Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Peran Keluarga dalam Meningkatkan Derajat Literasi di Indonesia

 


Peran Keluarga dalam Meningkatkan Derajat Literasi di Indonesia


Apa kenangan masa kecil yang masih teman-teman ingat hingga kini? Kenangan yang paling membekas sehingga bisa menjadi inspirasi hingga saat ini? 


Kalau saya, adalah momen dimana almarhum papa senantiasa membacakan saya buku setiap malam. Saya baru akan tidur setelah mendengar cerita dari buku yang dibaca papa. 


Tak hanya rutin membacakan saya buku, saat saya sudah bisa membaca, papa juga sering membelikan saya buku. Mulai dari buku cerita, komik, hingga majalah. 


Uniknya, papa akan membelikan majalah sesuai tahapan usia saya. Saat masih kecil, papa selalu membelikan saya majalah Bobo, Mentari Putera Harapan, hingga komik Doraemon ataupun Donald Bebek. Kemudian, saat memasuki usia remaja, papa menggantinya dengan majalah remaja. Majalah Kawanku, Gadis, dan Aneka Yess menemani masa-masa remaja saya. Bahkan, saat saya menjadi mahasiswi, papa tetap setia membelikan majalah. Tempo dan Intisari menjadi majalah yang sering saya baca saat kuliah. Mungkin, jika papa masih ada saat saya sudah berkeluarga, saya akan dibelikan beragan majalah. 


Apa yang papa lakukan itu sangat membekas. Saya tumbuh menjadi pribadi yang suka membaca. Membaca menjadi hobi bagi saya. 


Ini yang akhirnya menjadi inspirasi saya saat menjadi orang tua. Saya ingin anak saya juga cinta membaca. Maka, saya pun akan melakukan seperti apa yang papa lakukan pada saya. Kecintaan saya pada membaca, telah disemai dan dipupuk oleh papa sedari kecil. 


Pendidikan literasi yang papa lakukan inilah yang akan saya lakukan juga kepada anak-anak saya. Sebab, di era kini kemampuan literasi semakin penting untuk dimiliki. 


Rendahnya Derajat Literasi di Indonesia


Literasi berasal dari bahasa latin, literatus. Artinya adalah orang yang belajar. Banyak sekali definisi literasi. Semuanya mengerucut pada satu kesimpulan, bahwa literasi tidak terlepas dari kemampuan dasar berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis.


Kemampuan literasi ini sangat penting. Orang yang memiliki kemampuan literasi akan mampu menghargai, mengkritisi, dan menggunakan informasi yang dimilikinya secara bijak. 


Kemampuan literasi ini juga menentukan kemajuan sebuah bangsa. Lihat saja, negara-negara maju itu, kemampuan literasi mereka juga tinggi. 


Derajat literasi


Lantas, bagaimana derajat literasi di Indonesia? Bila berbicara tentang derajat literasi di Indonesia, kondisinya bisa dibilang sangat memprihatinkan. 


Mengutip laporan riset Central Connecticut State University di 2016, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dengan tingkat literasi rendah. Sedangkan data statistik dari The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menyatakan minat baca masyarakat Indonesia, sangatlah memprihatinkan yaitu hanya 0,001%.  

Hal itu menjadikan hanya ada satu orang Indonesia yang rajin membaca dari 1.000 orang di negeri ini. 


Selanjutnya, dari data penelitian yang digelar United Nations Development Programme (UNDP), indeks pembangunan manusia (IPM) di tingkat pendidikan yang ada di Indonesia tergolong masih rendah, yaitu 14,6%. Jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia yang memiliki persentase hingga 28%. 


Berdasarkan hasil asesmen nasional (AN) 2021 menunjukkan Indonesia mengalami darurat literasi. Sebab, 1 dari 2 peserta didik belum mencapai kompetensi minimum literasi. 

Hasil AN 2021 konsisten dengan hasil PISA 20 tahun terakhir, yang menunjukkan skor literasi membaca peserta didik di Indonesia masih rendah dan belum berubah secara signifikan di bawah rata-rata peserta didik di negara OECD. 


