Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Mencegah Stunting Tidak Dimulai Saat Anak Pendek, tetapi Sejak Ibu Mengandung

 


“Bu, kalau anak saya pendek, apakah itu stunting?”

Pertanyaan seperti ini beberapa kali saya dengar ketika mendampingi ibu sebagai konselor menyusui. Biasanya pertanyaan itu muncul ketika anak sudah mulai besar dan orang tua membandingkan tinggi badannya dengan teman sebaya.

Saya memahami kekhawatiran itu. Sebagai ibu, saya pun pernah melewati fase ketika setiap perubahan berat badan, pola makan, tidur, hingga tumbuh kembang anak menjadi perhatian.

Namun, setelah bertahun-tahun mendampingi ibu menyusui, saya belajar bahwa ada satu hal penting yang sering terlambat kita sadari:

mencegah stunting tidak dimulai ketika anak terlihat pendek. Pencegahan dimulai jauh sebelumnya.

Bahkan, sebelum seorang perempuan mengandung.

Kabar baik yang tidak boleh membuat kita lengah

Indonesia sebenarnya sedang berada dalam perjalanan yang menggembirakan.

Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen, dari 21,5 persen pada 2023. Angka tersebut untuk pertama kalinya berada di bawah 20 persen. Jumlah balita yang mengalami stunting juga turun dari sekitar 4,8 juta pada 2023 menjadi sekitar 4,4 juta pada 2024.

Ini bukan sekadar angka.

Di balik penurunan tersebut ada kerja pemerintah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, pemerintah daerah, komunitas, keluarga, dan jutaan ibu yang setiap hari berusaha memastikan anak-anaknya mendapatkan gizi terbaik.

Capaian tersebut layak diapresiasi.

Tetapi bagi saya, angka 19,8 persen juga merupakan pengingat bahwa pekerjaan belum selesai.

Target pemerintah masih jauh lebih rendah. Kementerian Kesehatan menyebut target jangka panjang prevalensi stunting Indonesia adalah 5 persen pada 2045.

Artinya, kita tidak boleh berhenti pada keberhasilan hari ini.

Kita harus bertanya: bagaimana memastikan anak-anak yang lahir berikutnya tumbuh sehat sejak awal kehidupannya?

Jawabannya membawa kita kembali kepada ibu.

Sebelum menjadi ibu, seorang perempuan sudah harus dipersiapkan

Sebagai konselor menyusui, saya semakin memahami bahwa kesehatan seorang anak tidak dapat dipisahkan dari kesehatan ibunya.

Cerita pertumbuhan seorang anak tidak dimulai ketika ia lahir.

Bahkan tidak dimulai ketika seorang ibu mengetahui dirinya hamil.

Ia bisa dimulai sejak seorang anak perempuan masih menjadi remaja.

Salah satu contohnya adalah anemia pada remaja putri.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang kembali disoroti Kementerian Kesehatan pada 2026 menunjukkan 54,8 persen remaja putri belum pernah mendapatkan Tablet Tambah Darah (TTD). Bahkan, 51,4 persen remaja putri yang tidak mengonsumsi TTD menyebut tidak mengetahui manfaatnya. 

Angka ini membuat saya berpikir.

Jika kita ingin mencegah stunting sejak awal, maka edukasi tidak boleh baru diberikan ketika seorang perempuan sudah menjadi ibu.

Anak perempuan hari ini adalah calon ibu di masa depan.

Karena itu, program seperti Aksi Bergizi dan pemberian TTD kepada remaja putri bukan sekadar program kesehatan remaja. Dalam perspektif yang lebih luas, ini merupakan bagian dari investasi untuk menyiapkan generasi berikutnya.

Pencegahan stunting memang harus dimulai sedini mungkin.

Ketika ibu hamil, yang dirawat bukan hanya janinnya

Saya sering melihat bagaimana kehamilan membuat seluruh perhatian keluarga tertuju kepada bayi dalam kandungan.

“Berat bayinya berapa?”

“Sudah kelihatan jenis kelaminnya?”

“Sudah mulai menendang?”

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar.

Namun, ada satu pertanyaan yang tidak boleh dilupakan:

“Bagaimana kondisi ibunya?”

Ibu hamil membutuhkan asupan gizi yang cukup, pemeriksaan kehamilan, pemantauan kondisi kesehatan, pencegahan anemia, serta dukungan dari keluarga.

