Ada satu kalimat yang terus terngiang di kepala saya setelah menutup buku Muslimah yang Diperdebatkan karya Kalis Mardiasih:
"Mengapa menjadi perempuan selalu terasa seperti ujian yang tidak pernah selesai?"
Sebagai seorang sosiolog sekaligus ibu rumah tangga yang sedang membesarkan dua anak perempuan, saya membaca buku ini dengan perasaan campur aduk. Ada bagian yang membuat saya mengangguk setuju. Ada yang membuat saya merenung lama. Ada pula yang membuat saya bertanya tentang masa depan anak-anak perempuan saya kelak.
Karena ternyata, hingga hari ini, tubuh perempuan masih sering menjadi ruang paling ramai untuk diperdebatkan.
Mulai dari cara berpakaian, pilihan hidup, cara menjadi istri, cara menjadi ibu, hingga cara beribadah.
Seolah-olah menjadi perempuan saja belum cukup sulit, masih ada daftar panjang standar yang harus dipenuhi agar dianggap "baik".
Buku yang Tidak Sedang Mengajari Perempuan Memberontak
Banyak orang mungkin langsung memberi label tertentu pada buku ini.
Padahal setelah membacanya, saya justru melihat bahwa buku ini bukan tentang mengajak perempuan melawan agama. Buku ini lebih banyak berbicara tentang pengalaman perempuan yang sering kali tidak diberi ruang untuk menceritakan dirinya sendiri.
Kalis Mardiasih dikenal konsisten menulis isu perempuan, tubuh, religiusitas, dan pengalaman muslimah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam buku ini, ia mengangkat berbagai keresahan yang selama ini mungkin hanya dibicarakan pelan-pelan di ruang privat perempuan.
Yang menarik, ia tidak menulis dengan bahasa akademik yang berat.
Tulisan-tulisannya terasa seperti percakapan panjang dengan teman perempuan yang sedang lelah.
Lelah dinilai.
Lelah diatur.
Lelah dianggap salah.
Ketika Tubuh Perempuan Menjadi Milik Publik
Sebagai sosiolog, bagian yang paling menarik perhatian saya adalah bagaimana buku ini memperlihatkan bahwa tubuh perempuan sering kali tidak benar-benar menjadi milik perempuan itu sendiri.
Dalam teori sosiologi, tubuh bukan hanya persoalan biologis. Tubuh juga merupakan arena kontrol sosial.
Masyarakat menentukan apa yang dianggap pantas.
Keluarga menentukan apa yang dianggap sopan.
Lingkungan menentukan apa yang dianggap bermoral.
Dan anehnya, perempuanlah yang paling sering menerima beban dari semua standar tersebut.
Buku ini berulang kali menunjukkan bagaimana perempuan muslim sering menjadi objek penilaian sosial. Cara berpakaian, bentuk kesalehan, hingga pilihan hidupnya lebih mudah diperdebatkan dibandingkan laki-laki. Tema ini juga menjadi perhatian dalam beberapa penelitian akademik yang mengkaji buku Muslimah yang Diperdebatkan sebagai kritik terhadap ketidakadilan gender dan konstruksi sosial yang membatasi perempuan.
Saya teringat pada banyak percakapan sehari-hari yang mungkin terdengar biasa.
"Perempuan baik-baik tidak boleh begitu."
"Sudah jadi istri harus lebih sabar."
"Kalau perempuan jangan terlalu vokal."
Kalimat-kalimat seperti ini sering terdengar sederhana, tetapi perlahan membentuk cara perempuan memandang dirinya sendiri.
Sebagai Ibu Dua Anak Perempuan, Buku Ini Membuat Saya Merenung
Ada satu hal yang membuat saya membaca buku ini dengan perasaan lebih personal.
Saya adalah ibu dari dua anak perempuan.
Setiap hari saya melihat mereka tumbuh menjadi pribadi yang penuh rasa ingin tahu.
Mereka bertanya banyak hal.
Mereka berani berpendapat.
