Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Belajar Lagi di Usia Hampir 40 Tahun: Ternyata Mimpi Tidak Memiliki Tanggal Kadaluwarsa

 

Belajar Lagi di Usia Hampir 40 Tahun: Ternyata Mimpi Tidak Memiliki Tanggal Kadaluarsa


Dulu, ada satu kalimat yang sering saya percaya secara bulat-bulat: belajar itu ada masanya.

Masa sekolah untuk belajar. Masa kuliah untuk mencari ilmu. Setelah menikah, saatnya mengurus keluarga. Setelah punya anak, fokus merawat mereka.

Tanpa sadar, itu membuat saya berpikir saya bahwa mimpi juga memiliki batas waktu.

Namun, hidup ternyata mengajarkan hal yang berbeda.

Menjelang usia 40 tahun, justru saya kembali menjadi "mahasiswa". Bukan di kampus, melainkan di depan layar laptop. Saya belajar SEO, digital marketing, artificial intelligence, content strategy, hingga berbagai keterampilan yang memang sejalan dengan perkembangan zaman saat ini. 

Dan saya menikmati proses itu.

Saya akhirnya memahami bahwa mimpi tidak pernah memiliki tanggal kadaluwarsa.

Ketika Kehidupan Berubah Arah

Belasan tahun yang lalu, saya menyelesaikan pendidikan di bidang sosiologi dengan semangat yang besar. Setelah lulus, saya sempat bekerja sebagai asisten dosen penelitian, project officer berbagai program pemberdayaan masyarakat, hingga terlibat dalam kegiatan sosial.

Saya mencintai dunia belajar.

Namun setelah menikah dan memiliki anak, prioritas hidup berubah.

Saya memilih menjadi ibu rumah tangga.

Pilihan itu saya syukuri, tetapi ada masa ketika saya merasa kehilangan sebagian identitas diri. Dunia terus bergerak. Teknologi berkembang sangat cepat. Teman-teman saya meniti karier masing-masing, sementara saya lebih banyak berkutat dengan jadwal sekolah anak, memasak, mencuci, dan mengurus rumah.

Bukan berarti peran itu tidak penting.

Justru dari sanalah saya belajar bahwa pekerjaan domestik membutuhkan kemampuan manajemen, kesabaran, hingga kepemimpinan yang sering kali tidak terlihat.

Namun jauh di dalam hati, saya masih menyimpan rasa ingin terus berkembang.

Dunia Sudah Berubah, Saya Tidak Ingin Diam

Tahun lalu menjadi titik balik saya. 

Saat kerja remote semakin berkembang, saya melihat kesempatan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.

Kalau sebelumnya saya aktif bekerja di dunia blogging, sekarang saya mencoba menjadi SEO VA

Belajar Lagi di Usia Hampir 40 Tahun: Ternyata Mimpi Tidak Memiliki Tanggal Kadaluarsa


SEO VA adalah singkatan dari SEO Virtual Assistant (Asisten Virtual SEO). Ini adalah profesi profesional jarak jauh yang dipekerjakan untuk membantu bisnis, blogger, atau pemilik situs web meningkatkan peringkat dan visibilitas situs di mesin pencari seperti Google.

Baca Juga : 5 Hal yang Bisa Kamu Optimasi di Website Saat Long Weekend

Ini membuat saya mulai belajar kembali.

Awalnya hanya membaca artikel. Lalu mengikuti webinar gratis. Setelah itu membeli kelas daring, mengikuti pelatihan, mencoba berbagai aplikasi, hingga belajar langsung dari praktik.

Di akhir kelas yang saya ikuti, saya diwajibkan magang ke klien. Waktu itu, klien saya adalah website dari sebuah klinik kecantikan di Bali. 

Di kelas SEO VA saya mempelajari SEO, cara kerja mesin pencari, optimasi konten, riset kata kunci, analisis website, hingga perkembangan kecerdasan buatan. 

Selain itu juga belajar dasar-dasar tentang dunia Virtual Assistant. Mulai dari skill yang harus dimiliki, hingga bagaimana cara mendapatkan klien. 

Ternyata, di usia yang tidak lagi muda, ternyata saya masih bisa menjadi murid.

Bedanya, sekarang saya belajar bukan karena mengejar nilai, tetapi karena ingin terus bertumbuh.

Belajar Tidak Lagi Tentang Gelar

Ada rasa minder ketika pertama kali mengikuti kelas.

Sebagian peserta masih berusia awal 20-an. Mereka begitu cepat memahami berbagai istilah digital yang bagi saya terdengar asing.

Bahkan beberapa peserta sudah ada yang memiliki pengalaman di dunia VA.

Ini membuat sempat bertanya kepada diri sendiri.

"Apakah saya terlambat?"

Pertanyaan itu perlahan terjawab setiap kali saya berhasil menyelesaikan satu tantangan kecil.

Saya mulai memahami SEO.

Saya berhasil mengoptimalkan artikel.

Saya menerima klien pertama sebagai SEO Virtual Assistant.

Saya dipercaya membantu berbagai proyek digital.

Semua itu bukan terjadi karena saya paling pintar.

Melainkan karena saya bersedia terus belajar.