Kementerian Kesehatan mendorong pemeriksaan kehamilan secara teratur sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan ibu dan janin. Intervensi selama kehamilan juga mencakup pemberian TTD dan dukungan pemenuhan kebutuhan gizi.

Ada pula Gerakan Ibu Hamil Sehat, yang menempatkan kesehatan ibu selama kehamilan sebagai bagian penting dalam upaya menurunkan masalah kesehatan ibu dan anak.

Bagi saya, pesannya sederhana:

merawat janin berarti juga merawat ibunya.

Sebab janin tumbuh di dalam tubuh seorang perempuan yang membutuhkan makanan bergizi, pemeriksaan kesehatan, istirahat, rasa aman, dan dukungan.

Ibu hamil tidak seharusnya berjuang sendirian.

Setelah bayi lahir, dukungan harus terus berlanjut

Kemudian bayi lahir.

Tangis pertama terdengar.

Keluarga bahagia.

Tetapi perjalanan mencegah stunting baru memasuki tahap berikutnya.

Sebagai konselor menyusui, saya sering mendampingi ibu yang sebenarnya memiliki keinginan kuat untuk memberikan ASI, tetapi menghadapi berbagai tantangan.

Ada ibu yang khawatir ASI-nya tidak cukup.

Ada yang mengalami puting lecet.

Ada bayi yang sulit melakukan pelekatan.

Ada ibu yang kelelahan karena kurang tidur.

Ada pula ibu yang justru kehilangan kepercayaan diri karena terlalu banyak mendengar komentar dari lingkungan.

Dalam situasi seperti itu, saya belajar bahwa kalimat “ASI harus eksklusif” saja tidak cukup.

Ibu membutuhkan dukungan nyata.

Ketika seorang ibu mengatakan, “Saya ingin menyusui,” mungkin pertanyaan terbaik yang bisa kita berikan bukan:

“ASI-mu keluar banyak, kan?”

Tetapi:

“Apa yang bisa kami lakukan supaya kamu bisa menyusui dengan nyaman?”

ASI eksklusif selama enam bulan merupakan bagian penting dari upaya memenuhi kebutuhan gizi bayi. Setelah enam bulan, ASI tetap dilanjutkan bersama pemberian makanan pendamping ASI yang tepat. Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya melanjutkan pemberian ASI hingga anak berusia 23 bulan. 

Di sinilah pencegahan stunting bukan hanya menjadi urusan ibu.

Ayah perlu terlibat.

Kakek dan nenek perlu memahami informasi yang benar.

Tenaga kesehatan perlu memberikan dukungan.

Konselor menyusui dan komunitas juga dapat menjadi bagian dari ekosistem pendukung.

Sebab ibu yang didukung akan lebih kuat menjalani perjalanan pengasuhan.

MPASI bukan sekadar membuat anak kenyang

Ketika bayi memasuki usia enam bulan, perjalanan berikutnya dimulai.

MPASI.

Saya sering mendengar orang tua berkata, “Yang penting anak mau makan.”

Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah makanan yang masuk ke tubuh anak cukup memenuhi kebutuhan gizinya?”

Kementerian Kesehatan mendorong pemberian MPASI yang tepat dan kaya protein hewani bagi anak usia di atas enam bulan. Telur, ikan, ayam, daging, dan sumber protein hewani lainnya dapat menjadi bagian dari menu anak sesuai kebutuhan dan kondisi keluarga.

Ini juga mengajarkan kita bahwa mencegah stunting tidak selalu berarti menyediakan makanan mahal.

Pangan lokal pun dapat menjadi sumber gizi.

Yang dibutuhkan adalah pengetahuan tentang kebutuhan anak, kemampuan mengolah makanan, serta kemauan keluarga untuk memberikan makanan yang beragam dan bergizi.

Karena anak tidak hanya membutuhkan makanan agar kenyang.

Anak membutuhkan makanan agar bertumbuh.

Posyandu: tempat sederhana dengan peran luar biasa

Ada satu kebiasaan yang menurut saya sering dianggap sepele: membawa anak ke Posyandu.

Padahal, menimbang dan mengukur anak secara rutin adalah bagian penting dalam memantau pertumbuhan.

Posyandu kini juga terus diperkuat melalui Integrasi Layanan Primer (ILP). Posyandu tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat menimbang balita, tetapi menjadi bagian dari pelayanan kesehatan yang mencakup berbagai kelompok usia, termasuk anak, remaja, ibu hamil, dewasa, hingga lansia. Layanan dapat mencakup pemeriksaan kesehatan dasar, penyuluhan gizi, deteksi dini, dan konseling. 