Mereka punya mimpi.
Lalu saya bertanya pada diri sendiri:
Ketika mereka dewasa nanti, apakah mereka juga akan menghadapi tuntutan yang sama?
Apakah mereka akan terus-menerus dinilai berdasarkan penampilan?
Apakah suara mereka akan dianggap kurang penting dibanding penilaian orang lain terhadap tubuh mereka?
Sebagai orang tua, saya tentu ingin mengajarkan nilai agama kepada anak-anak saya.
Baca Juga : Review Buku : Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna
Namun saya juga ingin mereka memahami bahwa menjadi perempuan bukan berarti harus hidup dalam rasa bersalah yang terus-menerus.
Membaca buku ini membuat saya semakin sadar bahwa pendidikan perempuan tidak cukup hanya mengajarkan kepatuhan.
Perempuan juga perlu diajarkan keberanian berpikir.
Keberanian bertanya.
Keberanian mengenali dirinya sendiri.
Keberanian untuk selalu berkreasi seperti nengtantidoodle yang hobi bikin desain lucu di canva.
Buku yang Akan Mengundang Perdebatan
Saya tidak heran jika buku ini memunculkan banyak diskusi.
Sebagian pembaca merasa buku ini memberi suara bagi pengalaman perempuan yang selama ini terpinggirkan. Sebagian lainnya menganggap beberapa pandangan Kalis terlalu kritis terhadap praktik sosial yang selama ini dianggap normal.
Namun justru di situlah kekuatan buku ini.
Ia tidak berusaha membuat semua orang sepakat.
Ia mengajak pembaca berpikir.
Dan menurut saya, buku yang baik memang sering kali melakukan itu.
Bukan memberi semua jawaban.
Tetapi menghadirkan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini enggan kita hadapi.
Apakah Buku Ini Layak Dibaca?
Menurut saya, ya.
Terutama bagi perempuan.
Bagi ibu yang memiliki anak perempuan.
Bagi siapa pun yang ingin memahami pengalaman perempuan muslim dari sudut pandang yang lebih manusiawi.
Kita tidak harus setuju dengan semua isi buku ini.
Tetapi kita bisa belajar mendengarkan.
Karena sering kali yang dibutuhkan perempuan bukan tambahan nasihat.
Melainkan kesempatan untuk didengar.
Pada akhirnya, setelah menutup halaman terakhir buku ini, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana:
Mungkin masalah terbesar perempuan bukan karena mereka kurang baik, kurang saleh, atau kurang berusaha.
Baca Juga : Review Buku Mindfulness for Mom, Panduan Berlatih Kesadaran Bagi Para Ibu
Mungkin masalahnya adalah karena standar yang dibebankan kepada perempuan sering kali tidak pernah selesai.
Selalu ada yang kurang.
Selalu ada yang salah.
Selalu ada yang diperdebatkan.
Dan itulah mengapa buku Muslimah yang Diperdebatkan terasa relevan hingga hari ini. Ia mengingatkan kita bahwa di balik segala label, perdebatan, dan penilaian sosial, perempuan tetaplah manusia yang berhak didengar suaranya.
Data Buku
Judul :
Muslimah Diperdebatkan
Penulis :
Kalis Mardiasih
Penyunting :
Moddie Alvianto Wicaksono
Pemeriksa aksara :
Aprilia Kumala
Desain sampul :
Hidayatul Azmi
Penata isi :
Azka Maula
Illustrator isi :
@teduuuh
Penerbit :
Buku Mojok
Terbit :
Januari 2019 (Cetakan Kedelapan)
Tebal :
202 hlm.
