Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Istri Ikut Perjalanan Dinas, Yay or No?

 


Istri Ikut Perjalanan Dinas, Yay or No?




“Selamat datang pak arif bersama istri

Karena bukan hari kerja, wajib diawasi ya klo dinas luar”



Hiya,, sambutan ketua panitianya gitu banget. Sontak saja seisi ruangan tertawa. Saya cuma bisa meringis karena malu di pojokan. 


Ya, kemarin saya ikut suami melakukan dinas luarnya, ya bisa dibilang perjalanan dinas. Suami memenuhi undangan dari salah satu serikat buruh di kota Pasuruan. Maklum, suami bekerja sebagai mediator hubungan industrial, jadi gaulnya ya sama serikat buruh dan manajemen perusahaan. 


Balik lagi soal perkataan ketua panitia di atas, hmm memangnya kenapa ya kalau istri ikut suami saat melakukan perjalanan dinas? 


Bolehkah Istri Ikut Perjalanan Dinas? 


Sik, sebelum emosi tak jelasin dulu ya. Perjalanan dinas suamiku ini bukan macam perjalanan dinas pejabat atau anggota dewan yang ke luar negeri plus belanja-belanjj ya. Ini perjalanan dinas lokal, menggunakan mobil pribadi sendiri. Tidak ada anggaran negara yang dilibatkan di sini. 


Kalau suami jadi narasumber di sebuah acara, sudah pasti ada honor yang diterima. Itu sah, halal, dan diatur oleh Undang-undang. Nah, kalau saya ikut, nggak ada tuh anggaran panitia jadi membengkak karena kehadiran saya. 


Biasanya, saya melipir ke cafe disekitar acara suami. Jajan dengan uang sendiri. Cuma, berhubung kemarin itu di desa yang jauh dari cafe, ya akhirnya saya pun ikut masuk. Itu saja, bawa bekal minum sendiri. 


Baca Juga : Bertengkar di Depan Anak Tak Selalu Berdampak Buruk. Ada Sisi Baik yang Bisa Dipelajari Oleh Anak


Jadi, tidak merugikan panitia, sih! Tapi bagaimana sebenarnya dalam Undang-undang? Apakah istri boleh ikut perjalanan dinas? 


Kalau menurut, Wakil Ketua Komisi Keuangan dan Perbankan DPR Harry Azhar Azis, selama ini tidak ada standar seberapa besar perjalanan dinas lembaga negara dan kementerian negara. Standar itu, kata dia mencakup aturan boleh tidaknya membawa isteri saat melakukan perjalanan dinas. 


Nah, tapi ya hidup kan nggak soal Undang-undang. Ada juga standar etika yang tidak tertulis.


Selama ini jika saya ikut suami, itu hanya berlaku jika dia diundang sebagai narasumber. Menggunakan mobil pribadi, tidak ada biaya tiket transportasi yang membebani panitia. Mobil diisi satu atau lima orang bensinnya tetap sama. 


Pun, jika harus menginap dan mendapat satu kamar sendiri, barulah saya ikut. Kamar hotel kan memang buat dua orang toh? 


Keikutsertaan saya tidak membebani. Tidak menambah biaya sebuah acara. Clear! Bukan penyalahgunaan kekuasaan ini. Hahaha.


Tapi kalau keikutsertaan saya menambah anggaran, diluar rencana dan menggunakan uang negara, ini baru tidak patut. Apalagi kalau saya belanja pakai uang kantor suami, oh jelas tidak mungkin! 


Pertama, suami nggak sekuasa itu untuk pakai uang negara seenak udelnya. Kedua, anggaran kantornya nggak seberlimpah itu. Dan, yang utama saya nggak sekorup itu, kok! 


Aku sadar posisi… 


Kenapa Istri Ikut Suami Saat Perjalanan Dinas


Lalu, kenapa harus ikut saat perjalanan dinas? Ya, kenapa nggak! Hahahaha. 


Gini lho, saya ikut bukan karena pengen ngintil terus sama suami. Bukan takut suami macam-macam saat perjalanan dinas, bukan. 


Saat suami harus perjalanan dinas, apalagi menggunakan mobil pribadi, saya memainkan banyak peran, lho. 


Pertama, jelas saya bertugas bacain maps. Ya, meski kadang berantem karena salah arah, tetap saja saya berjasa dalam navigasi perjalanan suami. 


Kedua, jadi teman ngobrol. Biar suami nggak ngantuk saat menyetir. Juga biar suami tetap nyetir hati-hati. Karena ada saya yang selalu jadi rem hatinya, eh perjalanannya. 


Ketiga, pastinya saya yang ingetin dan kasih minum selama perjalanan. Biar nggak dehidrasi, ya kan? 


Keempat, jadi ATM berjalan. Ya siapa lagi yang bagian ngeluarin duit buat beli bensin or bayar parkir kalau nggak saya? Kan semua duitnya ada di saya! Hahahaha. 


Kelima, bisa buat quality time berdua. Melakukan perjalanan berdua bisa jadi waktu kebersamaan yang intim buat suami istri. Ya, menepi sejenak dari tugas sebagai ayah bunda, lah. Anggap saja lagi pacaran. Apalagi, biasanya habis dinas selesai, kami biasanya langsung wisata kulineran atau sekadar menikmati secangkir kopi. Santai sejenak, sebelum kembali pulang. 