Saya menyadari bahwa usia bukan penghalang terbesar.

Yang lebih sering menghambat justru rasa takut memulai.

Menjadi Contoh bagi Anak

Ada satu hal yang tidak pernah saya duga.

Perjalanan belajar ini ternyata tidak hanya mengubah diri saya.

Anak-anak saya ikut melihat prosesnya.

Mereka melihat ibunya mengikuti kelas malam.

Melihat saya membaca buku sambil membuat catatan.

Melihat saya gagal memahami materi, lalu mencoba lagi.

Melihat saya tetap belajar meski usia hampir 40 tahun.

Tanpa banyak nasihat, mereka belajar bahwa belajar bukan hanya kewajiban anak sekolah.

Belajar adalah cara manusia bertumbuh sepanjang hidup.

Saya berharap suatu hari nanti mereka tidak takut mencoba hal baru.

Karena mereka pernah melihat ibunya melakukannya.

Ternyata benar kata pepatah, "anak adalah peniru ulung".

Anak menyerap dan mempraktikkan perilaku, tutur kata, serta kebiasaan dari yang mereka lihat.

Dunia Memang Membutuhkan Pembelajar Sepanjang Hayat

Apa yang saya alami ternyata bukan sekadar pengalaman pribadi.

Konsep lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat kini menjadi salah satu fondasi penting dalam menghadapi perubahan dunia kerja. UNESCO menekankan bahwa belajar tidak berhenti setelah lulus sekolah atau kuliah, melainkan menjadi proses yang berlangsung sepanjang kehidupan agar setiap orang mampu beradaptasi dengan perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi.

Perubahan itu kini berlangsung semakin cepat. Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan inti yang dibutuhkan dalam dunia kerja akan berubah pada periode 2025–2030. Artinya, kemampuan untuk terus belajar (upskilling and reskilling) bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Baca Juga : Freelancing untuk Pemula: Panduan Lengkap & Terbaru Memulai dari Nol

Belajar Lagi di Usia Hampir 40 Tahun: Ternyata Mimpi Tidak Memiliki Tanggal Kadaluarsa


Indonesia pun memiliki modal yang semakin besar untuk mewujudkan budaya belajar sepanjang hayat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024 menunjukkan bahwa 72,78 persen penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas telah mengakses internet, meningkat dibandingkan 69,21 persen pada tahun sebelumnya. Selain itu, 68,65 persen penduduk telah memiliki telepon seluler, sehingga akses terhadap kelas daring, webinar, buku digital, hingga komunitas belajar menjadi semakin mudah dijangkau.

BPS juga mencatat bahwa perkembangan teknologi informasi telah memperluas cara masyarakat memperoleh pengetahuan. Internet tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi atau hiburan, tetapi juga membuka peluang untuk belajar keterampilan baru, mengikuti pelatihan, bekerja secara fleksibel, bahkan membangun profesi yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Ketika membaca data-data tersebut, saya merasa menjadi bagian dari perubahan itu.

Saya hanyalah satu dari jutaan orang Indonesia yang memanfaatkan internet bukan hanya untuk berselancar di media sosial, tetapi untuk membuka kelas daring, mengikuti webinar, membaca artikel, mencoba berbagai perangkat digital, dan terus belajar agar tidak tertinggal oleh zaman.

Barangkali inilah wajah baru pendidikan hari ini. Belajar tidak lagi dibatasi ruang kelas, usia, ataupun gelar. Selama masih ada rasa ingin tahu dan kemauan untuk bertumbuh, selalu ada kesempatan untuk memulai babak baru dalam kehidupan.

Berita Baik Itu Bernama Kesempatan Kedua

Hari ini saya tidak merasa sedang mengejar ketertinggalan.

Saya hanya sedang berjalan di waktu yang tepat.

Mungkin jalannya berbeda dari orang lain.

Saya pernah membangun karir setelah lulus kuliah, walau akhirnya harus berhenti untuk mengurus keluarga.

Saya pernah merasa tertinggal.

Saya pernah meragukan kemampuan diri sendiri.

Namun setiap langkah kecil yang saya ambil membawa saya bertemu dengan kesempatan baru, komunitas baru, pekerjaan baru, bahkan versi diri yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.

Bagi saya, inilah berita baik yang ingin saya bagikan.

Bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar.

Tidak ada usia yang terlalu tua untuk memulai.

Tidak ada mimpi yang otomatis gugur hanya karena angka di kartu identitas bertambah.

Selama rasa ingin tahu masih hidup, selama kita masih bersedia membuka buku, mengikuti kelas, bertanya, mencoba, dan bangkit setelah gagal, selalu ada ruang untuk bertumbuh.

Kini, menjelang usia 40 tahun, saya justru merasa seperti sedang membuka babak baru kehidupan.

Babak ketika saya tidak lagi belajar demi nilai atau ijazah, tetapi demi menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

Dan jika suatu hari anak-anak saya bertanya kapan waktu terbaik untuk mengejar mimpi, saya akan menjawab dengan penuh keyakinan:

"Mulailah hari ini. Karena mimpi tidak pernah memiliki tanggal kadaluwarsa."

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026″

Tidak ada komentar

Posting Komentar