Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Review Buku Yang Katanya Cemara, Sebuah Cerita dari Anak Broken Home

Review Buku Yang Katanya Cemara, Sebuah Cerita dari Anak Broken Home


Buku “Yang Katanya Cemara” ditulis oleh Vania Wilona, seorang influencer muda asal Surabaya. Dibalik gemerlapnya kehidupan sosial media, ternyata ada luka yang menganga di hati Vania. Perceraian kedua orang tuanya di masa kecil, nyatanya memberikan luka yang mendalam. 

Buku ini adalah curahan hati Vania kecil. Di mana keluarganya yang begitu hangat dan sempurna, mendadak retak. Tak ada lagi kehidupan sempurna itu. Semuanya menjadi fana. 

Buku Yang Katanya Cemara

Keluarga Cemara seringkali menjadi impian banyak orang. Siapa sih yang nggak mau hidup ditengah-tengah keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang? 

Vania kecil pun menginginkan hal itu. Meski ayahnya sering dinas luar kota, saat datang, dia akan banyak menghabiskan waktu dengan ayahnya. Vania akan pergi bersama kedua orang tuanya. 

Namun, kebahagiaan Vania tak berlangsung lama. Mendadak dunianya berubah 180 derajat. Perpisahan kedua orang tuanya membuat Vania harus merasakan banyak perubahan. 

Keterangan Buku

Judul: Yang Katanya Cemara

Penulis: Vania Winola Febriyanti

Penerbit: PT Bukune Kreatif Cipta

Tahun Terbit: Cetakan Pertama, 2023

Tebal: 228 Halaman

ISBN: 978-602-220-781-4

Peresensi: Wan Nurlaila Putri

Editor: Rara Zarary


Sinopsis

Keluarga sempurna yang tiba-tiba sirna

Vania kecil tumbuh di tengah-tengah keluarga yang bahagia. Tak hanya berlimpah kasih sayang dari ayah dan bundanya. Vania juga sangat dicintai oleh kakek neneknya (Akong dan Uti). 

Ayahnya selalu mengajak Vania jalan-jalan. Tak pernah ragu untuk membelikan mainan baru untuk Vania. Bundanya selalu ada disampingnya. Mengantarkan Vania sekolah dan les balet. Juga sering masak makanan favorit Vania, nasi goreng. 

Namun, kesempurnaan itu sirna. Ayah dan bunda sering berantem dan saling menjaga jarak. Vania tak lagi bisa menghabiskan waktu dengan kedua orangtuanya. Dia harus memilih salah satu. 

Di bully 

Masa kecil Vania juga tak luput dari perundungan. Vania menjadi peserta termuda di les balet. Ini membuatnya sering diejek kakak-kakak yang ada di sana. 

Saat lomba balet, Vania tak luput dari bully-an dan intimidasi. Beruntung, semua itu tak menghilangkan kemampuan Vania. Dia bahkan menjadi juara satu dalam lomba balet. 


Review Buku Yang Katanya Cemara, Sebuah Cerita dari Anak Broken Home



Sedih di Acara Sekolah

Vania sedih. Saat acara sekolah, kedua orang tuanya tak bisa hadir. Padahal, semua teman-temannya datang bersama kedua orangtuanya. 

Harusnya Bunda menemani Vania. Tapi tiba-tiba tidak bisa. Vania pun ditemani oleh mamanya Dylan. 

Menjadi broken home di usia 6 tahun

Vania kecil harus menerima kenyataan. Kedua orangtuanya resmi berpisah. Ayah dan Bunda bercerai. Vania tak lagi bisa menikmati kebersamaan dengan kedua orangtuanya. 

Baca Juga : Review Buku My Bittersweet Marriage

Menjadi broken home di usia 6 tahun adalah sebuah mimpi buruk bagi Vania. Dia sedih. Tapi harus kuat, dia tak mau Bundanya sedih. 

Menerima keluarga baru

Setahun setelah perceraian, Bunda mengenalkan Vania pada om Ayok. Om Ayok adalah suami baru Bunda. 

Belum usai kekagetan Vania atas rencana Bunda menikah lagi, Ayahnya malah mengenalkan Vania pada istri dan anak barunya. Mendadak Vania punya adik baru! 

Vania harus menerima keluarga baru. Ayah dan Bunda memang sudah berpisah. Mereka pun akhirnya membangun keluarga baru. 

Review Buku Yang Katanya Cemara

Saya membaca buku ini di Perpustakaan Bung Karno yang ada di Blitar. Saya mampu menghabiskan buku ini dalam satu jam. 

Meski lumayan tebal, buku ini bisa cepat dinikmati. Cara Vania bertutur begitu lugas. Buku ini ditulis dari kebiasaan Vania yang selalu menulis di buku harian. 

Nyess, rasanya. Buku ini menceritakan bagaimana anak broken home menjalani hari-hari mereka. Bagaimana mereka harus kehilangan kasih sayang lengkap kedua orangtuanya. Bagaimana mereka tiba-tiba harus tinggal terpisah. 

Belum lagi saat mereka harus dibohongi. Orang tua menutupi perpisahannya. Ini membuat anak merasa tidak dianggap. Diabaikan. Dibohongi. Rasanya tentu saja menyakitkan. 

Baca Juga : Imperfect Parenteen, Sebuah Tips Pengasuhan Remaja Ala Myra Anastasia

Perceraian ternyata benar-benar menghancurkan mental anak. Bagaimanapun anaklah yang jadi korban. 

Walau sempat hancur dan sedih, Vania bangkit perlahan. Dia tak ingin terus larut dalam kesedihan. Dia tak ingin melihat orangtuanya saling bersedih. 

Vania menerima takdirnya. Terpisah dari Ayah. Tinggal bersama Bunda. Dan akhirnya menerima keluarga baru dari masing-masing orang tuanya. 


Tidak ada komentar

Posting Komentar