Baca Juga : Orang Tua Bermesraan di Depan Anak, Yay or Nay?


Keenam, ya nggak bisa dipungkiri sih, buat menangkal hal-hal negatif juga sih. Selama ini perjalanan dinas dijadikan alasan hingga alibi untuk melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Mulai dari ketemuan sama selingkuhan atau malah pesen cewek open BO. Duh, naudzubillah ya! InsyaAllah suami nggak sebrengsek itu, sih. Cuma, keikutsertaan saya bisa jadi warning buat perempuan-perempuan yang gatel dan pengen godain suami orang! Hahaha, sok kepedean suaminya digodain ya.. 


Istri Ikut Perjalanan Dinas, Yay or No?


Jadi, istri ikut perjalanan dinas itu yay or no sih? Yay lah! Selama tidak melanggar aturan dan tidak merugikan negara. 


Ikut saja, apalagi kalau suamimu punya potensi digoda perempuan lain dan balas menggoda. #ehh.


Ikut saja, apalagi kalau suami yang ajak. Kalau nggak diajak? Ya, paksa biar diajak!! Hahahaha. 



11 komentar

  1. Aku... Suka ikut perjalan dinas. Wong tiket bayar sendiri juga, makan pakai uang sendiri. Yang pakai anggaran kantor hanya suami dong. Jadi halal lah ya.

    BalasHapus
  2. Wah... Sayang suamiku ngak pernah Dinas jadi ngga bisa ikut ikutan seperti ini

    BalasHapus
  3. kalau aku malah suamiku yang pernah ikut aku buat perjadin mbak soalnya waktu itu anakku masih asi dan nggak bisa ditinggal. tapi ya semua biaya suami ya kutanggung dan dipotong dari uang perjadinku

    BalasHapus
  4. Hahahaha, bukan ngintilin sih ya lebih tepatnya, tapi jalan-jalan terselubung. Perjalanan dari rumah ke tujuan itu yg menyenangkan, apalagi kalau lokasi dinasnya di luar kota. Jangan sampai skip tuh kalau memungkinkan 😆

    BalasHapus
  5. Bener lah semua alasannya. Memang harus gitu ya sebenarnya, meskipun seolah-olah ada cibiran. Ya kita tahu maksud panitia ngomongnya cuma buat bercanda, tapi candaan itu berasa gak lucu sih di telingaku.

    BalasHapus
  6. Setuju mak, ngak ada salahnya sih istri ikut perjalanan dinas suami tentunya dengan syarat dan ketentuan berlaku. Yang jelas kita harus bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, tidak mencampur adukkan belanja pribadi dan belanja dinas.

    BalasHapus
  7. Selama tidak melanggar aturan dan tidak merugikan negara istri ikut perjalanan dinas itu yay...
    Bahkan di kantor suami, kalau sudah jajaran direksi hampir selalu ajak istri kalau perjalanan dinas. Bukan apa-apa, kalau enggak gitu kapan ketemu. Secara mereka hampir tiap minggu ada perginya. Terus kalau di tempat itu ada yang lain yang nemenin gimana coba, ga bahaya ta..
    Saya sendiri jarang ikut karena masih bertugas antar jemput sekolah si bungsu. Ntar 3 tahun lagi anak-anak semua dah keluar rumah buat kuliah, saya pasti bakal ikut suami dinas mulu tuhhh hehe

    BalasHapus
  8. Aku juga ngintilan kok.
    Apalagi kalo dapet fasilitas nginep di hotel bintang kejora.. wikiikkii.. asa sayang ya kan.. uda dibayar buat 2 orang, eh.. cuma satu.

    Lagian istri iniii...
    Janji ga ngrepotin deh.. aku diyam dan bawa mainan sendiri ((laptop)) wkwkkw...

    BalasHapus
  9. Zaman suami kerja di sebuah perusahaan, engga ngebolehin aku ikut. Jadi cuma denger cerita & foto-fotonya aja ke tempat asik. Lagian waktu itu masih staf, bukan jajaran direksi. Kayak gimana gitu kan, bikin kagok...haha. Hotel kan bareng-bareng sama staf lain.
    Sekarang sih, karena jadi dosen, ya aku ikuuut lah, kalau seminar, jadi penguji, atau narsum. Aku bayar ndiri dong tiket. Hotel ya nebeng lah. Kalau suami kerja, aku jalan-jalan aja keliling kota, ke museum, ketemu blogger di kota tersebut, dll.
    Jadi Yay or Nay, ya tergantung situasi sih.

    BalasHapus
  10. Kalo aku sih Yay dengan catatan seperti yang sudah mba Dian tulis. Kalo itu dibiayain instansi ya berarti akunya ikut bayar sendiri.

    BalasHapus
  11. Kalau aku sih Yes
    Selama tidak mengganggu dan tidak korupsi sama biaya perjalanan
    Kalau memang cuma ditanggung suami saja maka istri harus pikirkan biayanya juga
    Anak anak juga menjadi salah satu alasan untuk berkata Yes karena mereka butuh pengalaman perjalanan

    BalasHapus