Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Review Buku Muslimah yang Diperdebatkan: Mengapa Menjadi Perempuan Selalu Tidak Pernah Cukup?

 

Review Buku Muslimah yang Diperdebatkan: Mengapa Menjadi Perempuan Selalu Tidak Pernah Cukup?


Ada satu kalimat yang terus terngiang di kepala saya setelah menutup buku Muslimah yang Diperdebatkan karya Kalis Mardiasih:

"Mengapa menjadi perempuan selalu terasa seperti ujian yang tidak pernah selesai?"

Sebagai seorang sosiolog sekaligus ibu rumah tangga yang sedang membesarkan dua anak perempuan, saya membaca buku ini dengan perasaan campur aduk. Ada bagian yang membuat saya mengangguk setuju. Ada yang membuat saya merenung lama. Ada pula yang membuat saya bertanya tentang masa depan anak-anak perempuan saya kelak.

Karena ternyata, hingga hari ini, tubuh perempuan masih sering menjadi ruang paling ramai untuk diperdebatkan.

Mulai dari cara berpakaian, pilihan hidup, cara menjadi istri, cara menjadi ibu, hingga cara beribadah.

Seolah-olah menjadi perempuan saja belum cukup sulit, masih ada daftar panjang standar yang harus dipenuhi agar dianggap "baik".

Buku yang Tidak Sedang Mengajari Perempuan Memberontak

Banyak orang mungkin langsung memberi label tertentu pada buku ini.

Padahal setelah membacanya, saya justru melihat bahwa buku ini bukan tentang mengajak perempuan melawan agama. Buku ini lebih banyak berbicara tentang pengalaman perempuan yang sering kali tidak diberi ruang untuk menceritakan dirinya sendiri.

Kalis Mardiasih dikenal konsisten menulis isu perempuan, tubuh, religiusitas, dan pengalaman muslimah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam buku ini, ia mengangkat berbagai keresahan yang selama ini mungkin hanya dibicarakan pelan-pelan di ruang privat perempuan. 

Yang menarik, ia tidak menulis dengan bahasa akademik yang berat.

Tulisan-tulisannya terasa seperti percakapan panjang dengan teman perempuan yang sedang lelah.

Lelah dinilai.

Lelah diatur.

Lelah dianggap salah.

Ketika Tubuh Perempuan Menjadi Milik Publik


Review Buku Muslimah yang Diperdebatkan: Mengapa Menjadi Perempuan Selalu Tidak Pernah Cukup?

Sebagai sosiolog, bagian yang paling menarik perhatian saya adalah bagaimana buku ini memperlihatkan bahwa tubuh perempuan sering kali tidak benar-benar menjadi milik perempuan itu sendiri.

Dalam teori sosiologi, tubuh bukan hanya persoalan biologis. Tubuh juga merupakan arena kontrol sosial.

Masyarakat menentukan apa yang dianggap pantas.

Keluarga menentukan apa yang dianggap sopan.

Lingkungan menentukan apa yang dianggap bermoral.

Dan anehnya, perempuanlah yang paling sering menerima beban dari semua standar tersebut.

Buku ini berulang kali menunjukkan bagaimana perempuan muslim sering menjadi objek penilaian sosial. Cara berpakaian, bentuk kesalehan, hingga pilihan hidupnya lebih mudah diperdebatkan dibandingkan laki-laki. Tema ini juga menjadi perhatian dalam beberapa penelitian akademik yang mengkaji buku Muslimah yang Diperdebatkan sebagai kritik terhadap ketidakadilan gender dan konstruksi sosial yang membatasi perempuan. 

Saya teringat pada banyak percakapan sehari-hari yang mungkin terdengar biasa.

"Perempuan baik-baik tidak boleh begitu."

"Sudah jadi istri harus lebih sabar."

"Kalau perempuan jangan terlalu vokal."

Kalimat-kalimat seperti ini sering terdengar sederhana, tetapi perlahan membentuk cara perempuan memandang dirinya sendiri.

