Dua tahun lalu, isi kulkasku mungkin tidak jauh berbeda dengan kebanyakan rumah tangga lainnya. Ada stok camilan, minuman manis, makanan beku, dan buah yang kadang terlupakan hingga akhirnya membusuk di sudut rak.
Hari ini, pemandangannya sangat berbeda.
Rak kulkas lebih sering dipenuhi potongan mangga matang, apel yang sudah diiris, buah naga, stroberi, tomat ceri, telur rebus, hingga kotak-kotak salad yang siap disantap. Sesekali ada ayam panggang yang sudah dimarinasi atau overnight oats yang menunggu pagi tiba.
Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.
Butuh dua tahun bagi saya untuk benar-benar menjalani pola makan yang lebih sehat. Bukan karena sedang mengejar bentuk tubuh tertentu, tetapi karena saya ingin tubuh terasa lebih bertenaga, tidur lebih nyenyak, dan memiliki energi yang cukup untuk menjalani berbagai peran sebagai ibu, blogger, sekaligus perempuan yang terus belajar merawat diri.
Yang tidak saya duga, perubahan itu ternyata tidak hanya mengubah saya.
Ia juga perlahan mengubah kebiasaan makan anak saya.
Perubahan Dimulai dari Hal-Hal Kecil
Saya tidak pernah membuat aturan ketat di rumah.
Tidak ada larangan makan mie instan selamanya.
Tidak ada daftar makanan yang "haram" disentuh.
Tidak ada ceramah panjang tentang bahaya gula setiap kali anak meminta camilan.
Yang saya ubah justru lingkungan di rumah.
Saya mulai rutin berbelanja buah setiap minggu.
Sesampainya di rumah, buah langsung dicuci dan dipotong. Mangga disimpan dalam wadah kedap udara. Apel diiris agar mudah diambil. Tomat ceri dicuci bersih. Stroberi dipilih satu per satu sebelum masuk kulkas.
Begitu juga dengan sumber protein.
Saya merebus beberapa butir telur sekaligus agar selalu tersedia saat lapar datang. Kadang saya menyiapkan salad ayam panggang atau salad telur yang tinggal diambil tanpa perlu memasak lagi.
Semuanya dibuat sesederhana mungkin.
Karena saya tahu, ketika makanan sehat mudah dijangkau, kemungkinan untuk memakannya juga akan jauh lebih besar.
Anak Lebih Sering Meniru daripada Mendengar
Ada satu momen yang membuat saya tersenyum.
Suatu sore, anak membuka kulkas sendiri. Bukannya mencari biskuit atau es krim, ia justru mengambil tomat ceri dan memakannya satu per satu sambil bermain.
Hari lain, ia meminta apel yang sudah saya iris.
Lain waktu, ia ikut menikmati salad telur yang sebenarnya saya siapkan untuk makan siang.
Saya tidak pernah memintanya melakukan itu.
Ia hanya melihat kebiasaan yang berulang setiap hari.
Saat saya duduk menikmati semangkuk salad, ia ikut penasaran.
Saat saya mengambil buah sebagai camilan sore, ia ikut mengambil buah.
Baca Juga : Tips Praktis Menyediakan Menu Piring Gizi Seimbang
Saat saya membuat overnight oats malam hari, ia bertanya apakah besok boleh ikut makan.
Di situlah saya kembali diingatkan bahwa anak-anak adalah peniru yang luar biasa.
Mereka mungkin lupa nasihat kita, tetapi mereka sangat jarang lupa apa yang mereka lihat setiap hari.
Isi Kulkas Ternyata Membentuk Kebiasaan
Saya baru menyadari bahwa isi kulkas ternyata punya pengaruh besar terhadap keputusan kecil sehari-hari.
Ketika yang paling mudah dijangkau adalah buah, maka buah yang akan diambil.
Ketika telur rebus sudah tersedia, rasa lapar tidak lagi berujung pada makanan instan.
Ketika salad sudah siap santap, alasan "malas membuat sayur" perlahan menghilang.
Lingkungan sering kali bekerja lebih kuat daripada kemauan.
Tanpa sadar, rumah ikut membentuk pilihan-pilihan kecil yang akhirnya menjadi kebiasaan.
Tidak Selalu Sempurna
Tentu saja, kami masih menikmati gorengan.
Masih makan mie instan sesekali.
Masih membeli es krim ketika sedang ingin.
Dan saya tidak merasa bersalah karenanya.
Saya percaya bahwa pola makan sehat bukan tentang menjadi sempurna.
Melainkan tentang apa yang paling sering kita lakukan.
Jika sebagian besar isi piring dipenuhi makanan bergizi, sesekali menikmati makanan favorit bukanlah masalah besar.
Justru pendekatan seperti ini terasa lebih realistis untuk dijalani dalam jangka panjang.
Ternyata Kebiasaan Itu Menular
Dua tahun menjalani pola makan sehat memberi saya satu pelajaran sederhana.
Perubahan terbesar bukanlah angka di timbangan.
Bukan pula ukuran pakaian.
Melainkan ketika saya melihat anak mulai memilih buah tanpa disuruh.
Baca Juga : Anak Menolak Sayur? Jangan Khawatir Bunda ! Siasati dengan Carrot Bites. Camilan Sehat yang Tidak Akan Ditolak Anak
Ketika ia meminta telur rebus sebagai camilan.
Ketika ia mulai menganggap sayur sebagai bagian biasa dari makanan sehari-hari.
Saat itu saya sadar, kebiasaan memang bisa menular.
Bukan melalui paksaan.
Bukan melalui aturan yang rumit.
Melainkan melalui contoh yang dilihat setiap hari.
Mungkin inilah salah satu pelajaran paling berharga dalam parenting. Anak belajar jauh lebih banyak dari apa yang kita lakukan dibandingkan apa yang kita ucapkan.
Bunda Juga Sedang Belajar
Saya masih terus mencoba berbagai resep sehat.
Masih mencari cara agar menu di rumah tidak membosankan.
Masih sesekali tergoda membeli camilan manis.
Perjalanan ini belum selesai.
Namun saya percaya, menjadi bunda belajar bukan berarti harus langsung melakukan semuanya dengan sempurna. Cukup memulai dari satu kebiasaan kecil yang bisa dilakukan secara konsisten.
Mungkin dimulai dari menyediakan buah yang sudah dipotong.
Mungkin dari merebus beberapa butir telur untuk stok camilan.
Atau mungkin hanya dengan memastikan selalu ada sayuran di meja makan.
Karena pada akhirnya, perubahan besar sering kali lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang setiap hari.
Dan siapa sangka, perubahan sederhana pada isi kulkas ternyata mampu mengubah kebiasaan makan seluruh keluarga.




Tidak ada komentar
Posting Komentar