Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Ipar Adalah Maut, bagaimana jadinya? Ini Tips untuk Menjalin Hubungan Baik dengan Saudara Ipar

  




Ipar adalah maut. 


Duh, kok sepertinya menyeramkan, ya! Memang menyeramkan, tapi ini adalah sebuah fakta. Sebutan ipar adalah maut tercatat dalam sebuah hadis. Mengapa bisa disebut demikian? Lalu bagaimana ya caranya agar bisa menjalin hubungan dengan saudara ipar? 


Ipar Adalah Maut


Islam mengatur adab-adab dalam setiap konteks kehidupan, begitu pun adab dalam pergaulan. Termasuk bergaul dengan ipar, saudara suami atau istri, ada batasan-batasan yang perlu diperhatikan. Bahkan dalam hadis Rasulullah menyebutkan bahwa ipar adalah maut.


Dari Uqbah bin Amir al-Juhany radiyallahu anhu, Rasulullah SAW bersabda:


’Hati-hatilah kalian masuk menemui para perempuan.’ Lalu seorang lelaki Anshar bertanya ‘Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu dengan ipar?’ Beliau menjawab, ‘Hamwu (ipar) adalah maut.'” (HR. Bukhari dan Muslim)


Makna hadits ini mengajak kita semua untuk berhati-hati dalam berinteraksi dengan saudara ipar. Misalnya antara istri dengan saudara laki-laki suami. Sebab bagaimanapun, saudara laki-laki suami bukan muhrim, dan karenanya harus tepat adab dalam berinteraksi dengan mereka. Begitu juga sebaliknya. 


Beberapa waktu lalu, dunia media sosial heboh. Terkuak perselingkuhan seorang suami dengan adik istrinya. Inilah mengapa penting berhati-hati dalam berinteraksi dengan ipar. 


Benarkah Sulit Menjalin Hubungan Baik dengan Ipar? 


Pernikahan tak hanya menyatukan dua orang saja, tetapi juga menyatukan dua keluarga. Banyak beredar di masyarakat, setelah menikah perempuan tak hanya kesulitan dalam menghadapi mertuanya, dia pun kadang harus berhadapan dengan iparnya. 


Baca Juga : Love Hate Relationship Mertua dan Menantu, Ini Tips untuk Menghadapinya


Banyak istri kesulitan berinteraksi dengan saudara suaminya. Tak jarang ada yang berkonflik dengan ipar. 


Benarkah demikian? 


Bagaimana dengan pengalaman saya? 


Seperti yang pernah saya cerita sebelumnya. Saya merasa keluarga suami tidak menerima saya di awal-awal pernikahan. Bagi mereka, saya terlalu memaksa suami untuk segera dinikahi. Bagi mereka, suami baru setahun bekerja. Dianggapnya saya tak ingin melepaskan suami yang bekerja sebagai PNS. Maklum, PNS masih menjadi menantu idaman di Indonesia. 


Padahal, suami yang buru-buru mengajak nikah. Setahun sebelum menikah kami menjalani LDR (Long Distance Relationship). Duh, LDR banyak dramanya. 


Bahkan, pertunangan kami hampir bubar gara-gara LDR. Biasa, suami yang saat itu masih berstatus sebagai tunangan, sempat main mata sama rekan PNS nya yang ditemui saat diklat pegawai, kena godaan cinlok kayaknya. 


Saya nggak ada ampun. Langsung mutusin pertunangan. Eh dia nggak terima. Mohon ampun. Sampai pakai bujuk mama saya buat menahan saya untuk memaafkannya. 


Duh, kalau nggak mama nangis, saya nggak akan maafin lho. Meski saya tahu, hubungannya nggak terlalu jauh kok, belum mungkin ya. Dia pun akhirnya buru-buru ajak saya nikah. 


Saat itu, saya sempat menceritakan kesalahannya di media sosial. Dan tahu, salah kakak ipar (istri dari kakak laki-laki suami), berkomentar kalau mungkin kami tak berjodoh, saatnya saya melepaskan. 


Bayangkan! Belum menikah, calon kakak ipar sudah menunjukkan ketidaksukaannya pada saya. Tapi, kami tetap menikah. 


Drama dengan ipar pun berlanjut. Setelah menikah saya tinggal di rumah ibu mertua. Disana ada kakak perempuan suami beserta keluarganya (suami dan anak-anak) yang tinggal bersama. 


Kakak ipar ini bahkan tidak menyapa saya saat hari pernikahan dan beberapa waktu setelah pernikahan. Bayangkan. Saya harus tinggal serumah dengan orang yang bahkan menyapa saya saja tak mau. 