ISBN :
978-602-1318-93-5
Review yang sangat menarik dan reflektif apalagi saat dikaitkan dengan pengalaman sebagai ibu dari dua anak perempuan. Kalimat bahwa perempuan sering kali membutuhkan kesempatan untuk didengar, bukan sekadar diberi nasihat, sangat mengena. Buku ini tampaknya memang bukan untuk mencari siapa yang benar atau salah, melainkan mengajak kita melihat pengalaman perempuan dengan lebih empatik. Setelah membaca review ini, saya jadi tertarik untuk mengenal lebih jauh karya Kalis Mardiasih dan perspektif yang ditawarkannya. Penulis favorit saya nih Kalis Mardiasih, dan juga suaminya Agus Mulyadi
BalasHapusSebagai perempuan nih saya juga merasa dibela secara brutal pas di kalimat kalo perempuan itu sering kali membutuhkan kesempatan untuk didengar, bukan sekadar diberi nasihat. Secapek apapun rasanya langsung hilang kalau ada yg seperhatian itu...
HapusBelum pernah baca buku mba Kalis Mardiasih, tapi sering baca tulisan-tulisan beliau di medsos. Memang salah satu aktivis perempuan yang aktif. Sepakat seh, kalau sebuah buku yang baik bukan berarti harus membuat semua pembacanya sepakat dengan isi bukunya, tapi juga mengajak para pembaca untuk bisa berpikir sesuai kemampuannya masing-masing.
BalasHapusSaya baru tahu penulis Kalis Mardiasih ini
BalasHapusPadahal sangat dikenal konsisten menulis isu perempuan, tubuh, religiusitas, dan pengalaman muslimah dalam kehidupan sehari-hari, ya.
Senang bisa mendapatkan semua info itu apalagi dalam buku ini, Kalis juga mengangkat berbagai keresahan yang selama ini mungkin hanya dibicarakan pelan-pelan di ruang privat perempuan. Biasanya malu bertanya, mungkin dalam buku ini ada pencerahan nya ya
Wihihiii, bukunya Kalis Mardiasih, pasti mantab jiwa iki mbaaa
BalasHapuskarena Kalis memang se-loyal itu pada semangat dan pemikiran untuk memperjuangkan perempuan.
Tangguh bangeett deh Kalis.
makanya suaminya (Agus Mulyadi) proud banget
Buku merupakan buah pikiran penulisnya, terlepas pembaca setuju atau tidak dengan isinya, ya kalau setuju silakan dibaca, kalau ga setuju silakan ditinggalkan. Ruang diskusi akan selalu ada, menurut saya begitu
BalasHapusSepakat mbak, buku yang baik biasanya membuka wawasan berpikir, membuka ruang diskusi bukan doktrin, sehingga mengajak pembaca untuk berpikir
menarik ini bukanya mbak
perempuan itu menarik sehingga selalu akan menjadi perbincangan, tidak hanya kaum adam tetapi sesama kaumnya pun tetap akan membicarakannya
Aku baru tau mengenai buku ini mbaa dan baca buku ini seolah memang related banget yaan dengan kondisi perempuan karena adaaa saja hal yang bisa dibicarakan mengenai perempuan, ntah bentuk tubuh, cara berpakaian, polah tingkah, gaya bicara dan lain sebagainya,,,
BalasHapusDan bener sebagai seorang ibu dengan anak perempuan rasanya ada beban lebih yang harus kita selesaikan agar nantinya anak perempuan kita bisa tetap berdaya berdiri tegak di kaki sendiri
iya juga yah, kadang kehidupan perempuan terutama muslim masih menjadi ruang perdebatan masyarakat mulai dari cara berpakaian, hingga cara beribadah, agar perempuan dianggap baik dimata masyarakat sepertinya harus banyak syarat yang dipenuhi
BalasHapusTapi masya allah betapa Allah sangat memperhatikan dan memuliakan perempuan bahkan sampai ada surat An nisa uang yang didalamnya banyak tentang hal perempuan..
BalasHapusBagus juga ya bukunya. Banyak membahas sisi kehidupan perempuan.
BalasHapusApalagi perempuan memang sering masuk perdebatan, entah cara ibadahnya, outfitnya, dan lain2.