Transformasi ini menurut saya penting.

Sebab kesehatan tidak seharusnya hanya hadir ketika seseorang sudah sakit.

Kesehatan harus hadir lebih dekat, lebih awal, dan lebih mudah dijangkau.

Bagi keluarga dengan balita, Posyandu dapat menjadi tempat untuk melihat apakah pertumbuhan anak berjalan sesuai jalurnya dan menjadi pintu masuk untuk mendapatkan bantuan ketika ditemukan masalah.

Kemenkes juga menganjurkan penimbangan dan pengukuran balita secara rutin di Posyandu agar pertumbuhan anak dapat dipantau. 

Jangan menunggu anak terlihat pendek baru datang ke Posyandu.

Datanglah justru agar kita bisa mencegah masalah sebelum terlambat.

Pemerintah sudah bergerak, kita tinggal memastikan gerakannya sampai ke keluarga

Jika melihat berbagai kebijakan yang sudah dilakukan, pencegahan stunting di Indonesia sesungguhnya dibangun melalui banyak pintu.

Ada Aksi Bergizi dan pemberian TTD untuk remaja putri.

Ada pemeriksaan dan pemantauan kehamilan.

Ada Gerakan Ibu Hamil Sehat.

Ada dukungan gizi bagi ibu hamil yang membutuhkan.

Ada promosi ASI eksklusif.

Ada edukasi MPASI dan pentingnya protein hewani.

Ada pemantauan pertumbuhan balita.

Ada imunisasi.

Ada penguatan Posyandu melalui Integrasi Layanan Primer.

Ada pula upaya deteksi dan penanganan anak yang mengalami masalah gizi.

Semua ini menunjukkan bahwa pencegahan stunting bukan program yang berdiri sendiri. Ia merupakan rangkaian intervensi yang menyentuh berbagai fase kehidupan.

Kementerian Kesehatan bahkan merangkum pesan sederhana pencegahan stunting melalui pendekatan ABCDE:

A — Aktif minum Tablet Tambah Darah.

B — Bumil teratur melakukan pemeriksaan kehamilan.

C — Cukupi konsumsi protein hewani.

D — Datang ke Posyandu setiap bulan.

E — Eksklusif memberikan ASI selama enam bulan.

Pesan ini sederhana.

Tetapi penerapannya membutuhkan kerja bersama.

Jangan jadikan ibu sebagai satu-satunya penjaga pintu

Sebagai ibu sekaligus konselor menyusui, ada satu hal yang ingin saya tekankan.

Jangan sampai kampanye pencegahan stunting justru membuat ibu merasa menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kesehatan anak.

Ketika anak tidak mau makan, ibu yang disalahkan.

Ketika berat badan anak tidak naik, ibu yang ditanya.

Ketika ASI tidak lancar, ibu yang dianggap kurang berusaha.

Padahal, anak tumbuh di dalam sebuah keluarga.

Maka keluarga pula yang harus menjadi sistem pendukungnya.

Ayah bisa membantu memastikan ibu makan dengan baik.

Suami bisa menemani pemeriksaan kehamilan dan Posyandu.

Kakek dan nenek bisa membantu menciptakan lingkungan yang mendukung ASI dan MPASI.

Masyarakat bisa menyediakan akses informasi yang benar.

Kader Posyandu bisa menjadi penghubung antara keluarga dan layanan kesehatan.

Tenaga kesehatan bisa membantu mendeteksi masalah lebih dini.

Dan pemerintah memastikan kebijakan, layanan, edukasi, serta intervensi tersedia dan menjangkau masyarakat.

Inilah gotong royong dalam mencegah stunting.

Jangan tunggu anak pendek untuk mulai peduli

Saya kembali pada pertanyaan di awal:

“Kalau anak saya pendek, apakah itu stunting?”

Saya ingin kita mengubah pertanyaan itu menjadi sesuatu yang lebih awal:

“Apa yang bisa saya lakukan hari ini agar anak saya tumbuh optimal?”

Jawabannya tidak selalu rumit.

Pastikan ibu sehat sejak sebelum hamil.

Cegah anemia pada remaja putri.

Jalani pemeriksaan kehamilan.

Penuhi kebutuhan gizi ibu hamil.

Berikan dukungan agar ibu dapat menyusui.

Berikan ASI eksklusif selama enam bulan.

Lanjutkan ASI dan berikan MPASI yang bergizi.

