Dee Stories

Kumpulan artikel parenting yang ditulis oleh blogger parenting Indonesia.
Suka travelling & kuliner. Konselor ASI &MPASI.

Review Buku Menjadi Perempuan: Kumpulan Esai Pilihan Magdalene.co

Review Buku Menjadi Perempuan: Kumpulan Esai Pilihan Magdalene.co

 


Ketika Menjadi Perempuan Tidak Pernah Sesederhana yang Dibayangkan

Menjadi Perempuan: Kumpulan Esai adalah salah satu buku yang membuat saya beberapa kali berhenti membaca, lalu menatap langit-langit kamar sambil berpikir, “Oh, ternyata banyak perempuan mengalami hal yang sama.”

Sebagai seorang sosiolog sekaligus ibu dari dua anak perempuan, pengalaman membaca buku ini terasa personal sekaligus akademis. Personal karena banyak cerita di dalamnya mengingatkan saya pada pengalaman perempuan-perempuan di sekitar saya. Akademis karena esai-esai tersebut memperlihatkan bagaimana konstruksi sosial bekerja dalam kehidupan sehari-hari perempuan Indonesia.

Buku yang diterbitkan oleh Magdalene.co dan Elex Media Komputindo ini berisi 24 esai pilihan yang sebelumnya pernah dimuat di media daring Magdalene. Tema yang dibahas sangat luas, mulai dari tubuh perempuan, standar kecantikan, agama, seksualitas, relasi, hingga politik dan gerakan sosial. 

Bukan Buku yang Berusaha Menyenangkan Semua Orang

Hal pertama yang saya rasakan saat membaca buku ini adalah keberaniannya.

Esai-esai dalam buku ini tidak berusaha membuat pembaca nyaman. Beberapa tulisan justru terasa menohok karena membahas hal-hal yang selama ini dianggap normal dalam masyarakat.

Misalnya, bagaimana tubuh perempuan sering menjadi ruang publik yang boleh dikomentari siapa saja. Mulai dari berat badan, warna kulit, pilihan berpakaian, hingga keputusan menjadi ibu rumah tangga atau perempuan karier.

Sebagai sosiolog, saya melihat buku ini berhasil menunjukkan bahwa banyak persoalan perempuan sebenarnya bukan persoalan individual. Kita sering menganggap perempuan "kurang percaya diri", "terlalu sensitif", atau "kurang bersyukur". Padahal, banyak tekanan tersebut lahir dari sistem sosial yang sudah lama membentuk standar tertentu tentang bagaimana perempuan seharusnya hidup.

Yang menarik, buku ini tidak hanya diisi oleh penulis perempuan. Ada juga penulis laki-laki yang ikut menyuarakan keresahan tentang ketidaksetaraan gender. Hal ini membuat diskusinya terasa lebih luas dan tidak terjebak pada sudut pandang tunggal. 

Sebagai Ibu Dua Anak Perempuan, Buku Ini Terasa Dekat

Ada satu perasaan yang terus muncul selama membaca buku ini: khawatir.

Bukan karena isi bukunya menakutkan, tetapi karena saya membayangkan dua anak perempuan saya akan tumbuh di masyarakat yang masih menyimpan banyak standar ganda terhadap perempuan.

Ketika anak laki-laki dianggap tegas, anak perempuan sering disebut galak.

Ketika laki-laki ambisius dianggap sukses, perempuan ambisius sering dianggap terlalu mengejar karier.

Baca Juga : Review Buku Muslimah yang Diperdebatkan: Mengapa Menjadi Perempuan Selalu Tidak Pernah Cukup?

Ketika laki-laki memilih tidak menikah, itu dianggap pilihan hidup. Ketika perempuan melakukan hal yang sama, pertanyaannya selalu datang: “Kenapa belum menikah?”

Buku ini mengingatkan saya bahwa membesarkan anak perempuan bukan hanya soal memberikan pendidikan terbaik. Ada pekerjaan yang lebih besar: membantu mereka memahami bahwa nilai diri mereka tidak ditentukan oleh standar sosial yang sering berubah-ubah.

Karena itu saya merasa buku ini tidak hanya penting dibaca perempuan muda, tetapi juga para orang tua. Seperti tulisan-tulisan yang ada di Catatan Harian Rani R Tyas

Feminisme yang Membumi

Salah satu hal yang saya sukai dari buku ini adalah cara feminisme dibicarakan.

Tidak semua esai menggunakan bahasa akademis yang berat. Banyak tulisan justru terasa seperti percakapan sehari-hari. Layaknya tips parenting modern. 

Baca Juga : Review Buku : Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna

Ini penting karena salah satu kesalahpahaman terbesar tentang feminisme di Indonesia adalah anggapan bahwa feminisme selalu identik dengan kebencian terhadap laki-laki.

Padahal, dari banyak esai di buku ini, saya justru melihat feminisme sebagai upaya memperjuangkan kehidupan yang lebih adil bagi semua orang.

Tidak Semua Esainya Sama Kuat


Review Buku Menjadi Perempuan: Kumpulan Esai Pilihan Magdalene.co

Meskipun saya menikmati sebagian besar isi buku ini, saya juga merasa tidak semua esai memiliki kedalaman yang sama.

Ada tulisan yang sangat kuat dan meninggalkan kesan panjang setelah selesai dibaca. Namun ada juga beberapa yang terasa seperti opini singkat yang belum dieksplorasi lebih jauh.