Saya belum membaca buku ini dan walaupun bukan perempuan, saya tertarik untuk membacanya. Karena saya juga memiliki dua anak perempuan, which is sedang belajar juga memahami mereka dari berbagai sudut pandang, mudah-mudahan dengan baca buku ini bisa menambah pengetahuan dan pemahaman tentang perempuan.
BalasHapusPenerbit Buku Mojok memang lumayan banyak karya-karyanya yang memantik diskusi dan perdebatan dan sepertinya menjadi branding dari Mojok, ya. Dan, it's okey, karena diskusi selama sehat insyaAllah akan mengandung hikmah
Di dalam diri kita sebagai perempuan saja sering muncul pertentangan.. Pas banget dikeluarkan dalam sebuah buku ini
BalasHapuskalau membaca review di sini memang kayaknya buku ini bisa jadi perdebatan ya apalagi kalau dibenturkan dengan agama islam yang memang mengatur semua hal dalam kehidupan termasuk juga soal wanita ini. aku sendiri belakangan juga cukup sering membaca utas atau tulisan kalis mardiasih di instagram yang memang sangat kencang suaranya dalam hal membela hak wanita. tentunya sebagai ibu dan wanita dewasa kita bisa lebih bijak ya dalam menanggapi isi buku ini
BalasHapusKebetulan, saya juga baca buku nya dan banyak sepakat dengan mba Kalis.
BalasHapusMaka tidak heran kalau pada akhirnya buku Muslimah yang Diperdebatkan karya Kalis Mardiasih ini mengundang banyak perdebatan. Secara nggak langsung ada pihak-pihak yang khawatir kalau budaya disertai cara mereka memandang perempuan di bilang salah dan mesti diubah.
Saya sendiri pun sering dihinggapi rasa bersalah, karena perempuan selalu punya celah untuk di salahkan bahkan oleh sesama perempuan pun. Apalagi terkait cara berpakaian.
Sepertinya tatkala membaca buku ini kudu dalam keadaan gelas kosong, jadi bisa menelaah secara netral dan berimbang. Dengan begitu, bisa diambil hikmahnya, karena memang kalau sudah bahas perempuan secara gamblang bakalan memunculkan hal² kritis
BalasHapusSedih ya, standar untuk perempuan rasanya dinamis sekali..... selalu ada celah untuk dianggap "kurang". Semoga tulisan ini membuka lebih banyak ruang diskusi yang empati, agar anak-anak perempuan kita kelak bisa tumbuh di lingkungan yang lebih ramah dan mau mendengarkan.
BalasHapusuku Kak Kalis ini memang juara dalam memotret realitas tanpa kesan menggurui lho ya..... bahasanya mengalir seperti obrolan hangat di teras rumah.
Aku ikut mengangguk-angguk saat baca review buku ini. Karena aku pribadi juga menyadari bahwa tuntutan pada perempuan itu emang banyak banget. Dan seringnya, kita nggak dikasih ruang untuk sekedar berekspresi.
BalasHapusMakanya sering kali pihak perempuan dianggap lemah, bersalah dan kawan-kawannya
Belum pernah baca
BalasHapusSepertinya saya akan kuatkan pikiran kalau mau baca karena kadang bahasanya tinggi dan kompleks sebagaimana di media sosial
Buku yang akan terus penting utk dibaca kaum perempuan dan lelaki yang mau menghormati perempuan secara sebenarnya nih.
BalasHapusPerempuan emg sejak dulu hingga kiamat nanti bakalan jd objek pembicaraan. Bukan karena emg populasinya hingga empat kali lipat laki2 tp emg peran mereka ke masyarakat itu penting.
Segala tindak tanduk mereka bakalan jadi pusat perhatian. Mknya buku ini sangat penting dibaca semua kalangan biar tercerahkan. Bagaimana menjadi perempuan seutuhnya. Bgm mereka memandang diri sendiri dan siap menjadi perbincangan org lain. Dan tentunya perbincangan positif ya.
Waahh ke mana aja aku baru tahu kalau Kalis punya buku bahas soal muslimah kyk gini. Mau cari juga ah.
