Halo, teman deestories!
Apa kabar? Semoga baik-baik saja, ya!
Duh, lama banget nggak nulis blog, nih! Maklum, sok sibuk, hehe.
Tapi hari ini saya mau cerita tentang hal yang mungkin related, sama kehidupan sehari-hari, khususnya buat perempuan.
Teman deestories pernah nggak terdiam setelah mengirim pesan, lalu beberapa menit kemudian mulai gelisah?
“Kenapa belum dibalas ya?”
“Aku salah ngomong nggak tadi?”
“Jangan-jangan dia tersinggung…”
Padahal, dari luar terlihat biasa saja. Tapi di dalam kepala, percakapan itu diputar ulang berkali-kali. Ditambah berbagai kemungkinan yang bahkan belum tentu terjadi.
Terus kita menceritakan apa yang kita rasakan ke orang yang ada dekat, bukan dapat dukungan, malah dapat respon:
“Ah, lebay banget sih.”
Padahal, yang disebut lebay… sebenarnya adalah pikiran yang tak pernah diberi jeda. Itu yang disebut overthinking.
Overthinking, Bukan Sekadar Kebiasaan Berpikir Berlebihan
Overthinking sering disalahpahami sebagai kebiasaan “terlalu banyak mikir”. Padahal, lebih dari itu.
Overthinking adalah kondisi ketika seseorang:
Memikirkan hal yang sama berulang-ulang
Sulit berhenti meski tahu itu melelahkan
Cenderung membayangkan skenario terburuk
Ini bukan soal kurang logis. Justru sering kali, orang yang overthinking adalah mereka yang terbiasa menganalisis, hanya saja, tanpa tombol “pause”.
Kenapa Perempuan Lebih Rentan Overthinking? Ini Penjelasannya
Kenapa ya perempuan lebih rentan overthinking?
Banyak yang mengira ini soal kepribadian. Tapi ternyata, ada penjelasan ilmiahnya.
1. Cara Kerja Otak yang Lebih Reflektif
Secara umum, perempuan cenderung lebih kuat dalam memproses emosi dan relasi. Mereka tidak hanya mendengar kata-kata, tapi juga membaca makna di baliknya.
Satu kalimat sederhana bisa berkembang jadi berbagai interpretasi:
“Dia jawabnya singkat, kenapa ya?”
“Nada bicaranya beda…”
Bukan karena mereka mencari masalah, tapi karena otaknya terbiasa menghubungkan banyak hal sekaligus.
2. Pengaruh Hormon terhadap Emosi
Fluktuasi hormon dalam tubuh perempuan juga berperan dalam mengatur suasana hati dan tingkat kecemasan.
Baca Juga : Review Buku Mindfulness for Mom, Panduan Berlatih Kesadaran Bagi Para Ibu
Ada momen di mana perasaan jadi lebih sensitif, lebih peka, dan… lebih mudah memikirkan hal secara mendalam.
Ini bukan drama. Ini biologis.
3. Tingkat Empati yang Lebih Tinggi
Perempuan sering kali memikirkan bukan hanya dirinya sendiri, tapi juga orang lain:
“Dia tersinggung nggak ya?”
“Aku terlalu kasar nggak ya?”
Empati yang tinggi ini membuat mereka lebih berhati-hati. Tapi di sisi lain, juga membuka pintu untuk overthinking.
Bukan Cuma Otak, Lingkungan Juga Punya Andil
Kondisi perempuan yang sering overthinking ini, sebenarnya nggak cuma karena kondisi otaknya saja. Tetapi ada juga pengaruh dari lingkungan, lho.
Sejak kecil lingkungan perempuan sudah dibentuk untuk:
Menjaga perasaan orang lain
Bersikap “baik”
Tidak membuat masalah
Belum lagi saat dewasa, tuntutan bertambah:
Harus jadi ibu yang sabar
Istri yang pengertian
Pekerja yang profesional
Semua peran itu datang dengan satu tekanan besar:
“Jangan sampai salah.”
Akhirnya, setiap keputusan dipikirkan berkali-kali. Setiap kata ditimbang ulang. Bukan karena tidak percaya diri, tapi karena takut dinilai.
Overthinking Itu Bukan Lebay, Tapi Bentuk Bertahan
Sebelum melabel perempuan lebay, mari kita lihat dari sudut yang berbeda.
Bagaimana kalau overthinking bukan kelemahan… tapi cara otak melindungi diri?
Dengan memikirkan berbagai kemungkinan, seseorang sebenarnya sedang berusaha:
Menghindari kesalahan
Mencegah rasa sakit
Mengontrol situasi yang tidak pasti
Masalahnya, otak tidak tahu kapan harus berhenti.
Baca Juga : Buku Pulih, Kisah Inspiratif Perjalanan 25 Perempuan Bangkit dari Masalah Kesehatan Mental
Dan di titik itulah, overthinking berubah dari “perlindungan” menjadi “beban”.
Perempuan tidak terlalu banyak berpikir. Mereka hanya terlalu sering harus memahami hal yang tidak pernah dijelaskan.
Ketika Overthinking Mulai Melelahkan
Overthinking ini nggak boleh dianggap remeh, lho. Kalau terus dibiarkan, overthinking bisa:
Menguras energi mental
Memicu kecemasan berlebih
Membuat sulit mengambil keputusan
Bahkan merusak hubungan
Yang awalnya hanya “kepikiran”, lama-lama bisa jadi “kepikiran terus”.
Lalu, Harus Bagaimana?
Menghilangkan overthinking sepenuhnya mungkin tidak realistis. Tapi mengelolanya? Sangat mungkin.
Beberapa hal sederhana yang bisa dicoba:
Tulis isi pikiranmu
Kadang, yang membuat penuh bukan masalahnya, tapi karena semuanya menumpuk di kepala.Bedakan fakta dan asumsi
Tidak semua yang kita pikirkan itu nyata.Batasi “bagaimana kalau”
Tidak semua kemungkinan harus dipikirkan.Belajar hadir di saat ini
Tidak semua hal perlu dianalisis. Beberapa cukup dirasakan.Lebih lembut pada diri sendiri
Tidak harus selalu benar. Tidak harus selalu sempurna.
Kamu Tidak Sendirian
Mungkin, perempuan tidak perlu berhenti overthinking sepenuhnya.
Mereka hanya perlu dipahami.
Diberi ruang untuk bernapas.
Dan diyakinkan bahwa tidak semua hal harus mereka tanggung sendiri.
Karena di balik pikiran yang ramai, ada hati yang hanya ingin merasa aman.
Baca Juga : Manfaat Menulis untuk Kesehatan Mental Perempuan
Sekian ya cerita tentang overthinking yang sering dialami oleh perempuan. Kalau mau tahu cerita tentang perempuan lainnya, boleh baca di postingan lama ya. Atau bisa juga ke blog tehokti. Teman blogger dari Jawa Barat yang sering menulis cerita tentang perempuan baik di blog maupun di akun instagram indungbageur.
Tidak ada komentar
Posting Komentar