Sebagai penikmat budaya Korea, saya terbiasa menikmati berbagai wajah Korea Selatan. Mulai dari drama romantis yang membuat penonton baper, variety show yang menghibur, sastra Korea, hingga gelombang K-Pop yang mendunia. Namun, semakin banyak saya membaca sastra Korea, semakin saya sadar bahwa ada sisi lain Korea Selatan yang jauh lebih kompleks daripada yang sering muncul di layar.
Salah satu buku yang membuat saya merasakan hal itu adalah Dear, Hyun Nam karya Cho Nam-joo.
Awalnya saya mengira buku ini akan serupa dengan banyak novel feminis populer lainnya: berbicara tentang ketidakadilan gender, diskriminasi, dan perjuangan perempuan. Ternyata, Dear, Hyun Nam menawarkan sesuatu yang lebih sunyi, lebih personal, sekaligus lebih mengganggu.
Buku ini tidak berteriak. Ia justru berbisik pelan, tetapi meninggalkan gema yang panjang di kepala pembacanya.
Keterangan Buku
Judul: Dear, Hyun Nam
Penulis: Cho Nam-joo dan enam penulis perempuan Korea lainnya
Penerbit: Bhuana Sastra
Tahun Terbit Indonesia: 2022
Jumlah Halaman: 260 halaman
ISBN: 9786230408014
Novel ini berisi tujuh cerita yang ditulis oleh tujuh penulis perempuan Korea. Setiap cerita menghadirkan tokoh perempuan dengan pengalaman, kegelisahan, dan huuh luka yang berbeda. Namun semuanya memiliki benang merah yang sama: perempuan yang berusaha mendengar dirinya sendiri di tengah dunia yang terlalu sering menyuruh mereka diam.
Bukan Tentang Perempuan Hebat, Tetapi Perempuan Biasa
Hal yang paling saya sukai dari buku ini adalah para tokohnya terasa sangat biasa.
Mereka bukan aktivis terkenal. Bukan perempuan yang melakukan revolusi besar. Mereka hanyalah perempuan yang lelah.
Lelah menjadi anak yang harus selalu mengerti.
Lelah menjadi istri yang terus menyesuaikan diri.
Lelah menjadi ibu yang dituntut sempurna.
Lelah menjadi manusia yang perasaannya dianggap tidak penting.
Baca Juga : Review Buku Muslimah yang Diperdebatkan: Mengapa Menjadi Perempuan Selalu Tidak Pernah Cukup?
Dalam banyak cerita, konflik yang muncul bahkan terlihat sederhana. Tidak ada adegan dramatis yang meledak-ledak. Namun justru di situlah kekuatannya.
Karena kehidupan perempuan sering kali memang tidak runtuh dalam satu hari. Ia terkikis sedikit demi sedikit oleh komentar, ekspektasi, dan tuntutan yang dianggap normal.
Wajah Korea Selatan yang Jarang Muncul di Drama
Sebagai penggemar budaya Korea, saya merasa buku ini menarik karena menunjukkan sisi Korea Selatan yang berbeda.
Selama ini dunia mengenal Korea melalui drama romantis, idol, kosmetik, atau tren budaya populer yang memikat. Namun sastra Korea modern sering menghadirkan kenyataan yang lebih pahit.
Tekanan sosial yang tinggi.
Budaya kerja yang keras.
Standar gender yang masih kuat.
Ekspektasi terhadap perempuan setelah menikah dan memiliki anak.
Cho Nam-joo sendiri dikenal luas melalui novel Kim Jiyoung, Born 1982 yang pernah memicu diskusi besar tentang ketidaksetaraan gender di Korea Selatan. Dalam Dear, Hyun Nam, nuansa kritik sosial itu masih terasa, tetapi disampaikan dengan pendekatan yang lebih beragam karena melibatkan beberapa penulis perempuan.