Tentunya kondisi ini tidak bisa dianggap remeh. Pastinya, kita ingin anak-anak Indonesia memiliki kemampuan literasi yang baik. 


Disinilah dibutuhkan peran keluarga. Keluarga memiliki peran penting dalam meningkatkan derajat literasi. Bagaimana anak-anak memiliki kemampuan literasi yang baik, bergantung dari bagaimana orang tua memberikan pendidikan literasi di rumah. Setidaknya, inilah pengalaman yang saya rasakan, seperti yang sudah saya ceritakan di awal artikel. 


Pentingnya Peran Keluarga dalam Meningkatkan Derajat Literasi


Secara sosiologis, keluarga adalah agen sosialisasi primer. Keluarga sebagai pihak yang pertama kali menanamkan nilai dan norma pada anak. Dari keluarga, anak belajar bagaimana cara menjadi anggota masyarakat yang baik. 


Keluarga adalah lingkungan utama dalam memberikan rasa aman baik fisik maupun psikis, kasih sayang, model perilaku yang baik untuk anak hidup dalam masyarakat, serta memberikan bimbingan dalam belajar, untuk mengoptimalisasi pengembangan inspirasi dan prestasi anak. 


Keberadaan orang tua dalam keluarga adalah sumber teladan bagi anak. Apa yang diucapkan dan dilakukan oleh orang tua bisa dengan mudah ditiru oleh anak, begitu juga dalam kegiatan literasi. Bila membaca dan menulis menjadi hal yang sering dilakukan oleh orang tua, maka dengan sendirinya anak pun akan terbiasa. 


Saat masih kecil dulu, saya sering melihat papa membaca koran setiap hari. Keluarga kami berlangganan koran. Tak hanya koran papa juga sering membaca majalah, mulai dari majalah Intisari, Tempo, Gatra, dan buku-buku bertema hukum dan politik. 


Papa pun sering mengirimkan tulisan ke koran ataupun majalah. Saya merasa bangga saat bisa membaca tulisannya ada di kolom sebuah surat kabar maupun majalah. 


Siapa sangka, apa yang papa lakukan akhirnya saya lakukan juga. Saya jadi suka membaca. Dan kini saya pun berprofesi sebagai blogger dan menulis buku. 


Pengalaman saya ini juga sudah banyak dibuktikan secara ilmiah. Sudah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa, derajat literasi orang tua berpengaruh terhadap derajat literasi anak-anaknya. 


Tips meningkatkan derajat literasi


Penelitian dari Fitgerald, Speigel, dan Cunnningham (1991), menyebutkan adanya hubungan positif  antara tataran literasi orang tua dan tingkat apresiasi mereka terhadap lingkungan literasi. Semakin tinggi tataran literasi, semakin tinggi komitmen mereka untuk menciptakan lingkungan literat bagi anak-anak mereka. 


Anak yang terbiasa dengan budaya literasi (menulis dan membaca) dalam keluarga maka ia akan membawa kebiasaan tersebut kapan pun, sebab ada keluarga yang menjadi suri teladan. Keluarga merupakan tempat yang terbaik untuk menumbuhkan budaya literasi. Hal ini karena situasi dalam keluarga yang nyaman, aman, hangat, serta penuh cinta bisa memicu tumbuhnya budaya literasi dalam diri anak dengan subur dan cepat. 


Langkah Orang Tua dalam Meningkatkan Derajat Literasi 


Lantas, langkah apa yang bisa orang tua lakukan dalam meningkatkan derajat literasi anak? 


Keteladanan


Langkah pertama yang harus orang tua lakukan untuk meningkatkan derajat literasi anak adalah menjadi contoh. Anak-anak adalah peniru ulung. Apa yang sering mereka lihat, itulah yang akan dilakukan. 


Peran Keluarga dalam Meningkatkan Derajat Literasi di Indonesia


Tunjukkan pada anak, bahwa orang tua juga suka membaca. Tunjukkan bahwa, di sela-sela kesibukan, orang tua tetap menyempatkan waktu untuk membaca. 