Tapi saya berhasil melewati semua drama itu. Setelah beberapa waktu, kakak ipar mau menyapa. Dan hingga kini, hubungan kami baik. Tak ada konflik. 


Mungkin, keluarga suami butuh waktu untuk menerima saya. Sebab, di awal mereka sudah merasa saya terlalu cepat mengikat suami. 


Ya, semua itu karena kesalahpahaman saja. Dua belas tahun pernikahan kami, alhamdulillah kami mampu bertanggung jawab dengan keputusan yang diambil. Meski dinilai terburu-buru, kami bisa menjalani rumah tangga secara mandiri. Jatuh bangun berusaha berdua, tak merepotkan orang lain. 


Trik Agar Bisa Harmonis dengan Ipar



Bagaimana saya bisa melalui drama dengan ipar ini secara selamat? Berikut trik agar bisa harmonis dengan ipar. 


Tak tinggal seatap


Setelah menikah, alangkah baiknya jika tidak tinggal seatap dengan ipar. Setahun tinggal bersama mertua dan ipar, cenderung banyak konflik yang terjadi. Apalagi di awal pernikahan. Saat semua baru saling mengenal, tentu akan banyak gesekan yang terjadi. 


Baca Juga : 8 Resolusi Pernikahan untuk Rumah Tangga Harmonis dan Bahagia



Setelah tinggal terpisah, saya akui hubungan saya dengan para kakak ipar berlangsung membaik. Tak ada perselisihan diantara kami. 


Jadi, tak tinggal seatap jadi langkah awal yang tepat untuk membina hubungan harmonis dengan ipar. 


Interaksi sewajarnya


Bagaimanapun, saudara ipar tentu tak sama dengan saudara kandung. Oleh karena itu, interaksi sewajarnya. Batasi interaksi yang tak perlu. Dengan demikian, konflik pun tak akan terjadi. 


Tak hanya dengan ipar dari keluarga suami, saya pun juga menjalin interaksi sewajarnya dengan para adik ipar (istri adik lelaki saya). 


Jangan ikut campur


Jangan pernah ikut campur urusan orang lain, apalagi urusan ipar. Diam dan jangan berkomentar jika tidak ditanya. 


Mungkin di keluarga suami, saya memang paling muda, sehingga jarang yang muda dimintai pendapat. Begitu juga dalam keluarga saya, meski saya kakak tertua, saya tak pernah ikut campur urusan adik-adik ipar saya. 


Tak mencampuri urusan orang lain adalah kunci hidup bahagia. Kita akan terhindar dari konflik drama antar ipar. 


Manfaatkan media sosial


Manfaatkan media sosial untuk sekadar menjalin hubungan baik dengan ipar. Saling like dan komen postingan yang memang perlu dikomentari. Hindari komentar yang memicu kesalahpahaman. 


Saling menghormati


Terakhir, agar hubungan dengan ipar terjalin harmonis, tentu saja saling menghormati. Dengan begitu, kita akan lebih mudah berinteraksi. 


Penutup


Pernikahan sejatinya menyatukan dua keluarga. Maka sudah selayaknya menjalin hubungan baik dengan ipar. Patuhi pedoman interaksi dengan ipar sesuai tuntunan agama. Bersikap baiklah, maka kebaikan juga akan datang pada kita. 


Semoga trik untuk menjalin hubungan harmonis dengan ipar ini bisa membantu, ya. Jangan musuhi iparmu! 


Sepakat? 



3 komentar

  1. Jarang dibikin ngangguk baca artikel, bahkan sempat merasa heboh pas bagian “tak tinggal seatap” saking setujunya haha suka sama gaya kakak menulis :) semangat kak :)

    BalasHapus
  2. Penting beneran iya, tak tinggal seatap. Karena bener2 fitnahnya besar juga. Setuju akutu sama tulisan mba dee

    BalasHapus
  3. estate litigation lawyer
    The article "Ipar Adalah Maut, bagaimana jadinya? Ini Tips untuk Menjalin Hubungan Baik dengan Saudara Ipar" is highly beneficial for those seeking to improve their community relationships. It provides practical and relevant tips for creating harmonious relationships with the Ipar sahara, making it a valuable resource for those seeking to improve their community. The article also highlights the importance of effective communication, trust, and commitment in building good relationships with the Ipar sahara. The article is easy to implement and provides valuable advice for those seeking to improve their community relationships. The article also emphasizes the importance of empathy, trust, and compromise in fostering good relationships with the Ipar sahara, making it a valuable resource for those seeking to improve their community relationships.

    BalasHapus