Baca Juga : Review Buku Menjadi Perempuan: Kumpulan Esai Pilihan Magdalene.co
Membaca buku ini membuat saya memahami bahwa di balik citra Korea yang modern dan maju, masih ada banyak perempuan yang bergulat dengan persoalan yang sebenarnya juga akrab bagi perempuan di negara lain, termasuk Indonesia.
Ketika Feminisme Hadir dalam Bentuk yang Lebih Manusiawi
Banyak orang langsung menutup diri ketika mendengar kata “feminisme”.
Padahal yang saya temukan dalam buku ini bukanlah ceramah panjang tentang ideologi.
Yang saya temukan justru manusia.
Perempuan yang ingin didengar.
Perempuan yang ingin dianggap penting.
Perempuan yang ingin memiliki ruang untuk menentukan hidupnya sendiri.
Karena itu saya merasa Dear, Hyun Nam bukan novel feminis biasa.
Ia tidak berusaha memenangkan perdebatan.
Ia hanya mengajak pembaca duduk sejenak dan mendengarkan.
Mendengarkan suara-suara yang selama ini tenggelam di balik peran sebagai anak, istri, ibu, pekerja, atau anggota keluarga.
Dan sering kali, mendengarkan ternyata jauh lebih sulit daripada berbicara.
Cerita yang Paling Membekas
Bagi saya, cerita berjudul Dear, Hyun Nam menjadi bagian yang paling kuat.
Ada rasa frustrasi yang begitu nyata ketika melihat seseorang bertahan terlalu lama dalam hubungan yang tidak lagi memberinya kebahagiaan.
Namun di saat yang sama, cerita ini juga mengingatkan bahwa mengambil keputusan besar bukan perkara mudah.
Terutama bagi perempuan yang sejak kecil diajarkan untuk mengalah, memahami, dan bertahan.
Baca Juga : Baca Juga : Review Buku : Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna
Mungkin karena itulah kisahnya terasa begitu dekat.
Bukan karena semua pembaca mengalami hal yang sama, tetapi karena hampir semua orang pernah berada dalam situasi ketika suara hatinya sendiri kalah oleh ekspektasi orang lain.
Layak Dibaca oleh Siapa?
Menurut saya, buku ini layak dibaca oleh:
- Penikmat sastra Korea modern.
- Pembaca yang menyukai cerita reflektif dan realistis.
- Mereka yang menikmati karya seperti Kim Jiyoung, Born 1982.
- Pembaca yang ingin memahami pengalaman perempuan dari perspektif yang lebih personal.
- Siapa saja yang ingin melihat sisi lain Korea Selatan selain dunia K-Drama dan K-Pop.
Penutup
Setelah menutup halaman terakhir Dear, Hyun Nam, saya tidak merasa sedang selesai membaca sebuah novel.
Rasanya lebih seperti selesai mendengarkan tujuh perempuan yang akhirnya berani bercerita.
Mungkin itulah alasan buku ini terasa istimewa.
Ia tidak menawarkan jawaban atas semua persoalan perempuan.
Ia hanya memberikan ruang bagi mereka untuk bersuara.
Dan dalam dunia yang sering kali lebih suka menghakimi daripada mendengarkan, ruang seperti itu ternyata sangat berharga.
Rating pribadi: 4,5/5
Bukan karena semua ceritanya sempurna, tetapi karena buku ini berhasil melakukan sesuatu yang tidak mudah: membuat pembacanya berhenti sejenak, lalu bertanya, “Selama ini, suara siapa yang tidak pernah kita dengarkan?”
Novel ini juga menarik jika dikaitkan dengan tren sastra Korea kontemporer yang semakin banyak mengangkat pengalaman perempuan biasa sebagai pusat cerita, bukan sekadar tokoh pendamping. Itu yang membuat Dear, Hyun Nam terasa relevan bahkan bagi pembaca Indonesia.

Tidak ada komentar
Posting Komentar