BalasHapusTuntutan terhadap perempuan emang banyak bener ya. Apalagi kalau dah jadi emak2 haha. Trus double emak2 RT sama emak2 working mom. Double2 perannya.
Nah ya buku2 kek gini biasanya akan memicu perdebatan,eh, bahasa alusnya diskusi. Nggak perlu setuju sama semua isi buku tapi yang pasti lumayan memberikan pandangan baru mengenai kedudukan perempuan muslimah ya.
Di masyarakat, pada praktiknya memang banyak yang tidak sesuai bahkan dilebih-lebihkan dari ajaran agama. Kalau benar penerapannya sesuai agama, wah laki-laki aturan dan tanggung jawabnya bisa lebih ruwet daripada wanita. Sayangnya, banyak orang yang tidak sadar akan itu. Laki-laki bangun siang diwajarkan, padahal harusnya laki-laki kan salat berjamaah di masjid. Jadi sebelum subuh harus sudah mandi dan wangi.
BalasHapusNyatanya, nggak ada yang menuntut laki-laki begitu. Sedangkan perempuan dituntut bangun pagi, masak bersih-bersih rumah dll, yang mana secara agama bukan murni tanggungjawabnya.
Masalah aurat laki-laki aja nggak banyak yang ribut. Mereka pakai celana pendek kelihatan lutut juga wajar aja dimasyarakat. Padahal secara agama ya salah.
Wajar sih buku ini muncul, dan mungkin apa yang disampaikan di buku ini banyak terjadi di luar sana. Semoga buku ini bisa membuat banyam orang sadar.
Sebagai sesama perempuan, membaca review ini beneran bikin merinding sekaligus terenyuh, apalagi sudut pandang Mbak yang melihatnya dari kacamata seorang sosiolog sekaligus ibu dari dua anak perempuan. Kalimat "mengapa menjadi perempuan selalu terasa seperti ujian yang tidak pernah selesai" itu nyesek tapi emang nyata banget, karena standar publik ke tubuh dan pilihan hidup kita emang nggak pernah ada habisnya. Setuju banget kalau mendidik anak perempuan zaman sekarang itu nggak cuma soal mengajarkan kepatuhan, tapi juga menanamkan keberanian untuk berpikir dan mengenali diri sendiri, termasuk bebas berkreasi tanpa bayang-bayang rasa bersalah. baru baca revienya saja sudah berembun pelupuk mata, apalagi akalu baca buikunya ya? Jadi pingin punya supaya bisa jadi tambahan koleksi di rumah baca.
BalasHapusBuku yang pas buat bahan diskusi....saya jadi ingin membaca bukunya mbaak. Bahasannya dalam yaaa..saya baru melihat bukunya
BalasHapusTak dapat dimungkiri, aku pun mengamini pendapat penulis mbak secara memang penilaian masyarakat terhadap perempuan itu ya, bisa dari ujung rambut sampai kaki, tak terkecuali tingkah polahnya. Penasaran ingin baca bukunya juga mbak
BalasHapusBagus sekali bukunya karena bisa membuka pembicaraan atau diskusi tentang penilaian masyarakat terhadap perempuan sehingga banyak yang bisa tercerahkan dan bisa menjadi perempuan-perempuan terbaik tanpa harus dinilai ataupun diadili tanpa merasa bersalah menjadi seorang perempuan yang sudah punya beban banyak
BalasHapusBanyak hal yang pastinya kita khawatirkan mengenai masa depan yaa..
BalasHapusDan ini tentu mendatangkan sebuah kegelisahan.
Karena aku belum baca buku Muslimah yang Diperdebatkan karya Kalis Mardiasih ini, mungkin yang perlu aku tekankan bahwa baik anak perempuan ataupun laki-laki, pasti ada ujiannya masing-masing. Termasuk banyak stereotype yang muncul ketika ada kaitannya dengan keimanan dan tauhid. Perlu banget menguatkan sikap tawakal, berdoa juga berusaha namun tetap menggantungkan pada Allah untuk segala hasilnya.