :D

    BalasHapus
  40. Mengusahakan sebaik mungkin untuk kurangi jejak karbon yang kita tinggalkan setiap hari.
    Aku awalnya mikir jejak karbon ini hanya pada bangunan, tapi ternyata seluruh lini kehidupan manusia bisa sangat berpotensi ya..

    BalasHapus
  41. Baru langkah awal saja udha PR banget 🥲 gimana ya kadang naluri Buibu tuh, asal makanan udah semepak semua udah deh hati tenang. Tapi ya kadang adaaa aja yang sisa 🥹

    BalasHapus
  42. kalau aku baru mengurangi sampah makanan, belajar masak dengan efisien sama ngurangi kemasan sekali pakai sih yang lagi coba diistiqomahin bareng TUFI ini

    BalasHapus
  43. Kadang belanja bahan makanan tuh bisa laper mata banget, terus ujung-ujungnya gak kemasak malah membusuk di kulkas. Sekarang akhirnya mulai mikir-mikir kalau belanja. Jadi yang sekiranya gak terlalu suka gak dibeli deh.

    BalasHapus
  44. Dari makanan yg kita makan ternyata oh ternyata, bisa jadi penyumbang emisi gas rumah kaca. Bener banget kata Rasulullah ya, habiskan makananmu, krn berlebih-lebihan itu temannya syetan = keburukan

    BalasHapus
  45. aku berencana bikin sampah di ember gitu tapi belum kelakon terus kak, masih repot dengan bayi bukan alasan ya hehehe tapi karena lagi aktip-aktipnya brangkang dan jalan. Tapi menerapkan yang sederhana lain sudah dilakukan allhamdulillah

    BalasHapus
  46. Memulai langkah awal untuk mengurangi jejak karbon pada aktivitas manusia ini tentunya gak mudah. Tapi dari mulai hal kecil seperti menghabiskan makanan yang ada di piring kita setiap hari, lalu mengurangi bahan makanan yang disebutkan Dian di atas.

    BalasHapus
  47. Huuuu, ternyata kopi Sama coklat termasuk golongan makanan dengan jejak karbonn tinggi yaa, aku suka :(, harus mengurangi Dan habiskan yaa Kalo makan Dan minum apa pun, jangan nyampah Dan menyia-nyiakan jejak karbon yang udh terpakai

    BalasHapus
  48. Jejak karbon (carbon footprint) adalah ukuran dampak aktivitas manusia yang dinyatakan dalam jumlah emisi gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer.
    visit Tel-U

    BalasHapus