Karena buku ini merupakan kumpulan tulisan dari banyak penulis, perbedaan kualitas tersebut sebenarnya cukup wajar.

Review Buku Menjadi Perempuan: Kumpulan Esai Pilihan Magdalene.co

Justru keberagaman suara itulah yang membuat buku ini terasa hidup. Kita bisa melihat bagaimana perempuan Indonesia datang dari latar belakang pengalaman yang berbeda-beda.

Layak Dibaca Siapa?

Saya merekomendasikan buku ini untuk:

  • Perempuan yang ingin memahami pengalaman perempuan lain di luar lingkarannya.

  • Orang tua yang memiliki anak perempuan.

  • Mahasiswa ilmu sosial, komunikasi, gender, atau budaya.

  • Laki-laki yang ingin memahami bagaimana pengalaman menjadi perempuan di masyarakat Indonesia.

  • Pembaca yang ingin mengenal feminisme melalui tulisan yang ringan dan kontekstual.

Kesimpulan


Bagi saya, kekuatan terbesar Menjadi Perempuan bukan terletak pada jawaban yang diberikannya, melainkan pada pertanyaan-pertanyaan yang ditinggalkannya setelah buku selesai dibaca.

Sebagai sosiolog, saya melihat buku ini sebagai potret kecil tentang bagaimana masyarakat membentuk pengalaman perempuan.

Sebagai ibu dari dua anak perempuan, saya melihatnya sebagai pengingat bahwa perjuangan perempuan hari ini akan menentukan dunia yang kelak diwarisi anak-anak saya.

Dan mungkin itulah alasan mengapa buku ini masih relevan dibaca bertahun-tahun setelah diterbitkan: karena menjadi perempuan, sampai hari ini, masih sering berarti harus menjelaskan, membuktikan, dan memperjuangkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu diperjuangkan lagi. 

Data Buku

Judul :

Menjadi Perempuan 

Penyunting : 

Hera Diani dan Farah Rizki

Illustrator : 

Adhitya Pattisahusiwa

Penerbit : 

PT. Elex Media Komputindo

Terbit : 

2018 :

ISBN : 

978-602-04-6176-2




12 komentar

  1. Diskusi tentang perempuan memang tidak pernah ada habisnya. Tapi ada penulis essai tentang perempuan dari kalangan laki-laki juga bagus untuk membuka ruang perspektif yang lebih luas.

    BalasHapus
  2. Ulasannya sangat menarik dan reflektif yang mana buku ini tidak hanya dibahas dari sisi akademis, tetapi juga dari pengalaman sebagai seorang ibu. Perspektif tersebut membuat review terasa hangat sekaligus mengajak pembaca berpikir tentang berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan hingga saat ini.

    BalasHapus
  3. Lega karena ternyata walau kumpulan esai tapi mudah dikunyah, ya. Banyaknya penulis yang berkontribusi tentu menjadi pengalaman belajar yang kaya tentang perempuan Indonesia

    BalasHapus
  4. This review highlights themes that promote contemplation and conversation while providing insightful analysis of Menjadi Perempuan. I like how the post fairly examines the message and applicability of the book. Reviews that are insightful enable readers to engage with literature more deeply. Because high-quality writing is important, many authors use online book proofreaders prior to publishing.

    BalasHapus
  5. Bukunya menarik, saya bukan feminisme tetapi buku ini menarik untuk dibahas memang

    BalasHapus
  6. Ternyata kesulitan atau tantangan seorang perempuan bukan menjadi persoalan individu saja ya Mbak. Isu-isu yang ada justru menjadi persoalan bersama. Menarik bukunya. Mengajak kita semua berpikir berapa rumitnya realita kehidupan para perempuan.

    BalasHapus
  7. Baca artikel ini setuju bahwa banyak hal permasalahan perempuan yang kadang tidak di up ke publik. Banyak banget akhirnya perempuan depresi karena tidak paham. Mengatasi masalah nya

    BalasHapus
  8. Saya selalu suka penulis yang menyuarakan suara perempuan, biar semakin banyak orang yang tercerahkan, mengerti dan bagaimana cara memuliakan dengan baik.

    BalasHapus
  9. Kini, perempuan menjadi sangat bias dengan segala kehidupan yang menyertainya.
    Jadi penting sekali membaca dan memahami makna perempuan dan perannya di lingkungan, agar langkahnya bisa berkontribusi dan tidak diremehkan dalam banyak hal.

    BalasHapus
  10. buku yang menarik banget nih karena isinya menyuarakan isi hati perempuan. meski untuk saat ini perempuan di era sekarang bisa dibilang lebih bebas dalam berekspresi namun kadang tetap saja pemahaman dasar terkait kodrat perempuan yang kerap menjadi diskusi panjang dan tentunya harus bisa disikapi dengan bijaksana

    BalasHapus
  11. Keberanian seseorang maksudnya perempuan dalam menceritakan semua permasalahan nya (untuk kesehatan dia, bukan membuka aib) perlu kita apresiasi. Melalui cerita dalam buku ini kita juga jadi tahu bagaimana perjuangan mereka. Dan bahkan mungkin diantara nya ada yg mewakili permasalahan pembaca itu sendiri ya

    BalasHapus
  12. Biar lebih kenal dengan dunia perempuan, layak banget nih bukunya buat dibaca, terlebih covernya girly banget

    BalasHapus