Pastikan anak mendapatkan imunisasi.

Datang ke Posyandu dan pantau pertumbuhannya.

Dan ketika ada tanda masalah, jangan menunggu. Carilah bantuan.

Karena pencegahan selalu dimulai sebelum masalah terlihat.

Indonesia sudah menunjukkan kemajuan. Prevalensi stunting 19,8 persen pada 2024 adalah capaian yang patut diapresiasi. Bahkan dibandingkan 2019 yang berada pada 27,7 persen, penurunannya menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan selama beberapa tahun telah membawa perubahan. 

Namun bagi saya, angka itu bukan alasan untuk berpuas diri.

Di balik 19,8 persen ada anak-anak yang masih membutuhkan perhatian.

Ada ibu yang masih membutuhkan dukungan.

Ada keluarga yang masih membutuhkan edukasi.

Dan ada jutaan anak Indonesia yang sedang tumbuh dan akan menentukan wajah bangsa ini di masa depan.

Sebagai ibu, saya ingin anak-anak kita tumbuh sehat tanpa harus menunggu masalah datang.

Sebagai konselor menyusui, saya ingin setiap ibu yang ingin menyusui mendapatkan dukungan, bukan penghakiman.

Dan sebagai bagian dari masyarakat, saya ingin pencegahan stunting dipahami bukan sebagai tugas ibu semata, melainkan sebagai gerakan bersama untuk menyiapkan generasi Indonesia yang lebih sehat.

Sebab pada akhirnya, stunting bukan hanya tentang tinggi badan seorang anak.

Ini tentang kesempatan seorang anak untuk tumbuh, belajar, berkembang, dan mencapai potensi terbaiknya.

Maka, mari kita berhenti menunggu anak terlihat pendek untuk mulai peduli.

Mulailah dari remaja putri yang sehat.

Mulailah dari ibu yang sehat.

Mulailah dari kehamilan yang terpantau.

Mulailah dari dukungan menyusui.

Mulailah dari makanan bergizi.

Mulailah dari Posyandu.

Dan yang paling penting, mulailah sebelum terlambat.

Karena mencegah stunting tidak dimulai saat anak pendek.

Mencegah stunting dimulai sejak ibu mengandung, bahkan jauh sebelum seorang perempuan menjadi seorang ibu.

Referensi


  1. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/en/ssgi-2024-prevalensi-stunting-nasional-turun-menjadi-198

  2. https://kemkes.go.id/id/ssgi-2024-prevalensi-stunting-nasional-turun-menjadi-198

  3. https://ayosehat.kemkes.go.id/1000-hpk-kunci-cegah-stunting



#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026

 #HUT81RI

20 komentar

  1. Mbak Dee kader posyandu juga kah atau konselor menyusui aja? Alhamdulillah Saladin dulu lulus S3 ASI dan berpengaruh sekali ke ketahanan tubuhnya.

    Mengenai pencegahan stunting daku setuju kalau dilakukan saat anak masih dalam kandungan, karena seribu hari pertama kehidupan dimulai sejak manusia masih dalam bentuk janin. Makanya bumil kudu makan yang bergizi dan rutin periksa.

    Daku diberi tahu sohib yang kader posyandu mengenai ILP ini dan alhamdulillah rutin ke posyandu jadinya, untuk memantau tinggi dan berat badan saladin tiap bulan. Hasilnya langsung kucek di google apakah sudah ideal untuk remaja seusianya.

    BalasHapus
  2. Betul itu, jangan nunggu anak Diah lahir baru ngeh soal stunting
    Tapi mulai dari sekarang dari sejak remaja putri bagaimana supaya menjalankan pola hidup yang sehat. Menikah dan jadilah ibu yang sehat.
    Saat hamil pastikan kehamilannya terpantau.
    Mulai lagi dari saat menyusui. Lanjut makanan juga harus bergizi. Sampai mengenalkan anaknya dibawa ke Posyandu.
    See, rantai nya cukup panjang ya? Karena sehat dan sempurna itu tidak ada yg instant kecuali Kehendak Allah SWT

    BalasHapus
  3. Nyes sekali pas membaca tentang merawat janin berarti juga merawat ibunya. Seringnya lingkungan sekitar hanya heboh nanyain kabar si jabang bayi, tapi lupa nanya kabar fisik dan mental ibunya sendiri. Padahal kalau ibunya stres atau kurang asupan, ya larinya ke anak juga. Rantai pencegahan stunting memang sepanjang itu, semoga masyarakat semakin aware sehingga bisa antisipasi sejak dini, bahkan sebelum calon ibu memutuskan untuk menikah semestinya sudah memiliki pengetahuan yang cukup seputar persiapan sebelum hamil, ketika hamil dan masa menyusui, supaya bisa melahirkan generasi yang kuat.