Saya dan suami berkomitmen, bahwa kami berdua harus memiliki waktu membaca setiap hari. Setiap hari, kami menyediakan waktu 15 menit sehari untuk membaca buku. 


Home Library


Pemberian fasilitas juga penting dalam meningkatkan derajat literasi anak. Bagaimana anak-anak bisa suka membaca, jika tak ada buku di rumah? 



Home library



Di rumah kami, ada home library. Ada beberapa rak buku di rumah. Beragam buku anak tersedia. Anak-anak bisa membaca buku sesuai jenjang usianya. 


Baca Juga : Perjenjangan Buku, Salah Satu Tips Memilih Buku yang Tepat untuk Anak


Tak hanya buku anak-anak, tentu di rumah kami juga ada buku-buku untuk usia dewasa. Buku-buku yang biasa saya dan suami baca. 


Bedtime Stories


Setiap malam, menjelang tidur, anak-anak akan dibacakan buku. Mereka memilih sendiri bukunya, lalu kami membacakan nya. Kebiasaan ini sudah kami mulai sejak anak-anak masih bayi. 


Kini, meskipun mereka berdua sudah bisa membaca sendiri, mereka tetap ingin dibacakan buku sebelum tidur. Bahkan si sulung yang menginjak usia remaja, masih ingin dibacakan buku sebelum tidur. 


Ayah membacakan buku


Biasanya, setelah dibacakan buku, kami meminta anak-anak untuk menceritakan kembali isi buku. Kami ingin mendengar perasaan serta pendapat anak tentang cerita yang baru didengarnya. 



Melalui bedtime stories ini, kami ingin anak-anak memiliki kemampuan menceritakan kembali bacaan, yang juga menjadi salah satu indikator penting dalam meningkatkan derajat literasi. 


Pohon Literasi


Di rumah kami, ada pohon literasi. Pohon literasi ini membantu kami untuk terus konsisten membaca. 


Pohon literasi


Kami membuat pohon literasi ini secara bersama-sama. Pohon literasi kami gambar diatas kertas karton. Lalu daun-daunnya dari kertas post it. Setiap orang di rumah akan memiliki daunnya sendiri. Setiap daun akan ditulis dengan judul buku yang dibaca setiap harinya. 


Bila semakin rimbun dan beragam daunnya, tandanya setiap orang di rumah sudah rutin membaca. 



Teras Baca


Gemar membaca adalah kebiasaan baik yang harus ditularkan. Kami pun membuka Teras Baca di rumah. Teras Baca ini kami buka setiap minggu sekali. 


Teras baca


Di hari Minggu, kami memberikan kesempatan kepada anak-anak di sekitar rumah untuk membaca buku-buku dari Home Library kami. 


Tak hanya membaca buku, kadang Teras Baca kami juga melakukan kegiatan Read Aloud dan eksperimen sains sederhana. 


Wisata Literasi


Anak-anak senang jalan-jalan. Kami pun melakukan wisata literasi. Wisata literasi artinya mengisi waktu berlibur dengan membaca dan menulis. Kegiatan membaca di sini dapat diartikan membaca buku, jurnal, majalah, surat kabar, atau juga dapat diartikan pergi ke suatu tempat untuk mencari informasi, berkunjung ke toko buku, museum, cagar budaya dan sebagainya.


Perpustakaan keliling


Sesekali kami sekeluarga berkunjung ke toko buku, perpustakaan kota, membaca di perpustakaan keliling yang ada di taman kota, hingga berkunjung ke museum ataupun candi. 


Perpustakaan kota


Baca Juga : Asyiknya Liburan ke Perpustakaan Balai Pemuda Surabaya



Candi Tikus


Wisata literasi ini membuat kegiatan literat terasa lebih seru dan menyenangkan. 


Toko buku


Penutup


Meningkatkan derajat literasi itu penting. Tak hanya untuk kehidupan sehari-hari, tetapi juga berdampak pada kemajuan bangsa. Bangsa dengan derajat literasi yang tinggi, tentu menjadi bangsa yang maju. 


Meningkatkan derajat literasi bisa dimulai dari rumah. Keluarga memiliki peran penting dalam meningkatkan derajat literasi anak. 


