Libur sekolah biasanya identik dengan bangun lebih siang, bermain bersama teman, atau bepergian bersama keluarga. Sebagai orang tua, saya pun berharap anak-anak memiliki waktu untuk beristirahat setelah menjalani satu tahun pelajaran yang cukup padat.
Namun, liburan kali ini terasa sedikit berbeda.
Saat pembagian rapor, anak saya membawa pulang selembar lembar kerja. Isinya bukan soal matematika atau latihan bahasa Inggris, melainkan tugas membaca minimal dua buku selama liburan, kemudian menuliskan hasil ulasan atau review pada lembar yang telah disediakan sekolah.
Awalnya saya mengira tugas itu hanya diberikan di sekolah anak saya. Ternyata, setelah berbincang dengan orang tua lain, saya mengetahui bahwa program serupa diterapkan di SMP Negeri se-Kota Surabaya sebagai bagian dari penguatan budaya literasi yang didorong Dinas Pendidikan Kota Surabaya.
Sebagai orang tua, saya justru merasa inilah salah satu "PR liburan" yang paling menyenangkan.
Bukan karena mudah dikerjakan, melainkan karena mengajak anak membawa pulang kebiasaan membaca, bukan sekadar membawa pulang nilai.
Dari Membaca Menjadi Memahami
Yang menarik, anak tidak hanya diminta menyelesaikan dua buku.
Mereka juga diminta mengisi lembar review yang berisi identitas buku, ringkasan cerita, tokoh favorit, bagian yang paling berkesan, pesan yang diperoleh, hingga pendapat pribadi setelah selesai membaca.
Sepintas terlihat sederhana. Namun, semakin saya memperhatikan, saya menyadari bahwa tugas ini sesungguhnya melatih banyak kemampuan sekaligus.
Anak belajar memahami isi bacaan, memilih informasi penting, menyusun kembali cerita dengan bahasanya sendiri, sekaligus berani mengemukakan pendapat.
Membaca tidak lagi berhenti pada aktivitas membalik halaman demi halaman, tetapi menjadi proses berpikir.
Saya bahkan melihat perubahan kecil pada anak. Biasanya setelah buku selesai dibaca, buku itu langsung ditutup. Kali ini ia beberapa kali kembali membuka halaman tertentu untuk memastikan alur cerita, mengecek nama tokoh, atau mencari bagian yang ingin ia tuliskan.
Tanpa sadar, ia sedang belajar membaca lebih teliti.
Tugas ini juga mengajarkan bahwa membaca bukan perlombaan menghabiskan halaman, melainkan memahami isi buku.
Liburan yang Tidak Dipenuhi Gawai
Saya tidak pernah menuntut anak menghabiskan seluruh waktu liburannya dengan membaca.
Ia tetap bermain bersama teman, menonton film, dan sesekali bermain gim. Namun, keberadaan tugas membaca membuat ada jeda yang sehat dari layar gawai.
Beberapa sore kami pergi ke perpustakaan. Di kesempatan lain kami mampir ke toko buku, atau mengambil kembali buku-buku lama yang selama ini hanya tersusun rapi di rak.
Percakapan kami pun berubah.
"Buku ini tentang apa?"
"Menurutmu kenapa tokoh utama melakukan itu?"
"Kalau kamu yang mengalami hal yang sama, apa yang akan kamu lakukan?"
Obrolan-obrolan sederhana itu membuat membaca menjadi pengalaman bersama, bukan sekadar pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum masuk sekolah.
Surabaya Sedang Menanam Budaya Literasi
Saya kemudian menyadari bahwa tugas membaca selama liburan ini bukanlah program yang berdiri sendiri.
Di Surabaya, penguatan budaya literasi memang terus dibangun melalui berbagai cara. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya secara rutin mengembangkan perpustakaan sekolah, taman bacaan masyarakat, perpustakaan keliling, hingga layanan perpustakaan digital agar akses terhadap buku semakin mudah. Bahkan pada tahun 2025, Dispusip kembali mengadakan Lomba Perpustakaan Sekolah tingkat SD/MI dan SMP/MTs dengan semangat menjadikan Surabaya sebagai Kota Literasi.
Upaya tersebut tampaknya mulai menunjukkan hasil.
Sepanjang tahun 2025, jumlah kunjungan ke berbagai layanan perpustakaan di Surabaya mencapai 474.140 kunjungan. Yang menarik, sekitar 370 ribu lebih di antaranya berasal dari kalangan pelajar. Selain perpustakaan di Balai Pemuda dan Rungkut, anak-anak juga memanfaatkan Taman Bacaan Masyarakat, Pojok Baca Digital, hingga mobil perpustakaan keliling yang rutin mendatangi sekolah dan ruang-ruang publik.
Baca Juga : 8 Manfaat Gerakan Literasi Sekolah
Angka tersebut memberikan harapan bahwa di tengah derasnya arus media sosial dan video pendek, masih banyak anak yang memilih datang ke perpustakaan.
Karena itulah, ketika sekolah meminta siswa membaca dan mereview dua buku selama liburan, saya melihatnya sebagai bagian dari gerakan yang lebih besar. Sekolah, perpustakaan, pemerintah daerah, dan keluarga sebenarnya sedang mengerjakan tujuan yang sama: menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari.
Literasi Dimulai dari Rumah
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi bukan hanya kemampuan mengeja atau membaca cepat. Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, serta mengomunikasikan kembali gagasan dengan bahasa sendiri.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 pun menunjukkan bahwa kemampuan membaca peserta didik Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa budaya membaca perlu dibangun secara konsisten, termasuk melalui kebiasaan sederhana di rumah.
Baca Juga : Peran Keluarga dalam Meningkatkan Derajat Literasi di Indonesia
Karena itu, saya merasa peran orang tua sama pentingnya dengan sekolah.
Kami tidak mengoreksi setiap kalimat yang ditulis anak pada lembar review.
Kami hanya mendengarkan ketika ia menceritakan isi buku, tertawa saat ia mengisahkan bagian yang lucu, atau berdiskusi ketika ia tidak sepakat dengan keputusan tokoh utama.
Bisa jadi, yang paling diingat anak bukanlah nilai dari tugas membaca tersebut.
Melainkan momen ketika ayah atau ibunya bersedia duduk bersama, mendengarkan cerita dari buku yang baru saja selesai ia baca.
Menanam Benih, Bukan Mengejar Nilai
Saya berharap program seperti ini tidak berhenti sebagai tugas selama liburan.
Sebab manfaatnya jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi kewajiban sekolah.
Melalui kegiatan membaca dan mereview buku, anak belajar memahami bacaan, melatih kemampuan menulis, berpikir kritis, sekaligus berani menyampaikan pendapat. Di saat yang sama, mereka memiliki alternatif kegiatan yang lebih bermakna dibanding menghabiskan seluruh waktu dengan gawai.
Liburan sekolah memang akan segera berakhir.
Lembar book review akan dikumpulkan.
Namun saya berharap, yang selesai hanyalah tugasnya.
Kebiasaan membuka buku, rasa ingin tahu yang tumbuh dari setiap halaman, dan percakapan hangat tentang cerita yang dibaca semoga tetap tinggal di rumah kami, bahkan setelah bel sekolah kembali berbunyi.


Artikelnya menarik dan mengingatkan bahwa libur sekolah adalah waktu yang tepat untuk menciptakan momen berharga bersama keluarga. Terima kasih sudah berbagi cerita dan inspirasinya.
BalasHapus