    BalasHapus
  4. Susah memang kalau ga ada support dari keluarga trutama suami. Dan aku jadi tahu kalau posyandu itu lengkap begini kegiatan dan programnya mba 👍👍. Sampai ada konselor asi nya juga. Pasti sangat membantu utk para ibu hamil dan menyusui utk memastikan kandungan dan si ibunya pun sehat.

    Dulupun dokter obgyn ku juga selalu bilang jangan pernah skip vitamin2 yg dikasih, tp pastikan makanan yg diambil juga lengkap bergizi. Supaya anak dlm kandungan juga ga mengalami stunting.

    BalasHapus
  5. Namanya saja adalah mencegah, berarti memang dari sejak dini alias ketika menjadi calon ibu ya. Dukungan dari keluarga memang diperlukan, bisa saling mengingatkan, karena dampaknya akan terasa di kemudian hari

    BalasHapus
  6. Bener dan sepakat banget. Kalau mencegah stunting itu sejak anak perempuan remaja sudah harus dipersiapkan gizi dan tumbuh kembangnya. Ketika sudah menikah dan memasuki fase kehamilan pun harus memperoleh asupan makanan bergizi. Dari situlah bisa di cegah stunting. Soalnya saya pernah ikutan seminar yang berkaitan mencegah stunting juga di Jakarta beberapa waktu lalu.

    BalasHapus
  7. Tulisan yang sangat membuka wawasan. Selama ini stunting memang sering baru diperhatikan ketika anak terlihat pendek, padahal ternyata pencegahannya harus dimulai jauh lebih awal, bahkan sejak remaja putri dan sebelum kehamilan. Saya juga suka penekanan bahwa ibu jangan sampai menjadi satu satunya pihak yang dibebani tanggung jawab. Dukungan ayah, keluarga, tenaga kesehatan, kader Posyandu, dan lingkungan ternyata sama pentingnya. Semoga semakin banyak keluarga yang memahami bahwa menjaga tumbuh kembang anak bukan menunggu masalah muncul, tetapi mencegahnya sejak awal.

    BalasHapus
  8. Sepakat bgt kak. Ngurus stunting ini jgn cmn dr outputnya doank. Kalo udh kejadian baru ditanganin. Bs lewat dong, baik ibu hamilnya hingga anaknya.

    Syukur kalo penanganan stunting ini udh mulai dr ibu hamil. Jd dgn pemberian gizi yg tepat pd ibu hamil bakal berimbas deh ke anaknya ntr.

    Ortu dan calon ortu wajib baca nih artikel. Biar tahu cara mencegah stunting. Jgn sampe anak kita kekurangan gizi ygy.

    BalasHapus
  9. Anak sehat bebas stunting persiapannya itu ternyata jauuuh sebelum si anak dikandung di perut ibu. Ibu nya sendiri harus menyiapkan diri jauh jauh sbeelum masa kehamilan. Calon ibu harus makan dan minum yang sehat,minum vitamin biar sehat. Mas akehamilan harus minum vitamin juga, makan makanan bergizi agar bayinya sehat dan periksa kehamilan ke dokter atau posyandu. Jadi ternyata bukan saat bayi baru lahir yaa, tapi persiapan agar anak sehat itu harus jauuh sebelumnya. stunting memang masalah serius jadi perlu ada perhatian kepada masyarakat edukasi bagaimana agar anak tumbuh sehat dan kuat.

    BalasHapus
  10. Nah, coba bikin melek presiden hahaha :D
    Tapi bener program2 sebelumnya kek posyandu ibu hamil atau apa tu ya namanya program di puskesmas udah ok banget, sayang belakangan katanya anggarannya dipotong2 T.T.
    Bener banget, bumil kudu melek sejak menikah bahwa tubuhnya harus dirawat buat mempersiapkan kehamilan supaya nanti melahirkan bayi yang sehat, sehingga terhindar dari yang namanya stunting yaa,.
    Banyak2 belajar soal ASI dan MPASI juga. Nggak cuma emaknya tapi si bapaknya kudu mendukung istrinya lahir batin dengan kasi fasilitas terbaik.
    Trus buat yang punya anak remaja cewek apalagi yang udah haid juga wajib diedukasi soal kondisi2 kyk anemia gitu2 ya, supaya lebih aware.