Demikian cerita kami dalam meningkatkan derajat literasi anak. Semoga cerita ini bisa memberikan inspirasi bagi teman-teman semua untuk tetap semangat meningkatkan derajat literasi anak. 


Bila teman-teman punya cara lain dalam meningkatkan derajat literasi, boleh lho dibagikan di kolom komentar. 


Terima kasih. 







13 komentar

  1. keren sekali papanya Mbak Dee. Dari kecil sudah dibelikan buku, terus sesuai usianya. Dan memang membaca itu sangat banyak manfaatnya ya, Mbak. Jadi memang peran orang tua sangat penting agar anak-anak gemar membaca.

    BalasHapus
  2. Semoga kalau saya sudah berkeluarga saya bisa seperti Mbak Dee dan suami ya. Yang sangat konsen dalam memfasilitasi literasi anak, mulai dari membelikan buku, menemani membaca juga. Karena memang, keluarga adalah kunci utama dalam membangun kecintaan anak terhadap literasi.

    BalasHapus
  3. Sepakat mbak, keluarga punya peran penting untuk meningkatkan derajat literasi anak. Tidak perlu mengegas mereka bisa baca yang terpenting mereka suka baca dulu ya

    BalasHapus
  4. pengenalan literasi ini kalau sejak dini bisa jadi kebiasaan baik buat si anak saat dewasanya ya,
    dan keluarga punya dukungan kuat untuk hal tersebut ya

    BalasHapus
  5. Ketetarikan membaca berawal dari ortu juga karena sering lihat ortu baca koran dan sering dibeliin majalah bobo. Wista literasi seringnya ke museum nih, jadi apa yg ada di buku sejarah, bisa dilihat secara langsung dan sekaligus bisa belajar banyak hal di museum

    BalasHapus
  6. Budaya membaca harus diajarkan kepada anak anak kita sejak kecil, aku yang mengalami pergeseran jaman juga ngerasain sekarang hampir semua lebih memiliki ke audio visual daripada membaca buku. Salah satu fakto penentu adalah keluarga.

    BalasHapus
  7. Nah itu, keteladanan menjadi poin penting menebarkan literasi ke anak-anak memang mbak. Lebih banyak anak suka baca, bermula karena ortu yang suka baca

    BalasHapus
  8. Aaahh bener banget mbaa, si anak itu peniru ulung. Kalo ortunya suka baca, suka nulis, suka bercerita, insyaAllaah anak akan mengikuti, kemampuan literasinya pun meningkat dgn sendirinya. Apalgi kalo diarahkan, wah akan jelas keliatan bedanya

    BalasHapus
  9. Dulu memang rendah, sekarang minat baca orang Indonesia udah meningkat kok mbak. Sudah banyak yang sadar literasi. Apalagi orang tua yang ngasih contoh yang baik untuk anaknya. Memang keluarga yang perannya paling besar untuk menumbuhkan minat baca. Anak kan ngikut kebiasaan orang tuanya ya. Jadi kita nih yang harus bisa ngasih contoh positif ke anak

    BalasHapus
  10. Aku dulu waktu kecil nggak pernah dibacain buku kak. Kalo tidur ya tidur aja, wkwk.. Tapi sekarang aku mau bikin anakku cinta literasi sejak dini, supaya membuka
    wawasannya.

    BalasHapus
  11. menumbuhkan jiwa literasi sejak dini untuk anak sangat dibutuhkan peran orang tua yang juga gemar membaca. lambat laun si kecil jadi gemar membaca juga

    BalasHapus
  12. Sedih sekali karena toko buku fisik mulai tutup satu per-satu.
    Semoga meskipun kini gaya membaca sudah beralih ke e-book, atau versi digital, anak-anak tetap bersemangat membaca.

    BalasHapus
  13. Banyak kiat yang bisa dilakukan dalam meningkatkan literasi bagi keluarga di rumah ya kak. Tapi sayangnya aku tinggal di desa nggak banyak yang bisa aku lakuin bagi anak selain dari membelinya buku dan mengajaknya membaca bersamašŸ˜Š

    BalasHapus