Sebagai Ibu Dua Anak Perempuan, Buku Ini Membuat Saya Merenung

Ada satu hal yang membuat saya membaca buku ini dengan perasaan lebih personal.

Saya adalah ibu dari dua anak perempuan.

Setiap hari saya melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang penuh rasa ingin tahu.

Mereka bertanya banyak hal.

Mereka berani berpendapat.

Mereka punya mimpi.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri:

Ketika mereka dewasa nanti, apakah mereka juga akan menghadapi tuntutan yang sama?

Apakah mereka akan terus-menerus dinilai berdasarkan penampilan?

Apakah suara mereka akan dianggap kurang penting dibanding penilaian orang lain terhadap tubuh mereka?

Sebagai orang tua, saya tentu ingin mengajarkan nilai agama kepada anak-anak saya.

Baca Juga : Review Buku : Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna

Namun saya juga ingin mereka memahami bahwa menjadi perempuan bukan berarti harus hidup dalam rasa bersalah yang terus-menerus.

Membaca buku ini membuat saya semakin sadar bahwa pendidikan perempuan tidak cukup hanya mengajarkan kepatuhan.

Perempuan juga perlu diajarkan keberanian berpikir.

Keberanian bertanya.

Keberanian mengenali dirinya sendiri.

Keberanian untuk selalu berkreasi seperti nengtantidoodle yang hobi bikin desain lucu di canva

Buku yang Akan Mengundang Perdebatan


Review Buku Muslimah yang Diperdebatkan: Mengapa Menjadi Perempuan Selalu Tidak Pernah Cukup?

Saya tidak heran jika buku ini memunculkan banyak diskusi.

Sebagian pembaca merasa buku ini memberi suara bagi pengalaman perempuan yang selama ini terpinggirkan. Sebagian lainnya menganggap beberapa pandangan Kalis terlalu kritis terhadap praktik sosial yang selama ini dianggap normal. 

Namun justru di situlah kekuatan buku ini.

Ia tidak berusaha membuat semua orang sepakat.

Ia mengajak pembaca berpikir.

Dan menurut saya, buku yang baik memang sering kali melakukan itu.

Bukan memberi semua jawaban.

Tetapi menghadirkan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini enggan kita hadapi.

Apakah Buku Ini Layak Dibaca?


Menurut saya, ya.

Terutama bagi perempuan.

Bagi ibu yang memiliki anak perempuan.

Bagi siapa pun yang ingin memahami pengalaman perempuan muslim dari sudut pandang yang lebih manusiawi.

Kita tidak harus setuju dengan semua isi buku ini.

Tetapi kita bisa belajar mendengarkan.

Karena sering kali yang dibutuhkan perempuan bukan tambahan nasihat.

Melainkan kesempatan untuk didengar.

Pada akhirnya, setelah menutup halaman terakhir buku ini, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana:

Mungkin masalah terbesar perempuan bukan karena mereka kurang baik, kurang saleh, atau kurang berusaha.

Baca Juga : Review Buku Mindfulness for Mom, Panduan Berlatih Kesadaran Bagi Para Ibu

Mungkin masalahnya adalah karena standar yang dibebankan kepada perempuan sering kali tidak pernah selesai.

Selalu ada yang kurang.

Selalu ada yang salah.

Selalu ada yang diperdebatkan.

Dan itulah mengapa buku Muslimah yang Diperdebatkan terasa relevan hingga hari ini. Ia mengingatkan kita bahwa di balik segala label, perdebatan, dan penilaian sosial, perempuan tetaplah manusia yang berhak didengar suaranya. 

Data Buku


Judul :

Muslimah Diperdebatkan


Penulis

Kalis Mardiasih


Penyunting

Moddie Alvianto Wicaksono


Pemeriksa aksara

Aprilia Kumala


Desain sampul

Hidayatul Azmi


Penata isi

Azka Maula


Illustrator isi

@teduuuh


Penerbit

Buku Mojok


Terbit

Januari 2019 (Cetakan Kedelapan)


Tebal

202 hlm.


ISBN

978-602-1318-93-5



Tidak ada komentar

Posting Komentar