    BalasHapus
  11. Ini nih yang banyak banget kulihat di sekitarku. Saat ibu hamil, fokus keluarga hanya pada janinnya saja. Mengonsumsi untuk tumbuh kembang calon bayinya. Sementara ibunya dikesampingkan.

    Terus pas masa menyusui, kayak perasaan dan mental ibu tuh nggak diurusin sama sekali.

    Lalu, pas anak pendek baru kalang kabut soal stunting. Gimana cara mengatasinya. Duh ya.

    BalasHapus
  12. Makanya Mbak ilmu ini tuh telat kalau nunggu anaknya sudah besar
    Aku tuh membayangkan dulu waktu hamil harusnya konsumsi yang lebih bernutrisi supaya anakku ga pendek dan kurus kayak bundanya hahaha
    Semoga dengan asupan nutrisi sekarang bisa mendongkrak

    BalasHapus
  13. Setuju banget dengan poin "merawat janin berarti merawat ibunya." Seringnya masyarakat hanya fokus pada kesehatan fisik janin, tapi lupa bahwa kondisi fisik dan mental ibu hamil adalah fondasi utamanya.

    Edukasi pencegahan stunting dari fase remaja putri hingga peran aktif ayah ini juga penting sekali disebarluaskan agar tidak ada stigma bahwa ini melulu tanggung jawab ibu semata.

    BalasHapus
  14. posyandu ini memang program yang bagus banget terutama dalam hal memantau tumbuh kembang anak kita. bahkan di posyandu juga anak bisa dapat imunisasi gratis. Aku jadi ingat waktu anak pertama dulu sempat dapat paket biskuit gitu karena anakku tercatat berat badannya di bawah rata-rata jadi memang akan sangat baik bagi ibu hamil dan menyusui untuk rutin ke posyandu setiap bulannya

    BalasHapus
  15. Kaaakkk sekali lagi aku makasih banyak ya untuk pendampingan selama mengandung El yang buatku banyak shik shak shok.. sekarang El kontrol di puskes nih sama Bu bidan.. aku fokus ke garis aman aja ga ngejar yang gimana gimana biar ga banyak ovt wkwkwkk

    BalasHapus
  16. Sebagai ibu yang anaknya divonis stunting, sedih banget baca ini. Entah dimana salahnya. Mencoba memperbaiki juga nggak kunjung berhasil dan rasa bersalah selalu terus menghantui.

    BalasHapus
  17. Sepakat sekali dengan setiap diksi di tulisan ini. Ibu yang sehat dan bahagia selama mengandung dan menyusui akan mendukung pada tumbuh kembang sang anak.

    Saya pun ketika istri hamil, melahirkan dan menyusui semaksimal mungkin ada di sampingnya untuk memberikan dukungan terbaik. Dan, alhamdulillah dengan kehamilan hiper emesis, semuanya bisa dilalui, ketika proses menyusui pun alhamdulllah full ASI dan air susunya melimpah

    BalasHapus
  18. Betul sekali.Anak Stunting banyak faktor banget penyebabnya. Dan dari semua faktor kesehatan fisik, faktor kesehatan mental tak kalah pentingnya. Dukungan keluarga terutama. Mulai dari suami, orang tua, mertua dan semua handai taulan harus beri dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Semoga kerja cerdas para petugas kesehatan membantu para orang tua menjadikan generasi bangsa ini semakin sehat dan maju.

    BalasHapus
  19. Kadang yg jd masalah besar itu faktor morning sick itu sih mbak makanya ibu hamil sering kurang gizi, boro2 ngasih ke anak. Tapi aku pribadi saat mabok parah di trinester pertama juga memaksakan diri bgt meski mual muntah tetep minum suplemen untuk kesempurnaan tumbuh kembang anak dalamnkandungan. Ternyata efeknya memang sampe ketika dia masa pertumbuhan ya mba

    BalasHapus
  20. angka Stunting di Indonesia cukup tinggi, banyak banget berita yang menginfokan kalau hal ini seringnya karena ibu atau keluarganya yang kurang memperhatikan asupan gizi yang masuk ke tubuh ibu hamil.
    setuju banget kalau persiapan sebelum hamil harus diperhatikan dengan makanan bergizi.
    Peran suami dan keluarga juga ikut membantu ibu hamil untuk terus semangat menjaga kesehatan tubuh dan janin

    BalasHapus